Home / Rumah Tangga / Anak Dari Suami Mandul / Keraguan Yang Tersembunyi

Share

Keraguan Yang Tersembunyi

Author: D.S
last update Last Updated: 2026-01-02 14:19:01

Susan bangkit berdiri, menatap putrinya sebelum akhirnya mengalihkan perhatian pada Arka. Situasi Arka memang jauh dari kata baik. Tidak terlihat kesedihan atau penyesalan apapun, tapi Susan tidak mungkin menolak ucapan belasungkawa dari seseorang. “Terima kasih banyak, nak Arka,” jawabnya pelan.

"Sama-sama, buk,” jawab Arka tenang. “Selain pernah jadi ayah mertua, saya dan pak Rizal adalah rekan kerja. Kita juga selalu berhubungan baik,.” Tatapannya tertuju pada Alisha, menunggu respon, tapi wanita itu mengabaikannya, dia mengalihkan pandangan seolah mereka adalah orang asing yang tidak pernah saling mengenal.

"Aku menghargai kedatanganmu malam ini, Arka, tapi…” Susan belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika suara Daniel memotong.

"Al, mau ku ambilkan minum?” tanya Daniel dengan lembut di samping Alisha. Wanita itu memang terlihat butuh air. Wajahnya begitu kusut dan bibinya tampak pucat. Alisha mengangguk.

"Mau teh atau yang lain?" tanya Daniel dengan penuh perhatian.

“Dia ngga suka teh, Bahkan benci." celetuk Arka tanpa sadar. Apa-apaan itu? Apa yang dia harap dengan ikut campur di tengah suasana begini?

Belum sempat Arka berpikir, suara Alisha yang sudah enam tahun tak ia dengar, kini terdengar kembali.

“Kamu tahu kan, apa yang ku suka, kenapa masih nanya," ucapnya sambil menyentuh tangan Daniel. Jantung Arka berdebar kencang.

"Teh dengan sedikit gula." Daniel tersenyum manis padanya. Alisha mengangguk diiringi senyum tipis. Amarah membara membakar di dalam dada Arka. Ia menoleh dengan tajam ketika Daniel beranjak menuangkan teh. Dia bisa tersenyum di hari kematian ayahnya, di depan pria lain, benarkah itu?

“Sudah lama, Alisa,” katanya, berdiri tepat di depannya.

Alisha mendongak, menaikkan alis, kemudian bangkit. “Tuan Wirawan, ini kejutan paling tidak menyenangkan yang pernah saya dapatkan enam tahun terakhir ini.” balasnya dingin. Tubuh Arka menegang mendengar sapaan itu. Ia sempat melirik ke samping, menyadari kilatan kamera menyorot setiap gerakannya. “Kamu bisa lebih ramah,” ujarnya arogan.

“Kenapa?. Nggak ada yang maksa aku pura-pura simpati sama pria yang nggak pantas, Aku juga tidak suka pencitraan." jawab Alisha tajam.

Mata Susan melebar mendengar ucapan putrinya, tapi ia tak ikut campur. Dari semua orang, hanya dia yang benar-benar tahu betapa banyak penderitaan yang ditanggung Alisha karena Arka.

“Alisha…” suara pelan Susan terdengar seperti peringatan.

"Terima kasih sudah menyampaikan belasungkawa atas kepergian ayahku, Tuan Wirawan. Kamu bisa pergi sekarang, masih banyak tanu yang harus saya ladeni," kata Alisha lagi dengan senyum yang jelas tidak ramah.

Dengan tenang, Alisha berbalik menuju Daniel. Ia harus menjauh, karena kalau tidak, ia takut keinginannya untuk memukul wajah Arka benar-benar terjadi.

“Nih,” Daniel menyodorkan satu cup teh dan Alisha menerima dengan senyum tipis. Kesedihan atas kepergian ayahnya masih jelas tergambar di wajahnya. Hanya Arka yang tidak melihatnya, atau ... Tidak ingin melihatnya. Amarahnya memaksa matanya tertutup terhadap kesedihan Alisha.

Pemandangan itu membuat Arka hampir meledak. Ia tergoda untuk benar-benar melakukan sesuatu pada pria itu, apalagi saat fotografer sibuk mengambil gambar Alisa bersamanya.

"Jangan bikin keributan,” Reza menghampiri dan menahan lengannya.

Arka mendengus. “Dia nggak tahu malu!"

"Tetap aja ini bukan waktu yang tepat," Reza menariknya dengan sedikit paksa.

"Pasti itu pria bajingan yang pernah mengha ..." Reza menutup mulut Arka dan memilih membawanya keluar.

