เข้าสู่ระบบAleena awalnya tak memperhatikan siapa yang sejak tadi tengah berjongkok di antara Aiden dan Eve.
Fokusnya masih tertuju pada mereka, hingga tanpa sadar pandangannya akhirnya beralih ke sosok yang sudah bertahun-tahun berusaha ia hindari. Seketika tenggorokannya tercekat, dan tubuhnya langsung panas dingin. Liam. Lelaki itu seperti tak menua walau tujuh tahun telah berlalu. Wajahnya tetap sama, hanya sedikit lebih matang dengan garis-garis halus yang hampir tak terlihat. Sorot matanya tajam, penuh kehati-hatian, seolah sedang menelanjangi pikirannya. Aleena menelan ludah dengan susah payah. Tatapan Aleena tak sengaja turun ke lengannya. Sepertinya Liam kembali menambah tato lagi. Sebuah desain baru menghiasi lengan kanan atasnya, samar terlihat dari lengan kemeja yang digulungnya. Tubuhnya pun masih setegap yang dulu, bahkan massa ototnya tampak bertambah pesat. Aleena bisa melihat perbedaan mencolok dalam penampilan Liam kali ini. "Hai." Suaranya lirih, lebih seperti gumaman yang terlontar tanpa pikir panjang. Aleena tahu, pura-pura tak mengenalnya bukan jalan keluar. Liam tertawa sinis, suara rendahnya menggores telinga Aleena. "Hai? Kau hanya bilang 'hai' saat di depanku ada anak yang seperti pinang dibelah dua denganku?" Dunia serasa berhenti berputar. Aleena membeku, merasakan serangan mendadak yang membuat dadanya sesak. Napasnya tertahan, tapi sebelum ia sempat merespons, suara kecil menyela ketegangan di antara mereka. "Mom, pinang itu apa?" Eve menarik ujung blus yang dikenakan Aleena, membuatnya tersadar dari keterkejutan yang masih mencekiknya. Aleena menghela napas pelan, lalu mengalihkan tatapannya ke Aiden yang kini menggenggam sebuah foto yang sangat ia kenal. Sebuah kenangan lama yang seharusnya tetap terkubur. "Aiden. Mommy tidak pernah mengajarimu mengambil barang apa pun jika itu bukan milikmu," tegurnya dengan lembut, meski nada suaranya terdengar sedikit goyah. Aleena bukan tipe ibu yang keras, tapi sejak kecil ia berusaha sebaik mungkin mendidik anak-anaknya. Memberi tahu mana yang benar dan mana yang salah. Dunia tahu bahwa Aiden dan Eve tak punya ayah, dan ia tak ingin dicap sebagai ibu yang gagal hanya karena absennya sosok pria dalam kehidupan mereka. Meskipun, menjadi seorang ibu sekaligus ayah bukanlah pekerjaan yang mudah. "Maafkan aku, Mommy." Suara Aiden lirih, hampir tak terdengar, tetapi cukup untuk membuat hati Aleena mencelos. Meskipun Aiden sering membantah atau menjawab perkataannya, kali ini ia benar-benar takut. Bukan karena dimarahi, melainkan karena tatapan kecewa yang diberikan ibunya. "Aku hanya penasaran saja. Aku ingin mencari Daddy." Aleena menghela napas kasar, menekan gejolak di dadanya. "Sebaiknya kita pulang, ya. Kalian harus tidur siang." Tanpa menoleh lagi ke arah Liam, Aleena menggenggam tangan kedua anaknya dan berjalan menjauh. Di belakang, Liam masih berjongkok, terdiam, dengan pikiran yang berkecamuk hebat. Wajahnya kaku, dan jantungnya berdetak tak menentu. Saat Aleena membawa anak-anaknya pergi, ia dengan cepat merapikan barang-barangnya, menaruh dua lembar uang pecahan di atas meja, lalu bergegas mengikuti mereka. Ia harus menemukan jawabannya sekarang juga. "Aleena!" Eve yang