Masuk
Hari itu, Alisha Hartanto berdiri dengan wajah bahagia. Senyumnya merekah, dan tatap matanya berkilat penuh binar. Terpancar sebuah harapan yang begitu besar. Begitu melihat suaminya, dia semakin terlihat bahagia.
“Aku hamil!” serunya dengan riang. Lelaki didepannya membuat dunianya berhenti sejenak. Bukannya reaksi bahagia, justru dia mendapati wajah tengang dan bunyi kaca pecah di lantai yang membuatnya terlonjak. Napasnya tertahan dengan ekspresi dipenuhi rasa kaget. "Arka? Kamu baik-baik aja?” tanyanya dengan cepat, langkahnya ragu menghampiri. Arka Wirawan, lelaki yang menjadi suaminya kini seakan membeku. Matanya menatap dalam wanita di depannya, wanita yang sudah bertahun-tahun ia cintai dan percayai sepenuh hati, tanpa pernah ada keraguan. Tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda di sorotannya. Dingin, dan menusuk. "Kamu hamil, Al?” suaranya rendah, nyaris tak terdengar. Tapi reaksi diwajahnya sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan. Alisha menelan salivanya, matanya menatap suaminya penuh selidik. “Ya… kok reaksi kamu gitu, ini kabar baik, kan?” dia bicara ragu-ragu dan berusaha tersenyum. Namun senyum kecil yang coba dia pertahankan runtuh saat melihat rahang suaminya mengeras. Hati Arka bergejolak: bagaimana bisa ia begitu lama dibutakan? Bagaimana bisa ia begitu bodoh mempercayai segalanya tanpa ada curiga? “Arka…” suara Alisha lirih, untuk pertama kalinya dia takut pada tatapan suaminya sendiri. "Kita bakal punya bayi. Kamu gak senang?" Dia menautkan tangan mengumpulkan keberanian. Suasana saat ini tidak pernah terlintas dibenaknya. Tiga tahun pernikahan mereka berjalan bahagia, tapi Alisha selalu merasa bahwa keluarga mereka belum lengkap. Kini, momen yang ia tunggu akhirnya benar-benar datang. Namun reaksi suaminya sungguh diluar dugaan. Wajah Arka merah padam dengan rahang yang semakin mengeras. Dia mendekati istrinya lalu mencengkram kedua lengannya. “Katakan,” hardiknya. Nada suaranya menahan bara. Alisha sampai kaget dibuatnya. “Kamu selingkuh, kan?" Tuduh Arka menghancurkan dunianya. Wanita itu membeku tak percaya. "Siapa pria yang hamilin kamu! Siapa!" Sergah Arka dengan nada keras sambil menguncang kedua lengannya. "Arka..." Lirih Alisha menahan kaget dan sakit yang bersamaan. "Siapa bajingan yang berani menyentuh milikku. Siapa dia Alisha. Jawab!" Desak Arka sambil kembali menguncang tubuhnya. Alisha terperanjat, Tubuhnya gemetar hampir tak kuat menopang badannya. Detak jantungnya memburu membuat napasnya terdengar ngos-ngosan. "Jawab!" Bentak Arka. "Aku gak ngerti, Arka…” "Jangan pura-pura! Sok suci!” bentaknya sambil mendorong lengan istrinya kuat-kuat. Alisha mundur hingga hampir jatuh. Dia menahan perutnya sambil menatap nanar pada suaminya “Katakan saja, siapa ayah anak itu?” Desaknya. “Bisa-bisanya kamu nuduh aku kayak gitu, apa kamu gila?" Kamu satu-satunya pria dalam hidupku!” serunya, menahan air mata. “Aku ngga gila. Aku cuman bodoh karna pernah percaya padamu sepenuh hati. Terlalu bodoh sampai aku percaya kamu berbeda dari perempuan lain. Kukira kamu punya harga diri! Ternyata ...” Arka menjeda kalimatnya. Dia menggelengkan kepala sambil menatap jijik ke arah tubuh Alisha. Alisha menatap suaminya dengan ketakutan sekaligus menahan sakit yang menguasai dirinya. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, ia benar-benar merasa asing dengan pria itu. Hatinya perih. Seperti luka yang ditetesi garam. "Aku gak tahu apa yang salah sama kamu, Arka, tapi kamu ayah anakku. Aku masih perawan waktu aku nikah sama kamu, dan sejak awal aku cuma milikmu!” ucapnya dengan suara bergetar. "Pembohong!” tuduh Arka dengan mata penuh amarah. Alisha mencoba meraih tangannya namun Arka menepisnya hingga terdorong ke sofa. "Arka… kamu gak bisa memperlakukan aku kayak gini. Kamu gak punya alasan untuk curiga sama aku! Apalagi sampai menuduhku begitu