Reza hanya memutar mata. “Lucu juga, pria yang datang dengan wanita lain ke pemakaman manyan ayah mertuanya berani berkomentar terhadap teman pria dari mantan istrinya."

Arka terdiam, langkahnya terhenti. Wajahnya memerah dipenuhi emosi.

“Aku kira kamu udah ngga peduli. Tapi reaksimu barusan jelas bilang sebaliknya, malah menuduh mantan istrimu yang bukan-bukan" kata Reza lagi.

“Dia masih istriku." Hardik Arka.

"Tunggu, bukannya baru tadi kamu bilang mantan?" Goda Reza terus menerus.

"Kau." Arka mengepal tinju di depan Reza.

"Apa pun yang dia lakuin hari ini bisa ngaruh ke citraku dan juga Pasific.Tel." Arka mengembuskan napas kasar.

Reza tersenyum mengejek. Jelas sekali alasan yang Arka buat sangat tidak masuk akal. Dia terlihat seperti orang yang sengaja mencari keributan. Tapi lebih ke ... cemburu.

“Hm, baiklah. Tapi semua yang kamu lakuin enam tahun terakhir udah ngaruh ke citra kamu Arka. Dan aku nggak lihat dia berusaha ngehancurin reputasimu. Malah kayaknya dia nggak peduli sama kamu lagi. Kamu sendiri yang menghancurkan semuanya." Ceramah Reza membuat tinju Arka melayang ke udara.

"Eit," Reza berhasil menghentikannya. "Itu hanya sepertinya ..." Jelasnya.

Ucapan Reza yang menohok jelas melukai harga diri seorang Arka. Tapi hal paling penting adalah hatinya yang juga ikut terluka, tepatnya semakin luka. Dengan kasar, ia merangkul lengan Viona dan berjalan keluar ruangan tanpa pamit, Bahkan Viona hampir terjatuh karna sikap kasarnya. sementara Alisa sama sekali tak menoleh. Ia hanya tahu Arka pergi dari bisikan orang-orang di sekitar.

“Kamu mau balik ke hotel?” tanya Daniel sambil menemaninya ke sisi Susan.

“Nanti, ibuku masih butuh aku, Dan.”

Daniel mengangguk, memilih untuk tetap di sampingnya sebagai sahabat sejati.

***

Keesokan paginya, sekitar pukul sepuluh pagi, jenazah Rizal Hartanto sudah dibawa ke pemakaman. Alisha sebenarnya ingin upacara itu tertutup, tapi ayahnya terlalu dikenal di industri bisnisnya dan hampir mustahil menghentikan kerumunan orang yang datang. Momen terberat untuknya adalah saat mendengar tangisan dan jeritan Susan ketika tanah mulai menutup peti suaminya.

“Ayahmu bukan orang jahat, Nak. Dia cuma membuat keputusan yang salah, dan dia nyesel nggak bisa ada buat kamu,” isak Susan. Alisha hanya mengangguk, tak sanggup membantah ibunya di saat sesulit itu. Biarlah ibunya mengenang suaminya dengan cara yang ia inginkan.

Dari kejauhan, di bawah naungan pohon, Arka menyaksikan semuanya. Kacamata hitam menutupi matanya, melindunginya dari matahari yang terasa menusuk setelah semalam ia mabuk berat.

“Aku nggak ngerti kamu ini bodoh atau masokis,” komentar Reza yang tiba-tiba muncul di sampingnya.

“Jangan ganggu Arka, Za,” potong Bayu, sahabat sesama pengusaha.

“Andai aja bisa, tapi lihat dia, raganya di sini. Tapi tatapan dibalik kacamata hitamnya ngga pernah lepas dari pria disamping istrinya!” bentak Reza. "Aku yakin kalau dia terlalu lama di sini, dia bakal masukin pria itu ke liang kubur pak Rizal juga." Goda Reza sekaligus meledek.

"Diamlah. Kalau kamu ngga bisa diam pulang aja." Jawab Arka. Tapi Reza tidak mau berhenti.

"Aku tau kamu lagi liatin pria yang dari tadi peluk Alisha kan?" Godanya lagi. Bayu menepuk pundak Reza sebagai peringatan terakhir untuk diam. Reza malah meliriknya penuh tanya.

Bayu menggeleng sambil berucap. “Kamu nggak ngerti…”

“Apa yang aku nggak ngerti?” tanya Reza jengkel.

“Pengkhianatan nggak segampang itu untuk dimaafin. Arka ngalamin itu juga sama Dinda.” Kenangnya.