berjalan di samping Aleena menoleh dan menarik lengan ibunya. "Mom. Paman itu memanggil Mommy," katanya polos. "Kalau dilihat-lihat, wajahnya mirip sekali dengan foto yang diambil oleh Aiden. Apakah dia ayah kami, Mom?" Aleena terdiam sejenak. Ia bisa merasakan darahnya berdesir hebat. Namun, sebelum ia sempat menjawab, Aiden lebih dulu membuka suara. "Eve! Paman itu bukan ayah kita. Dia penculik!" ucapnya tegas, masih mengira bahwa Liam adalah pria yang hendak menculiknya dan Eve. Aleena menutup telinga dari percakapan anak-anaknya dan panggilan Liam yang terus menggema di belakangnya. Dengan cepat, ia membuka pintu mobil dan membantu kedua anaknya masuk. Namun, saat ia baru saja hendak membuka pintu untuk dirinya sendiri, sebuah tangan lebih dulu menutup pintu tersebut, mengurungnya dalam ruang sempit di antara tubuh Liam dan mobilnya. "Liam," desis Aleena pelan, giginya hampir bergemeletuk. "Ini tempat umum, ada anak-anak juga. Jangan macam-macam!" Liam tidak bergeming. Matanya menatap lurus ke dalam mata Aleena, mencari kebenaran yang selama ini tak pernah ia ketahui. "Kau … melahirkan mereka? Seorang diri?" Aleena merasakan napasnya tercekat. Ia menelan ludah, lalu dengan gerakan cepat, ia memastikan anak-anaknya sudah aman di dalam mobil sebelum menatap Liam dengan tatapan yang dingin dan datar. "Ya, kenapa? Kau ingin membunuhnya karena telah menulikan telingaku untuk tidak mendengar perintahmu agar menggugurkan kandunganku?" Suaranya sarat dengan kepedihan yang selama ini tertahan. Liam membeku. Rahangnya mengeras, tak bisa membalas apa pun selain menatap Aleena yang kini dipenuhi kebencian. "Dan kau tidak memberitahu mereka bahwa aku adalah ayah mereka?" suaranya lebih pelan kali ini, hampir seperti bisikan yang dipenuhi luka. Aleena tertawa hampa, getirnya begitu menusuk. "Apa itu penting bagimu? Bahkan kau tidak mengakui kehadiran mereka saat masih di perutku. Untuk apa aku memberitahu mereka bahwa ayahnya masih hidup?" Deg! Jantung Liam berdetak lebih cepat. Kalimat itu menghantamnya dengan brutal, lebih sakit dari pukulan mana pun yang pernah ia terima. "Kau menyembunyikan status ayah mereka itu sudah kesalahan yang besar, Aleena!” ucap Liam dengan nada marahnya. Aleena menghela napasnya dengan panjang menatap Liam yang dengan tanpa dosanya mengatakan hal itu padanya. Apakah dia telah berkontribusi dalam proses kelahiran si kembar? "Jangan pernah temui anak-anak dan juga diriku. Apa pun alasannya. Aku telah menganggap kau mati, Liam. Anak-anak tidak akan pernah memiliki ayah, karena kehadirannya tidak pernah dianggap oleh ayahnya!"Matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden ruang makan, memantulkan cahaya pada peralatan makan perak yang tertata rapi.Aroma wafel hangat dan sirup mapel memenuhi ruangan, namun suasana pagi itu terasa sedikit berbeda. Liam dan Aleena duduk berdampingan, saling bertukar pandang penuh rahasia yang membuat Aiden menghentikan kegiatannya mengoles selai cokelat.“Mami, Papi, kenapa kalian senyum-senyum terus sejak tadi?” tanya Aiden dengan nada detektifnya yang khas. “Apa ada mainan baru lagi yang datang?”Eve ikut mendongak, mulutnya masih penuh dengan potongan buah stroberi. “Atau kita mau pergi ke kebun binatang lagi?”Liam berdeham, mencoba mengatur nada suaranya agar terdengar tenang namun tetap menyimpan kejutan. Ia meraih tangan Aleena di bawah meja, meremasnya lembut sebelum akhirnya angkat bicara.“Bukan mainan, Aiden. Dan bukan sekadar jalan-jalan, Eve. Papi dan Mami punya kabar yang jauh lebih besar.”Aleena tersenyum, mata
