Share

Bab 5: Ini Jebakan!

Penulis: Marsalsa
last update Tanggal publikasi: 2026-04-10 12:55:10

“Andai ikut kami sekarang!”

Suara petugas itu tegas, memotong udara yang sudah penuh tekanan. Monica berdiri tanpa bergerak, tatapannya lurus menembus pria di depannya.

Lampu putih tambahan membuat kulitnya yang putih terlihat lebih pucat, tetapu sorot matanya tetap tajam.

Di sekelilingnya, staf klub mulai membentuk pola tanpa disadari. Mereka tetap bekerja, tapi gerakan mereka lebih teratur.

Kemeja hitam slim fit yang mereka kenakan terlihat lebih rapi, diladukan dengan rompi gelap.

Ditelinga masing-masing, alat komunikasi kecil terpasang, menandakan koordinasi diam-diam sedang berjalan.

Isaac berdiri di sisi Monica, jas gelapnya kontras dengan seragam staf, memberi jarak yang jelas antara dirinya dan sistem di dalam klub.

Tatapannya mengawasi setiap pergerakan petugas dengan penuh perhitungan.

Petugas mengangkat kantong transparan tadi. “Anda akan kami tangkap! Barang ini ditemukan di area Anda.”

Monica melirik sekilas, ekspresinya tidak berubah. Namun, di dalam, ia sudah menyusun langkah berikutnya. “Area itu bukan tanggung jawab saya secara langsung.”

Petugas itu menatapnya lebih lama. “Tempat ini milik Anda.”

Monica tersenyum tipis. “Dan itu tidak berarti saya menyentuh setiap sudutnya.”

Di belakang bar, bartender tetap bekerja. Ia mengenakan apron kulit gelap yang sedikit mengkilap terkena cahaya lampu.

Tangannya bergerak cepat meracik minuman, seolah tidak terpengngar situasi.

Namun, matanya sesekali melirik ke arah Monica, memastikan instruksi tetap berjalan.

Meisy berdiri tidak jauh dari sana. Gaun stylish yang ia kenakan kini terasa tidak nyaman. Ia memeluk dirinya sendiri, mencoba menenangkan gemetar yang semakin jelas.

“Mon ….” bisiknya pelan.

Monica tidak menoleh, fokusnya masih pada petugas di depannya. Isaac maju setengah langkah. “Kami bisa menyelesaikan ini tanpa drama.”

Petugas itu menatap Isaac singkat. “Kami tidak butuh saran.”

Suasana kembali menegang. Beberapa petugas lain mulai mendekat, membentuk lingkaran kecil di sekitar Monica.

Pengunjung yang tersisa hanya bisa menonton sebagian merekam diam-diam.

Monica menyadari itu, ujung bibirnya terangkat. “Bagus, semakin banyak saksi.”

Petugas utama mengerutkan kening. “Ini bukan pertunjukan.”

Monica mengangkat dagunya sedikit. “Kalian yang membuatnya jadi pertunjukan.”

Di sisi lain ruangan, salah satu staf berjalan melewati lorong dengan tenang.

Ia mengenakan satu tangan hitam tipis, membawa nampan kosong, hanya menjalankan tugas biasa.

Namun, langkahnya berhenti sejenak di dekat pintu samping, memberi isyarat singkat sebelum kembali bergerak. Isaac menangkap pergerakan itu.

Staf itu matanya sedikit menyipit. “Jalur belakang bersih.”

Monica tidak bereaksi, ia tetap berdiri di tempatnya, berpura-pura tidak mendengar apapun. Petugas itu mulai kehilangan kesabaran. “Kami tidak akan mengulang.”

Monica menatapnya dalam, penuh dendam. “Saya juga tidak.”

Keheningan sejenak terjadi. Lalu, tanpa peringatan, suara gaduh muncul dari arah belakang.

Salah satu petugas memanggil dengan nada tegang. “Ada pergerakan di lorong belakang.”

Semua kepala menoleh, situasi langsung terpecah. Monica memanfaatkan momen itu.

Ia melangkah ke samping, keluar dari lingkaran kecil yang mengepungnya.

Petugas utama menyadari. “Hei!”

Isaac langsung berdiri di antara mereka, tubuhnga kini jadi penghalang alami. “Fokus ke tim Anda.”

Petugas itu ragu sejenak. Kekacauan kecil di belakang membuat prioritas mereka terpecah. Beberapa orang mulai bergerak menjauh, mengikuti sumber gangguan.

Meisy melihat celah itu, napasnya tertahan, matanya berpindah antara Monica dan pintu samping.

