Mag-log in“Buat apa kamu teriak, Ja?!“ sentak Toni usai mengirimkan tendangannya.
“Sakit dong, Yah, gimana sih?!” raung Teja spontan.
“Memangnya beneran sakit?“ pancing sang ayah lagi.
Teja terdiam sejenak, kemudian meraba miliknya yang kini berukuran luar biasa, mencoba memastikan apa yang ia rasakan.
“Eh, kok nggak sakit, Yah?” ia melongo kaget.
Toni tertawa singkat. “Makanya jangan asal ngomel saja mulut kamu itu! Tadi ayah sedang menguji peningkatan daya tahan tubuhmu, dan… terbukti nggak berasa, kan?“
“Waduh, Yah. Kalau ditendang aja nggak sakit, gimana nanti kalau nganu sama cewek?!“ Teja semakin melongo.
“Halah, kenapa otakmu jadi kayak gitu sekarang, Ja?! Katanya kemarin nggak mau? Bilang mesum lah, ini lah, itu lah!“ goda Toni sembari menggerakkan kedua alisnya.
Teja tercenung. Benar juga, kenapa otaknya jadi mesum begini sekarang? “Sudah jadi takdirku, Yah. Aku kan juga pengen cepet naik tingkatan energi Qi!“ bantah Teja mencari-cari alasan.
“Haha!” tawa sang ayah semakin jahil.
Usai mengatakan itu, Toni kembali bergerak.
Pukulan dan tendangannya melesat memburu tubuh sang anak.
Serta merta Teja melakukan pertahanan diri.
Tak ayal, keduanya kini terlibat dalam pertarungan sengit yang jauh lebih tinggi intensitasnya dibandingkan saat di dalam rumah kemarin.
“Fokuskan mata dan pikiranmu saat bertarung, Ja. Lepaskan sejenak pikiran pada hal lainnya!“ teriak Toni sembari terus memberikan serangan demi serangan mematikan.
Hingga akhirnya—
BAMMM!
Satu pukulan Teja melesak kuat ke dada sang ayah.
Toni terhuyung beberapa langkah ke belakang hingga jatuh ke tanah.
“Maaf, Ayah! Sakit ya?“ Teja berlari merengkuh tubuh sang ayah tercinta. Ia berubah panik, khawatir melukai tubuh renta ayahnya.
Toni bangkit perlahan dengan bantuan Teja. “Meski semua kemampuan sudah masuk ke tubuhmu, ayah masih memiliki sepuluh persen cadangan permanen buat menjaga garis keturunan ini, Ja. Jangan meremehkan ayah kayak gitu!“ seloroh Toni.
Teja menghela napas lega setelah mendengarnya.
—
Hari baru telah tiba.
Karena hari libur, Teja melakukan aktivitas rutinnya, berbelanja ke pasar untuk kebutuhannya dan juga sang ayah.
Ibu Teja yang meninggal dunia saat melahirkannya membuat Teja tumbuh menjadi pria yang mandiri. Ia selalu bergantian memasak dan berbelanja dengan ayahnya.
Menenteng tas plastik berisi ayam dan sayuran, Teja mengendarai motor matiknya untuk kembali pulang dari pasar.
Namun karena hari masih cukup pagi, saat melewati jalan belakang gedung olahraga yang sepi, sekelompok preman yang sering meresahkan warga di sekitar tempat itu tiba-tiba datang menghadang.
Lima motor trail yang membawa sepuluh pria berbadan besar serta dipenuhi tato sudah memotong jalan sehingga membuat Teja terpaksa mengerem mendadak.
“Apa mau kalian?“ tanya Teja gusar.
“Anak manis, berikan dompet, motor, dan ponselmu kalau masih sayang sama nyawa!“ gertak salah satu pria bermata codet yang nampaknya merupakan pemimpin dari kelompok preman tersebut.