Pagi buta masih menyisakan embun di jendela kamar mandi saat Aleena terbangun dengan perasaan yang tidak menentu. Ia membiarkan Liam tetap terlelap di balik selimut tebal, napas suaminya itu terdengar teratur dan damai.Dengan langkah berjinjit yang sangat hati-hati, Aleena mengunci pintu kamar mandi dan meraih sebuah kotak kecil yang ia beli secara sembunyi-sembunyi saat pergi ke apotek kemarin sore.Tangannya gemetar hebat. Ada rasa takut yang menyeruak, takut jika ia hanya terlalu berharap, atau takut jika keadaan yang sudah sempurna ini akan berubah kembali.Namun, di balik itu, ada binar kebahagiaan yang mulai mekar di sudut hatinya. Ia menunggu dalam keheningan yang mencekam, hanya ditemani detak jarum jam dinding dan degup jantungnya sendiri yang kian memburu.Dua garis merah.Aleena menutup mulutnya dengan kedua tangan, menahan pekikan yang hampir lolos. Air mata seketika jatuh membasahi pipinya.Dua garis itu tampak sangat jelas, ti
Enam bulan telah berlalu sejak janji suci diucapkan di kapel sunyi itu, dan kehidupan Aleena kini terasa seperti lembaran buku dongeng yang menjadi nyata.Mereka telah pindah ke mansion baru di kawasan perbukitan yang dibeli Liam sebagai kado pernikahan.Rumah itu bukan sekadar bangunan megah dari beton dan kaca; ia adalah benteng kebahagiaan yang dipenuhi cahaya matahari setiap paginya.Aroma kopi yang baru diseduh dan wangi roti panggang kini menjadi latar suara alami di dapur mereka yang luas.Aleena berdiri di dekat meja marmer, memperhatikan melalui jendela besar ke arah halaman belakang.Di sana, di atas hamparan rumput hijau yang dipangkas rapi, ia melihat pemandangan yang dulu hanya berani ia impikan dalam khayalan paling liar.Liam sedang berlutut di atas tanah, mengenakan kaos santai yang kini sedikit kotor oleh rumput. Di sampingnya, Aiden sedang serius memegang obeng kecil, mencoba memperbaiki bagian roda pada robot penj
Pintu kamar penthouse mewah itu tertutup dengan debuman halus yang seolah memutus seluruh hubungan mereka dengan dunia luar.Di dalam ruangan luas yang kini telah disulap menjadi kamar pengantin, aroma lilin aromaterapi beraroma sandalwood dan mawar merah merebak, menciptakan suasana yang intim sekaligus menggoda.Kelopak bunga mawar merah berceceran di atas lantai marmer hingga menuju ranjang king size yang sudah dihias dengan sprei sutra berwarna putih bersih.Namun, perhatian Liam tidak tertuju pada dekorasi mahal tersebut. Matanya terkunci sepenuhnya pada sosok wanita yang kini resmi menyandang namanya.Aleena berdiri di tengah ruangan, membelakangi Liam, mencoba melepaskan kancing-kancing rumit pada bagian punggung gaun pengantinnya dengan jemari yang gemetar.Tanpa suara, Liam melangkah mendekat. Bayangannya yang besar menyelimuti tubuh mungil Aleena.Ia menyingkirkan jemari Aleena yang kikuk, menggantikannya dengan tangannya yang besar dan hangat. Satu per satu, kancing itu ter
