LOGINMinggu berikutnya, Alisha menghabiskan sebagian besar waktunya di perpustakaan milik mendiang ayahnya. Bersama Daniel dan Rachel, ia menyelesaikan berbagai urusan perusahaan yang masih tertunda. Pagi itu mereka bergerak dengan tergesa, sebab pengacara keluarga Hartanto telah menjadwalkan pertemuan pada pukul sepuluh tepat.
“Nyonya Alisha, Pak Bima sudah datang,” lapor salah satu karyawan. "Suruh masuk,” jawab Alisha singkat. Begitu pintu terbuka, sebuah sapaan ramah terdengar menggelikan telinganya. "Selamat pagi, nyonya Wirawan," sapa pak Bima. Alisha menoleh dengan kening langsung berkerut. Ada yang tidak beres, batinnya waspada. Pengacara itu tidak datang sendirian. "Selamat pagi juga,” sapa Arka dengan nada sinis. Ia melangkah masuk seolah rumah itu berada dalam kendalinya. Melihat Arka berdiri di hadapannya, Alisha hampir saja memerintahkan satpam untuk mengusir pria itu. Namun, ucapan Daniel kembali terngiang di benaknya. 'Kalau kamu marah, berarti kamu kalah. Itu bukti kalau kamu belum move on.' Alisha menarik napas panjang, lalu memaksakan senyum tipis di wajahnya. “ada keperluan apa?" tanyanya datar. "Pengacara yang manggil aku. Tanya aja sama dia,” jawab Arka ringan sebelum melangkah lebih jauh. Alisha melirik Bima, tetapi memilih tidak mengajukan pertanyaan. “Tolong bilang ke ibuku untuk datang ke perpustakaan,” ujarnya kepada pembantu. “Baik, Nona.” Wanita itu segera keluar, sementara Alisha berjalan menuju sofa dan duduk tegak berusaha untuk percaya diri. Alisha sudah membawa putranya untuk tinggal di rumah ini sementara waktu, dan kehadiran Arka di rumahnya, di bawah atap yang sama dengan putranya, bukanlah sesuatu yang diinginkan Alisha. Bukan karena rasa takut, melainkan karena Arka tidak pantas berada di ruang hidupnya lagi. Terlebih lagi Arka tidak pernah mengakui anaknya, malah menyebutnya anak haram dari hasil zinah. Alisha sudah memilih untuk menyembunyikan Aiden selamanya. Jika bisa memilih, Alisha akan menghindari pertemuan mereka dengan cara apa pun. “Nyonya Wirawan,” panggil sang pengacara. Alisa menoleh tajam. “Nama belakangku Hartanto,” katanya dingin. “Jangan pernah panggil aku pakai nama orang lain lagi.” Tegasnya. Arka menatapnya. Kilatan berbahaya di mata Alisha membuat bulu kuduknya meremang. Sejak dulu ia tahu perempuan itu memiliki emosi yang kuat. Namun, kebencian seperti ini belum pernah ia rasakan sebelumnya. Nalurinya berbisik, kali ini ia tidak sedang menghadapi Alisha yang sama. “Nyonya Wi…” Bima terhenti sejenak, lalu meralat, “Nona Hartanto. Kehadiran Tuan Wirawan adalah atas permintaan mendiang ayah Anda. Hal itu tercantum dalam wasiat beliau, dan saya nggak memiliki kewenangan untuk menolak.” Alisha mengangguk pelan. Ia tahu perdebatan tidak akan mengubah apa pun. “Aku paham, Pak Bima,” ucapnya tenang. “Itu wasiat orang yang sudah meninggal. Tapi kalau seseorang masih punya rasa malu, seharusnya dia tahu diri dan nggak datang ke tempat yang jelas nggak menerimanya.” “Itu wasiat ayahmu, Alisha,” potong Arka. Alisha pura-pura tidak mendengar. Ia tahu Arka ingin memancing reaksi, dan ia memilih tidak memberinya kepuasan itu. “Alisha?” suara Susan terdengar dari arah pintu. Alisha menoleh. Ibunya tampak lebih kurus, wajahnya menyimpan kesedihan yang belum juga memudar sejak kepergian suaminya, dan hati Alisha selalu teriris melihatnya. “Buk, apa kabar?” sapa Arka. Alisha sadar, demi urusan bisnis, keluarganya masih harus terikat dengan Arka, tak peduli seberapa dalam luka yang ia tinggalkan. Ia masih dianggap bagian dari lingkaran mereka, meski telah menuduh Alisha tidak setia dan menyebut Aiden sebagai anak hasil hubungan terlarang. “Baik, tapi