MasukAku mengelus pipi kiri yang memerah.
Satu tamparan dan rasanya tulang pipiku bisa remuk kapan saja. Sial. Bukankah ini cuma mimpi? Tapi kenapa rasa sakitnya begitu nyata? Aku berpaling ke arah kanan tempat tidur, di sana terpampang sebuah cermin yang berhasil menangkap bayanganku. Bayangan itu tampak samar. Namun, begitu aku mendekat. Tubuhku bergetar hebat mencengkeram cermin berukuran 900 sentimeter persegi itu dengan sekelebat. "Ini!" Aku meneguk ludahku pelan, mengedipkan kedua mata beberapa kali. Mengguncang kepala ke kanan dan ke kiri. Memejamkan diri beberapa saat, berpikir mungkin semua ini hanya sekedar mimpi. Sampai sebuah hantaman keras di punggung kembali menyadarkanku. DUAKKKKK! Suara cekikikan terdengar dari Aron dan satu orang temannya. Aku mengatupkan rahangku. Tapi, saat ini bukan itu yang sedang mengusik pikiranku. Wajah yang barusan aku lihat jelas berbeda dari wajah berusia 26 tahun itu. Rambutku hitam berpangkas pendek dan mata gelap yang tampak polos. Kalau tak salah, ini adalah wajahku di usia antara 10 - 14 tahun. "Jangan-jangan aku kembali kembali ke masa lalu?" gumamku lirih. Kepalaku berputar bagai tak ada habisnya mencari kesimpulan. "Apa itu mungkin? Tapi bagaimana bisa?" Tanganku menggaruk kepala atas yang gatal, lalu turun ke area punggung bawah. "Apakah alam semesta mengabulkan pikiranku yang sesaat?" lirihku sebelum mengerling pada Aron dan temannya, berbalik badan Lalu dengan kedua tangan yang sudah kupersiapkan kuat, aku mendorong Aron dan melangkah keluar dengan gesit. Saat berhasil keluar, sinar matahari menghujani wajahku. Sangat terang, wajah yang sama kemudian menoleh dan melihat rumah yang baru saja dilangkahinya. Rumah kayu tua yang tampak usang dan sederhana. Katanya aku dan ibu hanya diberi rumah ini oleh kaisar, tapi semua orang tahu itu adalah perintah permaisuri. "Kalau begitu bukankah ibu?!—" Sebelum aku sempat melanjutkan, suara seseorang telah berhasil membuat tubuhku berbalik. "Cassian." Suara itu hanya berisi satu kata, namun lembut. Datang dari arah belakang. Suara yang sudah lama aku rindukan. Wanita berambut pirang, dengan mata berwarna biru bagai lautan kristal, memakai pakaian kumal dan sederhana. Siapapun yang melihatnya dapat mengatakan bahwa ia terlihat bak peri yang seolah datang dari kayangan. Dan peri itu adalah Ibuku. Cassandra. "Ibu!" Ujarku berlari dan mengalungkan kedua lengan dengan erat pada tubuhnya. Perasaan rindu yang akhirnya tersampaikan. "Cassian?" Kedua mata ibu membulat bagai menyimpan pertanyaan, mungkin heran karena tingkah laku yang tak seperti biasanya. Pandanganku mendarat pada keranjang kayu berisi tumpukan pakaian kering. Rahangku mengatup. Aku sudah bertekad. Jika aku bisa kembali ke masa lalu, aku akan mengubah semua tragedi yang menimpa aku dan ibu. Mereka yang telah menyakiti ibu harus disingkirkan! "Cassian, kamu sudah bangun? Sarapanlah terlebih dahulu." ucap ibu memandang dengan mata almondnya. Rambutnya tergerai di udara berkilau indah bagai benang emas. Tangannya beralih mengusap pelan kepalaku. "Ibu, berapa usiaku?" tanyaku dengan nada tergesa. Aku menatap mata ibu yang melebar sayu. Ia tersenyum tipis kemudian menjawab. "Tahun ini Cassian berusia 12 tahun." Aku tersentak, 12 tahun adalah usia yang cukup muda. sebenarnya ada hal yang ingin kutanyakan lebih lanjut, namun tiba-tiba langkah kaki mencuat dari rumah usang tadi. Itu Aron dan temannya. "Bibi, kau harus menangani putramu dengan baik! Meskipun kalian adalah buangan Kaisar, tapi aib itu masih melekat pada silsilah keluarga istana." ucap Aron, kedua tangannya melipat ke depan. Ibu melangkah seakan mencoba membentengiku. Wajah Aron keruh, bibirnya terangkat ke ujung memamerkan gigi-giginya. Alisnya melengkung tajam. SRAAAK! Wajah yang