Sejenak Teja terdiam menatap sepuluh tubuh yang berukuran diatas tubuhnya itu.
Ada rasa ragu dalam tatapannya.
Namun, ia segera teringat pada kejadian bulan purnama tadi malam.
“Kalau mau punya uang itu kerja, Bos, bukan merampas punya orang!“ sembur Teja sembari turun dari motor dan mengokohkan kuda-kuda kakinya.
“Berani banget kamu ngomong kayak gitu sama kami?! Brengsek! Serang dia!“ amuk pria mata codet penuh amarah.
“Bikin dua tangan dan kakinya patah!“ imbuh pria mata codet sadis.
Merasa hanya menghadapi seorang pemuda berusia muda, tiga preman melangkah maju dengan pongah.
“Kami bertiga saja sudah cukup buat menghabisi bocah belagu kayak kamu!“ geram salah satu dari tiga preman yang mendekat.
Masing-masing tangan mereka menggenggam pipa besi.
Dengan beringas ketiganya mengayunkan pipa besi serempak ke arah Teja.
Namun tiba-tiba—
WHUTTT!
Tolakan udara padat yang keluar dari tangan dan tubuh Teja menghempas ketiganya jauh ke belakang hingga bergulingan di tanah.
Semua mata preman terbeliak kaget menyaksikan hal tersebut.
“A-apa itu tadi?!“ pria mata codet ternganga.
Tak ingin memberikan kesempatan, tubuh Teja bergerak lincah dan sangat cepat.
BAMM!
BUKK!
PAKKK!
Satu persatu tinju dan tendangannya melesak ke tubuh setiap preman tanpa terkecuali.
Begitu cepatnya ia bergerak hingga kesepuluh preman itu hanya mampu mengedipkan mata kaget sebelum kemudian tubuh-tubuh besar mereka jatuh berdebam ke atas tanah.
Pria mata codet dengan wajah meringis kesakitan segera memberi aba-aba pada semua anak buahnya untuk melarikan diri.
“Jangan cari masalah lagi di wilayah sini, Bung!“ teriak Teja mengiringi deru mesin motor trail mereka yang akan melaju pergi.
'Wow, habis dapet kelinci percobaan! Ini emejing banget kan, pemirsah?!' pekik Teja senang membayangkan bagaimana tadi ia menghajar kawanan tersebut dengan luar biasa.
Ia pun kembali mengendarai motor matiknya melaju ke arah rumahnya.
Namun begitu tiba di halaman rumah, Teja melihat mobil mewah yang sangat familiar sedang terparkir di sana.
“Ja, lama banget kamu itu belanjanya?! Nana sudah nungguin kamu tuh dari tadi!“ ucap ayah Teja begitu melihat Teja masuk membawa tas plastik belanjaannya.
Langkah Teja terhenti di ruang tamu. Tatapannya beralih ke arah gadis cantik yang sedang duduk manis di sana.
Pagi itu Nana mengenakan rok pendek diatas lutut yang dipadukan dengan kemeja kotak-kotak yang modis. Paha putihnya terpampang begitu indah.
“Na, tumben kamu nyariin aku?!“ tanya Teja agak heran.
Mendengar itu, Nana justru ikut kaget. “Lho, kamu itu gimana sih, Jo? Kata Pak Toni mulai hari ini yang mijat aku itu udah ganti kamu!“
Teja tersentak!
“Hah?! Kamu mau pijat, Na?!”
