Mag-log inSari mengepalkan tangan kanannya yang masih gemetaran dengan pendar gairah yang amat pekat. Matanya yang sayu menatap tajam ke arah jemari Teja yang bersiap memutar kepalan di udara."Batu... Gunting... Kertas!"Teja mengeluarkan batu, sedangkan Sari meluruskan dua jarinya membentuk guntin, namun di detik terakhir ia dengan cepat merubahnya menjadi kertas."Aku menang! Hahaha, aku menang putaran ketujuh ini, Ja!" pekik Sari kegirangan. Suara seraknya bergema riuh di dalam kamar beraroma terapi tersebut.Teja terkekeh pelan sembari menyandarkan punggungnya di bantal ranjang. "Oke, kamu yang menang. Mau minta hukuman apa sekarang, Sar?"Sari memiringkan tubuhnya, menatap lurus ke arah selangkangan Teja yang memamerkan keperkasaan sang pemuda maskulin tersebut. Senyuman sensual terkulum di bibir bergincunya yang kini sedikit basah."Aku mau penetrasi sekarang, Ja! Aku udah nggak tahan lagi, dari tadi dipancing mulu!" tuntut Sari penuh semangat sembari merenggangkan kedua paha mulusnya l
Keduanya kembali mengayunkan kepalan tangan ke udara untuk memulai permainan putaran ketiga."Batu... Gunting... Kertas!"Teja mengeluarkan gunting, sementara Sari mengeluarkan kertas."Aku menang lagi!" seru Teja terkekeh puas.Sari mengerucutkan bibirnya gemas, namun matanya yang sayu tak mampu menyembunyikan pancaran gairah yang semakin membara. "Ya udah, mau nyuruh apa kali ini, Ja?""Kulum punyaku sampai kamu ketagihan," ujar Teja sembari menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.Sari memamerkan senyuman sensualnya. Tanpa membuang waktu, janda muda itu langsung menggeser posisinya berlutut di antara dua paha Teja. Jemari lentiknya menggenggam erat milik Teja yang sudah tegang sempurna, lalu membenamkan bibir bergincunya ke bagian kepala benda tumpul nan tebal tersebut."Ummh... Mmph!" Sari melesakkan milik Teja ke dalam rongga mulutnya yang hangat. Lidahnya yang lihai bergerak menari-nari melingkari urat-urat menonjol di sepanjang batang keperkasaan itu. Hisapan ketat bercam
"Yakin lebih gede punyaku?" Teja terbahak lagi. Pria berambut panjang itu menatap Sari dengan wajah jenaka melihat kekaguman janda muda tersebut."Asli, Ja. Punya dia emang gede, item, tapi lembek. Nggak keras kayak ini. Terus ukurannya juga kalah telak," jujur Sari tanpa ragu sedikitpun. Matanya masih berbinar-binar mengagumi keperkasaan di hadapannya.Dalam pikiran Teja, meski ia tak ingin terkesan menjadi pria gampangan, tetap saja ia butuh tambahan kuota wanita untuk memenuhi targetnya menuju peningkatan energi Qi-nya. Target enam wanita harus segera dituntaskan agar ranah kemampuan energi Qi-nya bisa melesat naik ke tingkat tiga."Sini, Ja," Sari menarik Teja agar rebah di ranjang. Tangannya menggenggam erat jemari Teja, membimbing pria itu untuk tidur terlentang di atas sprei putih yang sejuk.Ia kini gantian bangkit berlutut di samping Teja. Posisinya yang berlutut tanpa sehelai benang pun memamerkan lekuk tubuh instruktur senam yang begitu kencang dan sensual.Perlahan tangan