“Please, Alisha jauh lebih baik daripada Dinda, Selain kehamilannya, apa Arka punya hal lain? Beda jauh sama Dinda. Alisha hampir ngga ada cacat men!" protes Reza.

“Ya, memang. Alisa jauh lebih baik soal perselingkuhan. Setidaknya Dinda ngga sampai hamil dari pria lain,” balas Bayu.

Reza menggeleng “Kok kamu tahu? Emangnya kamu yang tidur sama dia?” Arka langsung melotot marah. Bayu malah ikut emosi.

"Kenapa kamu selalu bela Alisha sih, jangan-jangan kamu yang jadi selingkuhannya." Bayu menyerang balik.

Mereka berdua membicarakan rumah tangga Arka dan Alisah seolah pria itu tak ada di sana. Raja bisnis itu berusaha mengabaikan, sampai Reza melanjutkan.

“Kalau aku jadi Arka, aku bakal cari tahu dokter yang ngasih diagnosis mandul itu dan pastiin hasilnya akurat!” katanya. Rahang Arka mengeras. Pikiran itu sudah sering melintas di benaknya, bukan hanya saat luka masih segar dulu, tapi bertahun-tahun kemudian, pikiran itu terus muncul. Di lubuk hatinya, ia tahu dirinya pengecut. Pengecut yang takut menghadapi kemungkinan bahwa ia berbuat salah pada Alisha. Tapi beberapa pemeriksaan dengan dokter yang berbeda setelahnya selalu mengatakan kalau mustahil baginya untuk bisa memiliki anak. Putus asa dan sakit hati itulah yang membuatnya frustasi. Demi menghibur diri, dia berpindah dari klub satu ke klub lain dan menyewa wanita berbeda untuk dijadikan makanan ringan untuk media sekaligus peringatan bagi Alisha.

"Apapun hasilnya tidak mungkin membuktikan Alisha berselingkuh. Kecuali kalian membawa pria selingkuhannya bersama Alisha dan mengakuinya di hadapanku. Baru aku sedikit percaya. Kalau aku jadi Arka, aku akan menunggu anak itu lahir lalu tes DNA. Setidaknya aku tidak mengabaikan istri yang sedang hamil. Kalian pasti tau kan hamil itu moment terberat bagi seorang wanita. Bayangkan kalau waktu itu Alisha benar-benar hamil anak Arka, betapa hancurnya dunianya." Jelas Reza.

"Berisik!" Bentak Arka. Tapi hatinya jelas sakit mendengar obrolan kedua sahabatnya itu.

“Baiklah, mendingan kita pergi. Lagi pula kamu bakal sering ketemu dia lagi nanti,” kata Reza, menarik lengan sepupunya menuju mobil.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Anak Dari Suami Mandul   Anak Yang Mirip Arka

    Minggu berikutnya, Alisha menghabiskan sebagian besar waktunya di perpustakaan milik mendiang ayahnya. Bersama Daniel dan Rachel, ia menyelesaikan berbagai urusan perusahaan yang masih tertunda. Pagi itu mereka bergerak dengan tergesa, sebab pengacara keluarga Hartanto telah menjadwalkan pertemuan pada pukul sepuluh tepat.“Nyonya Alisha, Pak Bima sudah datang,” lapor salah satu karyawan."Suruh masuk,” jawab Alisha singkat.Begitu pintu terbuka, sebuah sapaan ramah terdengar menggelikan telinganya. "Selamat pagi, nyonya Wirawan," sapa pak Bima. Alisha menoleh dengan kening langsung berkerut. Ada yang tidak beres, batinnya waspada. Pengacara itu tidak datang sendirian."Selamat pagi juga,” sapa Arka dengan nada sinis. Ia melangkah masuk seolah rumah itu berada dalam kendalinya. Melihat Arka berdiri di hadapannya, Alisha hampir saja memerintahkan satpam untuk mengusir pria itu. Namun, ucapan Daniel kembali terngiang di benaknya. 'Kalau kamu marah, berarti kamu kalah. Itu bukti kala

