LOGIN"Aku mau menikmati milikmu juga, Sekar," jawab Teja dengan nada suara yang dalam dan menggoda, memegang kedua paha mulus Sekar agar terbuka lebih lebar lagi.Tanpa menunggu lama, Teja mulai menunduk dan menyentuhkan bibirnya ke permukaan kulit kewanitaan Sekar yang telah basah oleh cairan pelumas alami. Sentuhan awal yang basah dan hangat itu seketika membuat tubuh Sekar mengejang kaget, punggungnya langsung melengkung ke atas dengan kedua tangan mencengkeram erat seprai kasur di bawahnya."Ahhh... Ja... ampun..." rintih Sekar tertahan, matanya terpejam rapat menikmati gelombang kejutan nikmat yang langsung menjalar dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun kepalanya.Teja tidak berhenti di situ. Dengan keahlian yang tidak kalah memukau, pemuda itu mulai mengolah bibirnya, menghisap perlahan bagian klitoris Sekar yang menegang, sementara lidahnya yang lincah mulai menelusuri belahan kewanitaan wanita itu naik turun dengan ritme yang teratur dan memabukkan.Sekar benar-benar kehilangan selu
Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Sekar perlahan menurunkan tubuhnya ke lantai kamar tidur tersebut. Gerakannya yang tadinya ragu kini berubah menjadi penuh inisiatif, didorong oleh rasa penasaran sekaligus keinginan besar untuk memuaskan pria yang telah menyelamatkan hidup dan keluarganya. Di hadapan kejantanan Teja yang berdiri kokoh dan mengagumkan, wanita beranak satu itu berlutut dengan posisi yang begitu menggoda, membiarkan rambut panjangnya tergerai bebas membingkai wajah cantiknya yang memerah padam akibat gelora gairah."Kamu benar-benar bikin aku penasaran, Ja," bisik Sekar pelan dengan suara bergetar halus, menatap lurus ke arah benda keras di depannya seolah tengah mengagumi sebuah karya seni bernilai tinggi.Teja hanya tersenyum tipis, merespon dengan mengusap lembut puncak kepala Sekar yang berlutut di bawahnya. Pemuda itu membiarkan sang wanita mengambil kendali sejenak, menikmati setiap sentuhan awal yang mulai diberikan oleh tangan-tangan lembut sang CEO cantik
"Kalau aku… kelak minta dinikahi ya, Ja. Jangan dibuang ke tong sampah kayak tisu habis dipakai," ucap Sekar dengan nada suara yang terdengar setengah bercanda namun terselip keseriusan dan ketulusan mendalam di balik kalimat tersebut."Kamu yakin, Sekar? Aku bukan orang biasa lho. Tanggung jawabku sangat besar di banyak hal. Ada bisnis, ada pijat dan pengobatan, ada kehidupan bela diri dan tenaga dalam…" balas Teja mengingatkan, memperingatkan wanita di hadapannya bahwa realitas kehidupan yang ia jalani jauh dari kata sederhana dan membutuhkan kesiapan mental yang luar biasa bagi siapa pun yang ingin mendampinginya."Aku kan sudah ngomong sejak tadi malam, Ja. Aku sudah bersumpah akan tunduk padamu kalau penyakit kista itu bisa kamu sembuhkan. Itu terlepas dari apapun kesibukanmu, Ja," jawab Sekar serius, menunjukkan keteguhan hatinya tanpa ada secercah keraguan sedikit pun di wajah cantiknya."Iya," ucap Teja mengangguk dan tersenyum sebagai jawaban, menerima ketulusan yang ditawark
"Usia bukan acuan untuk kematangan berpikir seseorang, Sekar. Pengalaman dan pemahaman juga ikut ambil bagian," ucap Teja dengan tenang, menyandarkan punggungnya kembali pada kursi teras sembari menikmati hembusan angin halaman belakang rumah yang terasa semakin sejuk menerpa kulit."Mumpung kita lagi bahas serius tapi santai, sekalian aku minta pendapat kamu ya, Ja?!" pinta Sekar dengan nada ragu-ragu namun terselip rasa penasaran yang besar di dalam hatinya."Apa itu, Sekar?" tanya Teja mempersilakan, menolehkan pandangannya untuk menatap lekat manik mata wanita mungil di sebelah kursinya."Ini sejalan sama bahasan yang baru saja kamu sebut tadi. Dulu, pas masih ada Papanya Pion, sering kali aku mengabaikan ajakannya ke ranjang, padahal sudah seminggu menunggu aku menstruasi. Itu egois juga ya, Ja?" tanya Sekar membuka lembaran masa lalunya yang kelam dengan nada suara yang terdengar menyesal sekaligus penasaran ingin tahu sudut pandang sang pemuda.Teja tersenyum lembut. "Kita berb
