Share

3. Bulan Purnama

Author: Leva Lorich
last update publish date: 2026-06-03 18:44:58

Ternyata bulan purnama yang dimaksudkan ayah Teja itu datang hari ini.

Di halaman belakang rumah yang tertutup tembok keliling, Teja dan Toni berdiri saling berhadapan.

Mereka bertelanjang dada. Di bagian bawah, Teja hanya mengenakan lilitan kain warisan leluhur mereka. Sedangkan Toni yang masih nampak kekar otot dada dan lengannya, mengenakan celana silat berukuran longgar.

“Tinggal lima belas menit lagi menuju jam dua belas malam, Ja. Apa kamu sudah siap?“ tanya Toni dengan tatapan tajam ke arah sang putra semata wayangnya.

Seminggu lalu, ketika Teja harus menerima warisan ini, Teja menolak dan masih merasa ragu untuk menerima warisan itu. Namun semenjak ia melihat sendiri refleks kemampuan bela diri dan energi Qi-nya kemarin, rasa ragu itu beranjak berubah menjadi rasa takjub dan ingin.

“Aku siap, Yah,” jawab Teja sembari menatap balik.

Toni sejenak tersenyum dan mengangguk senang. “Perlu ayah jelaskan disini bahwa lilitan kain warisan dari raja leluhur kita itu memiliki—”

“Tunggu, Yah! Raja?” potong Teja penasaran.

“Teja Surya, anakku. Prabu Wiyata VII, Raja Kerajaan Mayangkara itu adalah leluhur kita yang menurunkan warisan ini!“ terang Toni.

Mendengarnya, keraguan di hati Teja semakin raib. Mewarisi sesuatu dari leluhur yang ternyata seorang Raja adalah sesuatu yang membanggakan baginya.

Toni kembali melanjutkan. “Lilitan kain ini memilki khasiat yang besar, Ja. Secara instan kamu akan mewarisi ilmu bela diri, energi Qi, ilmu pijat terbaik, keberuntungan, kemampuan pengobatan, bahkan kamu akan memiliki peningkatan ketajaman pikiran sehingga bisa membaca karakter orang serta melakukan penerawangan.“

“Yang utama, membuat punyaku jadi segede gaban kan, Yah?” bisik Teja malu-malu.

Toni tertawa mendengarnya. “Kamu belum tahu filosofinya, Ja. Itu adalah perlambangan gada sang raja yang menguasai nusantara. Dengan gada terbesar se-Indonesia, kamu sebenarnya sedang mewarisi kejayaan pendahulumu!“

Teja mengangguk paham. “Selain itu, ada lagi nggak, Yah, kemampuan lainnya?“ tanyanya lagi, ingin mendapatkan informasi sedetail mungkin.

Toni mengangguk pelan. “Peningkatan energi Qi.“

“Peningkatan energi Qi? Gimana tuh maksudnya, Yah?“ Teja membeo sambil mengerutkan kening kembali.

“Di dalam riwayat silsilah leluhur kita, energi Qi dibagi dalam sepuluh tingkatan. Yang akan kau miliki ini nanti adalah yang terendah, atau dasar. Peningkatannya akan terjadi dalam setiap enam purnama atau setara enam bulan sekali,” Toni menjelaskan dengan sangat telaten.

“Hmm, lama juga ya, Yah? Jadi aku bisa sampai tingkatan kesepuluh sekitar 5 tahun lagi dong?! Sekitar usia 24 tahun nanti,” Teja sedikit protes.

“Buah yang matang itu butuh waktu dan proses, Ja! Apa menurutmu habis tumbuh tunas buah lalu tiba-tiba jadi buah yang matang?!“ tekan sang ayah merasa sedikit terkejut dengan pemikiran praktis anaknya.

Teja menggaruk keningnya. “Ya, siapa tahu ada jalur pintas,” ujarnya sambil menjulurkan lidah.

Toni tiba-tiba mengangguk. “Ada sih.“

“Serius, Yah?“ giliran Teja yang kini terperangah.

