Home / Fantasi / Anak Haram Sang Kaisar / Bab 3 : Aku Kembali [Bagian 3]

Share

Bab 3 : Aku Kembali [Bagian 3]

Author: Bakpaokukus
last update Last Updated: 2025-10-04 02:52:18

Tandu itu... seperti pernah ku lihat di suatu tempat.

Mataku menelisik setiap detilnya.

Suara Aron kembali datang.

"Anak haram! Bahkan jika kalian mati di sini. Kaisar tak akan mengadakan upacara pemakaman!" aku menaikkan bibir, dengan tinggi yang baru sampai telinga ibuku, aku melangkah maju dengan percaya diri berganti memperisainya.

"Bahkan kalau itu benar, apa urusannya denganmu? Bukankah perbedaan kita sudah jelas? Darah kaisar mengalir dalam tubuhku sedangkan kau? Aku rasa nasibku tak akan lebih buruk dari seorang pelayan." ucap mulutku lincah, angin berderai lirih mengibas tunik usang yang kupakai.

"Bajingan ini!—" Aron melesat ke depan, suaranya bergetar dengan gusar mencengkeram secarik bajuku hingga aku tersungkur.

Ia melayangkan tinjunya ke wajahku beberapa kali dengan hantaman dahsyat.

BUKKK! DUAKKK! DUAKKK!

pipiku terjembab ke kanan dan kiri berbenturan dengan buku jarinya yang keras, sesekali darah muncrat ke udara bagai butiran manik merah.

Ibuku menjerit, melangkah maju berniat memisahkan aku dengan pemuda itu, namun teman Aron dengan sekuat tenaga menarik tangan ibu hingga tak bisa bergerak leluasa.

Pipiku membengkak, kedipanku mulai terasa kabur, seringai tipis masih kupajang untuk Aron yang diselimuti kegeraman.

Wajahku membeku begitu sesosok bayangan muncul di belakangnya.

Tiba-tiba sebuah tangan menyambar kepala anak itu dengan begitu mudah, melemparkannya bagai pakan ikan.

BRAKKKKK!

Suara dentuman renyah datang dari meja kayu yang terpecah-pecah menjadi ukuran kecil karena tubuh Aron.

Sosok itu kini tunduk dalam timpuhnya begitu tapak sunyi dari sepatu boots berwarna coklat melayang di atas rumput hijau.

"Hormat kepada Tuan Marquis."

Dugaanku benar.

Kebetulan sekali.

Tandu itu adalah milik Marquis Lucien Devereuq.

Aku kembali menoleh ke arah tandu yang telah berhenti di tengah-tengah jalan, masih terbaring menyedihkan.

Tapi kenapa dia repot-repot melakukan ini?

Apa karena aku membiarkan Aron memukuliku?

Marquis Lucien kini memindaiku. Aku terbujur kaku dengan wajah penuh gundukan luka.

"Tangkap anak itu." ujarnya menunjuk ke tempat Aron terhempas.

Ia terhenti dalam langkahnya, masih melanjutkan dialognya dengan kalimat lain,

"Aku akan melaporkan kejadian hari ini secara langsung kepada yang mulia."

Pria itu pergi ke teman Aron yang akhirnya melepaskan genggamannya pada ibu dengan tubuh gemetar.

SLAPP!

Pipi itu terhempas jauh dengan suara yang menukik.

Satu hempasan tangan dari sosok itu dan teman Aron tepar dengan mudahnya.

Ia mengibaskan tanganya sambil membuat ekspresi jijik dan salah seorang pria bertubuh besar berbaju besi mempersembahkan secarik kain.

"Apa kalian ingin menyampaikan sesuatu untuk kaisar?" ucap pria itu menyeka kulitnya dengan kedua mata merancung dingin.

Ibuku tertegun, ia mencengkeram dadanya dengan erat, bibirnya bergetar.

"Anda... adalah Marquis Lucien Devereuq?" kata ibuku lirih, napasnya berhembus dengan terputus-putus. Aku meringis, luka-luka yang masih segar membenamkan kulitku dalam rasa perih. Namun aku tak bisa hanya terbaring di sini. Satu kepalan tangan itu kuhantamkan sebagai penekan tubuh untuk segera dalam posisi duduk. Sebelah mataku tenggelam dalam benjolan berwarna ungu.

"Ada! Sampaikan pesanku!" ujarku dengan suara bergetar, menyeka darah di ujung bibir menekan perut hingga tegak berdiri. Bukan berarti rasa sakit itu telah sirna, namun telah tersingkir oleh sesuatu yang lebih kuat, yaitu tekad.

"Katakan pada ayah! Biarkan aku dan ibu masuk istana atau kami akan meninggalkan kekaisaran dan bermigrasi ke daerah lain." kalimat itu adalah lanjutannya.

Kedua mataku berhimpit perih, tajam menatap pria itu.

