Masuk
Rasa sakit yang luar biasa merambat ke dalam tubuhku.
Ini racun Ular Perak, racun yang kabarnya sukar ditemukan. Namun begitu ia bersarang dalam tubuh, tak diragu, imbasnya terlampau bengis. Hadirnya benda ini tak lain melalui otoritas yang memiliki kekuasaan di istana, yakni wanita bersurai ungu gelap yang tak kapok dalam misinya menyingkirkanku sejak dulu. Rosetta Derek Magnus, sang permaisuri. Ia berdiri di atas marmer, sepatu hak tingginya berdenting nyaring. Suaranya menggema pada langit-langit ruangan. "Belum mati juga?" cetusnya tajam. "Ini sedikit mengecewakan, aku bahkan sudah repot-repot menyewa seseorang untuk mencuri racun itu dari jauh-jauh hari." matanya memandang dengan dalam namun tak mengandung satupun simpati. "Khusus untukmu dari kediaman tabib agung." ucap wanita itu, tatapannya merendahkan. Tawaku datang sesaat. Wanita itu mengatakan hal mengerikan tanpa ragu. Menakutkan namun juga memuakkan. Darah turun dari sudut bibirku. Tanganku bergetar di atas meja bulat dekat jendela, tepat bersebrangan dengan tempat permaisuri berpijak. Sudah terlambat untuk mencoba melindungi diri sendiri. Tapi aku tidak akan puas sebelum melampiaskan rasa frustasi ini pada wanita itu. "Ternyata kalian para bangsawan sangat lemah sampai ketakutan oleh anak dari seorang pelayan?!" ucapku serak, berhasil memadamkan seringai wanita itu, langkahnya habis hingga bersemayam di atas kursi kayu berpahat rumit— kedua kakinya bersilang tertutup gaun tebal yang meliuk mengikuti lekuk tubuhnya. Bercak darah terlempar keluar. Asalnya dari tenggorokanku. Wanita itu tersenyum miring. "Yah... karena kau akan menyusul ibumu sebentar lagi. Aku akan menganggap ini sebagai kalimat terakhirmu!" ujarnya mengitari permukaan cangkir teh dengan telunjuknya yang lentik. Aku mengernyit, pandanganku mulai menjadi samar bagai kabut. Aku ambruk dalam timpuh itu. Duduk berlutut dengan wajah yang aku sendiri tak tahu. Enggan melihat wanita itu. Dia mungkin tersenyum dengan puas. "Beginikah akhirnya?" bisikku lirih, napasku keluar kukuh, mataku berlekuk setengah bagai potongan bulan purnama. Jika ibu bukan seorang pelayan? Apakah ada sesuatu yang berbeda? Entahlah. Saat ini istana dalam genggaman permaisuri, setelah insiden pemberontakan, bahkan ayahku yang seorang kaisar juga tak selamat dari rencana licik wanita itu. Aku tidak mengasihi pria tua itu. Dia telah membuang kami sejak aku lahir. Hanya saja, aku kira putra mahkota akan berbeda. Tak kusangka, undangan putra mahkota tentang memasuki istana tidak lebih untuk memberiku posisi sebagai pelayannya. SRATTT! CRATTTT! Tebasan pedang mendarat secepat kilat, nyawaku diambil dalam satu gerakan tanpa aku sempat bereaksi. BRUKK Tubuhku jatuh dalam posisi terlentang di marmer itu dengan kucuran darah yang menetes perlahan-lahan. Akhirnya sudah selesai. Aku menatap langit ruangan dengan pikiran itu, bibirku pucat, kering tak berair. Telapak tangan yang lemas sampai ijakan permaisuri melumatnya. Tapi, itu tak sakit sama sekali. Mungkin jasadku tenggelam dalam kubangan darah. Jika aku mendapatkan kesempatan kedua, permaisuri dan anggota istana yang bersekongkol dengannya, aku pastikan kalian membayar hutang ini. Lalu Kaisar bodoh itu harus menerima ibuku sebagai istri sahnya. Putra mahkota, kau tak akan kubiarkan semudah itu mendapatkan tahta. Perang saudara harus terjadi! Tapi apa gunanya sekarang? Permaisuri sudah berhasil merebut segala kekuasaan ayah dan seluruh isi dari kekaisaran Magnus. Yang tersisa hanyalah kegelapan. Aku jelas ingat bahwa aku mati karena permaisuri, kenapa sekarang malah mendengar suara-suara yang tak asing. Anehnya, rasa sakit di tubuhku seketika hilang. "Hei anak haram!" sebuah suara menggema hingga dengungnya mengetuk gendang