Mag-log inLelah bertempur, Berliana menghubungi pihak restoran hotel untuk memesan masakan antar.Perwira wanita itu melangkah pelan menuju meja nakas di samping tempat tidur. Dengan tubuh yang masih dibalut sisa kehangatan usai pergumulan, ia meraih gagang telepon kamar dan menekan nomor telepon layanan kamar. Berliana memesan beberapa porsi hidangan utama yang kaya akan protein dan nutrisi untuk memulihkan stamina mereka yang terkuras habis."Tolong antarkan ke kamar suite lantai paling atas ya. Terima kasih," ujar Berliana menutup pembicaraan telepon.Tak lama kemudian, ketukan halus terdengar dari balik pintu depan kamar suite. Pemuda berambut gondrong itu dengan sigap meraih piyama berwarna gelap yang disediakan pihak hotel, membalutkan kain lembut itu ke tubuh tegapnya sekadar untuk menutupi raga agar sopan saat berhadapan dengan petugas. Teja melangkah menuju pintu suite, membukanya sedikit, lalu mengambil alih nampan besar berisi deretan hidangan lezat yang tertutup tudung saji pera
Gempuran bertenaga dari arah belakang terus dihantamkan Teja tanpa henti, membawa seluruh sel saraf Berliana ke dalam pusaran gairah yang kian tak terkendali. Permukaan meja besi kecil yang menjadi tumpuan dadanya bergetar halus seirama dengan pacuan pinggul Teja yang terus menghujam.Sensasi pekat dan hangat yang menancap tajam di dasar rahimnya membuat otot-otot kewanitaan Berliana berdenyut ekstrem. Kehangatan yang berkumpul di perut bagian bawahnya menjalar cepat, menggetarkan seluruh pertahanan batin sang perwira militer di bawah terpaan angin pesisir utara."Nghh... ahh! Teja... dalam banget... oohh! Aku... aku nggak kuat lagi, Ja!" raung Berliana dengan suara yang mulai habis.Dinding dalam organ kewanitaan Berliana meremas amat ketat, memeras rapat separuh keperkasaan Teja yang terbenam di dalam sana. Puncak kenikmatan meledak dahsyat untuk kedua kalinya, menggetarkan raga molek perwira TNI tersebut dari ujung kepala hingga jemari kakinya."OHHH! TEJAA! AKU CROTT LAGIII. UH
Angin pesisir pantai utara bertiup cukup kencang, menerpa kulit polos Teja dan Berliana yang dipenuhi bulir-bulir keringat hangat. Suara deburan ombak dari kejauhan berpadu dengan helaan napas mereka yang semakin tersengal memburu di udara terbuka.Tempo gempuran cepat yang dihantamkan Teja sebelumnya membuat seluruh saraf kewanitaan Berliana berdenyut hebat. Dinding-dinding dalam organ miliknya menyempit kuat, memberikan perlawanan alami yang justru membuat aliran hawa murni Qi di dalam pembuluh darah Teja semakin bergejolak penuh gairah.Teja menahan pinggulnya sejenak, membiarkan keperkasaannya yang berukuran super besar itu tetap terbenam utuh di dalam lorong hangat Berliana. Pemuda berambut gondrong itu merundukkan wajahnya, mengecup lembut bahu mulus sang perwira TNI yang tampak bergetar menahan gejolak hasrat."Kita ubah posisinya sebentar, Berli," bisik Teja datar tepat di samping telinga Berliana.Berliana mengerjapkan matanya yang redup dan sayu. Binar keemasan dari sepa