Marquis Lucien terdiam, keheningan itu membuatku menelan ludah, jantungku hampir meledak begitu tawa lantang mencuat bagai guntur di tengah gelapnya mendung.

Ia menyeka air matanya.

"Anda sungguh arogan. Apa karena saya datang membantu sekali? Anda tidak lupa kan? Yang mulia kaisar punya banyak anak dan istri, apa yang membuat anda merasa layak?" pria itu bercetus dengan gamblang, dua jarinya bergerak bersama dua penjaga yang menyeret Aron dan temannya.

"Aku sudah mengatakan yang ingin ku katakan. Sisanya adalah keputusan kaisar. Kami sudah tidak bisa menetap di sini. Tentu kalian tahu pasti alasannya, beberapa orang hanya mengamati dari kejauhan seperti pecundang." aku menjawab penuh dengan kejelasan.

Dapat aku lihat salah satu mata Marquis Lucien berkedut, ia berkepal dengan dengusan kasar.

"Baiklah, aku permisi." pria itu memutar balik badannya setelah melayangkan pandangan lancip.

Geraknya layak disebut sebagai seorang bangsawan.

Rambut panjang berkuncir kuda itu berkilau coklat keemasan bertemu matahari yang menjatuhkan kembali teriknya.

Kedua tangan ibu mencengkeram pundakku dengan erat, sorot matanya menggelap.

Aku mungkin tahu apa yang ada dalam benaknya, karena alasan itu juga aku mampu berkata,

"Ibu, tolong percaya kali ini saja pada putramu." mendengar hal itu ibu menyipit, tak berucap lebih lanjut, ia meraih keranjang kayu berisi pakaian yang tadi ia lemparkan kepada Aron lalu berujar lirih.

"Kamu tak seharusnya bersikap seperti itu di hadapan Marquis Lucien, Cassian." aku tertunduk dengan tangan mengepal.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Anak Haram Sang Kaisar    Bab 166 : Kurungan (Part 3)

    "Saya yakin kalian punya rencana atau setidaknya sedang memantau situasi. Ibu saya selalu mengatakan bahwa saya orang yang cukup pintar. Jadi saya tahu untuk bersikap biasa." Gadis itu menjelaskan, membantu anak lain untuk berjalan. "Nin, obati mereka." Valerius berujar dan Nin segera datang dengan pil yang sama yang ia gunakan untuk menolong yang lain. Daphone memindahkan gelombang air itu di hadapan setiap orang yang akan memakan obat-obatan sehingga ketika mereka membuka mulut air-air itu akan masuk dengan perlahan-lahan seperti layaknya minum air putih."Terimakasih ketua, maafkan saya karena sebelumnya sempat mencurigai anda." kata gadis itu dengan alis yang turun. Daphone mengangguk lalu menggerakkan jarinya membentuk segel komunikasi."Semuanya, masuk ke ruangan terlarang!" hanya dalam beberapa menit saja dan semua anggota organisasi telah berkumpul. Mulai dari pengguna benih roh tingkat lima hingga tingkat tujuh. Dengan jubah resmi organisasi, mereka tampak istimewa dan la

  • Anak Haram Sang Kaisar    Bab 165 : Kurungan (Part 2)

    Kunci besi telah ditemukan, nyaring berbunyi di antara mulut Vanressan ketika ia membawanya kepada Nin. Sedangkan dari samping, Valerius segera melangkah ke sisi Daphone yang tergeletak di dinding dengan sekujur tubuh yang kaku, urat-uratnya timbul karena racun."Cough-kalian hampir melupakan aku." Suara dahak keluar dan mata pria itu layu. Valerius menoleh ke arah Nin."Tabib agung, tolong obati dia." cetusnya sebagai perintah, Nin yang tanggap segera pergi setelah menerima kunci dari Vanressan. Ia memindahkan kunci itu ke telapak tangan Valerius kemudian melakukan tugasnya. Kantung berwarna merah muda dengan corak bunga indah keluar dari sutra Nin, ia memasukkan jemarinya membawa tiga pil berwarna putih. Tangannya pelan memasukkan benda-benda itu ke sela bibir Daphone. Untuk sesaat Daphone menggenggam pergelangan tangan Nin seakan ia menolak bantuannya, namun tenaganya tak lagi penuh, sedikit dorongan dan obat-obatan itu telah masuk ke dalam tenggorokannya."Apa anda punya sisa

  • Anak Haram Sang Kaisar    Bab 164 : Kurungan (Part 1)

