Share

Bab 1561

Penulis: Erlina
Ketika Caden tiba di rumah sakit, Lyana baru keluar dari UGD. Dia berbaring di atas ranjang pasien dengan tenang dan masih belum sadarkan diri.

Kevin duduk di samping ranjang pasien dengan ekspresi yang sangat suram, entah karena terlalu khawatir atau terlalu marah. Di sisi lain, Dylan menyeret tubuhnya yang masih lemah dan berlutut di samping dengan tampang bersalah.

Melihat situasi ini, Caden sangat terkejut. Ketika di telepon tadi, Dylan hanya mengatakan sudah terjadi masalah, tetapi tidak me
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
rima rosidah
knapa kisah Camila & Dylan trlalu berbelit² thor ......
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Anak Kembar Empat si Presdir Dingin   Bab 2533

    “Asalkan kamu mau, semuanya nggak tergolong terlambat. Kita bisa beri lingkungan yang lebih bagus untuk Kakek Kedua.”Naomi tidak berbicara. Dia bersandar di atas pelukan Caden dengan menangis sejenak. Setelah perasaannya mulai tenang, dia baru menyeka air matanya dan keluar dari pelukan Caden. “Apa kamu khawatir akan ada yang mengorek makam Kakek Kedua, makanya dia dikubur di sini dan nggak ada nama di atas batu nisannya?”Caden menggerakkan bibirnya. “Kakek Kedua itu pura-pura mati. Di mata orang luar, dia sudah meninggal sejak lama. Seandainya dia dikubur di luar sana, bisa jadi akan menimbulkan kecurigaan.”“Batu nisan nggak diberi nama memang karena khawatir ada yang menemukannya, nantinya malah akan ada yang mengoreknya.”“Kakek Kedua adalah tokoh besar dalam dunia seni bela diri. Ada begitu banyak orang yang mengaguminya, sama halnya dengan orang yang membencinya juga banyak, terutama pesilat dari luar negeri.”“Seandainya orang-orang itu menyadari makam Kakek, mereka pasti akan

  • Anak Kembar Empat si Presdir Dingin   Bab 2532

    Caden terdiam beberapa detik, baru membalas, “Sementara ini masih belum ditemukan. Masih lagi dalam pencarian.”Naomi bertanya, “Apa masih ada harapan untuk menemukannya?”Caden tidak berani mengucap janji dengan gampangnya. Dia berkata dengan kening berkerut, “Masalah Kakek Kedua sudah berlalu belasan tahun, apalagi masalah ini bukan dendam pribadi. Masalah ini bersangkutan dengan banyak negara. Nggak gampang untuk bisa menyelidiki pelakunya. Hanya saja, bukan berarti nggak ada kesempatan untuk menyelidikinya. Kami lagi berusaha.”Naomi mengerutkan keningnya. “Saat hari kemerdekaan tahun ini, Hayden pergi tanding dengan Negara Rigira dan Negara Horea demi masalah Kakek Kedua?”Caden ragu beberapa detik, lalu mengangguk. “Emm.”Naomi bertanya lagi, “Apa masalah Kakek ada hubungannya dengan Negara Rigira dan Negara Horea?”“Emm ….”Naomi menggertakkan giginya. “Selain Negara Rigira dan Negara Horea, siapa lagi yang berpartisipasi?”“Sementara ini masih belum berhasil diselidiki.”“Beri

  • Anak Kembar Empat si Presdir Dingin   Bab 2531

    Naomi menangis hingga sekujur tubuhnya gemetar, membuat orang merasa sakit hati ketika melihatnya. “Aku nggak mau Kakek Kedua pergi. Aku kangen sama dia. Aku mau dia panjang umur. Huhuhu ….”Suara Caden terisak-isak. “Aku tahu.”“Caden, aku merasa sedih, hatiku sakit, hatiku sakit banget. Huhuhu ….”Naomi yang menangis itu menoleh untuk melirik makam dan batu nisan. Dia kembali masuk ke dalam pelukan Caden dan menangis dengan histeris. “Aku nggak bisa terima. Caden, hatiku penat. Huhu ….”Caden ikut meneteskan air mata. “Aku tahu. Aku tahu. Aku tahu. Nangislah kalau kamu merasa penat. Ada aku … kamu masih ada aku, kakek, dan nenek. Kamu juga masih punya anak-anak, papa, mama ….”“Kamu juga tahu, hidup, menua, sakit, dan mati itu adalah hukum alam. Pada akhirnya, semua orang juga akan meninggal, nggak ada satu pun yang bisa hidup untuk selamanya. Naomi, kita mesti menerima kenyataan ….”Caden memeluk Naomi dengan erat. Betapa inginnya dia memasukkan Naomi ke dalam tubuhnya. Dia ingin me