nggak mudah hidup tanpa dia,” ucap Susan lirih. “Dan aku takut, meski bertahun-tahun berlalu, aku tetap masih merindukan Rizal. Kehadiran dan perhatiannya tidak pernah kudapatkan dari siapapun. Suamiku memang bukan pria sempurna, tapi dia mencintaiku dengan tulus. Dia berjuang untukku. Jika ada kehidupan selanjutnya, aku akan tetap memilihnya.” curhat Susan. “Aku tahu, bu” jawab Arka mantap. “Dia orang yang selalu melakukan apa pun buat Ibu.” kenangnya. Dia bahkan pernah membatalkan pertemuan besar demi menemani istrinya dihari ulang tahunnya. Bahkan Arka pernah mengucapkan kalimat yang sama pada Alisha. 'Bahkan jika aku bereinkarnasi seribu kali, aku tetap ingin hidup denganmu' ucap Arka kala itu. Susan menggeleng pelan. “Itulah kenapa aku bilang dia nggak sempurna. Karena ada satu hal yang nggak pernah bisa dia kasih ke aku. Satu hal yang sebenarnya sangat aku butuhkan untuk bahagia.” Pandangannya jatuh pada Alisa. Arka mengikuti arah tatapan itu. Alisha membalas tatapan ibunya dengan senyum lembut, senyum yang sudah lama tidak pernah ia berikan pada Arka. “Aku nggak mau terdengar kasar,” kata Alisha memecah keheningan, “dan aku juga nggak mau kelihatan terburu-buru. Tapi aku sibuk hari ini. Bisa dipercepat, Pak Bima?” dia sengaja mengalihkan topik. “Tentu,” jawab Bima cepat. Ia bisa merasakan ketegangan di ruangan itu. “Kalau begitu, saya akan mulai membacakan surat wasiat almarhum Bapak Rizal Hartanto.” Alisha membantu ibunya duduk, Ia menyimak tanpa banyak reaksi, hanya sesekali mengangguk, dan rasa lega menyelinap ketika mengetahui sebagian besar harta ayahnya jatuh ke tangan ibunya. Alisha tidak membutuhkan apa pun. Selama enam tahun terakhir, ia telah membangun kerajaan bisnisnya sendiri yang cukup kuat untuk menjamin masa depan Aiden. Semua berjalan lancar hingga Bima menyebutkan pembagian saham untuknya. “Lima puluh persen saham PacificTel tetap atas nama putri saya, Alisa Hartanto. Saham tersebut tidak boleh dijual kepada pihak mana pun. Jika Alisa berniat menjualnya, maka penawaran pertama wajib diberikan kepada menantu saya, Arka Wirawan.” Tangan Alisa mengepal. Di seberangnya, Arka tersenyum tipis, penuh kepuasan. “Tenang, Alisha,” bisik Susan. Alisha mengangguk tanpa berkata apa-apa, menunggu pembacaan wasiat selesai. “Tidak ada syarat tambahan untuk mewarisi,” ujar Bima sambil menutup map dokumen. 'Salah.' Itulah satu-satunya kata yang terlintas di benak Alisha. Ayahnya bahkan tidak meninggalkan apa pun untuk Aiden, hanya karena anak itu dianggap lahir dari orang ketiga. Baginya, keputusan itu sungguh aneh. “Apapun rencanamu soal saham itu,” ujar Arka tajam. “aku lebih milih beli sekarang daripada nanti. Aku nggak mau bangkrut gara-gara kamu.” Ucapan Arka seperti sebilah pisau yang mengiris hatinya. Kepercayaan Arka untuknya benar-benar tidak tersisa. “Kamu takut, tuan Wirawan?” tanya Alisha sambil menatap lurus ke matanya. “Ini soal uang,” jawab Arka dingin. “Aku punya lima puluh persen saham PacificTel. Dan aku nggak mau kehilangan satu rupiah pun karena kamu.” Alisa terkekeh pelan. “Jadi itu alasan kamu belum mengurus perceraian sampai tuntas?” Rahang Arka mengeras. Semua orang terperangah mendengar ucapan Alisha. Tidak ada yang mengira kalau Alisha akan membahas hal itu dihari yang tidak tepat ini. “Mungkin. Atau lebih tepatnya aku nggak mau setengah hartaku jatuh ke tanganmu. Kau tidak pantas!” Mereka menikah dengan perjanjian pranikah yang ketat. Siapa pun yang terbukti berselingkuh atau menggugat cerai tanpa dasar dan alasan kuat akan kehilangan hampir seluruh haknya. Alisha tersenyum meremehkan. “Alasanmu payah.” “Al…” Susan mencoba menenangkan. “Kamu takut