"Muna tuh kalau ada orang nggak suka ciuman, Ja. Ini naluri alami manusia. Tapi... aku nggak berani berharap lagi," ucap Sekar dengan suara lirih yang bergetar halus, menundukkan pandangannya ke pangkuan sementara sisa-sisa napas hangat akibat ciuman panas tadi masih berhembus tidak teratur di antara bibirnya yang sedikit bengkak."Nggak berani berharap? Apa maksud kamu, Sekar?" tanya Teja dengan nada suara yang melembut, menatap lurus ke dalam manik mata wanita di depannya yang kini menyiratkan kerentanan dan ketakutan mendalam."Aku takut, Teja. Aku takut kalau terlalu menikmati lalu kamu mundur alon-alon dan tegas kayak tadi malam," ungkap Sekar jujur, meluapkan segala kekhawatiran yang berkecamuk di dalam hatinya sebagai seorang wanita berstatus janda yang pernah mengalami kepahitan hidup dan trauma emosional di masa lalu.Teja langsung menatap iba wanita cantik yang baru saja ia lumat bibirnya itu. Ada perasaan bersalah karena mengabaikan harapan wanita yang lama kesepian itu, me
"Iya, Ja. Kopi racik gitu, semacam latte dan sejenisnya. Bukan kopi hitam murni. Lambungku nggak kuat kalau kena yang murni," jelas Sekar sambil tersenyum kecil, merapikan beberapa helai rambutnya yang tertiup angin sepoi-sepoi di halaman belakang."Lho, kamu bisa meracik kopi?" tanya Teja dengan nada penasaran, menoleh ke arah wanita mungil di sebelah kursinya dengan tatapan tertarik."Bisa dong. Janda satu anak ini cukup punya banyak pengalaman lho, Ja. Aku sebelum mendirikan pabrik skincare sempat jadi barista di sebuah kafe," jawab Sekar bangga, sedikit menyombongkan keahlian tersembunyinya di masa lalu sebelum ia merintis karier bisnis kosmetiknya."Wah, hebat juga ya. Berarti kalau main ke sini kapan-kapan, aku bakal dilayani langsung sama mantan barista profesional nih," goda Teja sambil tersenyum miring, menatap jenaka ke arah wanita di sampingnya."Ih, dipikir gampang apa berdiri berjam-jam di balik meja bar? Kakiku pernah bengkak sebelah tahu gara-gara lembur pas weekend," p
Ternyata bulan purnama yang dimaksudkan ayah Teja itu datang keesokan harinya. Di halaman belakang rumah yang tertutup tembok keliling, Teja dan Toni berdiri saling berhadapan. Mereka bertelanjang dada. Di bagian bawah, Teja hanya mengenakan lilitan kain warisan leluhur mereka. Sedangkan Toni yan
Teja melangkah menaiki tangga kampus dan berpapasan dengan Nana. Memori tentang desahan aneh Nana kemarin sore kembali menyumpal di benaknya. Ia hanya mampu menunduk canggung tanpa berani menatap mata si cantik Nana. Nana memang bukan idola kampus. Dia adalah penyanyi terkenal namun jarang diliri
“Ohhhh, shhhh. Jangan kenceng-kenceng, Pakk!“ Teja Surya atau biasa dipanggil Tejo yang baru saja masuk kamar dan merebahkan diri di ranjang menjadi tersentak saat mendengar suara itu. Suasana siang yang panas sejak ia pulang dari kampus menjadi semakin panas karena suara desahan tersebut. “Taha
“Nanti lengket semua kena gel pelicin pijat, Ja, kalau pakai baju,” jawab Septa santai—tanpa beban. Teja berusaha keras mengendalikan tatapannya, sekaligus mengendalikan detak jantungnya yang kian berdentum bertalu-talu. “Ba-baiklah, Bu Septa,” tangan Teja bergerak cepat meraih selimutnya yang ter







