Share

661. Mengenalmya

Author: Leva Lorich
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-29 10:14:37

Namun, Teja justru menggeleng. “Dengan posisi kalian yang terpisah dariku, konsentrasiku yang justru terpecah karena memikirkan keselamatan kalian. Kita masuk bersama-sama saja!“ tuturnya tegas.

Teja melirik sejenak ke spion tengah, menatap lurus pada sepasang mata sipit Liong To yang tampak terkejut. Binar mata keemasan Teja memancar tegas, mengalirkan wibawa dan keteguhan hati.

"Satu barisan, satu langkah. Aku tidak akan membiarkan satu pun dari kalian terluka hanya karena aksi pengalihan," t
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   668. Bantuan Sang Ayah

    Cahaya keemasan menerobos masuk melintasi sela-sela tirai bambu yang tergantung anggun di jendela kayu, menyinari sekeliling ruangan yang hangat dan beraroma semerbak minyak cendana. Kelopak mata Teja terbuka pelan-pelan, menyesuaikan ketajaman penglihatannya dengan pendar sinar pagi yang menerangi kamar. Seluruh persendian di raganya terasa teramat kaku, dan setiap kali ia mencoba menghela napas, dada bidangnya berdenyut nyeri akibat sisa-sisa pendar racun Qi A Shiang yang sempat menghantam organ dalamnya.Teja memutar kepalanya perlahan ke sisi kiri. Tak jauh dari tempat tidurnya, dua ranjang ukir berukuran sedang tampak terisi. Panda terbaring berbalut selimut sutra merah dengan raut wajah yang masih agak pucat, sementara di ranjang sebelahnya, Liong To tidur terlentang dengan dada yang dibalut perban kain putih.Ornamen naga dan burung phoenix yang terukir halus di tiang-tiang kayu jati, dipadu dengan langit-langit berarsitektur Tionghoa klasik, mengonfirmasi keberadaannya. Ia

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   667. Terkulai Tumbang

    Tubuh A Shiang yang sudah kehilangan tempurung kepalanya roboh perlahan ke atas permukaan beton yang dingin. Darah pekat menyembur membasahi pelataran, menyisakan keheningan mencekam yang menusuk hingga ke tulang. Teja berdiri tegap di samping jasad musuhnya, bernapas secara teratur dengan Binar mata keemasan Murni Qi tingkat tujuh setengah yang perlahan surut meninggalkan paras tampannya.Semua mata anak buah A Shiang menatap kaget ke arah Teja dan tubuh A Shiang yang tumbang tanpa kepala.Sepuluh orang pria berbadan tegap berpakaian hitam yang berdiri di depan pintu gudang mendadak membelalak kaku. Senjata tajam di genggaman mereka gemetar hebat, rahang mereka melorot tak percaya menyaksikan sang pelatih khusus yang sangat ditakuti dan memiliki kemampuan Qi beracun tingkat tinggi justru tewas seketika hanya dalam satu hentakan tangan dari pemuda berambut dreadlock tersebut.Begitu pula dengan Liong To dan Panda yang terpekik kagum melihat kehebatan pemuda ahli pijat legendaris it

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   666. Tujuh Setengah

    A Shiang menyapu bercak darah di sudut bibirnya dengan jubah hitam yang sudah terkoyak. Pria tua itu menggeram kencang, lalu melesat maju kembali dengan dorongan kaki kokohnya. Di sisi lain, Teja menyapu memar di dadanya dan langsung menyambut serbuan musuh dengan lonjakan Murni Qi yang bergelora di seluruh pembuluh darahnya.Kedua raga itu kembali bertabrakan di udara malam. Adu fisik jarak dekat dalam tempo kilat kembali tercipta, memicu dentuman-dentuman keras yang beruntun. A Shiang memutar pinggulnya, mengayunkan cakar beracunnya secara membabi buta ke arah Leher dan rusuk Teja."Mati kau, Bocah! Kamu pikir bisa menang mudah dari pelatih khusus Keluarga Johar?!" geram A Shiang dengan suara parau yang membahana.Teja menangkis sabetan cakar tersebut menggunakan benteng siku Murni Qi tingkat tujuh miliknya. Namun, kepak energi hitam beracun A Shiang terbukti sangat padat dan ulet. Setiap kali tangkisan Teja mendarat, getaran Qi beracun itu merembes tipis, menggerogoti lapisan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   665. Sama Kuat

