首頁 / Fantasi / Ampun, Jo, Ini Kegedean! / 4. Kelinci Percobaan

分享

4. Kelinci Percobaan

作者: Leva Lorich
last update publish date: 2026-06-03 18:46:47

“Buat apa kamu teriak, Ja?!“ sentak Toni usai mengirimkan tendangannya.

“Sakit dong, Yah, gimana sih?!” raung Teja spontan.

“Memangnya beneran sakit?“ pancing sang ayah lagi.

Teja terdiam sejenak, kemudian meraba miliknya yang kini berukuran luar biasa, mencoba memastikan apa yang ia rasakan.

“Eh, kok nggak sakit, Yah?” ia melongo kaget.

Toni tertawa singkat. “Makanya jangan asal ngomel saja mulut kamu itu! Tadi ayah sedang menguji peningkatan daya tahan tubuhmu, dan… terbukti nggak berasa, kan?“

“Waduh, Yah. Kalau ditendang aja nggak sakit, gimana nanti kalau nganu sama cewek?!“ Teja semakin melongo.

“Halah, kenapa otakmu jadi kayak gitu sekarang, Ja?! Katanya kemarin nggak mau? Bilang mesum lah, ini lah, itu lah!“ goda Toni sembari menggerakkan kedua alisnya.

Teja tercenung. Benar juga, kenapa otaknya jadi mesum begini sekarang? “Sudah jadi takdirku, Yah. Aku kan juga pengen cepet naik tingkatan energi Qi!“ bantah Teja mencari-cari alasan.

“Haha!” tawa sang ayah semakin jahil.

Usai mengatakan itu, Toni kembali bergerak.

Pukulan dan tendangannya melesat memburu tubuh sang anak.

Serta merta Teja melakukan pertahanan diri.

Tak ayal, keduanya kini terlibat dalam pertarungan sengit yang jauh lebih tinggi intensitasnya dibandingkan saat di dalam rumah kemarin.

“Fokuskan mata dan pikiranmu saat bertarung, Ja. Lepaskan sejenak pikiran pada hal lainnya!“ teriak Toni sembari terus memberikan serangan demi serangan mematikan.

Hingga akhirnya—

BAMMM!

Satu pukulan Teja melesak kuat ke dada sang ayah.

Toni terhuyung beberapa langkah ke belakang hingga jatuh ke tanah.

“Maaf, Ayah! Sakit ya?“ Teja berlari merengkuh tubuh sang ayah tercinta. Ia berubah panik, khawatir melukai tubuh renta ayahnya.

Toni bangkit perlahan dengan bantuan Teja. “Meski semua kemampuan sudah masuk ke tubuhmu, ayah masih memiliki sepuluh persen cadangan permanen buat menjaga garis keturunan ini, Ja. Jangan meremehkan ayah kayak gitu!“ seloroh Toni.

Teja menghela napas lega setelah mendengarnya.

Hari baru telah tiba.

Karena hari libur, Teja melakukan aktivitas rutinnya, berbelanja ke pasar untuk kebutuhannya dan juga sang ayah.

Ibu Teja yang meninggal dunia saat melahirkannya membuat Teja tumbuh menjadi pria yang mandiri. Ia selalu bergantian memasak dan berbelanja dengan ayahnya.

Menenteng tas plastik berisi ayam dan sayuran, Teja mengendarai motor matiknya untuk kembali pulang dari pasar.

Namun karena hari masih cukup pagi, saat melewati jalan belakang gedung olahraga yang sepi, sekelompok preman yang sering meresahkan warga di sekitar tempat itu tiba-tiba datang menghadang.

Lima motor trail yang membawa sepuluh pria berbadan besar serta dipenuhi tato sudah memotong jalan sehingga membuat Teja terpaksa mengerem mendadak.

“Apa mau kalian?“ tanya Teja gusar.