Para panitia mengarahkan para peserta untuk memasuki bus yang akan membawa mereka ke perbatasan Hutan Camar Hitam. Setiap tim berbaris rapi sesuai dengan nomor urut pendaftaran mereka masing-masing. Deretan bus berukuran sedang sudah bersiaga dengan mesin yang menyala di area parkir lokasi panggung acara.Perjalanan berlangsung cukup lama, sekitar 3 jam dari lokasi panggung acara dimulai tadi. Sepanjang perjalanan, pemandangan kota perlahan berganti menjadi pepohonan rimbun serta bukit-bukit terjal. Jalanan yang bergelombang dan semakin menyempit membuat guncangan di dalam ruang bus terasa sangat mengocok isi perut.Letak hutan yang begitu terpencil dan terisolasilah yang membuat perjalanan menjadi sangat lama. Jalur darat yang membelah kawasan lereng gunung tersebut menjadi satu-satunya akses menuju area terlarang itu. Ketiadaan permukiman warga di sekitar lokasi semakin menambah kesan angker Hutan Camar Hitam.Saat turun dari bus, panitia membagi semua tim untuk memasuki hutan
Baru saja Teja menyalurkan energi Qi penguat mental kepada anggota timnya melalui pancaran tatapan matanya, datang lima orang dari tim asosiasi lain. Rombongan itu berjalan dengan penuh percaya diri dan senyum meremehkan ke arah kelompok Teja. Langkah kaki mereka sengaja dibuat berat untuk menunjukkan dominasi serta intimidasi awal."Ah, bukankah ini Linda anaknya Pak Sanjaya?! Kamu makin cantik dan montok nih, Lin," ucap ketua tim itu yang merupakan seorang pria bertubuh tinggi dan berkulit legam. Pria itu menyeringai lebar sembari menatao mesum ke arah gundukan besar di dada Linda sebelum kemudian turun ke bawah untuk memindai paha sekal dan bokong montok gadis cantik tersebut."Jaga mulutmu, Doni! Apa kamu mau aku tumbangkan sekarang aja biar nggak jadi masuk hutan?!" sentak Linda sengit. Matanya menyipit tajam. Ia mengepalkan kedua tangannya erat."Uluh-uluh, galak bener?! Kamu yakin bisa melewati ranah bela diri tingkat sedang tahap medium punyaku?" cibir pemuda bernama Doni
Perhelatan akbar yang dinanti pun tiba juga. Mengenakan seragam serba biru muda, tim Teja yang mewakili dua asosiasi yaitu kota Teja dan kota Linda sudah berdiri membaur dengan peserta dari asosiasi lainnya di Indonesia. Suasana di sekitar arena sudah dipenuhi oleh ratusan petarung dengan berbagai atribut asosiasi bela diri yang berbeda.Ketua panitia acara yang berambut putih maju ke tengah arena. Pria tua itu memegang pengeras suara sembari memandangi seluruh kontestan dengan tatapan mata yang amat tajam. Langkah kakinya yang tenang langsung menyedot perhatian penuh seluruh hadirin yang berada di sana."Selamat datang bagi semua perwakilan asosiasi bela diri seluruh Indonesia. Perkenalkan aku Handy, ketua panitia penyelenggaraan," sapa pria berambut putih itu dengan nada suara seraknya.Ia menarik napas dalam-dalam sebelum memberikan informasi utama terkait mekanisme pertandingan yang akan segera dilangsungkan. Semua mata tertuju lurus padanya, menantikan penjelasan teknis ajang