sama terhantam keranjang pakaian, dilempar ibuku dengan kuat. "Putraku! Aku yang paling tahu bagaimana cara mendidiknya! Tidak perlu ocehan dari anak berandalan sepertimu!" lugas ibu mengatakan. Wajahnya yang gusar tak mengurangi kerupawanannya. Ia melipat ke atas lengan baju itu menampilkan tangan yang kecil bagai tulang berkulit. Aku membisu dengan pikiran yang tenggelam dalam duniaku sendiri. Satu cara untuk mengubah keadaan kami, yaitu mencari orang yang tak terikat kubu pewaris di antara anggota istana yang lain. Orang yang hanya berpihak pada aturan dan hukum kekaisaran. Aku harus membuat koneksi dengan orang itu, si maniak aturan. Marquis Lucien Devereuq yang saat ini merupakan administrator kekaisaran. Wajahku kembali terangkat, sesuatu telah diputuskan. Langkah pertama untuk mengindari tragedi. Tapi, pertama-tama. Mataku mengintai Aron, tanganku berkepal. Aku bersuara. "Aron! Bahkan jika kaisar tak mengijinkan kami memasuki istana, dengan posisimu yang hanya seorang pelayan. Kau bahkan tak layak menjadi makanan anjingnya!" suaraku lantang bergema, ibuku berbalik badan. Kedua matanya melebar dengan bibir bercelah seakan ada kata yang ingin ia lesatkan. Namun yang tampak hanya kekhawatiran. Pemuda berkulit pucat itu menaikkan bibirnya diikuti senyum miring, alisnya berjungkat jungkit dengan tawa terbahak-bahak. Bersama dengan itu, keheningan menyusup. Tiba-tiba sebuah tandu kereta kuda melintasi jalan utama, dentuman tapak kaki bergemuruh mengikuti di belakangnya merambat ke tempat kami berpijak. Mataku menelisir."Saya yakin kalian punya rencana atau setidaknya sedang memantau situasi. Ibu saya selalu mengatakan bahwa saya orang yang cukup pintar. Jadi saya tahu untuk bersikap biasa." Gadis itu menjelaskan, membantu anak lain untuk berjalan. "Nin, obati mereka." Valerius berujar dan Nin segera datang dengan pil yang sama yang ia gunakan untuk menolong yang lain. Daphone memindahkan gelombang air itu di hadapan setiap orang yang akan memakan obat-obatan sehingga ketika mereka membuka mulut air-air itu akan masuk dengan perlahan-lahan seperti layaknya minum air putih."Terimakasih ketua, maafkan saya karena sebelumnya sempat mencurigai anda." kata gadis itu dengan alis yang turun. Daphone mengangguk lalu menggerakkan jarinya membentuk segel komunikasi."Semuanya, masuk ke ruangan terlarang!" hanya dalam beberapa menit saja dan semua anggota organisasi telah berkumpul. Mulai dari pengguna benih roh tingkat lima hingga tingkat tujuh. Dengan jubah resmi organisasi, mereka tampak istimewa dan la
Kunci besi telah ditemukan, nyaring berbunyi di antara mulut Vanressan ketika ia membawanya kepada Nin. Sedangkan dari samping, Valerius segera melangkah ke sisi Daphone yang tergeletak di dinding dengan sekujur tubuh yang kaku, urat-uratnya timbul karena racun."Cough-kalian hampir melupakan aku." Suara dahak keluar dan mata pria itu layu. Valerius menoleh ke arah Nin."Tabib agung, tolong obati dia." cetusnya sebagai perintah, Nin yang tanggap segera pergi setelah menerima kunci dari Vanressan. Ia memindahkan kunci itu ke telapak tangan Valerius kemudian melakukan tugasnya. Kantung berwarna merah muda dengan corak bunga indah keluar dari sutra Nin, ia memasukkan jemarinya membawa tiga pil berwarna putih. Tangannya pelan memasukkan benda-benda itu ke sela bibir Daphone. Untuk sesaat Daphone menggenggam pergelangan tangan Nin seakan ia menolak bantuannya, namun tenaganya tak lagi penuh, sedikit dorongan dan obat-obatan itu telah masuk ke dalam tenggorokannya."Apa anda punya sisa