“Kamu pikir gada terbesar se-Indonesiamu itu cuma buat pajangan?“ jawab Toni sembari menyunggingkan senyum penuh makna.

“Jika kamu menggunakan benda itu ke tubuh pasien pijatmu, maka itu akan mengurangi satu purnama. Asumsinya, jika kamu melakukannya enam kali pada wanita, maka itu akan memangkas waktu enam bulan peningkatan energi Qi,” lanjut Toni menerangkan.

Mata Teja seketika melebar selebar-lebarnya. “Jadi… Bu Septa dan Nana kemarin bener-bener digituin sama ayah?!“

Toni menggeleng. “Itulah yang ayah tadi sebut sebagai proses, Ja. Ayah masih memberikan pijatan nyaman buat mereka agar mereka merasa ketagihan dan datang padamu sebagai penerus ayah!“

Tenggorokan Teja tercekat mendengarnya. Ia tak menyangka jika desahan yang terjadi di kamar ayahnya kemarin justru dipersiapkan sang ayah untuknya!

Teja akan melanjutkan pertanyaannya saat Toni tiba-tiba merentangkan tangan di depan wajahnya.

“Waktunya sudah tiba, Nak!“ bisik sang ayah lirih namun seolah menghujam isi hati Teja.

'Inilah waktunya!' batin Teja berusaha menguatkan hati untuk menerima takdir sebagai penerus master pijat turun temurun selanjutnya.

Bertepatan dengan jarum jam yang mendekati angka dua belas, aura tipis berwana coklat pekat mulai menyelimuti keduanya.

Perlahan aura kecoklatan itu memadat, kemudian seperti merasuk ke dalam pori-pori tubuh Teja Surya.

Bersamaan dengan itu, sang ayah yang berada di depan Teja terlihat mulai menyusut massa ototnya, kulitnya yang awalnya kencang mulai berubah keriput.

Dalam waktu sekitar sepuluh menit kemudian, aura itu sudah menghilang sepenuhnya.

Wajah Toni Surya yang kini berubah renta kembali menatap Teja, tetap dengan tatapan yang penuh dengan ketegasan dan kebijaksanaan.

“Sembilan puluh persen sisa warisan kemampuan sudah sepenuhnya beralih padamu, Ja. Tubuh ayah sekarang sudah kembali menjadi seperti pria seumuran ayah pada umumnya,” ucap Toni dengan suara yang terdengar bergetar khas pria lanjut usia.

Teja terpana menatap lengannya, dadanya, kakinya, bahkan gundukan di bawah lilitan kainnya.

Semuanya benar-benar berubah menjadi kekar dan berotot keras!

Tak hanya itu, tubuhnya kini terasa sangat ringan, seperti kertas. Dan setiap hembusan napasnya yang dialiri energi Qi yang melimpah itu terasa sangat hangat, lapang, lega, dan menyegarkan.

Toni tersenyum teduh. “Kau sekarang sudah jadi pria istimewa, Nak. Satu tarakan atau pantangan yang harus kamu hindari, jangan sekalipun kamu sombong dengan kemampuan ini, terlebih berbuat kejahatan. Sekali kamu melakukannya, itu setara dengan menghilangnya satu per enam dari tingkatan energi Qi mu saat ini. Enam kali melakukannya, kamu akan didegradasi ke tingkatan energi Qi di bawahnya!“

Baru saja Teja mengangguk untuk mematuhi persyaratan pantangan tersebut, namun tiba-tiba kaki kanan ayahnya terayun kencang, mengarah tepat ke miliknya yang masih tertutup lilitan kain warisan.

BUKKK!

