LOGINEnam tahun kemudian.
Alisha tersenyum melihat putra semata wayangnya berlari ke arahnya. Ada sesal yang mengendap karena ia tidak bisa menghabiskan banyak waktu bersama anak itu, bisnis yang ia rintis bersama Rachel, menuntut perhatiannya. Rachel adalah wanita blasteran Indonesia-Canada, ia orang pertama yang ia temui dan menjadi sahabatnya sejak menginjakkan kaki di Vancouver, "Jangan lari, sayang, nanti jatuh," ucapnya dengan lembut diiringi senyum tipis dibibirnya. "Aiden kangen banget sama mama!" teriak Aiden sambil melingkarkan tangannya ke leher ibunya. "Mama juga kangen Aiden, sayang," bisiknya, lalu mencium pipi anak itu. "Hari ini guru kasih Aiden nilai sepuluh sama dua bintang," Aiden berseru riang. "Aiden hebat kan, ma?" Alisha mengangguk semangat sambil menatap putranya penuh kasih. Aiden adalah segalanya baginya. Bocah lima tahun itu juga menjadi satu-satunya alasan ia tetap kuat, penopang yang membuatnya bertahan ketika pernikahannya runtuh dan kedua orang tuanya mengusirnya dari rumah. Ia menarik napas panjang, mencoba mengusir kenangan pahit yang terus menghantuinya. Enam tahun berlalu, seharusnya luka itu sudah sembuh. Namun faktanya rasa sakit dan kesedihan itu tetap tinggal dan bertahta di hatinya. Di hati kecilnya selalu ada ruang yang ditempati oleh Arka dan kedua orangtuanya. Ruang yang selalu mengingatkannya kalau rasa sakitnya dimasa lalu itu nyata. Tuduhan perselingkuhan diarahkan padanya, dan dia di cap sebagai penghianat. Terlalu menyakitkan. "Sampai kapan kalian berdiri disitu?" suara lembut seorang pria membuat Aiden menoleh lalu tersenyum lebar. Bocah itu langsung berlari ke arah pria itu. "Om, Aiden senang banget om bisa datang!" serunya lalu memeluk erat. Pria itu adalah Daniel. "Iya dong. Nggak mungkin om ngga datang, om harus menonton pertandingan sepak bola jagoan om," balas Daniel sambil mengacak rambut hitam Aiden. "Om memang om terbaik di dunia!" teriak Aiden penuh semangat. Alisha tersenyum melihat kedekatan mereka "Lagian aku kan memang satu-satunya ommu," ejek Daniel membuat gelak tawa terdengar dari mereka. Aiden menjulurkan lidahnya, lalu kembali berlari ke teman-temannya di pinggir lapangan. "Makasih ya, Dan, udah nyempetin dateng," ucap Alisa. "Tentu. Kamu jangan terlalu sungkan, aku datang bukan untukmu. Kamu juga tahu kan, aku sayang banget sama anakmu." Godanya dengan sengaja. "Aku tahu. Kamu sama Rachel satu-satunya keluarga yang kami punya," jawab Alisa pelan. "Jangan melow terus. Kami juga seneng bisa jadi bagian hidup Aiden." godanya lagi. Alisha memasang wajah pura-pura jengkel lalu memukul pelan di lengannya. "Jangan terlalu mikirin yang udah-udah. Percaya aja, hal yang kamu lewatin dimasa lalu itu hal baik yang mengantarmu ketempat ini." Daniel memberi semangat. Alisha tersenyum, meski hatinya tak bisa sepenuhnya lepas dari masa lalu. Apalagi dari sosok Arka Wirawan, pria yang bertanggung jawab atas ketidakbahagiaannya dan atas penolakan serta perlakuan tak adil yang diterima putranya. Sementara pria itu, kabarnya malah sibuk berpesta dan berpindah dari satu ranjang ke ranjang lain. Dia tidak terlihat menyesal sama sekali. Tidak mencari kebenaran dan tidak memberi kabar. Dia sepertinya melupakan Alisha dengan cepat. Atau mungkin menganggap Alisha audah mati. Alisha menggenggam erat tangannya sendiri, memaksa pikirannya kembali ke pertandingan Aiden. Ia bersorak lantang, ikut melompat kegirangan ketika anak kecil kebanggaannya tu berhasil mencetak gol kemenangan. Satu alasan sempurna untuk merayakan dengan es