LOGINKonferensi pers berlangsung dengan cukup singkat. Ibra memberikan kejelasan pada para wartawan dan orang-orang yang bekerja sama dengan perusahannya.Semua orang yang terlibat pun mulai tenang. Mereka segera membubarkan diri setelah konferensi pers usai. Dan Aya serta Ibra, kembali ke ruangan mereka.Ibra menyesap teh madu hangatnya yang bisa menenangkan perutnya yang kembali bergejolak akibat stres dan juga Cauvade Syndrom yang diderita.Tak lama kemudian, Samuel menyusul dan ikut masuk ke dalam ruangan sang Presdir. Ia tak lupa membawa tabletnya dan berjalan mendekati sofa di mana sang Presdir dan istrinya sedang duduk bersama."Bagaimana?" tanya Ibra. Wajahnya sedikit lebih tenang setelah meminum teh madunya."Satu-satunya petunjuk adalah OB itu, Pak. Kami sedang memulihkan CCTV yang dirusak," papar Samuel dengan wajah tegang.Ibra menoleh menatap istrinya. Tangannya menggenggam tangan Aya dengan lembut. "Aku pergi dulu. Kamu harus tetap hati-hati," ujarnya.Aya mengangguk paham. "
Suasana di ruang rapat eksekutif sangat mencekam. Ibra duduk di kursi pimpinan. Matanya yang tajam menatap satu per satu bawahannya. Sementara Aya duduk di sampingnya, berusaha tetap tenang meski tangannya dingin."Saya membayar kalian mahal untuk bekerja dengan baik di perusahaan ini!" Suara Ibra menggelegar, memecah kesunyian. "Bagaimana bisa data enkripsi khusus bisa tercolok ke server tanpa ada peringatan dari tim keamanan?"Kepala IT menunduk dalam mendengar kalimat tersebut. "Maaf, Pak, akses itu dilakukan menggunakan ID yang sah, namun dilakukan pada jam istirahat saat pergantian shift penjaga. Kami sedang melacak terminal mana yang digunakan," cicitnya.Aya angkat bicara, suaranya berusaha mengimbangi kemarahan Ibra dengan logika. Tangannya yang dingin pun menggenggam erat tangan suaminya yang panas. Sedangkan tatapannya lurus ke depan."Siapa pun pelakunya, dia tahu persis celah waktu kita. Dia bukan orang asing. Kemungkinan besar dia orang dalam yang tahu tentang kerjasama k
"Ada apa, Sam? Bicara yang jelas," ucap Ibra sembari mengerutkan kening lalu meletakkan bolpoinnya."Server pusat kita lumpuh, Pak. Dan bukan hanya itu... bocoran data mengenai kontrak rahasia kita dengan perusahaan asing untuk proyek pelabuhan baru saja diunggah ke situs anonim. Semua angka, semua mark-up yang sebenarnya adalah biaya operasional legal, dipelintir seolah-olah kita melakukan penyuapan," jelas Samuel dengan wajah panik yang begitu kontras dengan ekspresi tenangnya yang biasa.Ibra berdiri dengan sentakan keras, hampir menyenggol Aya yang duduk di sampingnya. Namun beruntung pria itu berhasil menahan tubuh istrinya agar tidak jatuh."Apa?! Siapa yang melakukannya? Sistem keamanan kita ini berlapis!""Se-seseorang masuk menggunakan akses fisik, Pak. Menurut laporan bukan peretasan dari luar. Seseorang mengambil kunci enkripsi langsung dari terminal pusat," jelas Samuel.Belum sempat Ibra membalas, pintu ruangan terbuka lagi. Sinta masuk dengan wajah yang sama paniknya. Ia
Timo melangkah keluar dari lobi gedung Bagaskara Group dengan langkah yang diatur sedemikian rupa agar terlihat tenang namun tetap profesional. Di tangannya, seberkas dokumen tebal menjadi tameng yang sempurna. Siapa pun yang melihatnya hanya akan menyangka ia adalah karyawan biasa yang sedang menjalankan tugas remeh seperti memfotokopi berkas karena mesin di kantor sedang rusak.Namun, di balik lapisan kain jasnya, sebuah flashdisk hitam itu terasa seperti bara api yang membakar kulitnya. Benda kecil itu adalah kunci keruntuhan perusahaan besar yang selama ini menjadi tempat dirinya bekerja, namun juga sebagai tempat di mana para senior dan rekannya meremehkan dirinya selama ini.[Nona, saya OTW ke cafe.]Sebelum menyalakan mesin motornya, Timo mengirimkan sebuah pesan. [Nona Bea: Aku sudah menunggumu.]Timo segera menyimpan dokumen di dalam tas ranselnya. Lalu memacu motor maticnya menuju sebuah kafe yang terletak hanya beberapa blok dari kantor utama.Di