“Ayah!“

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
ClarXD
sakit anjr ini...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   613. Butuh Pendapat

    Pajero Sport putih milik Teja terparkir sempurna di pelataran asri rumah klinik. Hari sudah beranjak sore, membiaskan warna jingga temaram di langit Surabaya. Desan dengan penuh semangat membantu membawa beberapa kantong plastik berisi camilan dan buah-buahan segar masuk ke dalam rumah, sebelum akhirnya bocah itu berbaring santai di sofa ruang tengah sembari menikmati jajanan barunya.Teja dan Desy melangkah masuk membawa sisa kantong belanjaan yang dipenuhi bahan makanan mentah serta tumpukan pakaian baru. Saat Teja meletakkan kantong-kantong itu di atas meja dapur, Desy mendekatinya, melingkarkan kedua lengan halusnya di pinggang tegap Teja dari belakang."Mas, aku mau melayani Mas lebih privasi, tapi kalau ada Desan begini ya mana bisa?" ucap Desy lirih.Paras ayunya disandarkan di punggung tegap Teja. Ada nada kepasrahan bercampur kecemasan halus dalam bisikannya, khawatir keberadaan sang adik akan membatasi keleluasaannya untuk memberikan pengabdian utuh kepada pria terkasihny

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   612. Berbelanja Kebutuhan

    "Ke kampus sebentar. Cuma satu mata kuliah dua SKS kok. Habis itu langsung ke sini lagi buat ngajak kamu dan Desan beli baju yang aku janjikan semalam," jawab Teja lembut seraya mengusap pelan helai rambut panjang Desy yang masih harum shampo.Mata Desy seketika berbinar terang. Senyuman manis merekah di paras tirusnya yang seputih kapas. "Iya, Mas... Aku sama Desan tunggu di rumah klinik ya. Hati-hati di jalan."Teja melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Kucuran air segar menyiram tubuh tegap berototnya, menyegarkan kembali sirkulasi hawa Murni Qi tingkat tujuh di dalam pembuluh darahnya. Usai mengeringkan raga dan mengenakan pakaian kasual yang rapi, Teja berpamitan singkat pada Desy dan Desan.Sedan Maserati Quattroporte GTS V8 hitam milik Teja menyala halus, membelah jalanan kota Surabaya menuju universitasnya. Perkuliahan dua SKS pagi itu berjalan singkat. Sebagai mahasiswa tingkat akhir yang cerdas, Teja menyerap materi perkuliahan dengan amat cepat tanpa kendala s

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   611. Makan Besar

    "Iya… iya. Mbak masak nasi nih!" sahut Desy cepat dengan wajah yang masih memerah padam.Gadis berparas ayu itu buru-buru mengambil beras dari dalam wadah penyimpanan, membilasnya hingga bersih di bawah kucuran air kran yang jernih, lalu memasukkannya ke dalam wadah penanak nasi otomatis. Jemari lentiknya yang lincah menekan tombol memasak pada alat penanak nasi tersebut dengan gerakan terburu-buru, mencoba mengalihkan perhatian dari candaan vulgar Teja yang hampir saja tertangkap oleh sang adik.Teja hanya terkekeh renyah melihat tingkah panik kekasih barunya tersebut. Pemuda berambut gondrong itu dengan santai memindahkan koloke ayam yang renyah dan fuyunghay beraroma asam manis ke atas piring porselen besar, lalu menyajikannya di tengah meja makan bersih yang tertata rapi.Tak butuh waktu lama, uap harum dari nasi putih yang baru matang merebak memenuhi udara, berpadu sempurna dengan aroma masakan Teja di meja. Desy dengan sigap menyendokkan nasi hangat yang berasap tipis ke dal

