LOGINUsai letupan gairah yang menguras tenaga di bawah gemericik pancuran air, Teja dan Berliana akhirnya benar-benar membasuh diri secara bersih. Sabun kembali membalut sisa-sisa kenikmatan dari permukaan kulit mereka, sementara bilasan air hangat mengembalikan kesegaran raga yang sempat terkuras habis.Teja mematikan kran pancuran, membiarkan tetesan air terakhir jatuh memantul di keramik. Ia mengambil dua lembar handuk tebal berukuran besar, membalutkan salah satunya ke tubuh molek Berliana sebelum mengeringkan tubuhnya sendiri. Tanpa banyak bicara, Teja membimbing perwira wanita berambut bondol pendek itu melangkah keluar dari kamar mandi menuju kamar tidur.Di dalam kamar ber-AC yang sejuk, mereka tak lantas mengenakan pakaian lengkap kembali. Keduanya hanya mengenakan pakaian dalam. Berliana menarik selimut katun tebal, merebahkan tubuhnya di atas kasur berseprai putih bersih, disusul oleh Teja yang langsung berbaring di sampingnya.Dalam keheningan sore yang merambat perlahan m
Teja membimbing Berliana melangkah sedikit menggeser posisi di dalam kamar mandi yang masih dibasahi uap air hangat dan guyuran kucuran air shower. Lantai keramik yang licin serta tubuh yang terbalut busa halus membuat setiap gerakan terasa lambat dan penuh kehati-hatian.Teja menuntun Berliana agar bertumpu tangan pada sandaran kloset duduk yang kokoh di sudut kamar mandi."Pegangan yang kuat di sini, Berli," ujar Teja singkat.Berliana menuruti arahan tersebut. Kedua telapak tangannya bertumpu tegang pada sandaran kloset, membungkukkan badan bagian atasnya sehingga memberikan posisi semi menungging yang sensual. Napasnya masih tersengal tipis akibat sisa dinamika interaksi sebelumnya, sementara bulir-bulir air dingin mengalir menyusuri lekuk tubuh bagian belakangnya.Teja merendahkan sedikit tubuhnya di belakang bokong montok kekasihnya untuk menyesuaikan posisi. Tangan kirinya memegang pinggul Berliana, sementara tangan kanannya mengarahkan keperkasaannya tepat di gerbang kewani
Ayun dan hentakan ganda dari dorongan Teja serta pacuan liar Berliana dari atas akhirnya memicu ledakan gairah yang tak sanggup lagi ditahan oleh tubuh sang perwira TNI itu. Dinding kewanitannya yang amat sempit berdenyut keras secara menggebu, mencengkeram erat separuh keperkasaan Teja yang terbenam di dalam sana."Hohhh, keluarrr, Tejaaa!"Pekikan kenikmatan membumbung tinggi membelah keheningan ruang tengah. Tubuh molek Berliana menegang kaku, kejang hebat dalam gulungan orgasme yang teramat dahsyat. Lelehan kehangatan berlimpah menyembur keluar, membasahi permukaan pangkal paha serta hamparan karpet di bawah mereka.Teja seketika menghentikan permainan.Batang keperkasaan Teja yang luar biasa besar ditarik pelan keluar dari dalam lorong hangat Berliana. Tubuh Berliana yang lemas seketika terkulai menyamping di atas dada bidang Teja, memburu napas dengan dada padatnya yang kembang kempis secara cepat.Berliana mengerjapkan matanya yang redup dan sayu, menatap Teja dengan raut b
