Home / Fantasi / Ampun, Jo, Ini Kegedean! / 429. Melampaui Rintangan

Share

429. Melampaui Rintangan

Author: Leva Lorich
last update publish date: 2026-09-11 12:36:55

Pagi beranjak siang. Para wanita mengambil alih urusan memasak di api unggun tenda.

Pendar keemasan sang surya kini telah melompati pucuk-pucuk pohon purba, menghangatkan pelataran batuan cadas Puncak Gunung Camar Hitam yang semula dibelit hawa dingin menusuk tulang.

Asap tipis beraroma sedap membumbung anggun dari sisa kayu bakar api unggun di depan kompleks perkemahan.

Teja sendiri terus memacu penempaan latihan fisiknya di bawah rimbun pepohonan tak jauh dari tenda.

Pria berambut gondrong a
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   438. Perhatian Dan Dukungan

    Guyuran tirai air terjun yang jatuh membelah tebing karang membiaskan uap dingin nan sejuk di sekeliling tubuh mereka yang sepenuhnya polos. Di dalam beningnya derai air sungai yang membasahi hingga ke dada, Teja menyusupkan satu tangan kekarnya ke bawah belahan bokong kenyal Sari Okta, mengangkat sedikit pinggul mulus sang selebgram cantik agar menyelaraskan posisi selangkangan mereka.Dengan satu hentakan pinggul bertenaga penuh yang sangat hebat, bagian super wow milik sang master muda menerobos masuk.Permukaan batangnya yang super tebal, mengkilap oleh uap hawa murni Qi, dan memerah hangat melesak mulus menembus celah kewanitaan Sari yang telah membasah oleh lelehan pelumas alami berpadu kesegaran air pegunungan.Sensasi mengganjal yang sangat padat dan rapat seketika membanjiri seluruh saluran saraf di pinggul Sari Okta. Tidak seperti Linda atau Panda yang merintih sesak dan harus menahan penetrasi pada batas tertentu, anatomi kewanitaan janda muda berparas jelita ini memiliki

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   437. Sangat Terpancing

    Teja melangkah kembali ke tenda. Pria berambut gondrong mirip surai singa itu berjalan dengan langkah santai membelah permukaan batuan cadas. Tubuh berototnya yang basah oleh sisa-sisa air sungai yang jernih berkilat eksotis di bawah terpaan sinar matahari siang. Aura dominan yang memancar dari sirkulasi energi Qi di dalam darahnya terasa kian padat, membiaskan daya pikat alami.Ketiga wanita Teja seketika menatap pria mereka dengan tatapan kagum.Linda, Panda, dan Sari Okta yang sedang duduk bersantai di area perkemahan mendadak membisu. Sepasang mata mereka yang bening berbinar penuh ketertarikan tatkala menyaksikan tubuh berotot Teja yang berlapis lelehan air. Dari garis rahangnya yang tegas, pundaknya yang kokoh, hingga serat-serat perutnya yang terbentuk sempurna, Teja benar-benar tampak bagaikan sosok penguasa rimba sejati.Sari Okta, janda muda berparas cantik jelita yang menjadi satu-satunya pendamping di sana yang belum melalui proses penyatuan, merasakan detak jantungnya

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   436. Tiket Masuk

    Teja menyunggingkan senyum miring di balik sapuan air sungai yang membasahi wajah tampannya. Sepasang matanya yang tajam berkilat serius, merubah rada jengah atas kehadiran ular tak diundang itu menjadi semangat baru.Teja merasa senang karena menemukan lawan yang sesungguhnya. Sebelum ini, setiap kali melakukan latih tanding dengan buaya putih bersisik perak maupun sepasang singa raksasa penjaganya, Teja selalu menahan daya ledak kekuatannya. Ia tidak bisa melontarkan pukulan mematikan atau menyemburkan energi Qi bertekanan tinggi secara penuh karena khawatir akan melukai atau membunuh ketiga binatang yang telah patuh dan setia padanya tersebut.Namun, monster reptil asing yang baru saja muncul dari kedalaman celah air terjun ini sama sekali berbeda. Ular purba bersisik hitam kehijauan seukuran paha Teja itu memancarkan hawa buas murni, lengkap dengan bisa beracun yang menyembur pekat dari sepasang taring melengkungnya.'Bagus! Akhirnya ada lawan tangguh yang bisa menerima pukula

