로그인Unggahan Aya dalam sekejap menjadi viral. Kejujuran, ketenangan, dan ketegaran respons dari istri Presdir Bagaskara Group itu mulai membalikkan simpati publik. Tak sedikit dari para netizen yang mulai mempertanyakan kebenaran berita yang beredar dan mengutuk tindakan keji peretasan data pribadi seseorang."Gimana, Bunda?" tanya Putra penasaran.Aya menilik kembali ponselnya di mana sudah ada banyak notifikasi yang masuk. "Banyak yang komentar. Biarkan saja."Dengan sengaja Aya mematikan notifikasi pada akun sosial medianya itu. Ia tak mau tidur anaknya terganggu. Namun wanita itu tetap memantau apa yang terjadi di sana.*Sore harinya, Ibra melangkah keluar dari gedung kantor menuju area konferensi pers yang telah disiapkan secara mendadak di lobi utama kantor Bagaskara Group. Puluhan kilatan lampu kamera langsung menyambut kehadiran sang Presdir.Para petugas keamanan menjaganya dengan ketat. Sementara beberapa wartawan mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tidak sopan lagi.Na
Sementara rapat di kantor pusat berlangsung tegang, kondisi di rumah kediaman Ibra masih mendapat pengawasan dari luar. Beberapa mobil wartawan tampak terparkir di pinggir jalan luar kompleks perumahan, berusaha mencari celah untuk mengambil foto atau mendapatkan wawancara dari sang Nyonya Rumah.Di dalam kamar utama, Aya duduk di tepi ranjang. Ia mengelus lembut pipi Putri yang sedang tertidur pulas dalam dekapannya. Hatinya masih terasa sesak bila mengingat betapa kejamnya komentar orang-orang di luar sana. Namun, Aya sadar bahwa meratapi nasib tidak akan menyelesaikan apa pun. Ia adalah istri Ibra Bagaskara, wanita yang telah merasakan beratnya kehidupan sebelumnya.Tok tok tokTiba-tiba pintu kamar diketuk pelan."Bunda?" panggil Putra tepat dari ddepan pintu."Masuklah, Sayang," sahut Aya sedikit berteriak.Pintu terbuka perlahan. Lalu bocah tampan itu berjalan masuk ke dalam kamar kedua orang tuanya. Ia melangkah mendekati ranjang di mana ibu dan adiknya berada. Lalu langkahnya
"Pak Ibra! Apakah benar berita mengenai kemandulan Anda?""Bagaimana nasib kelanjutan Bagaskara Group jika Anda tidak memiliki pewaris yang sah?""Apakah kedua anak Anda adalah hasil dari program rekayasa atau anak dari pria lain?"Pertanyaan-pertanyaan provokatif dan menyakitkan itu terlontar dari mulut para awak media saat Ibra melangkah keluar dari mobil. Wajah Ibra datar dan dingin seperti es, matanya menatap lurus ke depan tanpa memberikan tanggapan sedikit pun.Pria itu mengenakan setelan jas hitam yang rapi. Langkah kakinya tetap tegap dan berwibawa, meski di dalam hatinya gejolak amarah membakar seluruh ketenangannya. Baginya, siapa pun yang mengganggu ketenangan dan membuat Aya bersedih adalah musuhnya."Pak Ibra, tolong jawab pertanyaan kami, Pak!" seru salah seorang wartawan yang terdengar mendesak dan terus mengejar sang Presdir.Ibra tak mengindahkannya. Samuel dan beberapa petugas keamanan dengan ketat menghalangi saat mereka mendekat."Tolong mundur!" tegas Samuel denga
"Amplop itu...." gumam Ibra tiba-tiba. Matanya langsung tertuju pada dokumen medis yang semalam ia letakkan di atas nakas.Ia memang baru saja memeriksa kesehatannya kembali secara menyeluruh, dan hasil analisisnya menyatakan bahwa ia telah sembuh total. Namun, rekam medis yang dibocorkan ke publik adalah data lama yang dimanipulasi sedemikian rupa untuk menciptakan kesan bahwa dirinya mandul secara permanen.Ibra kembali mengambil ponselnya di tangan sang istri. Dengan wajah marahnya, ia kembali menghubungi Samuel."Sam, selidiki siapa saja yang kemarin ada di rumah sakit! Selidiki juga Dokter Rian dan staf yang bekerja di sana tanpa kecuali!" perintahnya dengan tegas."Baik, Pak," sahut Samuel menyanggupi.Panggilan kembali berakhir. Namun ponsel Ibra terus-menerus berdering tanpa henti. Bahkan kini ponsel Aya pun ikut berdering dan kali ini panggilan dari sahabatnya, Gina."Halo, Gin.""Aya! Kamu baik-baik saja? Kamu jangan lihat berita dulu," ucap Gina terdengar panik.Aya menghel
Pagi berikutnya menyapa kediaman mewah keluarga Bagaskara dengan hangat. Aya terbangun lebih awal, tersenyum melihat Ibra yang masih tertidur pulas di sampingnya dengan wajah yang tampak begitu damai. Kebahagiaan kecil seperti ini adalah hal yang sangat ia syukuri setelah segala badai yang pernah menerpa pernikahan mereka."Aku nggak nyangka kalau Mas yang bakalan gantiin aku merasakan sakitnya melahirkan Putri," bisik Aya sembari mengusap pipi suaminya dengan lembut.Ibra tiba-tiba tersenyum. Hal ini membuat Aya salah tingkah karena merasa tertangkap basah oleh suaminya. Saat Aya menarik tangannya menjauh, Ibra menahannya dengan genggaman hangat namun cukup kuat untuk menahannya."Kenapa berhenti mengelus pipiku?" tanya pria itu sembari membuka kedua matanya yang masih sayu.Aya ikut tersenyum. "Udah pagi, Mas. Ayo bangun. Mas kan harus siap-siap kerja," sahutnya."Sebentar." Ibra tiba-tiba menarik tubuh ramping sang istri dan memeluknya. Ia menghirup aroma harum lembut Aya yang sang
"Mas Ibra, tunggu dulu!" tegur Aya dengan bisikan sembari menatap tajam namun tegas ke arah suaminya.Ibra menghentikan tangannya di udara dengan sedikit terkejut. "Kenapa, Sayang?""Ganti baju dulu, mandi, terus cuci tangan yang bersih pakai sabun sebelum menyentuh Putri," ujar Aya memberi instruksi. "Mas kan baru dari luar, habis dari rumah sakit juga. Pasti banyak kuman dan bakteri. Putri masih sensitif banget kulitnya, nanti bisa kena debu atau iritasi kalau sembarangan disentuh."Ibra terpaku sejenak sebelum akhirnya terkekeh pelan. Sifat protektif istrinya terhadap kebersihan anak-anak memang tak pernah berkurang. Pria perfeksionis itu akhirnya harus mengakui ketelitian sang istri yang lagi-lagi lebih baik darinya."Iya, iya, maafkan aku. Aku lupa saking kangennya sama kalian," ujar Ibra mengalah."Kangen sih kangen, tapi tetap harus jaga kebersihan," tegas Aya.Ibra memandangi wajah lembut istrinya dan bayi mungil cantik yang tertidur makin lelap dalam dekapan sang ibu. Kehanga