"Syukurlah...."Aya tersenyum puas, ada binar kemenangan di matanya. "Mas tadi harusnya lihat ekspresi mereka waktu aku beri mereka dua pilihan, mau kembali bekerja dengan gaji yang sekarang, atau silakan berhenti dan menyerahkan kembali seragam mereka ke HRD. Mereka bubar dalam waktu kurang dari lima menit."Ibra menatap istrinya dalam diam. Ada kilat kekaguman yang ia simpan rapat-rapat di balik wajah datarnya yang dingin. Ia selalu tahu Aya adalah wanita yang cerdas, namun melihat bagaimana istrinya menangani krisis internal perusahaan dengan ketegasan yang dibalut kelembutan tetap membuatnya terkesan."Begitu?" Ibra berkomentar singkat, mencoba menjaga nada suaranya agar tetap netral. "Baguslah kalau sudah selesai. Setidaknya mereka tahu perbedaan posisi mereka dan kamu.""Ya. Dan posisi istri Presdir tidaklah buruk," sahut Aya sembari tersenyum. Ekspresi berbinar Aya mirip dengan Putra yang menggemaskan.Ibra kemudian mencium kening istrinya. Seolah memberik
Ibra kembali ke kantor setelah kekacauan kecil itu berhasil diselesaikan oleh Aya. Mereka berpapasan di lift, tepat ketika Aya menelan tombol pintu lift pada lantai 15."Kamu kenapa di sini?" tanya Ibra yang saat itu berdiri di depan Samuel.Aya tersenyum lalu segera melangkah masuk bersama asisten wanita yang sejak tadi menemaninya."Nggak papa. Aku hanya... sedang jalan-jalan. Iya, kan, Sinta?" jawab Aya sembari meminta dukungan dari asistennya."I-iya, Pak," jawab Sinta gugup.Aya segera melangkah masuk saat Ibra mengulurkan tangan kanannya. Pria itu menarik lembut sang istri dan memeluk pinggangnya. Sementara Sinta dan Samuel memilih berdiri di belakang mereka dengan saling melempar pandang, menyaksikan adegan hangat sang Presdir dingin yang dapat dinikmati secara langsung.Saat pintu lift tertutup, Aya menyadari sesuatu ketika ia mendongak menatap wajah suaminya. Wajah tampan Ibra, tampak pucat."Mas kenapa?" bisik Aya.Ibra menggeleng pelan. "Ng
Sesampainya di kediaman mewah Ibra, pria itu menarik Aya masuk menuju ruang kerja pribadinya. Ia membanting pintu dengan keras hingga menimbulkan suara dentuman yang menggema."Jadi itu alasanmu ingin pergi menemui 'sahabat' mu sendiri?" Ibra berbalik, menatap Aya dengan amarah yang meledak. "Untuk
"Hentikan...." ucap Aya merasa kegelian.Tangan besar Ibra kini bergerak membelai dadanya. Menarik tangan Aya agar tak menutupi dada sintal itu. Lalu menarik tubuh Aya ke dalam pelukannya. Membuat Aya dapat merasakan debaran jantung Ibra yang menempel punggung."Aku ingin melakukannya sekarang," bi
Terdengar helaan napas berat di belakang tubuh Aya. Wanita itu merasa takut. Ia takut pertanyaannya memancing emosi sang Presdir dan membuatnya tersiksa dengan percintaan kasar seperti beberapa waktu yang lalu."Ya," jawab Ibra. "Memang begitu. Di setiap generasi di keluargaku hanya akan terlahir s
Ibra kembali menarik napas. "Aku akan menyuruh sopir mengantarmu. Dia akan menunggumu sampai selesai dan membawamu pulang tepat waktu. Jangan mencoba melakukan hal bodoh," ucapnya dengan nada peringatan yang tegas.Aya hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang lebih mirip sindiran. "Aku tidak akan