krim. "Yeeeee menang, Aiden bisa makan es krim!" Aiden berseru lantang. Setelah pertandingan selesai, mereka pun menuruti keinginan Aiden. "Om, Aiden boleh minta bonus kan?" Rengek Aiden manja sambil mengangkat dua jarinya. "Karna om juga lagi senang gimana kalau om beliin kamu satu toko es krim?" goda Daniel. Aiden tertawa kecil. Hanya itulah yang membuat Alisha merasa Aiden masih membawa bagian dari dirinya. Caranya tertawa dan caranya tersenyum. Selebihnya, anak itu adalah cerminan Arka. Mulai dari rambut hitamnya hingga warna matanya, semuanya mengingatkannya pada pria itu. Wajah mereka seperti pinang dibelah dua. Siapapun yang melhatnya pasti langsung tau kalau mereka anak dan ayah. "Ma!" Aiden memanggil dari kursi belakang mobil. "Iya sayang, Mama datang," jawab Alisa dan mempercepat langkahnya, lalu duduk dikursi depan, di sebelah Daniel. Perjalanan menuju toko es krim singkat. Letaknya tak jauh dari sekolah Aiden, jadi mudah dijangkau. "Kalian tunggu di sini, biar aku yang pesan es krimnya," kata Daniel. Alisa dan Aiden mengangguk kompak. Setelah Daniel pergi Alisha menoleh pada putranya dengan tatapan penuh cinta. Lewat Aiden dia selalu melihat sosok Arka yang menyakitkan "Kenapa ma?" Tanya Aiden. Alisha tersenyum tipis. "Kamu udah cuci tangan belum?" Tanyanya. "Aku lupa." Aiden meringis. "Ya udah, cuci tangan dulu yuk." Ia menggandeng putranya ke kamar kecil, dan menunggu di luar sampai anak itu selesai, lalu kembali ke meja, di mana tiga mangkuk es krim cokelat dan satu mangkuk es cream durian sudah menunggu di sana. "Favoritku!" Aiden berlari mendekat. menatap beberapa saat dan langsung melahap sendok pertama. Alisha tersenyum, tapi senyum itu runtuh begitu saja saat dering ponselnya berbunyi. Sorot matanya berkabut saat melihat nama ibunya di layar. Sudah bertahun-tahun Alisa tak bertemu kedua orang tuanya. Bahkan kelahiran Aiden sebagai cucu mereka juga tidak mempengaruhi apapun. Tapi ibunya masih memberi kabar meski hanya beberapa kali, sementara ayahnya tak pernah mau memaafkan. Sejak kejadian malam itu, mereka tak lagi saling memberi kabar. Kini, ketika ibunya tiba-tiba menelepon, hati Alisha justru diliputi rasa tak enak. "Halo," ucapnya ragu-ragu. "Alisha..." Terdengar nada berat dan tertahan dari sebrang. Helaan napas yang terisak membuat hati Alisha semakin tak menentu "Bu?" tanyanya pelan, "Alisha!" Ibunya tak sanggup bicara, Alisha semakin tak karuan. Nada sedih itu membuat jantungnya berdegup kencang. "Bu, ada apa? Ibu baik-baik aja, kan?" tanyanya cemas. "Ibu nggak baik-baik aja," kata Susan terisak lagi. "Ada apa bu?" Alisha mulai merasa janggal. "Al... ayahmu..." Alisha merasa tubuhnya tiba-tiba lemas. Ia harus bersandar dan keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. "Ayah kenapa?" "Pulanglah, nak. Ibu minta tolong. Ini mendesak. Ayahmu kena serangan jantung. Dokter bilang harapannya tipis." Darahnya seakan berhenti mengalir. Meski pernah mengusirnya, bagaimanapun juga Rizal tetaplah ayahnya. Ia bahkan tak sadar siapa yang lebih dulu menutup telepon. Yang tersisa hanya tatapan kosong menembus ruang, dan tubuhnya kaku tanpa daya. "Al!" suara Daniel membuatnya tersentak. Pria itu menatapnya dengan bingung, sementara Aiden memperhatikan mereka, sendok es krim terhenti di udara. "Aku harus balik ke Jakarta," bisik Alisa lirih, air mata jatuh tak terbendung. Daniel membeku. "Kenapa?" "Ayahku, Dan... Ayahku kena stroke. Ibu bilang kondisinya serius." Ucapnya dengan raut sedih. Dia hampir menangis, dia menahan air mata karna