Keesokan harinya, latihan bertiga yang biasanya dijalani Teja bersama Linda dan Panda di hutan, kini bertambah dengan Bintang dan Pedro yang ikut. Suasana area lapang di antara pepohonan rindang itu menjadi lebih riuh dari biasanya. Udara pagi yang sejuk menyapa kulit mereka saat sinar matahari menerobos celah-celah dedaunan.Bintang dan Pedro yang notabene adalah tangan kanan Teja di Geng Surya, merasa begitu beruntung bisa mengenal Teja. Kehadiran pemuda berambut panjang itu di kehidupan mereka benar-benar membawa perubahan yang sangat besar. Mereka menatap Teja dengan raut penuh rasa hormat dan kesetiaan yang begitu mendalam.Mereka dulu yang suka mengompas warga dan bertingkah liar, setelah ditundukkan oleh Teja menjadi orang-orang yang lebih baik. Teja telah menggembleng mental serta membimbing jalan hidup mereka ke arah yang lebih positif. Kejadian masa lalu itu kini menjadi cermin kebangkitan bagi masa depan mereka berdua.Begitu juga dengan sekitar seratus anak buah geng
"Tentu saja sangat bisa diterima," ucap Leo mengangguk dengan begitu dalam. Raut ragu yang sebelumnya sempat melingkupi wajah pria tua itu kini lenyap sepenuhnya, berganti dengan decak kagum yang sangat jelas."Maaf tadi sempat meragukan kemampuan Panda, Ja. Aku hanya khawatir dia terluka di ajang nasional itu," imbuh Leo. Pria paruh baya itu menyampaikan penyesalannya secara tulus di hadapan semua orang yang berdiri mengelilingi arena.Teja mengangguk. Pria berambut gondrong itu melangkah mendekati Panda dan Linda sembari menatap ke arah para sesepuh dengan tenang."Ranah bela diri Panda ada di tingkat sedang tahap fondasi. Dia satu tahap di atas Linda," terangnya menjelaskan tingkatan kemampuan tersembunyi yang dimiliki oleh gadis oriental tersebut."Astaga, kita sudah meremehkan Panda," Sanjaya menggeleng pelan. Pria paruh baya itu mengusap dagunya dengan raut wajah yang masih diliputi rasa takjub luar biasa."Kita kembali ke ruang rapat," ajak Teja pada semuanya sembari membalikk
"Lusa, pertandingan ilmu bela diri Nusantara sudah dimulai. Karena waktu yang semakin mendesak, aku memilih Panda untuk mengisi kekosongan anggota tim," ucap Teja begitu berada di ruang rapat asosiasi sembari menengadahkan tangan ke arah Panda."Tapi, aku nggak mau kalau dianggap tebang pilih dan pilih kasih. Kita bisa lihat kemampuan Panda dulu biar bisa menyimpulkan kelayakannya," lanjutnya memberi penjelasan yang adil bagi semua orang di ruangan tersebut."Bintang, Pedro, dan tiga murid Pak Leo, tolong kalian bersiap buat menghadapi duo Linda dan Panda di arena pertandingan," ucap Teja sambil melangkah untuk mengajak mereka berpindah ke arena pertandingan kantor asosiasi.Leo, Sanjaya, Wiryo, dan sebagian besar murid Leo yang ada di sana menatap Panda dengan heran. Keraguan terpancar jelas dari raut wajah para petarung senior yang hadir.Betapa tidak? Panda bukanlah anggota perguruan bela diri manapun, tapi Teja terlihat begitu memberatkannya. Mereka mempertanyakan alasan di balik
“Nanti lengket semua kena gel pelicin pijat, Ja, kalau pakai baju,” jawab Septa santai—tanpa beban. Teja berusaha keras mengendalikan tatapannya, sekaligus mengendalikan detak jantungnya yang kian berdentum bertalu-talu. “Ba-baiklah, Bu Septa,” tangan Teja bergerak cepat meraih selimutnya yang ter
BLARRR! Jantung Teja seperti baru saja dilempar bom molotov. Meski ia sudah menerima tugas pijat sebagai penerus dan pengganti ayahnya, tetap saja ia masih merasa cukup canggung untuk menjamah tubuh wanita. Terlebih, semua pasien umpan lambung dari ayahnya memiliki kecantikan dan keindahan tubuh d
Nana yang tak pernah melihat Teja berkelahi menjadi khawatir. “Jo, kabur aja yuk. Hitungan ketiga kita langsung masuk mobil dan tancap gas!“ bisiknya pelan di telinga Teja. Namun Teja justru menggeleng dan mengerlingkan mata. “Kamu diam saja dan tetap di posisimu. Biar aku yang ngurus ini,“ jawab T
Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan







