Home / Romansa / Anak Haram yang Dibenci Ayahku / Bab 79. Runtuhnya Sang Penguasa

Share

Bab 79. Runtuhnya Sang Penguasa

Author: Marsalsa
last update publish date: 2026-06-11 17:21:47

"Pelarian lo beneran selesai di sini. Tidak ada ruang untuk anomali dalam masa depan yang sempurna," ucap Gavin.

Pria itu melangkah tegap di atas sisa geladak yang kini sudah terendam air laut hingga batas pinggang, mengabaikan sirkuit di jubah taktisnya yang mulai korsleting parah.

Tangan mekaniknya terangkat lurus, mengarahkan sebuah proyektil laser mini tepat ke arah dada Javier yang masih memegangi sekoci karet.

"Gavin, jangan! Target lo itu gue, bukan Javier ataupun anak itu!" jerit Monic
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Anak Haram yang Dibenci Ayahku   Bab 80. Fajar Sektor Nol (Ending)

    "Javier... bangun, Javier! Lo gak boleh mati sekarang, demi anak kita!" teriak Monica, suaranya parau seraya memuntahkan air laut yang terasa membakar paru-parunya.Monica membuka matanya perlahan, jemarinya meraba butiran halus di bawah tubuhnya yang gemetar.Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan tatapan pias, hanya menemukan sebuah pulau asing yang sunyi dan kabut tipis yang menghalangi jarak pandangannya dari peradaban luar."Mon... lo selamat? Mana anak kita?" bisik Javier dengan sisa napasnya yang teramat pendek dan tersengal-sengal parah.Di sampingnya, tubuh Javier terbujur kaku, sementara tangan kirinya masih mendekap erat sang bayi yang mulai menangis memecah kesunyian fajar. Sepasang matanya menatap Monica dengan kepasrahan yang tulus sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhirnya tepat di ujung jemari cewek itu."Javier! Gak, lo nggak boleh ninggalin gue sendirian di tempat kayak begini!" tangis Monica pecah, memeluk jasad pria itu erat-erat di atas pasir yang din

  • Anak Haram yang Dibenci Ayahku   Bab 79. Runtuhnya Sang Penguasa

    "Pelarian lo beneran selesai di sini. Tidak ada ruang untuk anomali dalam masa depan yang sempurna," ucap Gavin.Pria itu melangkah tegap di atas sisa geladak yang kini sudah terendam air laut hingga batas pinggang, mengabaikan sirkuit di jubah taktisnya yang mulai korsleting parah. Tangan mekaniknya terangkat lurus, mengarahkan sebuah proyektil laser mini tepat ke arah dada Javier yang masih memegangi sekoci karet."Gavin, jangan! Target lo itu gue, bukan Javier ataupun anak itu!" jerit Monica, Monica memaksakan tubuhnya yang kaku dan mati rasa untuk menerobos gulungan ombak, menempatkan dirinya tepat di antara moncong senjata Gavin dan sekoci anaknya. Setiap embusan napasnya terasa membakar."Sistem tidak mengenal kompromi organik, Monica. Pembersihan total adalah satu-satunya solusi," balas GavinMata Gavin yang sedingin es tidak lagi memancarkan kemanusiaan, melainkan deretan matriks data merah yang terus memindai kode enkripsi Sektor Nol dari ponsel Monica. Baginya, kehancuran

  • Anak Haram yang Dibenci Ayahku   Bab 78. Konfrontasi Nihil Jarak

    "Gavin... lo beneran turun sendiri ke neraka ini," bisik Monica.Ia melihat sesosok pria melangkah keluar dari helikopter taktis yang mendarat darurat di geladak depan.Gavin berdiri tegak di tengah terpaan angin badai, jubah taktis hitamnya berkibar dramatis membingkai wajahnya yang dingin tanpa emosi. Di belakangnya, sepasukan robot elite faksi berbaris rapi dengan moncong senjata yang mengunci mati posisi sekoci karet milik Javier."Pelarian lo sudah tidak memiliki nilai efisiensi lagi, Monica. Serahkan kunci Sektor Nol itu sekarang," ucap Gavin, suaranya terdengar begitu flat lewat pelantang suara jubahnya.Javier yang berada di dalam sekoci karet langsung memosisikan tubuhnya di depan sang bayi, tangan kanannya gemetar hebat saat mengarahkan sisa peluru senapan taktisnya ke arah Gavin. Napas mahasiswa koas itu memburu parah, sadar betul bahwa jarak di antara hidup dan mati mereka saat ini beneran sudah nihil."Jangan berani-berani lo melangkah maju, babi faksi! Gue tembak kepal