gugat cerai karena kamu nggak punya bukti kuat,” lanjut Alisha tajam. “Kamu tahu risikonya. Tes DNA bisa bikin kamu kehilangan bukan cuma setengah harta, tapi semuanya. Dan kamu juga harus ngaku kalau kamu pecundang bodoh.” Penghinaan yang Alisha ucapkan kali ini semakin melukai hatinya. Padahal Arka tidak hanya tidak mau bercerai. Dia selalu mempertimbangkan kondisi Alisha. Jika wanita itu terbukti bersalah, maka dunia akan menghujatnya. Dia tidak ingin menempatkan Alisha pada posisi itu. Jika boleh jujur dia tidak takut kehilangan hartanya. Semua itu dia peroleh dengan kemampuannya sendiri. Itu membuktikan kalau dia bisa memulai lagi meski harus kembali dari nol. “Kamu selingkuh dariku!” bentak Arka. Alisha berdiri dan menatap tajam. “Buktikan,” balasnya tanpa berkedip. “Ajukan cerainya. Buktikan di pengadilan. Kalau terbukti, aku bakal ngaku salah. Bahkan berlutut mencium telapak kakimu pun aku rela." Tantang Alisha. Amarah membakar dada Arka dan meracuni setiap nalar yang tersisa. Keraguan tentang segala hal semakin memenuhi dirinya. “Aku nggak akan jual apa pun ke kamu,” lanjut Alisha. “Kalau kamu masih berharap bisa punya PacificTel sepenuhnya, bangun. Itu cuma mimpi. Sekarang keluar dari rumahku!" Usir Alisha tanpa iba. Arka pergi dengan amarah dan membanting pintu hingga dinding bergetar. Ia marah, bukan hanya karena gagal bernegosiasi, tetapi karena akhirnya menyadari bahwa Alisha sudah tidak memiliki perasaan apa pun padanya. Tidak ada cinta dan rindu dalam tatapan wanita itu. Ucapan Reza beberapa hari yang lalu kembali menghantam harga dirinya. 'Mungkin aja kamu salah menuduhnya.' Di halaman, Arka membanting kap mobil dengan kasar, dan suaranya menarik perhatian Aiden dan Daniel yang sedang bermain bola. “Dia kenapa, om?” tanya Aiden polos. “Mungkin stres berat,” jawab Daniel cukup keras. Dia sengaja agar Arka mendengarnya. Untung rumah ini ada satpam. Kalau nggak, bisa bahaya. Arka menoleh. Napasnya tercekat saat melihat anak laki-laki yang bersama pria yang pernah menemani Alisa ke pemakaman Rizal. "Alisha pernah hamil, dan anaknya belum terlihat sampai hari ini. Bukankah harusnya ..." Arka memperhatikan lebih detail. Aiden sampai bingung melihat tatapan nya. "Apa itu dia ?" Arka mendekat. Detak jantungnya memburu dengan pikiran berkecamuk.Minggu berikutnya, Alisha menghabiskan sebagian besar waktunya di perpustakaan milik mendiang ayahnya. Bersama Daniel dan Rachel, ia menyelesaikan berbagai urusan perusahaan yang masih tertunda. Pagi itu mereka bergerak dengan tergesa, sebab pengacara keluarga Hartanto telah menjadwalkan pertemuan pada pukul sepuluh tepat.“Nyonya Alisha, Pak Bima sudah datang,” lapor salah satu karyawan."Suruh masuk,” jawab Alisha singkat.Begitu pintu terbuka, sebuah sapaan ramah terdengar menggelikan telinganya. "Selamat pagi, nyonya Wirawan," sapa pak Bima. Alisha menoleh dengan kening langsung berkerut. Ada yang tidak beres, batinnya waspada. Pengacara itu tidak datang sendirian."Selamat pagi juga,” sapa Arka dengan nada sinis. Ia melangkah masuk seolah rumah itu berada dalam kendalinya. Melihat Arka berdiri di hadapannya, Alisha hampir saja memerintahkan satpam untuk mengusir pria itu. Namun, ucapan Daniel kembali terngiang di benaknya. 'Kalau kamu marah, berarti kamu kalah. Itu bukti kala