telinga. "Masih belum mau bangun juga?!" suara itu datang dua kali, namun aku menghiraukannya. BYUURRR! GELONTANG! Terasa ombak baru saja memukul wajahku. Mataku terbuka dan mendapati seluruh tubuhku basah kuyup dengan air. Napasku terengah-engah mencari udara, sedangkan pandanganku tertuju pada ember yang tengkurap di lantai kayu tua berserat. Bola mata membulat menelusuri lekuk sekitar, semuanya tampak tak asing. "Ini?" bisikku lirih, menyeka wajah yang basah dengan kedua tangan. "Tch, akhirnya bajingan ini bangun juga!" sentak seseorang sampai tiba-tiba kerah bajuku ditarik dengan paksa, di hadapanku saat ini adalah sosok yang sangat aku kenal. Aron. Seorang pelayan berusia 15 tahun yang terus merundungku saat aku masih kecil. Awalnya ia hanya mengejekku dengan hinaan ringan, tapi karena selalu diam, tingkahnya semakin menjadi-jadi. Meskipun mengetahui fakta bahwa aku adalah keturunan kaisar—dengan otoritasnya. Permaisuri membatasi tunjangan juga pelayan untuk kami. Beberapa rumor juga menyebar hingga semua orang di kekaisaran mengucilkan aku dan ibu. Tak menganggap kami lebih daripada seorang buangan. "Sejak kapan kau boleh bermalas-malasan!" telapak tangan Aron menepuk-nepuk pipiku. Suaranya bergetar dengan kedua bibir maju. Tamparan dilayangkan padaku hingga bunyi kulit itu meruah. SLAP! Kepalaku terdorong ke samping, rasa nyeri bercampur panas berhasil membelalakkan kedua mataku. Namun, ada hal yang lebih membuatku heran dan bertanya-tanya. Kenapa ini terasa sakit?"Saya yakin kalian punya rencana atau setidaknya sedang memantau situasi. Ibu saya selalu mengatakan bahwa saya orang yang cukup pintar. Jadi saya tahu untuk bersikap biasa." Gadis itu menjelaskan, membantu anak lain untuk berjalan. "Nin, obati mereka." Valerius berujar dan Nin segera datang dengan pil yang sama yang ia gunakan untuk menolong yang lain. Daphone memindahkan gelombang air itu di hadapan setiap orang yang akan memakan obat-obatan sehingga ketika mereka membuka mulut air-air itu akan masuk dengan perlahan-lahan seperti layaknya minum air putih."Terimakasih ketua, maafkan saya karena sebelumnya sempat mencurigai anda." kata gadis itu dengan alis yang turun. Daphone mengangguk lalu menggerakkan jarinya membentuk segel komunikasi."Semuanya, masuk ke ruangan terlarang!" hanya dalam beberapa menit saja dan semua anggota organisasi telah berkumpul. Mulai dari pengguna benih roh tingkat lima hingga tingkat tujuh. Dengan jubah resmi organisasi, mereka tampak istimewa dan la
Kunci besi telah ditemukan, nyaring berbunyi di antara mulut Vanressan ketika ia membawanya kepada Nin. Sedangkan dari samping, Valerius segera melangkah ke sisi Daphone yang tergeletak di dinding dengan sekujur tubuh yang kaku, urat-uratnya timbul karena racun."Cough-kalian hampir melupakan aku." Suara dahak keluar dan mata pria itu layu. Valerius menoleh ke arah Nin."Tabib agung, tolong obati dia." cetusnya sebagai perintah, Nin yang tanggap segera pergi setelah menerima kunci dari Vanressan. Ia memindahkan kunci itu ke telapak tangan Valerius kemudian melakukan tugasnya. Kantung berwarna merah muda dengan corak bunga indah keluar dari sutra Nin, ia memasukkan jemarinya membawa tiga pil berwarna putih. Tangannya pelan memasukkan benda-benda itu ke sela bibir Daphone. Untuk sesaat Daphone menggenggam pergelangan tangan Nin seakan ia menolak bantuannya, namun tenaganya tak lagi penuh, sedikit dorongan dan obat-obatan itu telah masuk ke dalam tenggorokannya."Apa anda punya sisa