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   610. Masak Nasi

    Sinar matahari pagi yang hangat menerobos tipis melalui celah tirai jendela kamar tidur, membiaskan pendar keemasan di atas kasur empuk. Desy masih terlelap amat nyenyak dalam balutan kemeja putih kebesaran Teja, napasnya teratur dengan raut wajah ayu yang begitu damai usai melewati malam panjang yang penuh kehangatan. Di ruang tengah, Desan pun tampak tertidur pulas di atas ranjang pasien yang sejuk, terbebas sepenuhnya dari cengkeraman demam tinggi.Teja melangkah pelan tanpa menimbulkan suara, melepaskan cengkeraman halus jemari Desy di pinggangnya agar tidak mengganggu tidur nyenyak sang gadis.Ia sejenak mencuci wajah di kamar mandi, kemudian keluar kamar menuju dapur.Segarnya usapan air dingin menyapu paras tampannya, membangkitkan kebugaran alami dari sirkulasi hawa Murni Qi tingkat tujuh yang mengalir stabil di dalam tubuhnya. Dengan langkah tegap berbalut pakaian kasual santai, pemuda berambut gondrong itu melangkah melintasi koridor klinik, menuju ke area dapur bersih ya

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   609. Tetap Konsisten

    "Mas, aku masukin ya?" pinta Desy lirih sembari mulai membuka kancing kemeja kebesarannya.Jemari lentiknya yang bergetar halus merayap turun melintasi barisan kancing kemeja putih milik Teja yang melekat di tubuh mulusnya. Satu per satu kancing itu terlepas dari lubangnya, membiarkan kain putih tipis tersebut terkuak perlahan ke arah sisi samping tubuhnya.Kancing-kancing itu sudah terbuka sebagian, menampilkan keindahan belahan dada sang gadis yang curam dan putih.Aroma harum sabun mandi yang berpadu dengan kehangatan alami tubuh Desy seketika menyeruak semakin pekat. Kulit seputih salju di area dadanya tampak memikat, memancarkan kilau halus yang belum pernah tersentuh oleh polusi kehidupan malam. Seiring dengan jemarinya yang terus melepaskan ikatan kancing ke bawah, lekukan indah raga sang dara kian terpampang nyata.Tak lama kemudian bentuk bulatan buah dada berikut puting merah mudanya yang kaku juga mulai terlihat.Gumpalan kenyal yang mengkal dan ranum itu membusung anggu

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   608. Jalur Membara

    "Aku pegang ya, Mas," bisik Desy dengan nada suara bergetar dan napas yang tertahan, matanya terpaku tanpa berkedip pada keperkasaan Teja yang mengacung gagah di udara terbuka.Tanpa menunggu persetujuan Teja, Desy menggenggamnya.Kedua telapak tangan halus Desy merapat, melingkari batang besar yang terasa begitu hangat dan keras sekeras beron bertulang. Ibu jari dan jemari lentiknya nyaris tidak saling bertemu saat menggenggam lingkar luar keperkasaan Teja. Hawa murni Qi tingkat tujuh yang bersirkulasi di tubuh Teja memancar langsung ke telapak tangan Desy, mengalirkan sensasi hangat yang mendinginkan rasa canggung sang gadis dan menyulut naluri purbanya yang teramat dalam."Ya ampun... bener-bener padat banget, Mas... nggak muat kalau cuma pakai satu tangan," cicit Desy lirih, memandangi helaian urat menegang yang menghiasi batang super jumbo tersebut dari pangkal hingga ke puncaknya.Desy mulai menggerakkan kedua tangannya, memberikan pijatan perlahan di sepanjang batang kejantan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   6. Menunjukkan Sikap Dominan

    Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   5. Gundukan Besar

    “Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   4. Kelinci Percobaan

    “Buat apa kamu teriak, Jaaa?!“ sentak Toni usai mengirimkan tendangannya. “Sakit dong, Yah, gimana sih?!“ raung Teja spontan. “Memangnya beneran sakit?“ pancing sang ayah lagi. Teja terdiam sejenak, kemudian meraba miliknya yang kini berukuran luar biasa, mencoba memastikan apa yang ia rasakan.

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   2. Warisan Sebagai Jalan Hidup

    Teja melangkah menaiki tangga kampus dan berpapasan dengan Nana. Memori tentang desahan aneh Nana kemarin sore kembali menyumpal di benaknya. Ia hanya mampu menunduk canggung tanpa berani menatap mata si cantik Nana. Nana memang bukan idola kampus. Dia adalah penyanyi terkenal namun jarang diliri

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status