Monica menoleh sekias ke arahnya. Tatapannya singkat cukup memberi perintah agar Meisy segera pergi.

Meisy langsung mengerti, ia bergerak perlahan ke arah bar, lalu menghilang di balik lorong kecil di samping. Tidak ada yang memperhatikan.

Petugas utama kembali menatapnya. “Anda tetap ikut kami.”

Monica menghela napas pelan, ia terlihat mempertimbangkan sesuatu.

Di sekelilingnya, staf masih bergerak rapi. Seragam hitam mereka membuat mereka nyaris menyatu seperti bayangan. Tidak mencolok tapi selalu ada posisi yang tepat.

Monica akhirnya mengganggu kecil. “Oke, aku akan ikut.”

Isaac menoleh cepat. Rahangnya mengeras, tetapi ia tidak menghentikannya. “Monica.”

“Lo tetap di sini.” Isaac memahami maksud Monica. Ia tidak membantah tapi sorot matanya menunjukkan bahwa ia tidak akan benar-benar diam.

Petugas itu memberi isyarat, dua orang mendekat ke sisi Monica. Mereka tidak menyentuh, tapi cukup dekat untuk memastikan ia tidak kabur.

Monica berbalik, ia mulai berjalan menuju pintu utama. Sepatu haknya berbunyi pelan di lantai marmer, menciptakan ritme yang kontras dengan keheningan ruangan.

Di belakangnya, Isaac tetap berdiri, memperhatikan detail-detail kecil Monica keluar dari klub tanpa terlewat sedikitpun.

Udara malam menyambutnya dengan dingin yang lebih tajam dari sebelumnya.

Lampu mobil patroli memantulkan cahaya biru ke jalanan, menciptakan bayangan yang bergerak.

Beberapa kendaraan terparkir rapi, semua sudah disiapkan.

Monica berhenti sejenak sebelum melangkah lebih jauh, ia menoleh ke belakang, dan Isaac masih berdiri di ambang pintu.

Tidak ada kata tapi tatapan mereka bertemu, dan itu cukup membuat Isaac mengangguk tipis.

Monica masuk ke mobil petugas, ketika pintu tertutup suara langsung teredam.

Monica duduk tegak, tatapannya lurus ke depan. Tangannya perlahan masuk ke saku gaun, memastikan kertas itu masih ada.

Lampu kota berlalu di luar jendela. Setiap cahaya tampak seperti kilatan singkat yang tidak berarti. Monica memejamkan mata, semua terlalu rapi baginya.

Barang bukti, waktu penyerbuan, kehadiran orang-orang tidak dikenal. Semua seakan sesuai dengan skenario seseorang. Ia sedang masuk ke permainan yang lebih besar.

Di sisi lain kota, sebuah ruangan gelap hanya diterangi cahaya layar.

Pria itu duduk santai di kursinya. Jasnya rapi, tangannya bersandar ringan di meja. Di depannya, layar menampilkan rekaman dari klub malam tadi.

Momen saat Monica dibawa keluar diputar ulang, ia memperhatikan setiap detail, setiap ekspresi. Senyum tipis muncul di wajahnya.

“Dia tidak panik,” gumamnya sambil mengetuk meja perlahan dengan irama.

Ia menekan sebuah tombol, layar berubah. Kini profil Monica muncul dengan data lengkap.

Di bawahnya, sebuah file lain terlihat, masih terkunci. Labelnya sederhana, aksesnya dibatasi. Pria itu menatap layar lebih lama.

Matanya menyipit sedikit. “Masih belum terbuka.”

Ia bersandar, senyumnya tidak hilang. “Tapi ini hanya soal waktu.”

Tangannya meraih ponsel, satu pesan suara terkirim dengan cepat. “Kirim tahap berikutnya.”

Layar kembali menampilkan wajah Monica, mobil yang membawanya melaju dalam keheningan kota yang menggenggam kertas di tangannya lebih erat

. Ia tidak tahu siapa yang menunggu di depan. Namun, satu hal yang sudah pasti. Ia tidak akan kembali sebagai korban.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Anak Haram yang Dibenci Ayahku   Bab 80. Fajar Sektor Nol (Ending)

