เข้าสู่ระบบ"Karena aku nggak mau hidup miskin di kemudian hari, Mas!" jerit Sonya meluapkan kepanikan dan ego kepicikannya.Yulio menggeleng frustrasi sembari menatap anak dan istrinya tersebut. Sorot matanya memancarkan kehancuran batin yang amat dalam, tak menyangka orang-orang terdekat yang ia cintai ternyata tega merancang kematiannya secara perlahan demi tumpukan harta.Teja yang tak tega melihat beban mental yang begitu besar dari Yulio segera maju. Pria berambut panjang itu melangkah tegas, memotong pusaran drama keluarga yang kian tidak menentu tersebut dengan wibawanya."Kita selesaikan dulu janji kita tadi," ucapnya pelan namun sangat terdengar menusuk gendang telinga hingga menembus ke jantung.Nakula, Sonya, dan Bagas menatap cepat ke arah Teja. Ketiganya seketika memucat kaku saat menyadari bahwa taruhan yang mereka sepakati sebelumnya kini berbalik menjadi belati tajam yang menancap di leher masing-masing."Bagas janji menyembahku, Bu Sonya janji bakal pergi membawa Bagas keluar
"Teja, terima kasih banyak. Aku hampir mati di tangan mereka!" Yulio beralih menatap Teja. Pria berjambang lebat itu mengusap dadanya yang kini terasa begitu lapang dan lega tanpa ada lagi himpitan rasa sakit."Sama-sama, Pak Brewok. Sudah jadi kewajibanku buat membantu sesama manusia," balas Teja tenang. Pria berambut panjang itu tersenyum tipis, menyapa sahabat ayah angkatnya itu dengan panggilan akrabnya yang sebelumnya.Teja mengalihkan tatapannya pada Sonya dan Bagas.Tatapan itu bukan sekadar tatapan menagih janji. Di sana ada tatapan membunuh yang pernah Teja lakukan saat berhadapan dengan Denny dan Suko. Hawa dingin yang mengancam seketika membumbung dari tubuh Teja, menekan suasana kamar tamu itu.Sonya dan Bagas yang menangkap kilatan mematikan dari manik mata Teja seketika menyusut kaku. Pria muda dan ibunya itu melangkah mundur setengah langkah dengan raut wajah memucat pasi akibat tekanan hawa membunuh dari Teja."Siapa yang masukin lipan itu ke tubuh Pak Yulio?" tany
"Ini... ini kondisi penyakit khusus. Om Yulio harus segera dirujuk ke rumah sakit sebelum terlambat!" ucap Nakula berusaha menutupi kegagalan penanganannya. Suara dokter muda itu bergetar hebat dengan peluh dingin yang mengucur deras di pelipisnya."Itupun tetap terlambat, Bro Dokter. Rumah sakit terdekat dari sini masih tiga puluh menit perjalanan. Pak Yulio sudah kritis!" bentak Teja.Teja segera maju dan menarik paksa bahu Nakula agar mundur. "Minggir!"Cengkeraman tangan Teja yang kuat seketika melontarkan tubuh Nakula hingga terhuyung dua langkah ke belakang. Dokter berpenampilan perlente itu hendak merangsek maju kembali demi membela harga dirinya yang hancur, namun gerakannya langsung tertahan kaku.Bob ikut maju dan menahan tubuh Nakula yang ingin kembali maju. "Kamu sudah gagal, Dokter!" tegas Bob Salim dengan suara menggelegar dan tatapan mengintimidasi.Kepanikan di dalam kamar tamu itu semakin menjadi-jadi tatkala Yulio memucat pasi dengan napas yang semakin tersendat-s