hina." "Ya. Karna kamu terlalu ahli. Permainanmu sangat rapi. Tidak menimbulkan kecurigaan seujung rambut pun." Jawab Arka dengan nada pelan tapi ditekan. "Tuduhanmu tidak berdasar, Bahkan kamu ngga punya bukti apapun." Tegas Alisha. “Bukti? Kamu masih minta bukti. Ini apa? buktinya tumbuh di dalam rahimmu. Kamu hamil anak selingkuhanmu. Apa buktinya masih kurang!" Bentak Arka. Alisha menggeleng sambil menitikkan air mata. "Kamu gila!” jeritnya, kini suaranya pecah oleh tangis. “Ya, aku memang gila, bodoh, dan..." Suara Arka tertahan "dan aku sakit hati, Al. Aku nggak akan pernah maafin kamu atas pengkhianatan ini!” teriak Arka, matanya tergenang air yang siap mengalir namun berhasil dibendung oleh amarahnya. Alisha berdiri kaku, menatap laki-laki yang selama ini ia pikir cinta sejatinya. Laki-laki yang ia percaya akan jadi teman hidupnya hingga kematian menjemputnya, yang bersamanya ia ingin membangun keluarga, dan menyaksikan anak-anak mereka tumbuh, bahkan menimang cucu di masa depan. Kesalahan besar. "Ingatlah hari ini. Aku yang gak akan pernah maafin kamu, Arka. Atas apa yang udah kamu lakukan ke aku dan anak kita,” ucap Alisha dengan suara bergetar. "Dia bukan anak kita! Dia anakmu. Anak haram dari bajingan yang kamu coba paksa jadi darah dagingku!” bentak Arka, penuh amarah. 'Plak' Suara tamparan keras langsung menggema di ruangan itu. Telapak tangan Alisha terasa perih, tapi dibanding rasa sakit dihatinya itu tak ada artinya. Dan sayangnya luka itu ditorehkan oleh Arka sendiri. Itu akan menjadi luka yang takkan pernah ia lupakan seumur hidupnya. Arka menatapnya begitu dalam, terlihat jelas kalau dia pebih menghawatirkan tangan Alisha daripada pipinya yang sudah memerah Dengan tangis tersedu, Alisha mengusab air matanya. "Aku harap kamu gak pernah nyesel atas semua ini, Arka. Tapi kalau hari itu datang, ku harap kamu cuma bisa berkubang dalam kesengsaraan dan penyesalanmu sendiri tanpa pernah tahu apa itu bahagia,” ucap Alisha, air matanya terus mengalir deras. Seperti air hujan yang tak bisa di bendung “Nyesal, kamu yang gagal dalam kisah cinta ini, Alisha,” balas Arka dengan nada dingin. “Kamu yang nuduh aku gak setia…” Alisha tersendat, suaranya gemetar. “Karena aku gak bisa punya anak!” potong Arka, teriakannya terdengar menyakitkan baik untuk dirinya maupun Alisha. Alisha terperangah. “Aku udah periksa sebelum kita nikah, dan hasilnya… aku mandul!” jelas Arka menahan tangis. Tapi air matanya tak bisa dibendung. Alisha membeku, menatap suaminya dengan tatapan hampa. Napasnya tercekat, dan hatinya mencelos. Arka tak pernah mengatakan apapun tentang kemandulannya. Jadi, selama ini suaminya membiarkannya begitu bersemangat dan penuh harap tentang bayi. Padahal dia percaya itu tak akan mungkin terjadi? Mati-matian dia berusaha untuk bisa hamil, melalukan diet, rutin cek ke dokter, suntikan ini itu, obat dari berbagai sumber, makan ini dan itu demi memenuhi mimpi punya anak. Sedangkan Arka memilih menyembunyikan rahasia itu, malah berpangku tangan dan menonton perjuangannya. Lalu apa yang bisa ia katakan setelah pengakuan itu? Ia bukan tipe wanita yang mau memohon-mohon, apalagi saat semua kebohongan Arka terbuka jelas di depannya. Akhirnya dia tersenyum dengan air mata mengalir. "Kalau gitu, ngga ada lagi yang bisa kita omongin,” suaranya nyaris berbisik, tapi tegas. "Memang ngga ada. Tinggal tanda tangan surat cerai dan kita selesai.” jawab Arka tanpa keraguan. Diujung kalimatnya dia menghapus airmatanya. Dia sangat yakin kalau Alisha berselingkuh. "Baiklah. Kalau itu maumu akan ku turuti." Jawab Alisha yakin. "Tentu. Kita memang harus saling membebaskan. Aku juga ngga sudi terikat lebih lama dengan penghianat sepertimu. Pergilah. Hidup dengan selingkuhanmu." Umpat Arka. Alisha menelan salivanya. Ia menatap suaminya untuk terakhir kali, pria yang beberapa menit lalu masih ia anggap sebagai pasangan yang terbaik