    "Javier... bangun, Javier! Lo gak boleh mati sekarang, demi anak kita!" teriak Monica, suaranya parau seraya memuntahkan air laut yang terasa membakar paru-parunya.Monica membuka matanya perlahan, jemarinya meraba butiran halus di bawah tubuhnya yang gemetar.Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan tatapan pias, hanya menemukan sebuah pulau asing yang sunyi dan kabut tipis yang menghalangi jarak pandangannya dari peradaban luar."Mon... lo selamat? Mana anak kita?" bisik Javier dengan sisa napasnya yang teramat pendek dan tersengal-sengal parah.Di sampingnya, tubuh Javier terbujur kaku, sementara tangan kirinya masih mendekap erat sang bayi yang mulai menangis memecah kesunyian fajar. Sepasang matanya menatap Monica dengan kepasrahan yang tulus sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhirnya tepat di ujung jemari cewek itu."Javier! Gak, lo nggak boleh ninggalin gue sendirian di tempat kayak begini!" tangis Monica pecah, memeluk jasad pria itu erat-erat di atas pasir yang din

  • Anak Haram yang Dibenci Ayahku   Bab 79. Runtuhnya Sang Penguasa

    "Pelarian lo beneran selesai di sini. Tidak ada ruang untuk anomali dalam masa depan yang sempurna," ucap Gavin.Pria itu melangkah tegap di atas sisa geladak yang kini sudah terendam air laut hingga batas pinggang, mengabaikan sirkuit di jubah taktisnya yang mulai korsleting parah. Tangan mekaniknya terangkat lurus, mengarahkan sebuah proyektil laser mini tepat ke arah dada Javier yang masih memegangi sekoci karet."Gavin, jangan! Target lo itu gue, bukan Javier ataupun anak itu!" jerit Monica, Monica memaksakan tubuhnya yang kaku dan mati rasa untuk menerobos gulungan ombak, menempatkan dirinya tepat di antara moncong senjata Gavin dan sekoci anaknya. Setiap embusan napasnya terasa membakar."Sistem tidak mengenal kompromi organik, Monica. Pembersihan total adalah satu-satunya solusi," balas GavinMata Gavin yang sedingin es tidak lagi memancarkan kemanusiaan, melainkan deretan matriks data merah yang terus memindai kode enkripsi Sektor Nol dari ponsel Monica. Baginya, kehancuran

  • Anak Haram yang Dibenci Ayahku   Bab 78. Konfrontasi Nihil Jarak

    "Gavin... lo beneran turun sendiri ke neraka ini," bisik Monica.Ia melihat sesosok pria melangkah keluar dari helikopter taktis yang mendarat darurat di geladak depan.Gavin berdiri tegak di tengah terpaan angin badai, jubah taktis hitamnya berkibar dramatis membingkai wajahnya yang dingin tanpa emosi. Di belakangnya, sepasukan robot elite faksi berbaris rapi dengan moncong senjata yang mengunci mati posisi sekoci karet milik Javier."Pelarian lo sudah tidak memiliki nilai efisiensi lagi, Monica. Serahkan kunci Sektor Nol itu sekarang," ucap Gavin, suaranya terdengar begitu flat lewat pelantang suara jubahnya.Javier yang berada di dalam sekoci karet langsung memosisikan tubuhnya di depan sang bayi, tangan kanannya gemetar hebat saat mengarahkan sisa peluru senapan taktisnya ke arah Gavin. Napas mahasiswa koas itu memburu parah, sadar betul bahwa jarak di antara hidup dan mati mereka saat ini beneran sudah nihil."Jangan berani-berani lo melangkah maju, babi faksi! Gue tembak kepal

  • Anak Haram yang Dibenci Ayahku   Bab 77. Pelarian Terakhir

    "Isaac! Sistem ponsel gue... ini kode apa?" teriak Monica, suaranya parau menahan getaran hebat yang merambat di seluruh tubuhnya.Layar gawai yang rusak itu terus memancarkan baris kode enkripsi berwarna emas, menyinari wajah Monica yang pias di tengah kepulan asap lambung kapal.Deretan angka digital itu terus berjalan dengan kecepatan gila, memicu bunyi dengung frekuensi tinggi yang membuat telinga terasa ngilu."Itu kode akses Sektor Nol, Mon! Lo beneran kunci utama yang dicari Gavin selama ini!" balas Isaac sambil menarik paksa tubuh Monica keluar dari palka.Isaac mencengkeram lengan Monica, menyeret gadis itu melewati koridor kabin kapal kargo yang kini posisinya sudah miring hingga empat puluh lima derajat. Air laut mulai tumpah ruah dari segala arah, menciptakan kepanikan mutlak karena kapal tua ini beneran tinggal menghitung menit sebelum karam sepenuhnya."Gue gak peduli soal Sektor setres itu! Gue cuma mau anak gue!" pekik Monica, napasnya tersengal-sengal parah akibat si