“Anak manis, berikan dompet, motor, dan ponselmu kalau masih sayang sama nyawa!“ gertak salah satu pria bermata codet yang nampaknya merupakan pemimpin dari kelompok preman tersebut.

Sejenak Teja terdiam menatap sepuluh tubuh yang berukuran diatas tubuhnya itu.

Ada rasa ragu dalam tatapannya.

Namun, ia segera teringat pada kejadian bulan purnama tadi malam.

“Kalau mau punya uang itu kerja, Bos, bukan merampas punya orang!“ sembur Teja sembari turun dari motor dan mengokohkan kuda-kuda kakinya.

“Berani banget kamu ngomong kayak gitu sama kami?! Brengsek! Serang dia!“ amuk pria mata codet penuh amarah.

“Bikin dua tangan dan kakinya patah!“ imbuh pria mata codet sadis.

Merasa hanya menghadapi seorang pemuda berusia muda, tiga preman melangkah maju dengan pongah.

“Kami bertiga saja sudah cukup buat menghabisi bocah belagu kayak kamu!“ geram salah satu dari tiga preman yang mendekat.

Masing-masing tangan mereka menggenggam pipa besi.

Dengan beringas ketiganya mengayunkan pipa besi serempak ke arah Teja.

Namun tiba-tiba—

WHUTTT!

Tolakan udara padat yang keluar dari tangan dan tubuh Teja menghempas ketiganya jauh ke belakang hingga bergulingan di tanah.

Semua mata preman terbeliak kaget menyaksikan hal tersebut.

“A-apa itu tadi?!“ pria mata codet ternganga.

Tak ingin memberikan kesempatan, tubuh Teja bergerak lincah dan sangat cepat.

BAMM!

BUKK!

PAKKK!

Satu persatu tinju dan tendangannya melesak ke tubuh setiap preman tanpa terkecuali.

Begitu cepatnya ia bergerak hingga kesepuluh preman itu hanya mampu mengedipkan mata kaget sebelum kemudian tubuh-tubuh besar mereka jatuh berdebam ke atas tanah.

Pria mata codet dengan wajah meringis kesakitan segera memberi aba-aba pada semua anak buahnya untuk melarikan diri.

“Jangan cari masalah lagi di wilayah sini, Bung!“ teriak Teja mengiringi deru mesin motor trail mereka yang akan melaju pergi.

'Wow, habis dapet kelinci percobaan! Ini emejing banget kan, pemirsah?!' pekik Teja senang membayangkan bagaimana tadi ia menghajar kawanan tersebut dengan luar biasa.

Ia pun kembali mengendarai motor matiknya melaju ke arah rumahnya.

Namun begitu tiba di halaman rumah, Teja melihat mobil mewah yang sangat familiar sedang terparkir di sana.

“Ja, lama banget kamu itu belanjanya?! Nana sudah nungguin kamu tuh dari tadi!“ ucap ayah Teja begitu melihat Teja masuk membawa tas plastik belanjaannya.

Langkah Teja terhenti di ruang tamu. Tatapannya beralih ke arah gadis cantik yang sedang duduk manis di sana.

Pagi itu Nana mengenakan rok pendek diatas lutut yang dipadukan dengan kemeja kotak-kotak yang modis. Paha putihnya terpampang begitu indah.

“Na, tumben kamu nyariin aku?!“ tanya Teja agak heran.

Mendengar itu, Nana justru ikut kaget. “Lho, kamu itu gimana sih, Jo? Kata Pak Toni mulai hari ini yang mijat aku itu udah ganti kamu!“

Teja tersentak!

“Hah?! Kamu mau pijat, Na?!”