Pagi itu, kediaman keluarga Liam dan Aleena tidak dipenuhi oleh hiruk-pikuk ratusan tamu atau deru musik yang memekakkan telinga.Sesuai keinginan mereka, pernikahan ini dirancang sebagai sebuah oase ketenangan, sebuah upacara sakral yang hanya disaksikan oleh mereka yang benar-benar memahami beratnya perjuangan dua jiwa ini untuk kembali bersatu.Udara musim semi yang sejuk merayap masuk melalui jendela besar kapel privat di pinggiran kota, membawa aroma rumput basah dan bunga melati yang baru saja mekar.Di ruang rias, Aleena duduk diam di depan cermin besar berbingkai emas. Jenny, sahabat setianya sejak masa-masa tersulit, berdiri di belakangnya sambil memegang sisir berlapis mutiara. Jenny tidak bisa menahan senyum haru yang terus mengembang di bibirnya.“Kau terlihat sangat bercahaya, Aleena. Bukan hanya karena riasan ini, tapi karena matamu akhirnya menemukan kembali binar yang hilang tujuh tahun lalu,” bisik Jenny lembut.Aleena menatap pantulannya. Tata riasnya sengaja dibuat
Layar ponsel di genggaman Aleena seolah membakar telapak tangannya. Pesan-pesan John bukan sekadar ancaman bunuh diri; itu adalah jerat emosional yang dirancang untuk menariknya kembali ke dalam pusaran kegelapan.Namun, Aleena tidak sadar bahwa Liam, dengan ketajaman instingnya yang telah terasah di dunia bisnis yang kejam, sudah memperhatikan perubahan drastis pada raut wajah tunangannya sejak di dalam butik.Begitu mereka masuk ke dalam mobil, Liam tidak langsung menjalankan mesin. Ia meraih ponsel Aleena dengan gerakan yang tenang namun tak bisa dibantah. Matanya menyapu barisan teks penuh kegilaan dari John.Rahang Liam mengeras, urat-urat di lehernya menegang, namun ia tidak meledak. Ia justru memberikan ponsel itu kepada Rendra yang duduk di kursi kemudi.“Bawa Mami pulang. Pastikan dia tidak keluar rumah dan jaga anak-anak dengan ketat,” perintah Liam, suaranya sedingin es di kutub utara.“Liam, apa yang akan kau lakukan? Dia bilang dia akan...” suara Aleena bergetar, ia menco
Pagi itu, mentari bersinar hangat di ufuk timur, menyelimuti kota dengan sinar keemasannya.Aleena sudah terbiasa dengan rutinitasnya setiap pagi—menyiapkan sarapan, memastikan kedua anaknya mengenakan seragam dengan rapi, lalu mengantarkan mereka ke sekolah.Hari ini pun, seperti biasa, ia menurun
Tujuh tahun kemudian ….Angin sore berhembus lembut, mengibarkan beberapa helai rambut Aleena yang tergerai di bahunya. Matanya berbinar penuh kehangatan saat melihat kedua buah hatinya berlari kecil mendekat dengan seragam sekolah mereka yang masih rapi. Meski lelah mengurus restoran yang telah
“Jadi, ini alasanmu batal menikahiku, Liam?" tanya Aleena dengan suara bergetar, matanya yang sendu menatap tajam ke arah pria yang pernah ia percayai sepenuh hati.Ia tak tahu lagi harus berkata apa selain itu. Rasa kecewa, marah, dan sakit hati bercampur aduk dalam dadanya.Liam tidak segera menj
"Aku tidak bisa menikahimu. Jadi, jangan memintaku untuk bertanggung jawab atas kehamilanmu, Aleena."Bagai petir di siang bolong, kata-kata itu menghantam Aleena tanpa ampun.Dunianya yang semula berputar dalam keyakinan bahwa pria yang dicintainya akan bertanggung jawab, seketika runtuh menjadi k







