Home / Fantasi / Ampun, Jo, Ini Kegedean! / 91. Pijatan Nyaman

Share

91. Pijatan Nyaman

Author: Leva Lorich
last update publish date: 2026-06-29 22:07:31

"Jangan dilihatin mulu dong, Joo. Malu nih," rajuk Nana sembari menutupi bagian dadanya dengan kedua tangan.

Linda yang memiliki kebiasaan lebih pemberani segera bergerak maju menarik lembut telapak tangan Teja. "Udah, mending kita langsung ke kasur aja yuk sekarang."

Teja menuruti ajakan tersebut dan mulai melangkah perlahan menuju ke arah bibir ranjang yang berukuran cukup luas.

"Kalian berdua rebahan di atas kasur, terus posisi kaki kalian bertumpu di bibir ranjang ya!" perintah Teja dengan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   249. Catatan Konflik

    Laju kendaraan mewah berwarna hitam pekat itu meluncur mulus membelah kepadatan lalu lintas sore, melintasi jajaran gedung tinggi sebelum akhirnya memasuki kawasan perumahan elit tempat tinggal sang pengusaha terpandang.Tak lama kemudian tibalah Teja di sana. Ia memarkirkan Maserati hitamnya dengan rapi di area pelataran parkir yang luas, lalu melangkah tenang menuju daun pintu utama kediaman yang megah tersebut.Bob menyambut Teja dengan senang. Pria paruh baya yang selalu berpenampilan sederhana itu langsung merangkul pundak Teja dengan kehangatan seorang bapak. "Kamu itu ke mana aja? Ayah kira kamu udah lupa sama ayah!" seru Bob terkekeh renyah."Lagi latihan intensif, Yah," sahut Teja menyunggingkan senyum tipisnya yang sopan."Latihan? Latihan apa, Ja?" tanya Bob heran. Dahinya berkerut tipis, penasaran akan kesibukan fisik yang sanggup menyita waktu sang pemuda penyembuh penyakitnya."Bela diri, Yah," jawab Teja jujur dan lugas."Kamu bisa bela diri, Ja?" tanya Susan yang tiba

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   248. Rasa Tahu Diri

    Pemuda itu mengabaikan tatapan kagum Panda, berfokus pada kesiapan susunan formasi tim yang tengah mereka susun untuk ajang nasional mendatang."Setuju banget, Ja," jawab Linda tanpa ragu sedikitpun. Gadis itu menyunggingkan senyuman tipis, meyakini bahwa kemampuan bertarung Panda yang lincah dan berdaya ledak tinggi memang menjadi pelengkap sempurna bagi skuat utama mereka.Teja menatap Panda lagi. Tatapannya teduh namun menuntut kepastian dari calon anggotanya tersebut. "Kalau kamu, minat nggak nih, Nda?"Panda tak langsung menanggapi. Ia tampak berpikir keras. Keraguan melintas sejenak di raut wajah cantiknya tatkala membayangkan skala kompetisi tingkat nasional yang begitu besar dan dipenuhi petarung-petarung tangguh dari berbagai pelosok negeri. Jemari tangannya meremas pelan botol air mineral di pangkuannya, mempertimbangkan secara matang segala konsekuensi serta kemampuan dirinya sendiri sebelum memberikan jawaban pasti."Tapi aku kan bukan anggota perguruan bela diri mana p

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   247. Anggota Kelima

    Milik Teja beranjak membesar kembali!Perubahan bentuk itu terjadi secara instan di bawah kendali penuh hawa murninya. Lingkar diameter serta panjang bagian vitalnya terus merenggang dan membesar, melampaui batas ukuran standar sebelumnya dan berkembang pesat secara signifikan di depan mata kepala Teja sendiri.Ukuran yang sebelumnya SNI kini sudah bertransformasi ke bentuk terbesar se-Indonesianya. Batang pejal yang kokoh dan tegang sempurna itu kini telah kembali pada wujudnya yang asli.Bentuk milik Teja terlihat panjang, tebal, dan memancarkan wibawa kekuatan yang luar biasa. Pengaruh efek hukuman lilitan kain leluhur yang sempat menyusutkan ukurannya berhasil diluruhkan sepenuhnya oleh kombinasi pijat saraf master dan manipulasi energi Qi tingkat tinggi milik sang master pijat muda.Teja tertawa riang. 'Berhasil!' soraknya penuh kemenangan sembari menatap puas pada hasil pemulihan mandirinya yang kini telah kembali sempurna seperti sedia kala.—Hari-hari berikutnya, Teja teru

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   246. Visualisasi Batiniah