    Vanressan berdecak, siapa lagi yang bisa memerintah Dewa dengan semaunya jika itu bukan putra angkatnya sendiri."Lemparkan aku dengan kuat ke leher pria itu." Vanressan mendesis lirih, Nin tersenyum tipis mendapati persetujuan Van dan menatap Valerius seraya mengangguk. Dari sana Daphone dan Lavetan masih berdiri memandangi satu sama lain dengan ketidakcocokan."Kau memang layak menjadi pengguna benih roh tingkat tujuh, ketua." cetus Lavetan mengangkat kedua lengannya dengan bebas."Tapi aku belum mengeluarkan senjata terakhir yang kumiliki. Aku ingin lihat apa nyawamu masih utuh setelah menerimanya." Lavetan menaikkan bibirnya miring, belati yang ia genggam dengan tangan kanan itu naik ke atas kemudian turun menyayat telapak tangannya, darah meluncur tipis, meksipun niatnya bernyali namun giginya meringis menahan rasa perih. Tidak ada yang tahu langkah Lavetan selanjutnya, oleh karena itu semua orang sudah mempersiapkan diri dengan waspada. Lavetan menyapu darah dengan dua jarinya

  • Anak Haram Sang Kaisar    Bab 163 : Ruang Rahasia (Part 3)

    "Aku memanggapmu sebagai rekan kerja yang dapat diandalkan selama ini! Kau sungguh mengecewakan!" tubuh Daphone bergetar hebat sampai perlahan-lahan ia mendesah dan tangannya kembali ke samping, sia-sia saja jika ia harus berkelut dengan emosi yang hanya akan membuang waktunya."Lalu teh yang kau berikan?! Apa itu untuk menjebakku dalam halusinasi?!" Pertanyaan itu membuat Lavetan menyimpan kembali seringainya dan matanya tamapk gelap."Semuanya sudah sempurna! Hanya tinggal beberapa hari lagi dan anak-anak itu akan jadi bahan yang sempurna untuk membangkitkan pemimpin kultus! Tapi, semuanya sia-sia hanya karena teh!" Lavetan mengigit giginya dan kerutan dahinya menampilkan ketidakpuasan yang nyata. "Lupakan saja. Aku bisa membunuh semua anggota organisasi Dewa pelindung dan menjadikan kalian bahan pengganti! Hahahahah! Kegelapan akan mendominasi cahaya!" pekikan Lavetan membuat ruangan itu tenggelam dalam kengerian. Valerius hendak melangkah dan membantu Daphone tetapi Nin menyentu

  • Anak Haram Sang Kaisar    Bab 162 : Ruang Rahasia (Part 2)

    "Lukisan apa itu?" tanya Valerius, matanya merayapi tembok di hadapannya."Aku tidak bisa mengatakannya sebelum segalanya pasti." Daphone bersikeras dan tak ada paksaan lebih dari Valerius. Tangannya datang dan dengan waspada, ia meletakkannya di batu berbentuk persegi itu. Dorongan yang tak begitu kuat lalu dari arah depan suara gemuruh datang.ZRRTTTSemua orang terkejut melihat tembok itu dapat terbuka, tidak ada yang menyangka ruang rahasia berada di tempat yang dilarang untuk dimasuki. Daphone bergegas ke ruangan itu terlebih dahulu dan ternyata di hadapannya area ya cukup luas telah terpampang dengan banyak jeruji-jeruji besi dan obor yang menempel pada temboknya. Ia memandang lebih dekat kemudian terbelalak. Langkahnya mundur beberapa jengkal dan ia bergumam dengan dirinya sendiri."Tidak mungkin...ini... bukanlah organisasi Dewa pelindung. Semua ini.... bukanlah organisasi yang Tuan Yivon ciptakan! Siapa yang merencanakan ini semua!" Daphone histeris dalam kepala yang berp

  • Anak Haram Sang Kaisar    Bab 161 : Ruang Rahasia (Part 1)

    Nin mengumpulkan kedua tangannya dan berdoa lebih khusyuk, kekuatan intinya adalah keberuntungan dari alam semesta, dimana hukum timbal balik akan datang beserta jiwa yang murni. Semakin suci pikiran, semakin doanya akan lekas dikabulkan. Setelah beberapa waktu ia membuka matanya dan perlahan-lahan serbuk-serbuk cahaya keluar dari tubuhnya melesat ke salah satu pintu seakan sebuah pemandu arah. Valerius dengan cepat segera pergi mengikuti cahaya itu seakan sudah tahu bahwa itu adalah kekuatan Nin, sedangkan dari sisi satunya, Daphone berdiri dengan bingung dan bertanya-tanya kemana sang kaisar akan pergi.Tanpa pikir panjang, ia mengikuti dari belakang, diikuti Nin yang tengah kembali membuka matanya.Mereka berjalan terus setelah melalui beberapa ruangan dan lorong hingga sampailah pada sebuah pintu yang digembok dengan beberapa rantai tua. Daphone melangkah terlebih dahulu seraya menatap Valerius."Tunggu, kita tidak bisa pergi. Ini adalah ruangan yang tidak boleh dimasuki oleh s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status