  • Anak Haram yang Dibenci Ayahku   Bab 76. Sentuhan Air Es

    "Javier! Amankan anak gue! Jangan lepasin dia!" teriak Monica, suaranya parau membelah kegelapan palka yang kian tenggelam.Air laut kini sudah mencapai dadanya, membuat seluruh persendian Monica kaku dan napasnya terasa kian menghimpit sesak. Tangan kirinya mencengkeram besi penyangga tangga dengan memutih tegang, sementara tangan kanannya memaksakan diri mendorong balutan kain bayi itu ke atas permukaan air."Gue pegang, Mon! Gue gak bakal lepasin anak lo, demi apa pun!" sahut Javier dengan suara bariton yang bergetar menahan perih.Javier terbatuk-batuk di ambang lubang palka, wajahnya bersimbah darah segar yang terus mengalir dari pelipis akibat hantaman Kael tadi. Sepasang matanya menyala penuh kepasrahan yang nekat, mengerahkan sisa tenaga di lengannya untuk menarik tubuh kecil sang bayi murni ke dalam dekapan amannya."Sekarang tangan lo, Mon! Pegang tangan gue cepat!" bentak Javier, lengannya kembali terjulur ke dalam lubang yang kian dipenuhi air.Dada Monica terasa sesak l

  • Anak Haram yang Dibenci Ayahku   Bab 75. Keputusan di Ujung Maut

    "Lepasin cewek itu sekarang atau gue hancurin sirkuit lo!" Isaac berdiri di sana dengan senapan taktis yang sudah terkokang penuh, sorot matanya menyala penuh amarah yang tertahan. Pengkhianatannya di dermaga tadi seolah menguap begitu saja, digantikan oleh keputusasaan barunya."Lo beneran serakah, Isaac. Mau mengambil seluruh hadiah dari Gavin sendirian, hah?" dengus Kael sambil memutar kepalanya lambat.Cengkeraman besi Kael terlepas dari tangan Monica, beralih sepenuhnya untuk bersiap menghadapi ancaman baru dari moncong senjata Isaac yang siap meledak kapan saja. Monica terengah-engah, memegangi pergelangan tangan kirinya yang kini tampak memar keunguan sambil merosot mundur mendekati lubang palka bawah dek yang remang dan berbau karat."Gue gak butuh hadiah dari faksi babi itu! Gue cuma mau lo mati!" teriak Isaac bersamaan dengan rentetan tembakan yang mulai memutus kesunyian malam.Peluru tajam bertubi-tubi menghantam dada titanium milik Kael, memicu percikan api sirkuit yan

  • Anak Haram yang Dibenci Ayahku   Bab 57: Tahanan Nomor 0

    “Cillian, buka pintu sel saya sekarang juga!” teriak Profesor Kael. Suaranya yang serak beradu dengan bisingnya bunyi sirine tanda bahaya yang terus meraung-raung. Lampu merah di dalam koridor berkedip-kedip dengan intensitas yang semakin cepat, menciptakan atmosfer yang mencekam. Cillian tidak la

  • Anak Haram yang Dibenci Ayahku   Bab 12: Wajah yang Tidak Bisa Ditolak

    Namun sebelum ia benar-benar melangkah masuk, sebuah suara terdengar dari dalam ruangan. Suaranya pelan, tenang, dan terlalu familiar untuk diabaikan begitu saja. “Jadi ini dia.” Kalimat itu sederhana, tetapi cukup untuk membuat langkah Monica terhenti di ambang pintu. Tubuhnya la

  • Anak Haram yang Dibenci Ayahku   Bab 6: Tekanan yang Terukur

    “Duduk.” Suara itu terdengar datar di dalam ruangan yang dingin. Monica melangkah masuk tanpa ragu, kursi logam di tengah ruangan terlihat sederhana, suasananya menekan. Lampu putih tepat di atas kepala menyinari area itu tanpa bayangan. Monica duduk perlahan, punggungnya tegak, tangannya dilet

  • Anak Haram yang Dibenci Ayahku   Bab 4: Serbuan Tanpa Peringatan

    “Polisi ada di depan.” Kalimat itu jatuh seperti ledakan di tengah ruang VIP. Monica tidak bergerak, tapi sorot matanya langsung berubah tajam. Musik di bawah masih berdentum, mencoba tidak terpengaruh dengan ucapan dari staf di depannya. Isaac langsung menoleh ke arah pintu masuk. Wajahnya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status