dalam hidupnya. Lalu, ia melangkah pergi dengan hati hancur. Jalanan kota yang biasanya riuh kini terasa sunyi. Lampu jalan tampak kabur di balik air mata yang tak kunjung berhenti, sementara kepalanya dipenuhi gema suara Arka yang terus menusuk. Mobil berhenti di depan rumah masa kecilnya. Tempat terakhir yang bisa ia sebut rumah. Ia tak pernah menyangka kabar kehamilannya akan membawa malapetaka, bukan hanya bagi pernikahannya, tetapi juga bagi keluarganya sendiri, termasuk ayah dan ibunya. Begitu Alisha masuk, kedua orang tuanya sudah menunggunya dengan wajah masam. “Maaf Al, tapi kami ngga bisa menoleransi pengkhianatan,” suara Rizal Hartanto bergema bahkan sebelum Alisha mengatakan sepatah katapun. Alisha kini mengerti kalau orangtuanya sudah mendapat kabar dari suaminya. “Ayah gak serius, kan?" Dia mencari belas kasih dari tatap ayahnya, tapi ... Mengecewakan. Pria yang dia panggil ayah itu memalingkan muka dengan kekecewaan yang sama. "Aku gak pernah selingkuh dari Arka, Ayah. Ayah harusnya percaya sama aku. Aku gak akan pernah lakuin sesuatu yang bikin Ayah malu!” teriak Alisha putus asa, ia mencoba mempertahankan harga dirinya di hadapan sang ayah. Namun ia bahkan tak sempat membawa kabar bahagia itu kepada orang tuanya, karena Arka sudah lebih dulu menceritakan versinya sendiri. "Hentikan kebohonganmu!” bentak Rizal, wajahnya memerah karena amarah. "Ayah yang mendidik dan membesarkan ku, harusnya ayah tau bagaimana aku." Tuntut Alisha. "Arka ngga bisa punya anak, Al! Ayah sudah tau itu sejak awal." Jawab Ayahnya dengan marah. Alisha terdiam, matanya kembali basah. Ternyata dari awal dialah bonekanya. Bahkan ayahnya sendiri menutupi hal sebesar ini darinya. "Jadi kalian juga tau?" Lirihnya sambil menatap kedua orangtuanya bergantian. Wajah mereka menjelaskan semuanya. Alisha mengangguk putus asa. Dia mengusap air matanya lalu mengangkat wajah, “Terus Ayah maunya aku gimana?” tanyanya, suaranya nyaris tak terdengar. “Gugurkan bayi itu, lalu minta maaf pada Arka. Kalau tidak, keluar dari rumah ini dan jangan pernah kembali” ucap Rizal dengan tegas. "Ayah," Susan - ibu Alisha mencoba menghentikan suaminya. "Kamu gak bisa gitu! Alisha itu putri kita!” jeritnya sambil menangis tersedu. Hatinya menolak percaya bahwa putrinya sanggup menipu Arka dan melakukan hal memalukan itu. Dia sangat tahu betapa Alisha sangat mencintai suaminya. "Aku gak mau jadi bahan tertawaan seluruh kota,” jawab Rizal dingin. Alisha menganggukkan kepalanya, air matanya masih mengalir. “Ayah ngga akan jadi bahan tertawaan siapapun. Karena malam ini juga aku akan pergi dari kota ini. Dan kalian gak akan pernah lihat aku lagi." jawab Alisha dengan tegas. Saat itu juga dia pergi dan menghilang dari dunia Arka dan kedua orangtuanya.Minggu berikutnya, Alisha menghabiskan sebagian besar waktunya di perpustakaan milik mendiang ayahnya. Bersama Daniel dan Rachel, ia menyelesaikan berbagai urusan perusahaan yang masih tertunda. Pagi itu mereka bergerak dengan tergesa, sebab pengacara keluarga Hartanto telah menjadwalkan pertemuan pada pukul sepuluh tepat.“Nyonya Alisha, Pak Bima sudah datang,” lapor salah satu karyawan."Suruh masuk,” jawab Alisha singkat.Begitu pintu terbuka, sebuah sapaan ramah terdengar menggelikan telinganya. "Selamat pagi, nyonya Wirawan," sapa pak Bima. Alisha menoleh dengan kening langsung berkerut. Ada yang tidak beres, batinnya waspada. Pengacara itu tidak datang sendirian."Selamat pagi juga,” sapa Arka dengan nada sinis. Ia melangkah masuk seolah rumah itu berada dalam kendalinya. Melihat Arka berdiri di hadapannya, Alisha hampir saja memerintahkan satpam untuk mengusir pria itu. Namun, ucapan Daniel kembali terngiang di benaknya. 'Kalau kamu marah, berarti kamu kalah. Itu bukti kala