Nakula segera melakukan pemeriksaannya. Pria berpenampilan perlente itu mengatur kembali posisi stetoskop di telinganya lalu menempelkan bagian ujung logam dingin tersebut ke beberapa titik di atas perut Yulio.Keningnya berkerut serius mengamati setiap tanda yang ia peroleh. Sorot matanya nampak begitu tekun seolah sedang membaca sebuah teka-teki medis yang amat rumit di dalam tubuh pria berjambang lebat tersebut.Ia lantas menelan ludah ringan dan menepuk beberapa kali perut Yulio. Bunyi ketukan pelan bergema halus saat jemari Nakula menguji tingkat kerapatan udara dan cairan di dalam rongga pencernaan pasiennya.Sekitar sepuluh menit memeriksa dan membuat catatan kecil di atas kertas medis miliknya, ia menoleh pada yang lain. Pria itu menyunggingkan senyum penuh percaya diri sembari merapikan kembali stetoskop yang menggantung di lehernya."Asam lambung tinggi yang membuat rasa nggak nyaman di perut Om Yulio. Dengan obat golongan antasida dan penunjang lainnya aku yakin akan bisa m
"Apaa?!" Bob dan Yulio tersentak. Begitu juga dengan Sonya dan Bagas.Pernyataan Teja bahwasanya ada hewan bersarang di dalam perut Yulio benar-benar mengejutkan semua orang yang berada di dalam kamar tamu tersebut.Namun, sebelum Yulio dan Bob menanggapi, Bagas sudah lebih dulu mengomentari. "Nah, kan! Aku bilang juga apa?! Tabib tebar pesona doang ini mah. Diagnosanya ecek-ecek! Gampang banget dia menyimpulkan kayak gitu?!"Bagas tertawa sinis sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Pria muda itu menunjuk Teja dengan raut wajah puas karena baru saja memenangkan sebuah argumen besar.Sonya ikut mengangguk. "Kamu menyumpahi hal buruk pada suamiku?! Ini nggak bisa dibiarkan. Ini pencemaran nama baik!""Terserah aja. Tapi yang aku katakan adalah fakta," jawab Teja malas menanggapi lebih jauh lagi.Pria berambut panjang itu bersedekap dada dengan wajah tenang. Ia tidak berniat untuk melayani emosi tak berdasar dari ibu dan anak yang terus memojokkannya tersebut."Aku bisa melaporkanmu me
Teja menghentikan aktivitasnya dan menatap ke arah Bagas serta Sonya yang merangsek masuk ke arah ranjang. Pria berambut panjang itu memutus aliran energi Qi-nya, lalu menarik telapak tangannya kembali dengan raut wajah yang tetap tenang."Mau malapraktik ya? Dasar dokter gadungan! Masih berani-beraninya kamu cari keuntungan di rumah ini?!" sembur Sonya dengan nada melengking penuh tuduhan yang berprikemanusiaan. Mata wanita paruh baya itu membelalak tajam menatap Teja seolah sedang menangkap basah seorang pencuri."Yah, ngapain sih mau diperiksa sama si miskin ini?!" imbuh Bagas tak kalah sinis. Pria muda itu melangkah maju dua jengkal, melipat kedua tangannya di dada sembari memamerkan tatapan meremehkan seperti saat berada di ruang tamu tadi.Bob segera pasang badan. Pria konglomerat itu melangkah perlahan dan berdiri tepat di samping Teja, menghalangi gerak Bagas dan Sonya. "Teja sedang memeriksa kondisi Yulio. Kalian tolong jangan mengganggu!" tegurnya dengan suara berat berw
Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan
“Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih
“Buat apa kamu teriak, Jaaa?!“ sentak Toni usai mengirimkan tendangannya. “Sakit dong, Yah, gimana sih?!“ raung Teja spontan. “Memangnya beneran sakit?“ pancing sang ayah lagi. Teja terdiam sejenak, kemudian meraba miliknya yang kini berukuran luar biasa, mencoba memastikan apa yang ia rasakan.
Ternyata bulan purnama yang dimaksudkan ayah Teja itu datang keesokan harinya. Di halaman belakang rumah yang tertutup tembok keliling, Teja dan Toni berdiri saling berhadapan. Mereka bertelanjang dada. Di bagian bawah, Teja hanya mengenakan lilitan kain warisan leluhur mereka. Sedangkan Toni yan