    Binar mata keemasan Teja menajam menembus remang malam. Sentilan kerikil bermuatan Murni Qi tadi hanyalah sekadar peringatan tipis. Melihat bagaimana A Shiang mampu mengendalikan energi Qi beracun dengan tingkat kepadatan yang lumayan pekat, Teja menyadari bahwa pria tua berjubah hitam ini bukanlah musuh kroco biasa seperti para anggota Keluarga Johar yang pernah ia tumbangkan sebelumnya. Kendati demikian, tidak ada waktu untuk menimbang-nimbang risiko. Nyawa Toni yang disekap di dalam gudang menjadi prioritas utama yang tak bisa ditawar sedikit pun.A Shiang menarik kakinya yang sempat kebas sejenak akibat hantaman kerikil tadi. Pria tua itu menggerakkan persendian pahanya yang terasa panas menyengat, lalu menatap Teja dengan raut wajah yang campur aduk antara kaget, heran, dan gusar yang besar."Ka-kamu... cukup bagus juga ternyata energi kamu, Nak!" puji A Shiang.A Shiang mengibas-ibaskan jubah hitamnya yang berdebu. Suaranya terdengar sedikit berat, mencoba menutupi rasa terke

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   664. Kerikil Kecil

    Panda melayang di udara, melayangkan tendangan lurus berputar yang menyasar pelipis A Shiang dengan kekuatan tinggi. Angin yang berhembus dari gerakan kakinya terdengar cukup tajam, membuktikan bahwa gemblengan fisik dan latihan beladiri Tiongkok sejak kecil telah menyatu sempurna dalam raga gadis keturunan Tionghoa tersebut.A Shiang yang mendadak diserang dari arah samping refleks membatalkan eksekusi susulannya kepada Liong To. Pria berjubah hitam itu menarik kepalanya sedikit ke belakang, membiarkan sol sepatu Tangzhuang milik Panda melintas tipis hanya beberapa sentimeter di depan hidungnya."Boleh juga refleksmu, Bocah!" geram A Shiang seraya mengayunkan cakar tangannya untuk mencengkeram pergelangan kaki Panda.Panda yang memiliki fleksibilitas fisik muda yang jauh lebih lincah dibanding ayahnya, tidak membiarkan kakinya tertangkap dengan mudah. Saat berada di udara, Panda memutar pinggulnya secara cepat, menarik kembali kakinya lalu melancarkan dua dorongan telapak tangan b

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   663. Energi Gelap Dan Beracun

    Emosi Liong To yang mendidih tak lagi dapat ditahan. Sebagai praktisi senior yang sangat menjunjung tinggi etika dan kehormatan dunia persilatan, tindakan A Shiang yang menggunakan cara licik dengan menculik orang tua tak bersalah telah menginjak-injak martabat mereka.Dengan hentakan kaki yang amat kuat ke permukaan tanah, Liong To melesat maju bagaikan kilat. Pakaian Tangzhuang abu-abu gelap yang dikenakannya berkibar kencang membelah angin malam. Sepasang telapak tangannya terbentang lebar, melancarkan jurus telapak angin dari aliran Wushu klasik yang mengincar langsung area dada A Shiang.A Shiang tidak menunjukkan sedikit pun raut panik. Pria berjubah hitam itu justru menyunggingkan senyuman meremehkan tatkala melihat serangan cepat dari rekan sesama praktisi seniornya tersebut."Liong To! Kamu sudah tua dan makin bodoh karena mau menjadi anjing suruhan pemuda bau kencur ini!" seru A Shiang seraya menggeser pinggulnya sedikit ke samping.Dengan gerakan yang amat fleksibel, A Sh

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   6. Menunjukkan Sikap Dominan

    Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   5. Gundukan Besar

    “Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   4. Kelinci Percobaan

    “Buat apa kamu teriak, Jaaa?!“ sentak Toni usai mengirimkan tendangannya. “Sakit dong, Yah, gimana sih?!“ raung Teja spontan. “Memangnya beneran sakit?“ pancing sang ayah lagi. Teja terdiam sejenak, kemudian meraba miliknya yang kini berukuran luar biasa, mencoba memastikan apa yang ia rasakan.

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   3. Bulan Purnama

    Ternyata bulan purnama yang dimaksudkan ayah Teja itu datang keesokan harinya. Di halaman belakang rumah yang tertutup tembok keliling, Teja dan Toni berdiri saling berhadapan. Mereka bertelanjang dada. Di bagian bawah, Teja hanya mengenakan lilitan kain warisan leluhur mereka. Sedangkan Toni yan

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status