Susan bangkit berdiri, menatap putrinya sebelum akhirnya mengalihkan perhatian pada Arka. Situasi Arka memang jauh dari kata baik. Tidak terlihat kesedihan atau penyesalan apapun, tapi Susan tidak mungkin menolak ucapan belasungkawa dari seseorang. “Terima kasih banyak, nak Arka,” jawabnya pelan."Sama-sama, buk,” jawab Arka tenang. “Selain pernah jadi ayah mertua, saya dan pak Rizal adalah rekan kerja. Kita juga selalu berhubungan baik,.” Tatapannya tertuju pada Alisha, menunggu respon, tapi wanita itu mengabaikannya, dia mengalihkan pandangan seolah mereka adalah orang asing yang tidak pernah saling mengenal."Aku menghargai kedatanganmu malam ini, Arka, tapi…” Susan belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika suara Daniel memotong."Al, mau ku ambilkan minum?” tanya Daniel dengan lembut di samping Alisha. Wanita itu memang terlihat butuh air. Wajahnya begitu kusut dan bibinya tampak pucat. Alisha mengangguk."Mau teh atau yang lain?" tanya Daniel dengan penuh perhatian.“Dia ngga
Di kantornya, Arka Wirawan menutup telepon dengan sikap tenang namun perasaannya janggal."Ada apa? Kenapa wajahmu begitu?" tanya Reza Kurniawan, sepupu sekaligus sahabatnya, yang duduk di seberangnya."Pak Rizal meninggal dunia," jawabnya sedikit lesu."Terus, apa pengaruhnya ke kamu?" tanya Reza sambil menatap serius."Kami mitra di PacificTel. Kematiannya jelas bikin masalah," jawab Arka singkat."Masalah itu harusnya nggak nyentuh soal finansial kan? Itu dua hal yang beda.""Nggak, Aku nggak pernah ikut campur dalam manajemen, cuma terima persenan dari keuntungan, sesuai kesepakatan awal. Pak Rizal yang menjalankan perusahaan sepenuhnya." Jelasnya."Kalau gitu kenapa kamu kelihatan gugup banget?" tanya Reza lagi. "Kamu cuma perlu datang atau kirim perwakilan untuk mengungkapkan belasungkawa." Celoteh Reza."Harusnya begitu. Tapi tanpa pak Rizal, satu-satunya orang yang nantinya bisa gantiin dia hanya ... " Ucap Arka terpotong."Istrimu?" Goda Reza."Mantan," jawab Arka dingin."Om
Enam tahun kemudian. Alisha tersenyum melihat putra semata wayangnya berlari ke arahnya. Ada sesal yang mengendap karena ia tidak bisa menghabiskan banyak waktu bersama anak itu, bisnis yang ia rintis bersama Rachel, menuntut perhatiannya. Rachel adalah wanita blasteran Indonesia-Canada, ia orang pertama yang ia temui dan menjadi sahabatnya sejak menginjakkan kaki di Vancouver,"Jangan lari, sayang, nanti jatuh," ucapnya dengan lembut diiringi senyum tipis dibibirnya."Aiden kangen banget sama mama!" teriak Aiden sambil melingkarkan tangannya ke leher ibunya."Mama juga kangen Aiden, sayang," bisiknya, lalu mencium pipi anak itu."Hari ini guru kasih Aiden nilai sepuluh sama dua bintang," Aiden berseru riang. "Aiden hebat kan, ma?" Alisha mengangguk semangat sambil menatap putranya penuh kasih. Aiden adalah segalanya baginya. Bocah lima tahun itu juga menjadi satu-satunya alasan ia tetap kuat, penopang yang membuatnya bertahan ketika pernikahannya runtuh dan kedua orang tuanya mengus
Hari itu, Alisha Hartanto berdiri dengan wajah bahagia. Senyumnya merekah, dan tatap matanya berkilat penuh binar. Terpancar sebuah harapan yang begitu besar. Begitu melihat suaminya, dia semakin terlihat bahagia.“Aku hamil!” serunya dengan riang.Lelaki didepannya membuat dunianya berhenti sejenak. Bukannya reaksi bahagia, justru dia mendapati wajah tengang dan bunyi kaca pecah di lantai yang membuatnya terlonjak. Napasnya tertahan dengan ekspresi dipenuhi rasa kaget."Arka? Kamu baik-baik aja?” tanyanya dengan cepat, langkahnya ragu menghampiri.Arka Wirawan, lelaki yang menjadi suaminya kini seakan membeku. Matanya menatap dalam wanita di depannya, wanita yang sudah bertahun-tahun ia cintai dan percayai sepenuh hati, tanpa pernah ada keraguan. Tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda di sorotannya. Dingin, dan menusuk."Kamu hamil, Al?” suaranya rendah, nyaris tak terdengar. Tapi reaksi diwajahnya sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan.Alisha menelan salivanya, matanya menatap