Berliana meraih mangkuk kaca yang kini hanya menyisakan sedikit krim dan beberapa potongan kecil buah. Dengan tatapan mata yang semakin redup bergelombang gairah, perwira TNI cantik itu menuangkan sisa terakhir salad khusus di area sekitar batang super besar Teja.Lelehan krim manis putih kental itu mengalir lambat, melapisi kulit hangat di sekitar pangkal paha serta permukaan keperkasaan Teja yang menjulang kaku. Berliana menurunkan wajahnya sejenak, melumat sisa-sisa krim tersebut dengan sapuan lidahnya yang hangat dan lincah."Mantap... Berli..." desah Teja senang, merasakan keliaran dari perlakuan wanitanya yang kian tak terkendali.Berliana yang sudah tak tahan lagi segera mengubah posisi. Perwira wanita itu mengangkat tubuh polosnya, merangkak naik mengangkangi paha tegap Teja. Dalam posisi berada di atas, tubuh molek dan padat milik Berliana terpampang begitu sensual dari posisi pandang Teja yang ada di bawahnya. Rambut bondol pendeknya yang sedikit acak-acakan semakin men
Mata Berliana semakin terbelalak tatkala merasakan lidah Teja secara terang-terangan menyodok masuk ke dalam celah kewanitaannya.Sensasi hangat dan lincah dari ujung lidah Teja menyapu bersih sisa krim manis yang teroles di depan pintu masuk miliknya, mengusap lembut lipatan sensitif yang kian basah. Kehangatan rongga mulut Teja yang berkombinasi dengan sisa sensasi dingin krim membuat seluruh sel saraf sang perwira militer tersengat hebat."Jaa! Ohhh… shh-hh!" desah Berliana yang kembali tersulut gairahnya.Kedua paha jenjang Berliana terbuka semakin lebar, merenggang pasrah, membiarkan kepala Teja tenggelam semakin dalam di antara celah dua pahanya. Jemari kakinya merapat kldan menekuk kaku, sementara tangannya mencengkeram erat helai rambut gondrong sang kekasih yang terus melumat titik peka tersebut tanpa ampun.Setelah melahap bersih bagian sensitif tersebut, Teja meraih kembali mangkuk kaca dan memulai aksi menuangkan dan menjilati salad episode ketiga.Kali ini Teja menyiram
Teja menatap Berliana yang masih berdiri menunggunya dengan raut penasaran. Senyum tipis masih terukir di bibir pemuda berambut gondrong itu saat ia kembali mengambil sendok kayu dari samping mangkuk kaca."Siapa yang mau mulai dulu?" tanya Teja santai sembari memutar-mutar sendok di tangannya.Berliana semakin bingung mendengar pertanyaan tersebut. Alisnya terangkat, menatap Teja dengan pandangan heran yang semakin tak paham."Mulai apanya sih, Jaa? Ini cuma makan salad buah, kan? Kenapa harus pakai urutan segala?" tanya Berliana tidak mengerti."Karena kita nggak akan makan pakai piring biasa," sahut Teja singkat.Tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut, Teja meraih pergelangan tangan halus Berliana, membimbingnya untuk melangkah mendekati area karpet tebal yang terhampar tepat di depan sofa ruang tengah."Rebah terlentang di sini, Berli," pinta Teja dengan lembut.Berliana menatap karpet, lalu beralih menatap Teja dan mangkuk kaca di atas meja. Mulai mengerti ke mana arah ide te
Nana yang tak pernah melihat Teja berkelahi menjadi khawatir. “Jo, kabur aja yuk. Hitungan ketiga kita langsung masuk mobil dan tancap gas!“ bisiknya pelan di telinga Teja. Namun Teja justru menggeleng dan mengerlingkan mata. “Kamu diam saja dan tetap di posisimu. Biar aku yang ngurus ini,“ jawab T
Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan
“Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih
“Buat apa kamu teriak, Jaaa?!“ sentak Toni usai mengirimkan tendangannya. “Sakit dong, Yah, gimana sih?!“ raung Teja spontan. “Memangnya beneran sakit?“ pancing sang ayah lagi. Teja terdiam sejenak, kemudian meraba miliknya yang kini berukuran luar biasa, mencoba memastikan apa yang ia rasakan.