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   435. Pengganggu Lagi

    Pertarungan pecah di atas pelataran batu cadas puncak pegunungan!Raungan dahsyat dari sang singa jantan memekakkan telinga, disusul kebasan ekor raksasa buaya putih yang memukul permukaan batuan cadas hingga retak berkeping-keping. Buaya putih bersisik baja perak itu merayap maju dengan percepatan yang tak masuk akal untuk ukuran reptil raksasa. Moncong tebalnya mengatup cepat mengincar kaki Teja dari depan, sementara sepasang singa melompat serentak dari arah samping dalam lintasan melengkung yang amat berbahaya.Teja menatap ketiga pemangsa puncak itu dengan pandangan mata yang berkilat tajam. Uap hangat energi Qi kebiruan bercampur keemasan membungkus penuh tubuh berototnya."Maju kalian bertiga! Jangan ada yang menahan diri!" teriak Teja nyaring dengan suara menggelegar.Teja menghentakkan tumit kirinya ke atas tanah. Dalam sekejap mata, raga tegap sang pria melesat ke atas melompati terjangan moncong buaya putih. Angin dari katupan rahang sang reptil menyapu bawah kakinya den

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   434. Mencoba Hasil

    "Ja, kamu kok sekarang bisa orgasme? Dulu kan kamu susah banget. Sampai aku ampun-ampun tetep aja kamu belum nyembur," ucap Linda memecah keheningan usai pelepasan ganda yang mereka rasakan.Praktisi bela diri wanita yang cantik itu masih bersandar pasrah di dada bidang Teja. Dua paha mulusnya melingkar lemas di pinggang sang pria, sementara napasnya yang tersengal-sengal perlahan mulai teratur kembali. Wajah cantiknya berkilat, basah oleh peluh dingin dan rona merah merona yang begitu pekat. Sensasi hangat dari lumuran benih kental Teja yang merendam penuh rongga rahimnya masih menyisakan denyutan-denyutan nikmat yang merambat hingga ke celah jemari kakinya.Teja mengelus lembut punggung mulus Linda, meresapi kehangatan tubuh wanitanya yang telah menyalurkan energi penyokong secara sempurna."Iya, Lin. Setelah aku masuk ke ranah energi Qi tingkat tiga waktu itu tiba-tiba kondisi orgasmeku kembali normal," sahut Teja dengqn napas yang masih terasa hangat menerpa."Oh, iya, Ja. Aku

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   433. Terbantu Maksimal

    "Nikmati saja, Sayang," bisik Teja rendah tepat di depan telinga Linda. Suara serak basahnya yang dipenuhi aura dominasi seketika memicu getaran hangat di sepanjang tengkuk sang wanitanya.Hentakan terus terjadi. Teja tidak menurunkan tempo pergerakannya sedikit pun. Dengan dua lengan kekarnya yang mencengkeram erat belahan paha dan pinggul padat Linda, pria berambut gondrong ala surai singa itu memaju-mundurkan tubuh molek wanitanya dalam ritme pacuan berkecepatan tinggi. Setiap kali pinggul Linda dihempaskan merosot turun, bagian super jumbo milik Teja menghantam kuat dinding atas rahim Linda, memicu letupan-letupan cairan pelumas alami yang berhamburan basah menyiram selangkangan mereka.Tangan Linda mengalung erat di tengkuk Teja karena khawatir terjengkang. Tubuh molek wanita yang memukau itu terombang-ambing di udara terbuka, sepenuhnya menggantung pada keperkasaan dan kekuatan lengan tegap Teja. Praktisi bela diri wanita bertubuh tangguh itu memejamkan matanya rapat-rapat, m

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   5. Gundukan Besar

    “Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   4. Kelinci Percobaan

    “Buat apa kamu teriak, Jaaa?!“ sentak Toni usai mengirimkan tendangannya. “Sakit dong, Yah, gimana sih?!“ raung Teja spontan. “Memangnya beneran sakit?“ pancing sang ayah lagi. Teja terdiam sejenak, kemudian meraba miliknya yang kini berukuran luar biasa, mencoba memastikan apa yang ia rasakan.

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   3. Bulan Purnama

    Ternyata bulan purnama yang dimaksudkan ayah Teja itu datang keesokan harinya. Di halaman belakang rumah yang tertutup tembok keliling, Teja dan Toni berdiri saling berhadapan. Mereka bertelanjang dada. Di bagian bawah, Teja hanya mengenakan lilitan kain warisan leluhur mereka. Sedangkan Toni yan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   2. Warisan Sebagai Jalan Hidup

    Teja melangkah menaiki tangga kampus dan berpapasan dengan Nana. Memori tentang desahan aneh Nana kemarin sore kembali menyumpal di benaknya. Ia hanya mampu menunduk canggung tanpa berani menatap mata si cantik Nana. Nana memang bukan idola kampus. Dia adalah penyanyi terkenal namun jarang diliri

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status