Sari menutup pintu kamar lalu berjalan santai menuju ranjang berukuran besar di tengah ruangan. Tanpa sedikit pun rasa canggung, janda muda itu melepaskan gaun santainya, disusul dengan bra dan celana dalam tipis yang melekat pada kulit mulusnya.Sari memang santai melepas semua pakaiannya tanpa canggung karena sudah pernah bercinta dengan Teja sebelumnya. Tubuh indahnya yang kencang khas instruktur senam kini terpampang polos di bawah sinaran lampu kamar."Aku langsung rebahan di sini ya, Ja?" tutur Sari santai sembari menelungkupkan tubuhnya di atas kasur berlapis sprei lembut.Teja tersenyum tipis lalu melangkah mendekat. Pria berambut gondrong itu mengeluarkan botol berisi gel pelicin pijat khusus dari tas perlengkapannya, lalu menuangkannya secukupnya ke atas telapak tangan.Menggunakan gel pelicin pijat, Teja memijat semua anggota tubuh Sari tanpa terlewatkan. Jemari Teja mulai mendarat di area pundak, menekan titik-titik saraf yang tegang dengan tekanan yang terkendali agar ti
Tak terasa tumpukan kesibukan Teja berangsur terselesaikan. Mulai dari menghadapi Suko, berlanjut pertandingan bela diri Nusantara yang dimenangkan timnya kemarin. Ketegangan fisik dan mental yang menguras energi selama beberapa pekan terakhir kini perlahan mencair berganti ketenangan.Pagi ini, Teja duduk seorang diri di ranjang kamarnya. Ia tidak berangkat kuliah karena hari libur. Sinar matahari pagi menembus celah gorden tipis, menerangi ruang kamarnya yang begitu luas dan tertata rapi.'Sejauh ini aku sudah berhubungan badan sama Nana, Panda, Linda, dan Susan buat memenuhi target enam wanita menuju peningkatan energi Qi tingkat tiga,' batinnya. Pria berambut panjang itu mengelus dadanya sembari menghitung pencapaian syarat warisan lilitan kain leluhurnya yang sedang ia jalani.'Melihat kondisi di pertandingan kemarin, peningkatan energi Qi-ku ini harus segera diupayakan. Mata batinku kemarin enggak bisa menembus dinding tebal gua. Aku juga kalah pas bertarung sama gorila gede i
Rombongan Teja melangkah santai mengikuti ritme gerakan tiga hewan pendukung mereka. Suasana malam Hutan Camar Hitam yang semula begitu mencekam kini berubah menjadi sangat bersahabat di sepanjang tepi aliran air telaga.Jalur yang mereka lalui merupakan cerukan celah alami yang tersembunyi rapat di balik kerimbunan semak belukar dan lebatnya pohon-pohon purba. Jika bukan karena bimbingan Buaya Putih serta sepasang singa keemasan itu, tidak akan ada satu pun kelompok asosiasi lain yang mampu menemukan celah tersembunyi itu."Enak banget ya jalan di sini, nggak ada tanjakan terjal kayak di jalur pendakian utama tadi," celetuk Bintang sembari bersiul pelan. Pria bertato itu menikmati hembusan angin malam yang menyapu hawa hangat di sepanjang badan jalan."Iya, lagian nggak ada hewan buas atau gangguan tim lain. Sepi banget serasa jalur VIP," timpal Pedro terkekeh puas. Tangkai kapak besar yang semula ia genggam erat kini hanya disandarkan santai di bahu tegapnya.Teja berjalan paling
Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan
“Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih
“Buat apa kamu teriak, Jaaa?!“ sentak Toni usai mengirimkan tendangannya. “Sakit dong, Yah, gimana sih?!“ raung Teja spontan. “Memangnya beneran sakit?“ pancing sang ayah lagi. Teja terdiam sejenak, kemudian meraba miliknya yang kini berukuran luar biasa, mencoba memastikan apa yang ia rasakan.
Ternyata bulan purnama yang dimaksudkan ayah Teja itu datang keesokan harinya. Di halaman belakang rumah yang tertutup tembok keliling, Teja dan Toni berdiri saling berhadapan. Mereka bertelanjang dada. Di bagian bawah, Teja hanya mengenakan lilitan kain warisan leluhur mereka. Sedangkan Toni yan