  • Anak Kembar Empat si Presdir Dingin   Bab 2530

    Naomi tidak percaya!“Nggak mungkin! Kakek Kedua baik-baik saja. Mana mungkin dia tidur di dalam makam? Pembohong!”“Naomi ….”“Kamu jangan bicara! Dasar pembohong!”Naomi terisak-isak, lalu memalingkan kepalanya menjerit ke hutan, “Kakek Kedua, kamu segera keluar. Kalau kamu nggak keluar lagi, aku bakal marah. Aku benar-benar marah!”Balasan yang didapatkan Naomi hanyalah suara angin dan beberapa binatang yang dikagetkan oleh Naomi.“Kakek Kedua, keluar!”…“Kalau kamu nggak keluar, aku akan pergi, nggak kasih kamu permen lagi!”…“Kakek Kedua!”Mata Naomi memerah. Dia merasa panik hingga mengentakkan kakinya. “Kakek Kedua cepat keluar. Aku nggak suka dengan candaan seperti ini!”“Kakek Kedua! Keluar, kalau kamu nggak keluar lagi, aku … aku bakal nangis. Aku benar-benar akan nangis. Kamu paling takut lihat aku nangis, ‘kan? Begitu aku nangis, kamu pun akan merasa gugup ….”“Kakek Kedua, kamu jangan takuti aku ya? Nyaliku kecil sekali. Aku takut. Huhuhu ….”Naomi yang sebelumnya mengan

  • Anak Kembar Empat si Presdir Dingin   Bab 2529

    Caden mengerutkan keningnya. Kakek Bungsu berkata, “Sewaktu hidup dulu, dia suka dengan keramaian dan juga binatang. Erha berpesan untuk jangan mencabut bunga dan rumput liar di sini, biarkan mereka tumbuh di makam ini. Binatang juga jangan diusir, anggap saja untuk menemaninya.”Hati Caden sungguh terasa tidak nyaman. Tidak ada foto di depan makam, hanya ada sebuah batu nisan yang polos. Di atasnya juga tidak tertera nama, hanya ada beberapa tulisan yang sangat sederhana. [ Makam Kakek Kedua ]Seorang pahlawan telah mengasingkan diri bertahun-tahun demi melindungi rahasia di dalam pegunungan. Dia menghabiskan sisa hidupnya demi mengabdi kepada negara dan rakyat. Setelah meninggal, dia bahkan tidak berani meninggalkan namanya di atas batu nisan.Tidak meninggalkan nama pasti demi melindungi Kakek Kedua agar tidak terjadi kekacauan di kemudian hari. Jika tidak, bisa jadi jasadnya akan dikorek, dia pun tidak bisa meninggal dengan tenang.Namun ketika melihat makam berantakan di depan mat

  • Anak Kembar Empat si Presdir Dingin   Bab 2528

    Usai mendengar, beberapa orang tua langsung mengernyitkan kening mereka. Mereka semua kelihatan khawatir.Bawah tanah sangat berbahaya. Mereka tidak berharap Caden pergi mengambil risiko. Hanya saja … mereka sudah menyerahkan beban kepada Caden. Tidaklah mungkin juga jika Caden tidak ke sana.Nenek berucap, “Nggak mungkin kalau kamu pergi sendiri. Nanti cari kesempatan, biar kami bawa kamu ke sana. Mengenai masalah di sana, apa Usman sudah katakan sama kamu?”Caden mengangguk. “Sudah.”Nenek berkata, “Waktu itu, kami pura-pura mati dan mengasingkan diri, kelihatannya kami memiliki alasan kami masing-masing. Sebenarnya semua karena rahasia di dalam gunung.”“Kami semua penasaran dengan rahasia ini dan juga ingin meneliti rahasia ini. Kami ingin melindunginya.”“Pegunungan ini sangat unik. Konon katanya, segala sesuatu di alam memiliki roh, tapi binatang dan tanaman di wilayah ini jelas jauh lebih unggul dibanding area lain.”“Semuanya bisa dilihat dari si Putih, ia itu cerdas dan memili

  • Anak Kembar Empat si Presdir Dingin   Bab 1059

    Loki sedang menunggu di sebuah gang dekat rumah sakit. Begitu mendengar semuanya sudah berjalan sesuai dengan rencananya, dia merasa sangat gembira. Dia segera mengajak Yuna untuk bertemu di gang yang sepi ini.Saat bertemu dengan Yuna, dia langsung bertanya, “Di mana uangnya?”Yuna menyerahkan uang

  • Anak Kembar Empat si Presdir Dingin   Bab 1145

    Setelah kembali ke rumah sakit dengan terburu-buru, Leon melihat Camila yang sedang berbaring di ranjang pasien sambil menangis. Naomi duduk di sisi tempat tidur untuk menghiburnya, sedangkan Anika yang wajahnya babak belur duduk di kursi sambil menatap mereka dengan tidak senang.Leon berjalan ke s

  • Anak Kembar Empat si Presdir Dingin   Bab 1107

    “Tempat Camila dikurung seharusnya ada hubungannya dengan mama kalian!”“Heh?” Braden menatap Caden dengan bingung.Caden menjelaskan, “Kata Sanny, ketika terjadi sesuatu dengan Camila, dia terus meminta tolong dengan memanggil nama mama kalian. Dia cuma memanggil nama mama kalian saja. Dia nggak pa

  • Anak Kembar Empat si Presdir Dingin   Bab 1068

    Baru saja polisi pergi bersama mereka, tiba-tiba Yuna datang. “Kalian mau ke mana? Kalian mau bawa suamiku ke mana?”Loki segera berlari ke hadapan Yuna. “Mereka bilang aku sudah bersikap kasar sama kamu. Coba kamu jelaskan ke polisi. Aku nggak kasari kamu, ‘kan?”Yuna terbengong sejenak. Dia reflek

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status