  • Anak Dari Suami Mandul   Keraguan Yang Tersembunyi

    Susan bangkit berdiri, menatap putrinya sebelum akhirnya mengalihkan perhatian pada Arka. Situasi Arka memang jauh dari kata baik. Tidak terlihat kesedihan atau penyesalan apapun, tapi Susan tidak mungkin menolak ucapan belasungkawa dari seseorang. “Terima kasih banyak, nak Arka,” jawabnya pelan."Sama-sama, buk,” jawab Arka tenang. “Selain pernah jadi ayah mertua, saya dan pak Rizal adalah rekan kerja. Kita juga selalu berhubungan baik,.” Tatapannya tertuju pada Alisha, menunggu respon, tapi wanita itu mengabaikannya, dia mengalihkan pandangan seolah mereka adalah orang asing yang tidak pernah saling mengenal."Aku menghargai kedatanganmu malam ini, Arka, tapi…” Susan belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika suara Daniel memotong."Al, mau ku ambilkan minum?” tanya Daniel dengan lembut di samping Alisha. Wanita itu memang terlihat butuh air. Wajahnya begitu kusut dan bibinya tampak pucat. Alisha mengangguk."Mau teh atau yang lain?" tanya Daniel dengan penuh perhatian.“Dia ngga

  • Anak Dari Suami Mandul   Pertemuan Kembali

    Di kantornya, Arka Wirawan menutup telepon dengan sikap tenang namun perasaannya janggal."Ada apa? Kenapa wajahmu begitu?" tanya Reza Kurniawan, sepupu sekaligus sahabatnya, yang duduk di seberangnya."Pak Rizal meninggal dunia," jawabnya sedikit lesu."Terus, apa pengaruhnya ke kamu?" tanya Reza sambil menatap serius."Kami mitra di PacificTel. Kematiannya jelas bikin masalah," jawab Arka singkat."Masalah itu harusnya nggak nyentuh soal finansial kan? Itu dua hal yang beda.""Nggak, Aku nggak pernah ikut campur dalam manajemen, cuma terima persenan dari keuntungan, sesuai kesepakatan awal. Pak Rizal yang menjalankan perusahaan sepenuhnya." Jelasnya."Kalau gitu kenapa kamu kelihatan gugup banget?" tanya Reza lagi. "Kamu cuma perlu datang atau kirim perwakilan untuk mengungkapkan belasungkawa." Celoteh Reza."Harusnya begitu. Tapi tanpa pak Rizal, satu-satunya orang yang nantinya bisa gantiin dia hanya ... " Ucap Arka terpotong."Istrimu?" Goda Reza."Mantan," jawab Arka dingin."Om

  • Anak Dari Suami Mandul   Bertahan Dalam Luka

    Enam tahun kemudian. Alisha tersenyum melihat putra semata wayangnya berlari ke arahnya. Ada sesal yang mengendap karena ia tidak bisa menghabiskan banyak waktu bersama anak itu, bisnis yang ia rintis bersama Rachel, menuntut perhatiannya. Rachel adalah wanita blasteran Indonesia-Canada, ia orang pertama yang ia temui dan menjadi sahabatnya sejak menginjakkan kaki di Vancouver,"Jangan lari, sayang, nanti jatuh," ucapnya dengan lembut diiringi senyum tipis dibibirnya."Aiden kangen banget sama mama!" teriak Aiden sambil melingkarkan tangannya ke leher ibunya."Mama juga kangen Aiden, sayang," bisiknya, lalu mencium pipi anak itu."Hari ini guru kasih Aiden nilai sepuluh sama dua bintang," Aiden berseru riang. "Aiden hebat kan, ma?" Alisha mengangguk semangat sambil menatap putranya penuh kasih. Aiden adalah segalanya baginya. Bocah lima tahun itu juga menjadi satu-satunya alasan ia tetap kuat, penopang yang membuatnya bertahan ketika pernikahannya runtuh dan kedua orang tuanya mengus

  • Anak Dari Suami Mandul   Aku Mandul, Itu Bukan Anakku

    Hari itu, Alisha Hartanto berdiri dengan wajah bahagia. Senyumnya merekah, dan tatap matanya berkilat penuh binar. Terpancar sebuah harapan yang begitu besar. Begitu melihat suaminya, dia semakin terlihat bahagia.“Aku hamil!” serunya dengan riang.Lelaki didepannya membuat dunianya berhenti sejenak. Bukannya reaksi bahagia, justru dia mendapati wajah tengang dan bunyi kaca pecah di lantai yang membuatnya terlonjak. Napasnya tertahan dengan ekspresi dipenuhi rasa kaget."Arka? Kamu baik-baik aja?” tanyanya dengan cepat, langkahnya ragu menghampiri.Arka Wirawan, lelaki yang menjadi suaminya kini seakan membeku. Matanya menatap dalam wanita di depannya, wanita yang sudah bertahun-tahun ia cintai dan percayai sepenuh hati, tanpa pernah ada keraguan. Tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda di sorotannya. Dingin, dan menusuk."Kamu hamil, Al?” suaranya rendah, nyaris tak terdengar. Tapi reaksi diwajahnya sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan.Alisha menelan salivanya, matanya menatap

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status