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   287. Singa Betina

    Tim Teja melanjutkan perjalanan. Langkah kaki mereka dengan cepat menyusuri vegetasi Hutan Camar Hitam yang kian menanjak dan rapat.Setengah jam kemudian, suasana di sekeliling mereka mendadak berubah hening. Kicauan burung dan derik serangga yang semula memenuhi hutan seketika lenyap tanpa sisa.Teja segera menghentikan langkahnya dan mengangkat tangan kanan. "Berhenti! Ada aura bahaya yang sangat kuat di depan kita," peringatnya tegas.Dari balik semak belukar yang lebat, melangkah keluar seekor singa jantan berukuran raksasa. Bulu surainya berwarna cokelat gelap, sementara tubuhnya dua kali lebih besar dari singa pada umumnya. Matanya memancarkan amarah yang tinggi, menandakan teritorialnya baru saja terganggu.Auman dahsyat menggelegar dari tenggorokannya, menggetarkan pepohonan purba di sekitar mereka. Gelombang tekanan udara dari deru suara itu membuat bulu kuduk anggota tim Teja seketika meremang.Di belakang singa jantan tersebut, nampak seekor singa betina yang terluka pa

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   286. Sinergi Duo

    Pria beralis codet langsung merangsek maju untuk menyambut Linda dengan pukulan lurus yang cukup keras. Angin pukulan berhembus lumayan kencang mengincar bagian wajah sang gadis.Namun, Linda bergerak jauh lebih cepat. Ia merendahkan tubuhnya dengan lincah, membiarkan tinju pria itu melayang tipis di atas kepalanya.Sebelum pria beralis codet sempat menarik lengannya, Linda menyarungkan serangan balasan berupa dorongan dua telapak tangan yang sangat bertenaga. Hantaman itu mendarat telak di bagian ulu hati sang ketua kelompok.BAM!Tubuh besar pria beralis codet langsung terdorong ke belakang dan tersungkur di tanah basah. Ia memegangi dadanya sembari berusaha mengais udara yang mendadak hilang dari paru-parunya.Di sisi lain, pria penuh bekas jahitan dan pria berkepala botak mencoba menyerang Panda secara bersamaan dari dua arah. Pria penuh jahitan melayangkan tendangan melingkar ke arah leher Panda, sedangkan si botak mengincar bagian perut dengan ayunan tangan kekarnya.Panda tida

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   285. Membakar Kalori

    Handy talkie yang dibawakan oleh pihak panitia berbunyi. Suara kresek sinyal terdengar sebentar sebelum terdengar pemberitahuan resmi dari pusat pengawas. Panitia menjelaskan jarak tempuh dari gate awal menuju puncak gunung yang bisa memakan waktu seharian penuh. Jika menghadapi kendala, maka semua bisa menginap di hutan dan melanjutkan keesokan harinya."Kalau kita nginep, apa nggak keduluan sama tim lain, Ja?" tanya Linda. Gadis itu menatap Teja dengan raut cemas sembari membetulkan posisi tas perbekalannya."Semua tim bakal menghadapi kesulitan masing-masing. Kalau kita yang selancar ini saja masih butuh nginep, apalagi mereka?" jawab Teja. Ia menatap tenang ke arah rombongannya dan mengamati penguatan mental dari energi Qi-nya yang mssih cukup tebal di masing-masing sanubari anggota tim.“Butuh waktu berapa lama bagi tim lain buat mengatasi hewan buas kayak buaya putih tadi? Belum lagi hadangan tim yang ingin menggugurkan pesaing mereka. Kita sudah terbilang paling cepat sampai

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   284. Berkembang Tidak Biasa

    Di pinggir tebing, buaya putih tampak semakin asyik mempermainkan kawanan Doni. Gerakan reptil raksasa itu sangat santai namun berdampak fatal bagi mental lawan. Lolongan ketakutan dari kelompok itu menggema keras di sekeliling dinding batu.Ia nampaknya tidak lapar dan hanya ingin bersenang-senang saja. Makhluk itu sengaja memutari area terdesaknya Doni cs tanpa langsung melancarkan gigitan mematikan.Ekornya bergerak menggempur Doni dan yang lainnya. Sabetan ekor keras itu berulang kali menghantam tanah basah dan tubuh mereka secara acak.Cakar kakinya sengaja ia goreskan ke tubuh mereka hingga pakaian mereka terkoyak. Garisan luka dangkal yang menyisakan perih luar biasa kini menghiasi kulit kelompok mesum tersebut."Ampun! Tolong jangan bunuh kami!" teriak Doni parau. Wajahnya sudah bercampur tanah dan air mata ketakutan yang mengucur deras.Begitu juga dengan para anak buahnya yang juga tak ada satu pun yang masih berdiri dengan tubuh bersih. Merah darah dan lumpur cokelat menya