"Ja, aku hampir crot sebentar lagi. Oh-ohh-ahh, dorong lebih kuat dari bawah, Sayang!" desah Berliana dengan mata terpejam erat, suaranya parau menahan desakan nikmat yang kian membakar puncak kesadarannya.Teja melakukan apa yang diminta kekasih kedelapannya itu.Sentakan pinggul Teja melesat kuat dari posisi duduknya di kursi balkon, mendorong keperkasaannya menghantam dinding rahim Berliana secara beruntun dan kuat. Berliana juga menyambut dengan memberikan goyangan pinggul yang liar dan berputar seperti gasing di atas pangkuan Teja.Guncangan berputar itu beradu sempurna dengan dorongan keras dari bawah. Gesekan di area paling sensitif di dalam sana terjadi dengan begitu hebat dan konstan di bawah hembusan angin laut utara."Nghh... ahh! Teja... gila! Berputar begini nikmat banget... oohh! Terus dorong, Ja! Terus!" erang Berliana liar, kepalanya mendongak dengan leher mulusnya yang berpeluh tipis."Sempit banget, Berli... kencang banget lubang kamu!" desah Teja pelan merasakan j
Teja mempererat cengkeraman kedua tangannya pada pinggul Berliana. Angin pesisir pantai utara berhembus kencang di balkon lantai tertinggi hotel tersebut, menyapu kulit mereka yang berpeluh tipis. Tanpa mengurangi kedalaman penetrasinya, Teja menggerakkan pinggulnya lebih kuat dan bertenaga. Hentakannya kian cepat, menghantam titik-titik sensitif di dalam rahim Berliana dengan irama yang konsisten.Guncangan dari arah belakang itu membuat tubuh Berliana terdorong sedikit ke depan, merapatkan tumpuan dadanya di atas batas tembok balkon. Suara gesekan basah beradu dengan deru angin laut yang membentur dinding kaca suite."Ufhh, Sayang... Ohh-ohhh-oh!" desau Berliana semakin tak kuasa menahan suara.Mata perwira TNI itu terpejam rapat. Jemari tangannya mencengkeram erat pinggiran beton balkon yang dingin. Setiap dorongan kuat yang dihantamkan Teja mengirimkan gelombang kenikmatan yang menjalar dari perut bagian bawah hingga ke tulang belakangnya."Sempit banget dari belakang gini, B
Teja menatap lekat sepasang mata sayu Berliana. Binar keemasan di matanya memancarkan gairah yang membara, berpadu dengan aura percaya diri yang amat menenangkan. Hawa hangat tenaga dalam Qi tingkat tujuh di dalam tubuhnya mengalir halus, menyebarkan desir kehangatan tatkala jemarinya terus membelai lembut puncak dada Berliana."Aku bakal kasih kamu sensasi yang beda dan baru kali ini, Berli," bisik Teja rendah tepat di depan telinga sang perwira militer, lalu mendaratkan gigitan-gigitan kecil yang menggoda di leher mulusnya."Nghh... sensasi apa lagi, Ja...?" gumam Berliana tersengal pelan dengan napas yang memburu.Dengan pergerakan yang tenang, Teja menggeser pintu kaca tebal yang membatasi kamar suite dengan area balkon luar. Angin pesisir pantai utara yang sejuk dan kencang seketika berhembus masuk, menyapu kulit mereka yang hangat oleh asmara. Teja meraih pergelangan tangan halus Berliana, membimbing raga molek wanitanya untuk melangkah keluar menuju area terbuka balkon di la
Nana yang tak pernah melihat Teja berkelahi menjadi khawatir. “Jo, kabur aja yuk. Hitungan ketiga kita langsung masuk mobil dan tancap gas!“ bisiknya pelan di telinga Teja. Namun Teja justru menggeleng dan mengerlingkan mata. “Kamu diam saja dan tetap di posisimu. Biar aku yang ngurus ini,“ jawab T
Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan
“Nanti lengket semua kena gel pelicin pijat, Ja, kalau pakai baju,” jawab Septa santai—tanpa beban. Teja berusaha keras mengendalikan tatapannya, sekaligus mengendalikan detak jantungnya yang kian berdentum bertalu-talu. “Ba-baiklah, Bu Septa,” tangan Teja bergerak cepat meraih selimutnya yang ter
BLARRR! Jantung Teja seperti baru saja dilempar bom molotov. Meski ia sudah menerima tugas pijat sebagai penerus dan pengganti ayahnya, tetap saja ia masih merasa cukup canggung untuk menjamah tubuh wanita. Terlebih, semua pasien umpan lambung dari ayahnya memiliki kecantikan dan keindahan tubuh d