Susan bangkit berdiri, menatap putrinya sebelum akhirnya mengalihkan perhatian pada Arka. Situasi Arka memang jauh dari kata baik. Tidak terlihat kesedihan atau penyesalan apapun, tapi Susan tidak mungkin menolak ucapan belasungkawa dari seseorang. “Terima kasih banyak, nak Arka,” jawabnya pelan."Sama-sama, buk,” jawab Arka tenang. “Selain pernah jadi ayah mertua, saya dan pak Rizal adalah rekan kerja. Kita juga selalu berhubungan baik,.” Tatapannya tertuju pada Alisha, menunggu respon, tapi wanita itu mengabaikannya, dia mengalihkan pandangan seolah mereka adalah orang asing yang tidak pernah saling mengenal."Aku menghargai kedatanganmu malam ini, Arka, tapi…” Susan belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika suara Daniel memotong."Al, mau ku ambilkan minum?” tanya Daniel dengan lembut di samping Alisha. Wanita itu memang terlihat butuh air. Wajahnya begitu kusut dan bibinya tampak pucat. Alisha mengangguk."Mau teh atau yang lain?" tanya Daniel dengan penuh perhatian.“Dia ngga
Di kantornya, Arka Wirawan menutup telepon dengan sikap tenang namun perasaannya janggal."Ada apa? Kenapa wajahmu begitu?" tanya Reza Kurniawan, sepupu sekaligus sahabatnya, yang duduk di seberangnya."Pak Rizal meninggal dunia," jawabnya sedikit lesu."Terus, apa pengaruhnya ke kamu?" tanya Reza sambil menatap serius."Kami mitra di PacificTel. Kematiannya jelas bikin masalah," jawab Arka singkat."Masalah itu harusnya nggak nyentuh soal finansial kan? Itu dua hal yang beda.""Nggak, Aku nggak pernah ikut campur dalam manajemen, cuma terima persenan dari keuntungan, sesuai kesepakatan awal. Pak Rizal yang menjalankan perusahaan sepenuhnya." Jelasnya."Kalau gitu kenapa kamu kelihatan gugup banget?" tanya Reza lagi. "Kamu cuma perlu datang atau kirim perwakilan untuk mengungkapkan belasungkawa." Celoteh Reza."Harusnya begitu. Tapi tanpa pak Rizal, satu-satunya orang yang nantinya bisa gantiin dia hanya ... " Ucap Arka terpotong."Istrimu?" Goda Reza."Mantan," jawab Arka dingin."Om
Enam tahun kemudian. Alisha tersenyum melihat putra semata wayangnya berlari ke arahnya. Ada sesal yang mengendap karena ia tidak bisa menghabiskan banyak waktu bersama anak itu, bisnis yang ia rintis bersama Rachel, menuntut perhatiannya. Rachel adalah wanita blasteran Indonesia-Canada, ia orang pertama yang ia temui dan menjadi sahabatnya sejak menginjakkan kaki di Vancouver,"Jangan lari, sayang, nanti jatuh," ucapnya dengan lembut diiringi senyum tipis dibibirnya."Aiden kangen banget sama mama!" teriak Aiden sambil melingkarkan tangannya ke leher ibunya."Mama juga kangen Aiden, sayang," bisiknya, lalu mencium pipi anak itu."Hari ini guru kasih Aiden nilai sepuluh sama dua bintang," Aiden berseru riang. "Aiden hebat kan, ma?" Alisha mengangguk semangat sambil menatap putranya penuh kasih. Aiden adalah segalanya baginya. Bocah lima tahun itu juga menjadi satu-satunya alasan ia tetap kuat, penopang yang membuatnya bertahan ketika pernikahannya runtuh dan kedua orang tuanya mengus
Hari itu, Alisha Hartanto berdiri dengan wajah bahagia. Senyumnya merekah, dan tatap matanya berkilat penuh binar. Terpancar sebuah harapan yang begitu besar. Begitu melihat suaminya, dia semakin terlihat bahagia.“Aku hamil!” serunya dengan riang.Lelaki didepannya membuat dunianya berhenti sejenak. Bukannya reaksi bahagia, justru dia mendapati wajah tengang dan bunyi kaca pecah di lantai yang membuatnya terlonjak. Napasnya tertahan dengan ekspresi dipenuhi rasa kaget."Arka? Kamu baik-baik aja?” tanyanya dengan cepat, langkahnya ragu menghampiri.Arka Wirawan, lelaki yang menjadi suaminya kini seakan membeku. Matanya menatap dalam wanita di depannya, wanita yang sudah bertahun-tahun ia cintai dan percayai sepenuh hati, tanpa pernah ada keraguan. Tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda di sorotannya. Dingin, dan menusuk."Kamu hamil, Al?” suaranya rendah, nyaris tak terdengar. Tapi reaksi diwajahnya sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan.Alisha menelan salivanya, matanya menatap