Vanressan berdecak, siapa lagi yang bisa memerintah Dewa dengan semaunya jika itu bukan putra angkatnya sendiri."Lemparkan aku dengan kuat ke leher pria itu." Vanressan mendesis lirih, Nin tersenyum tipis mendapati persetujuan Van dan menatap Valerius seraya mengangguk. Dari sana Daphone dan Lavetan masih berdiri memandangi satu sama lain dengan ketidakcocokan."Kau memang layak menjadi pengguna benih roh tingkat tujuh, ketua." cetus Lavetan mengangkat kedua lengannya dengan bebas."Tapi aku belum mengeluarkan senjata terakhir yang kumiliki. Aku ingin lihat apa nyawamu masih utuh setelah menerimanya." Lavetan menaikkan bibirnya miring, belati yang ia genggam dengan tangan kanan itu naik ke atas kemudian turun menyayat telapak tangannya, darah meluncur tipis, meksipun niatnya bernyali namun giginya meringis menahan rasa perih. Tidak ada yang tahu langkah Lavetan selanjutnya, oleh karena itu semua orang sudah mempersiapkan diri dengan waspada. Lavetan menyapu darah dengan dua jarinya
"Aku memanggapmu sebagai rekan kerja yang dapat diandalkan selama ini! Kau sungguh mengecewakan!" tubuh Daphone bergetar hebat sampai perlahan-lahan ia mendesah dan tangannya kembali ke samping, sia-sia saja jika ia harus berkelut dengan emosi yang hanya akan membuang waktunya."Lalu teh yang kau berikan?! Apa itu untuk menjebakku dalam halusinasi?!" Pertanyaan itu membuat Lavetan menyimpan kembali seringainya dan matanya tamapk gelap."Semuanya sudah sempurna! Hanya tinggal beberapa hari lagi dan anak-anak itu akan jadi bahan yang sempurna untuk membangkitkan pemimpin kultus! Tapi, semuanya sia-sia hanya karena teh!" Lavetan mengigit giginya dan kerutan dahinya menampilkan ketidakpuasan yang nyata. "Lupakan saja. Aku bisa membunuh semua anggota organisasi Dewa pelindung dan menjadikan kalian bahan pengganti! Hahahahah! Kegelapan akan mendominasi cahaya!" pekikan Lavetan membuat ruangan itu tenggelam dalam kengerian. Valerius hendak melangkah dan membantu Daphone tetapi Nin menyentu
"Lukisan apa itu?" tanya Valerius, matanya merayapi tembok di hadapannya."Aku tidak bisa mengatakannya sebelum segalanya pasti." Daphone bersikeras dan tak ada paksaan lebih dari Valerius. Tangannya datang dan dengan waspada, ia meletakkannya di batu berbentuk persegi itu. Dorongan yang tak begitu kuat lalu dari arah depan suara gemuruh datang.ZRRTTTSemua orang terkejut melihat tembok itu dapat terbuka, tidak ada yang menyangka ruang rahasia berada di tempat yang dilarang untuk dimasuki. Daphone bergegas ke ruangan itu terlebih dahulu dan ternyata di hadapannya area ya cukup luas telah terpampang dengan banyak jeruji-jeruji besi dan obor yang menempel pada temboknya. Ia memandang lebih dekat kemudian terbelalak. Langkahnya mundur beberapa jengkal dan ia bergumam dengan dirinya sendiri."Tidak mungkin...ini... bukanlah organisasi Dewa pelindung. Semua ini.... bukanlah organisasi yang Tuan Yivon ciptakan! Siapa yang merencanakan ini semua!" Daphone histeris dalam kepala yang berp
Nin mengumpulkan kedua tangannya dan berdoa lebih khusyuk, kekuatan intinya adalah keberuntungan dari alam semesta, dimana hukum timbal balik akan datang beserta jiwa yang murni. Semakin suci pikiran, semakin doanya akan lekas dikabulkan. Setelah beberapa waktu ia membuka matanya dan perlahan-lahan serbuk-serbuk cahaya keluar dari tubuhnya melesat ke salah satu pintu seakan sebuah pemandu arah. Valerius dengan cepat segera pergi mengikuti cahaya itu seakan sudah tahu bahwa itu adalah kekuatan Nin, sedangkan dari sisi satunya, Daphone berdiri dengan bingung dan bertanya-tanya kemana sang kaisar akan pergi.Tanpa pikir panjang, ia mengikuti dari belakang, diikuti Nin yang tengah kembali membuka matanya.Mereka berjalan terus setelah melalui beberapa ruangan dan lorong hingga sampailah pada sebuah pintu yang digembok dengan beberapa rantai tua. Daphone melangkah terlebih dahulu seraya menatap Valerius."Tunggu, kita tidak bisa pergi. Ini adalah ruangan yang tidak boleh dimasuki oleh s







