Compartir

Bab 136

Autor: Rizu Key
last update Fecha de publicación: 2026-03-05 23:20:53

Aya segera duduk dengan patuh di samping suaminya. Sementara Ibra mulai membuka kotak bekal itu. Aroma masakan yang masih hangat pun menguar di udara.

"Nasi goreng?" tanya Ibra.

"Ya. Aku yang membuatnya sebelum menjemput Putra. Kenapa?" Aya balas bertanya.

Ibra menggeleng pelan. "Nggak...."

"Tenang saja. Nggak ada bawangnya. Aku yang pastikan itu dan rasanya juga enak," jelas Aya sembari menyerahkan sendok dan garpu pada suaminya.

Ibra diam. Presdir sepertinya tidak biasa makan makanan seperti
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 263

    Ibra berpamitan dengan Aya. Pria itu mencium kening Aya lalu beralih mencium bibirnya yang menggoda. Hal itu membuat Putra menutupi matanya sambil tertawa. "Ih, Ayah! Ciumnya di depan anak kecil," kekeh Putra sembari berjalan lebih dulu.Aya memalingkan mukanya yang mulai memerah. Ibra hanya tersenyum. "Itu karena Ayah sayang sama Bunda."Setelah berpamitan, mereka berdua pun berangkat. Riuh rendah tawa di pagi itu seolah menyapu sisa-sisa keganjilan di hati Aya semalam, meski jauh di lubuk hatinya, rasa sedikit kecewa itu tetap ada.*Setibanya di kantor, Ibra disambut oleh tumpukan dokumen proyek baru. Pembangunan kompleks hijau di pusat kota menjadi fokus utamanya tahun ini. Namun, meski matanya menatap dokumen itu, pikirannya sesekali melayang pada percakapan dengan pengacaranya beberapa hari lalu mengenai perkembangan kasus Hengki yang telah tertangkap.Saat itu juga, Samuel masuk membawakan dokumen berisi laporan perkembangan awal proyek yang telah mereka patenkan. Proyek yang

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 262

    Napas Ibra masih memburu di ceruk leher Aya. Aroma sabun miliknya yang samar bercampur dengan wangi khas tubuh istrinya menjadi candu yang menenangkan gairah yang baru saja mereda. Ibra mengecup bahu Aya dengan lembut, sebuah bentuk terima kasih dan permintaan maaf yang tidak terucap darinya.Namun, di bawah dekapan hangat itu, Aya masih terdiam. Matanya menatap langit-langit kamar yang terang benderang. Ada rasa hangat yang tertinggal di paha bagian dalamnya, namun ada kekosongan yang menyesak di pusat intinya. Ia merasa dicintai, tapi juga merasa seolah ada dinding penghalang yang dibangun Ibra karena ketakutan pria itu.'Kenapa dia?' Aya masih bertanya dalam hati."Terima kasih, Aya," bisik Ibra kemudian seraya menarik selimut untuk menutupi tubuh polos istrinya. Ia kemudian mengecup kening Aya cukup lama. "Tidurlah. Kamu pasti lelah."Aya hanya mengangguk kecil, memaksakan senyum tipis yang tidak sampai ke mata. Ia ingin bertanya mengapa Ibra tidak mau menyentuh

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 261 (18+)

    "Mas?" Aya kembali memanggil suaminya yang masih diam.Mata Ibra pun bergerak turun ke arah perut Aya yang bulat sempurna. Di mana ada kehidupan lain di dalamnya yang selalu bergerak pelan memamerkan keberadaannya di sana.Ibra menggeleng pelan, tangannya yang tadi aktif kini mengepal di sisi tubuh Aya. "Aku... aku takut, Aya. Bagaimana kalau aku menyakiti kalian? Dokter memang bilang aman, tapi melihat perutmu seperti ini... aku merasa seperti monster jika memaksakan diri," bisiknya.Tangan itu kemudian menjauh. Ibra menariknya. Ia hendak bangkit, bermaksud untuk pergi ke kamar mandi lagi, mungkin untuk melakukan 'permainan' yang sempat dipergoki Aya. Namun, sebelum ia sempat menjauh, tangan ramping Aya menahan lengannya dengan kuat."Mas!" Aya memanggil. Ibra pun terdiam karena genggaman yang cukup kuat itu berhasil menahannya. Lalu ia perlahan mengangkat tangannya yang bebas, berniat menepis pelan genggaman tangan Aya."Jangan pergi," pinta Aya tegas. Wanita i