    "Aku berlebihan ya, Ja?" tanya Linda lirih. Matanya bergerak sayu menatap Teja, penuh penyesalan atas riak cemburu yang sempat ia utarakan.Belum sempat Teja menjawab, terdengar ketukan di pintu kamarnya. Suara ketukan teratur itu memecah suasana atmosfer intim yang menyelimuti area dalam ruangan.Teja segera turun dari ranjang dan membukanya. Daun pintu kayu jati berukir itu mengayun terbuka, memperlihatkan sosok Toni yang berdiri santai di balik ambang pintu. "Lho, Ayah sudah pulang?" tanya Teja terkejut melihat kepulangan sang ayah yang lebih cepat dari perkiraannya."Iya, Ja. Sungkan dong sama teman ayah kalau bertamu kelamaan. Eh iya, kamu sama Linda ya di dalem?" jawab Toni sembari mengintip ke dalam kamar, menyadari kehadiran aroma parfum yang khas dari tubuh Linda."Iya, Yah. Linda tadi ngeluh capek, jadi aku pijat dia," terang Teja santai tanpa menunjukkan gestur canggung sedikitpun.Linda yang berada di dalam segera merapikan posisi duduknya di tepi ranjang lalu melangkah

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   245. Cemburu Buta

    "Ampun, Ja, aku nggak sanggup lagi, lemes banget," keluh Linda menolak tawaran Teja. Suaranya terdengar lirih dan serak usai diterjang gelombang orgasme beruntun yang menguras seluruh pasokan tenaga di dalam tubuhnya.Namun sesaat kemudian Linda menatap Teja lagi. Matanya menatap pemuda berambut gondrong itu dengan rasa bersalah yang terlihat jelas. "Eh, tapi kan kamu belum orgasme, Ja?! Aduhh, ya udah sini aku bantuin pakai tangan dan mulut," ujarnya berusaha menebus rasa bersalahnya.Linda memaksakan tubuhnya untuk bangkit di ranjang, namun tangan Teja menahannya. Usapan lembut jemari Teja pada bahu mulus sang gadis menahan pergerakan tersebut."Nggak usah, Sayang. Kamu kocok sampai tanganmu kram juga nggak bakal bisa muncrat," tolak Teja jujur sembari menyunggingkan senyuman hangat. Pemuda itu juga belum bisa menemukan jawaban dari hambatan orgasme yang terjadi pada dirinya sejak awal mengenakan lilitan kain leluhurnya.Lambat laun hidup tanpa orgasme, Teja pun mulai terbiasa,

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   244. Perubahan Besar

    Teja terus menusuk dan menambah tempo kecepatan dorongannya. Ayunan pinggul pemuda berambut gondrong itu bergerak kian liar dan bertenaga, meluncurkan dorongan demi dorongan yang kuat dan bertenaga ke dalam liang kewanitaan Linda yang begitu sempit dan rapat.Meski berukuran SNI, milik Teja tetap sekeras beton. Sangat kaku dan keras. Hukuman yang diberikan warisan lilitan kain leluhur Teja hanyalah sebatas lada pengecilan ukuran saja. Kekuatan, daya tahan, serta kekerasannya tetap berada pada kondisi semula tanp adanya penurunan."Ufh, biar berubah ukuran, tetep enak dan kerass banget, Sayang. Oh, ampun!" teriak Linda parau. Gadis dari Perguruan Teratai Kembar itu membiarkan kepalanya menggeleng pasrah di atas bantal, tak sanggup membendung gelombang kenikmatan luar biasa yang menghantam dinding-dinding dalam dirinya secara bertubi-tubi.Teja mengangguk senang sambil mengecupi wajah Linda yang cantik jelita. Bibirnya menyapa dahi, kedua pipi merona, hingga leher jenjang Linda yang

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   2. Warisan Sebagai Jalan Hidup

    Teja melangkah menaiki tangga kampus dan berpapasan dengan Nana. Memori tentang desahan aneh Nana kemarin sore kembali menyumpal di benaknya. Ia hanya mampu menunduk canggung tanpa berani menatap mata si cantik Nana. Nana memang bukan idola kampus. Dia adalah penyanyi terkenal namun jarang diliri

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   1. Terbesar se-Indonesia

    “Ohhhh, shhhh. Jangan kenceng-kenceng, Pakk!“ Teja Surya atau biasa dipanggil Tejo yang baru saja masuk kamar dan merebahkan diri di ranjang menjadi tersentak saat mendengar suara itu. Suasana siang yang panas sejak ia pulang dari kampus menjadi semakin panas karena suara desahan tersebut. “Taha

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   4. Kelinci Percobaan

    “Buat apa kamu teriak, Jaaa?!“ sentak Toni usai mengirimkan tendangannya. “Sakit dong, Yah, gimana sih?!“ raung Teja spontan. “Memangnya beneran sakit?“ pancing sang ayah lagi. Teja terdiam sejenak, kemudian meraba miliknya yang kini berukuran luar biasa, mencoba memastikan apa yang ia rasakan.

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   3. Bulan Purnama

    Ternyata bulan purnama yang dimaksudkan ayah Teja itu datang keesokan harinya. Di halaman belakang rumah yang tertutup tembok keliling, Teja dan Toni berdiri saling berhadapan. Mereka bertelanjang dada. Di bagian bawah, Teja hanya mengenakan lilitan kain warisan leluhur mereka. Sedangkan Toni yan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status