Aiden. "Al..." "Aku harus balik. Aku harus..." suaranya bergetar. Dia terlihat bingung dan salah tingkah. Daniel mengelus lengannya, Alisha tak kuat menahan lagi hingga tangisnya pecah. Daniel dengan lembut memeluknya dan membiarkan Alisha bersandar di dadanya. "Oke, oke. Aku telepon Rachel. Kami akan ikut sama denganmu." Alisha hendak menolak tapi tertahan, dia enggan menyebut masa lalu tentang Rizal yang pernah mengusirnya. Daniel langsung meraih ponsel, menghubungi Rachel, dan memberi kabar keberangkatan. Rachel tiba dengan cepat, mengurus segala persiapan dan berangkat dengan penerbangan tercepat. Sepanjang perjalanan menuju bandara, Aiden menempel di pangkuan Alisa. Pelukan kecil itu jadi satu-satunya penghiburan, sementara kepalanya penuh dengan kenangan terakhir tentang sang ayah. "Kita sudah sampai," bisik Rachel sambil menyentuh lengannya, takut mengejutkan sahabatnya yang baru bisa tidur. Alisha yang tidak benar-benar tidur, membuka mata. Aiden masih tertidur di dadanya. Ia menunggu sampai Daniel datang untuk menggendong si kecil. "Aku langsung ke rumah sakit," katanya tegas begitu mereka meninggalkan bandara. "Daniel ikut sama kamu. Aku yang jagain Aiden di hotel, jangan khawatir," ujar Rachel menenangkan. Alisha mengangguk lemah. "Makasih, ya." "Nggak masalah. Itulah gunanya seorang sahabat," balas Rachel lembut. Tanpa banyak kata, Alisha menyerahkan Aiden pada Rachel dan melangkah bersama Daniel menuju rumah sakit tempat Rizal dirawat. Sepanjang jalan, doanya hanya satu: semoga ia sempat bertemu ayahnya dalam keadaan hidup. Namun begitu memasuki ruang tunggu, firasat buruk langsung menghantamnya. Suara Susan bergetar ketika ia bertanya, "Gimana keadaannya, Dokter?" "Maaf, Nyonya Hartanto," ucap dokter dengan wajah muram. Alisha dan ibunya memucat. "Kami sudah berusaha. Tapi nyawa pak Rizal tidak tertolong." Sesal dokter dengan wajah tak bersemangat Jeritan pilu langsung pecah. Alisha berlari meraih ibunya, dan Susan menggenggamnya erat. Keduanya larut dalam tangis atas kehilangan yang tak mungkin tergantikan.Minggu berikutnya, Alisha menghabiskan sebagian besar waktunya di perpustakaan milik mendiang ayahnya. Bersama Daniel dan Rachel, ia menyelesaikan berbagai urusan perusahaan yang masih tertunda. Pagi itu mereka bergerak dengan tergesa, sebab pengacara keluarga Hartanto telah menjadwalkan pertemuan pada pukul sepuluh tepat.“Nyonya Alisha, Pak Bima sudah datang,” lapor salah satu karyawan."Suruh masuk,” jawab Alisha singkat.Begitu pintu terbuka, sebuah sapaan ramah terdengar menggelikan telinganya. "Selamat pagi, nyonya Wirawan," sapa pak Bima. Alisha menoleh dengan kening langsung berkerut. Ada yang tidak beres, batinnya waspada. Pengacara itu tidak datang sendirian."Selamat pagi juga,” sapa Arka dengan nada sinis. Ia melangkah masuk seolah rumah itu berada dalam kendalinya. Melihat Arka berdiri di hadapannya, Alisha hampir saja memerintahkan satpam untuk mengusir pria itu. Namun, ucapan Daniel kembali terngiang di benaknya. 'Kalau kamu marah, berarti kamu kalah. Itu bukti kala