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 260

    Perjalanan pulang dari rumah sakit terasa lebih singkat dari biasanya bagi Ibra. Meski Samuel sesekali melirik dari spion tengah dengan tatapan penuh tanya, Ibra tidak peduli.Dunianya saat ini hanya berputar pada jemari Aya yang bertautan erat dengan tangannya di atas pangkuan Ibra. Ada semburat kebahagiaan yang tidak bisa ia sembunyikan, sebuah kelegaan yang seolah mengangkat beban berat berton-ton dari pundaknya.Kedua orang itu memilih diam, terutama Aya yang menahan malu di hadapan suaminya sendiri. Lalu wanita itu menyadari sesuatu dan menoleh menatap wajah Ibra yang masih tersenyum senang."Mas, seharusnya bukan aku yang malu, tapi kamu...." bisiknya Aya sembari mengerutkan keningnya saat menatap Ibra.Ibra membalas tatapan sang istri dengan senyuman lebar lalu mendekatinya. "Aku sudah bersembunyi, kamu sendiri yang malah mendengarnya. Itu salahmu karena kamu terlalu menggoda...." balasnya dengan berbisik.Wajah Aya kembali merah padam dan wanita itu pun m

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 259

    Hening.Satu detik...Dua detik...Ibra yang tadinya duduk tegak dengan wajah datarnya, seketika mematung. Matanya melebar, menatap Aya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia seolah baru saja disambar petir di siang bolong. Kaget mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh sang istri.Wajah pria yang biasanya dingin dan tak tergoyahkan itu perlahan-lahan berubah warna menjadi merah padam. Mulai dari telinga hingga ke lehernya. Sementara wajah Aya juga tak kalah merahnya."Eummm... Saya hanya ingin tahu, Dokter. Dan... apakah ada posisi yang... tidak membahayakan bagi janin?" Aya kembali mengajukan pertanyaan dengan malu-malu.Dokter Anis terkekeh pelan, menyadari ketegangan di antara pasangan suami istri di depannya. Ibra yang biasanya bisa menahan ekspresi datarnya, kini juga malu di hadapan sang dokter kandungan."Oh... pertanyaan ini sangat bagus dan sangat manusiawi kok, Bu Aya," ucap dokter Anis dengan nada santai untuk mencairkan suasana. Tak lupa wanita paruh baya itu memasang

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 258

    "Astaga, Mas. Aku baik-baik saja. Lihat, aku sehat, nggak ada yang sakit," ucap Aya sembari tersenyum kecil, meski hatinya sebenarnya merasa sangat malu."Duduk dulu, Mas. Tarik napas... Kasihan Samuel juga itu di depan sampai pucat." Aya menunjuk ke arah pintu.Ibra menoleh sekilas ke arah Samuel, lalu memberikan kode agar asistennya itu menunggu di mobil saja. Setelah Samuel pergi, Ibra duduk di samping Aya, masih dengan napas yang belum sepenuhnya teratur.Aya menuntun tangan Ibra untuk mengusap perutnya. "Rasakan, Mas. Anak kita sedang tenang. Dia nggak papa."Ibra memejamkan mata saat telapak tangannya yang besar menyentuh permukaan perut Aya yang keras dan hangat. Perlahan, detak jantungnya yang menggila mulai melambat.Ibra menatap wajah Aya. Pria itu menatap ketenangan di wajah istrinya. Aya masih tampak segar dan baik-baik saja. Tidak menunjukkan adanya tanda kesakitan."Beneran?" tanya pria itu masih tak percaya.Aya mengangguk. "Iya, Mas. Aku dan anak kita baik-baik saja."

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 52

    Aya mengamati penampilan anaknya. Putra telihat bersinar. Tubuhnya bersih dan pakaiannya mahal. Bocah itu pun terlihat mengusap air matanya karena menahan rindu pada sang ibu."Bunda...." isak Putra.Tangan Aya terjulur mengusap pipi Putra dengan lembut. Lalu wanita itu memeriksa anaknya lagi. "Man

    last updateÚltima actualización : 2026-03-22
  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 53

    Ibra tersadar. Pria itu menatap anaknya yang kembali lengket dengan ibu kandungnya. Vonis mandul yang ia derita nyatanya salah. Namun hal penting yang harus ia sadari adalah bahwa hanya Aya yang bisa membuatnya menjadi pria normal."Presdir?" panggil Putra lagi. Bocah itu menunggu jawaban darinya.

    last updateÚltima actualización : 2026-03-22
  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 48

    Samuel menutup ponselnya dengan tangan gemetar. Ia menarik napas panjang, mencoba menata wajahnya sebelum kembali masuk ke dalam ruang perawatan. Di dalam sana, Aya sudah berdiri tegak, meski wajahnya masih pucat."Pak Sam, saya sudah selesai. Tolong, antar saya ke rumah Pak Ibra sekarang," pinta A

    last updateÚltima actualización : 2026-03-21
  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 49

    Kata-kata Putra seolah menampar Ibra dengan tamparan tak kasat mata namun begitu keras. Pria itu diam karena memang ia tak hadir dan ikut merawat anak laki-lakinya itu.Tak lama kemudian, beberapa pelayan lain masuk membawa belasan tas belanja bermerek. Isinya adalah pakaian anak-anak dari bahan su

    last updateÚltima actualización : 2026-03-21
Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status