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   283. Bukan Teman

    Teja hanya menatap santai Doni dan anggota timnya. Pria berambut panjang itu melipat kedua tangannya di dada sembari menyaksikan tingkah sombong kelompok Doni tersebut.Ketenangan raut wajah Teja sedikit pun tidak tergoyahkan oleh ocehan meremehkan dari lawan."Sori, aku lebih percaya sama timku!" balas Linda ketus. Gadis itu menatap tajam ke arah Doni dengan sorot mata penuh kejijikan."Ahaha, coba kulihat, gimana cara kalian menyeberangi sungai yang lebar dan dalam ini," ejek Doni. Pria berkulit legam itu tertawa dan berkacak pinggang sembari mengisyaratkan anak buahnya untuk menyaksikan kebingungan kelompok Teja.Tepat setelah itulah dari samping sungai di mana Doni dan anggota timnya berada, muncul buaya putih yang tadi sudah ditundukkan Teja. Kehadiran reptil raksasa sepanjang tiga meter itu secara tiba-tiba langsung memutus tawa mengejek kelompok Doni. Kibasan ekornya yang basah menyapu tumpukan daun kering di Tepi Sungai.Mulutnya langsung terbuka lebar saat melihat kawanan m

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   282. Mahir Membuat Rakit

    "Ayo buruan bayar!" tagih Teja tanpa rasa malu. Pria berambut panjang itu menyodorkan pipi kanan dan kirinya secara bergantian sembari memamerkan senyum jahil di hadapan kedua gadis tersebut."Nanti aja selesai acara!" tolak Linda. Matanya membelalak, mencoba bersikap galak meski rona merah di pipinya semakin tidak bisa disembunyikan."Malu, Ja, ada Bintang sama Pedro. Nanti saja lah," timpal Panda. Gadis oriental itu merapatkan seragamnya sembari menunduk dalam-dalam, menghindari tatapan godaan dari Teja.Teja menunjuk ke arah puncak gunung Hutan Camar Hitam yang masih terlihat jauh. Puncak yang tertutup kabut tipis itu tampak begitu menjulang tinggi di seberang lebatnya vegetasi hutan."Puncak gunungnya masih jauh lho. Siapa yang bisa jamin nanti nggak ada gangguan semacam buaya ini lagi?" racau Teja memasang raut wajah penuh ancaman terselubung."Kan ada kamu yang bisa jinakin," rajuk Linda manja. Ia memegang lengan Teja sembari menggoyangkannya pelan, berharap pria itu meleleh da

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   6. Menunjukkan Sikap Dominan

    Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   5. Gundukan Besar

    “Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   3. Bulan Purnama

    Ternyata bulan purnama yang dimaksudkan ayah Teja itu datang keesokan harinya. Di halaman belakang rumah yang tertutup tembok keliling, Teja dan Toni berdiri saling berhadapan. Mereka bertelanjang dada. Di bagian bawah, Teja hanya mengenakan lilitan kain warisan leluhur mereka. Sedangkan Toni yan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   2. Warisan Sebagai Jalan Hidup

    Teja melangkah menaiki tangga kampus dan berpapasan dengan Nana. Memori tentang desahan aneh Nana kemarin sore kembali menyumpal di benaknya. Ia hanya mampu menunduk canggung tanpa berani menatap mata si cantik Nana. Nana memang bukan idola kampus. Dia adalah penyanyi terkenal namun jarang diliri

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status