Vanressan berdecak, siapa lagi yang bisa memerintah Dewa dengan semaunya jika itu bukan putra angkatnya sendiri."Lemparkan aku dengan kuat ke leher pria itu." Vanressan mendesis lirih, Nin tersenyum tipis mendapati persetujuan Van dan menatap Valerius seraya mengangguk. Dari sana Daphone dan Lavetan masih berdiri memandangi satu sama lain dengan ketidakcocokan."Kau memang layak menjadi pengguna benih roh tingkat tujuh, ketua." cetus Lavetan mengangkat kedua lengannya dengan bebas."Tapi aku belum mengeluarkan senjata terakhir yang kumiliki. Aku ingin lihat apa nyawamu masih utuh setelah menerimanya." Lavetan menaikkan bibirnya miring, belati yang ia genggam dengan tangan kanan itu naik ke atas kemudian turun menyayat telapak tangannya, darah meluncur tipis, meksipun niatnya bernyali namun giginya meringis menahan rasa perih. Tidak ada yang tahu langkah Lavetan selanjutnya, oleh karena itu semua orang sudah mempersiapkan diri dengan waspada. Lavetan menyapu darah dengan dua jarinya
"Aku memanggapmu sebagai rekan kerja yang dapat diandalkan selama ini! Kau sungguh mengecewakan!" tubuh Daphone bergetar hebat sampai perlahan-lahan ia mendesah dan tangannya kembali ke samping, sia-sia saja jika ia harus berkelut dengan emosi yang hanya akan membuang waktunya."Lalu teh yang kau berikan?! Apa itu untuk menjebakku dalam halusinasi?!" Pertanyaan itu membuat Lavetan menyimpan kembali seringainya dan matanya tamapk gelap."Semuanya sudah sempurna! Hanya tinggal beberapa hari lagi dan anak-anak itu akan jadi bahan yang sempurna untuk membangkitkan pemimpin kultus! Tapi, semuanya sia-sia hanya karena teh!" Lavetan mengigit giginya dan kerutan dahinya menampilkan ketidakpuasan yang nyata. "Lupakan saja. Aku bisa membunuh semua anggota organisasi Dewa pelindung dan menjadikan kalian bahan pengganti! Hahahahah! Kegelapan akan mendominasi cahaya!" pekikan Lavetan membuat ruangan itu tenggelam dalam kengerian. Valerius hendak melangkah dan membantu Daphone tetapi Nin menyentu
"Lukisan apa itu?" tanya Valerius, matanya merayapi tembok di hadapannya."Aku tidak bisa mengatakannya sebelum segalanya pasti." Daphone bersikeras dan tak ada paksaan lebih dari Valerius. Tangannya datang dan dengan waspada, ia meletakkannya di batu berbentuk persegi itu. Dorongan yang tak begitu kuat lalu dari arah depan suara gemuruh datang.ZRRTTTSemua orang terkejut melihat tembok itu dapat terbuka, tidak ada yang menyangka ruang rahasia berada di tempat yang dilarang untuk dimasuki. Daphone bergegas ke ruangan itu terlebih dahulu dan ternyata di hadapannya area ya cukup luas telah terpampang dengan banyak jeruji-jeruji besi dan obor yang menempel pada temboknya. Ia memandang lebih dekat kemudian terbelalak. Langkahnya mundur beberapa jengkal dan ia bergumam dengan dirinya sendiri."Tidak mungkin...ini... bukanlah organisasi Dewa pelindung. Semua ini.... bukanlah organisasi yang Tuan Yivon ciptakan! Siapa yang merencanakan ini semua!" Daphone histeris dalam kepala yang berp
Nin mengumpulkan kedua tangannya dan berdoa lebih khusyuk, kekuatan intinya adalah keberuntungan dari alam semesta, dimana hukum timbal balik akan datang beserta jiwa yang murni. Semakin suci pikiran, semakin doanya akan lekas dikabulkan. Setelah beberapa waktu ia membuka matanya dan perlahan-lahan serbuk-serbuk cahaya keluar dari tubuhnya melesat ke salah satu pintu seakan sebuah pemandu arah. Valerius dengan cepat segera pergi mengikuti cahaya itu seakan sudah tahu bahwa itu adalah kekuatan Nin, sedangkan dari sisi satunya, Daphone berdiri dengan bingung dan bertanya-tanya kemana sang kaisar akan pergi.Tanpa pikir panjang, ia mengikuti dari belakang, diikuti Nin yang tengah kembali membuka matanya.Mereka berjalan terus setelah melalui beberapa ruangan dan lorong hingga sampailah pada sebuah pintu yang digembok dengan beberapa rantai tua. Daphone melangkah terlebih dahulu seraya menatap Valerius."Tunggu, kita tidak bisa pergi. Ini adalah ruangan yang tidak boleh dimasuki oleh s