  • Anak Haram yang Dibenci Ayahku   Bab 77. Pelarian Terakhir

    "Isaac! Sistem ponsel gue... ini kode apa?" teriak Monica, suaranya parau menahan getaran hebat yang merambat di seluruh tubuhnya.Layar gawai yang rusak itu terus memancarkan baris kode enkripsi berwarna emas, menyinari wajah Monica yang pias di tengah kepulan asap lambung kapal.Deretan angka digital itu terus berjalan dengan kecepatan gila, memicu bunyi dengung frekuensi tinggi yang membuat telinga terasa ngilu."Itu kode akses Sektor Nol, Mon! Lo beneran kunci utama yang dicari Gavin selama ini!" balas Isaac sambil menarik paksa tubuh Monica keluar dari palka.Isaac mencengkeram lengan Monica, menyeret gadis itu melewati koridor kabin kapal kargo yang kini posisinya sudah miring hingga empat puluh lima derajat. Air laut mulai tumpah ruah dari segala arah, menciptakan kepanikan mutlak karena kapal tua ini beneran tinggal menghitung menit sebelum karam sepenuhnya."Gue gak peduli soal Sektor setres itu! Gue cuma mau anak gue!" pekik Monica, napasnya tersengal-sengal parah akibat si

  • Anak Haram yang Dibenci Ayahku   Bab 76. Sentuhan Air Es

    "Javier! Amankan anak gue! Jangan lepasin dia!" teriak Monica, suaranya parau membelah kegelapan palka yang kian tenggelam.Air laut kini sudah mencapai dadanya, membuat seluruh persendian Monica kaku dan napasnya terasa kian menghimpit sesak. Tangan kirinya mencengkeram besi penyangga tangga dengan memutih tegang, sementara tangan kanannya memaksakan diri mendorong balutan kain bayi itu ke atas permukaan air."Gue pegang, Mon! Gue gak bakal lepasin anak lo, demi apa pun!" sahut Javier dengan suara bariton yang bergetar menahan perih.Javier terbatuk-batuk di ambang lubang palka, wajahnya bersimbah darah segar yang terus mengalir dari pelipis akibat hantaman Kael tadi. Sepasang matanya menyala penuh kepasrahan yang nekat, mengerahkan sisa tenaga di lengannya untuk menarik tubuh kecil sang bayi murni ke dalam dekapan amannya."Sekarang tangan lo, Mon! Pegang tangan gue cepat!" bentak Javier, lengannya kembali terjulur ke dalam lubang yang kian dipenuhi air.Dada Monica terasa sesak l

  • Anak Haram yang Dibenci Ayahku   Bab 75. Keputusan di Ujung Maut

    "Lepasin cewek itu sekarang atau gue hancurin sirkuit lo!" Isaac berdiri di sana dengan senapan taktis yang sudah terkokang penuh, sorot matanya menyala penuh amarah yang tertahan. Pengkhianatannya di dermaga tadi seolah menguap begitu saja, digantikan oleh keputusasaan barunya."Lo beneran serakah, Isaac. Mau mengambil seluruh hadiah dari Gavin sendirian, hah?" dengus Kael sambil memutar kepalanya lambat.Cengkeraman besi Kael terlepas dari tangan Monica, beralih sepenuhnya untuk bersiap menghadapi ancaman baru dari moncong senjata Isaac yang siap meledak kapan saja. Monica terengah-engah, memegangi pergelangan tangan kirinya yang kini tampak memar keunguan sambil merosot mundur mendekati lubang palka bawah dek yang remang dan berbau karat."Gue gak butuh hadiah dari faksi babi itu! Gue cuma mau lo mati!" teriak Isaac bersamaan dengan rentetan tembakan yang mulai memutus kesunyian malam.Peluru tajam bertubi-tubi menghantam dada titanium milik Kael, memicu percikan api sirkuit yan

  • Anak Haram yang Dibenci Ayahku   Bab 12: Wajah yang Tidak Bisa Ditolak

    Namun sebelum ia benar-benar melangkah masuk, sebuah suara terdengar dari dalam ruangan. Suaranya pelan, tenang, dan terlalu familiar untuk diabaikan begitu saja. “Jadi ini dia.” Kalimat itu sederhana, tetapi cukup untuk membuat langkah Monica terhenti di ambang pintu. Tubuhnya la

  • Anak Haram yang Dibenci Ayahku   Bab 6: Tekanan yang Terukur

    “Duduk.” Suara itu terdengar datar di dalam ruangan yang dingin. Monica melangkah masuk tanpa ragu, kursi logam di tengah ruangan terlihat sederhana, suasananya menekan. Lampu putih tepat di atas kepala menyinari area itu tanpa bayangan. Monica duduk perlahan, punggungnya tegak, tangannya dilet

  • Anak Haram yang Dibenci Ayahku   Bab 5: Ini Jebakan!

    “Andai ikut kami sekarang!” Suara petugas itu tegas, memotong udara yang sudah penuh tekanan. Monica berdiri tanpa bergerak, tatapannya lurus menembus pria di depannya. Lampu putih tambahan membuat kulitnya yang putih terlihat lebih pucat, tetapu sorot matanya tetap tajam. Di sekelilingnya,

  • Anak Haram yang Dibenci Ayahku   Bab 4: Serbuan Tanpa Peringatan

    “Polisi ada di depan.” Kalimat itu jatuh seperti ledakan di tengah ruang VIP. Monica tidak bergerak, tapi sorot matanya langsung berubah tajam. Musik di bawah masih berdentum, mencoba tidak terpengaruh dengan ucapan dari staf di depannya. Isaac langsung menoleh ke arah pintu masuk. Wajahnya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status