Susan bangkit berdiri, menatap putrinya sebelum akhirnya mengalihkan perhatian pada Arka. Situasi Arka memang jauh dari kata baik. Tidak terlihat kesedihan atau penyesalan apapun, tapi Susan tidak mungkin menolak ucapan belasungkawa dari seseorang. “Terima kasih banyak, nak Arka,” jawabnya pelan."Sama-sama, buk,” jawab Arka tenang. “Selain pernah jadi ayah mertua, saya dan pak Rizal adalah rekan kerja. Kita juga selalu berhubungan baik,.” Tatapannya tertuju pada Alisha, menunggu respon, tapi wanita itu mengabaikannya, dia mengalihkan pandangan seolah mereka adalah orang asing yang tidak pernah saling mengenal."Aku menghargai kedatanganmu malam ini, Arka, tapi…” Susan belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika suara Daniel memotong."Al, mau ku ambilkan minum?” tanya Daniel dengan lembut di samping Alisha. Wanita itu memang terlihat butuh air. Wajahnya begitu kusut dan bibinya tampak pucat. Alisha mengangguk."Mau teh atau yang lain?" tanya Daniel dengan penuh perhatian.“Dia ngga
Di kantornya, Arka Wirawan menutup telepon dengan sikap tenang namun perasaannya janggal."Ada apa? Kenapa wajahmu begitu?" tanya Reza Kurniawan, sepupu sekaligus sahabatnya, yang duduk di seberangnya."Pak Rizal meninggal dunia," jawabnya sedikit lesu."Terus, apa pengaruhnya ke kamu?" tanya Reza sambil menatap serius."Kami mitra di PacificTel. Kematiannya jelas bikin masalah," jawab Arka singkat."Masalah itu harusnya nggak nyentuh soal finansial kan? Itu dua hal yang beda.""Nggak, Aku nggak pernah ikut campur dalam manajemen, cuma terima persenan dari keuntungan, sesuai kesepakatan awal. Pak Rizal yang menjalankan perusahaan sepenuhnya." Jelasnya."Kalau gitu kenapa kamu kelihatan gugup banget?" tanya Reza lagi. "Kamu cuma perlu datang atau kirim perwakilan untuk mengungkapkan belasungkawa." Celoteh Reza."Harusnya begitu. Tapi tanpa pak Rizal, satu-satunya orang yang nantinya bisa gantiin dia hanya ... " Ucap Arka terpotong."Istrimu?" Goda Reza."Mantan," jawab Arka dingin."Om
Enam tahun kemudian. Alisha tersenyum melihat putra semata wayangnya berlari ke arahnya. Ada sesal yang mengendap karena ia tidak bisa menghabiskan banyak waktu bersama anak itu, bisnis yang ia rintis bersama Rachel, menuntut perhatiannya. Rachel adalah wanita blasteran Indonesia-Canada, ia orang pertama yang ia temui dan menjadi sahabatnya sejak menginjakkan kaki di Vancouver,"Jangan lari, sayang, nanti jatuh," ucapnya dengan lembut diiringi senyum tipis dibibirnya."Aiden kangen banget sama mama!" teriak Aiden sambil melingkarkan tangannya ke leher ibunya."Mama juga kangen Aiden, sayang," bisiknya, lalu mencium pipi anak itu."Hari ini guru kasih Aiden nilai sepuluh sama dua bintang," Aiden berseru riang. "Aiden hebat kan, ma?" Alisha mengangguk semangat sambil menatap putranya penuh kasih. Aiden adalah segalanya baginya. Bocah lima tahun itu juga menjadi satu-satunya alasan ia tetap kuat, penopang yang membuatnya bertahan ketika pernikahannya runtuh dan kedua orang tuanya mengus
Hari itu, Alisha Hartanto berdiri dengan wajah bahagia. Senyumnya merekah, dan tatap matanya berkilat penuh binar. Terpancar sebuah harapan yang begitu besar. Begitu melihat suaminya, dia semakin terlihat bahagia.“Aku hamil!” serunya dengan riang.Lelaki didepannya membuat dunianya berhenti sejenak. Bukannya reaksi bahagia, justru dia mendapati wajah tengang dan bunyi kaca pecah di lantai yang membuatnya terlonjak. Napasnya tertahan dengan ekspresi dipenuhi rasa kaget."Arka? Kamu baik-baik aja?” tanyanya dengan cepat, langkahnya ragu menghampiri.Arka Wirawan, lelaki yang menjadi suaminya kini seakan membeku. Matanya menatap dalam wanita di depannya, wanita yang sudah bertahun-tahun ia cintai dan percayai sepenuh hati, tanpa pernah ada keraguan. Tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda di sorotannya. Dingin, dan menusuk."Kamu hamil, Al?” suaranya rendah, nyaris tak terdengar. Tapi reaksi diwajahnya sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan.Alisha menelan salivanya, matanya menatap







