Share

Bab 142

Author: Rizu Key
last update publish date: 2026-03-09 21:01:57

Kembali lagi ke mall di mana Dewi masih sibuk mengajak Aya berbelanja dan kali ini mereka mencari sepatu. Meski senang, wanita paruh baya itu menggandeng lengan Aya seolah takut menantunya itu akan hilang tertiup angin.

"Mah, ini bukannya terlalu banyak?" tanya Aya ragu saat melihat asisten toko membawa beberapa pasang sepatu di hadapannya.

"Sedikit pun nggak, Sayang," sahut Dewi tegas sambil memegang sebuah flat shoes bertabur kristal. "Ibra itu memang perhatian, tapi laki-laki tetap
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 202

    Suasana di dalam ruang rapat lantai lima gedung perusahaan Bagaskara Group terasa seperti medan perang yang dingin. Meskipun pendingin ruangan diatur pada suhu 22 derajat celsius, keringat dingin tampak mengintip di pelipis beberapa orang.Meja jati panjang yang mengilap di tengah ruangan seolah menjadi pembatas antara dua kubu yang sedang menimbang nasib. Sebagian dari mereka yang ingin melangkah maju demi keuntungan besar, dan satu kubu yang masih meragukan Bagaskara Group karena insiden yang menghebohkan beberapa waktu yang lalu.Ibra duduk di kursi kebesarannya, posisi punggungnya tegak, menunjukkan kekuasaan yang tak tergoyahkan. Di sebelah kanannya, Samuel, asisten kepercayaannya, telah menyiapkan setumpuk dokumen digital yang terpampang jelas di layar proyektor besar.Di dalam ruang itu, suasana terasa formal dan sedikit lebih tegang meski yang hadir adalah orang-orang yang sudah lama bekerja sama dengan Ibra. Ada beberapa direktur dari perusahaan rekanan yang cukup dekat secar

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 201

    Gedung pencakar langit berlogo Bagaskara Group itu tampak jauh lebih hidup hari ini. Setelah berhasil menangani masalah kebocoran data, hari ini adalah hari penting bagi perusahaan Ibra untuk kembali mendapatkan kepercayaan dari mitranya.Setelah menikmati waktu liburan tiga hari dua malam, Ibra kembali ke kursi kebesarannya. Ia sedang duduk di kursi kerja sembari memeriksa beberapa dokumen penting yang diserahkan oleh Samuel.Siang itu Ibra sedang menatap tumpukan laporan keuangan saat pintu ruangannya diketuk pelan kemudian terbuka perlahan. Ia tidak perlu bertanya siapa itu. Dari aroma parfum bunga yang lembut selalu mendahului langkahnya."Mas Ibra?" Sapaan lembut terdengar dari ambang pintu.Ibra langsung mendongak. Wajah yang tadinya kaku karena angka-angka, mendadak melembut dengan senyuman. Di ambang pintu, Aya berdiri dengan balutan dress sutera untuk ibu hamil berwarna pastel yang longgar namun tetap memancarkan keanggunan. Di tangannya, sebuah tas bekal tersampir."Aya? Kam

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 200

    "Sayang?" panggil Gina lembut."Hm?"Gina mengendurkan pelukannya dan mendongak menatap wajah pucat sang kekasih. Meski pucat, wajah Niko cukup tampan dengan alis tebal dan hidung yang mancung. Rahang tegasnya pun menambah ketampanannya yang memiliki sisi imut."Apa ada masalah? Sebenarnya Mas tadi mau minta tolong apa sama Putra?" tanya Gina sembari menatap wajah Niko.Pria itu diam sebentar. Lalu ia menarik pinggang Gina ke dalam pelukannya. "Kita makan, yuk? Aku sudah lapar," ajaknya. Pria itu sengaja mengalihkan pembicaraan.Gina pun tak berani bertanya lagi. Mereka akhirnya masuk ke dalam vila untuk makan pagi bersama.*Di sisi lain, sekitar pukul delapan, Ibra, Aya, dan Putra kembali ke vila mereka. Tina sudah menyiapkan buah-buahan segar di meja ruang tengah. Putra yang kelelahan tapi juga kekenyangan, segera merangkak ke sofa dan tertidur pulas dengan sekumpulan kerang yang masih dalam genggaman."Ya ampun, dia ketiduran," gumam Aya sembari mendekati anaknya."Biarkan saja."

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 199

    "Minta tolong apa, Om?" tanya Putra sembari memiringkan sedikit kepalanya. Menatap Niko dengan keheranan yang polos. Kedua tangannya pun menggenggam ujung kaosnya agar kerang yang telah terkumpul tidak jatuh.Niko menarik tangannya. Pria itu menunduk dalam. Gina pun mendekatinya dan mengusap punggung pria itu. Ia ikut berjongkok."Om Niko kenapa?" tanya Putra polos."Om nggak papa," jawab Niko sembari menegakkan kepalanya menatap Putra."Putra!" seruan Aya terdengar memanggil anaknya.Putra menoleh menatap sang ibu yang memanggilnya. "Om, Tante... Bundaku manggil. Om mau minta tolong apa? Bilang aja," ujarnya.Niko menggeleng pelan. "Nggak jadi, Putra. Om cuma mau minta tolong supaya Putra jadi anak yang hebat," jawabnya."Masa begitu, Om?" tanya Putra heran.Niko mengangguk. "Iya."Bocah itu diam sejenak. "Oke, deh. Kalau gitu Putra mau balik ke Ayah sama Bunda, ya? Makasih udah kasih tahu tempat kerang sebanyak ini," ucapnya.Gina mengusap k

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 198

    Pagi kedua dimulai dengan jalan-jalan santai di sepanjang garis pantai saat matahari terbit. Ibra menggendong Putra di pundaknya, sementara tangannya yang lain menuntun Aya dengan lembut."Ayah, Bunda, lihat burung itu!" tunjuk Putra pada sekelompok camar yang terbang rendah.Dunia terasa sangat sempurna bagi mereka bertiga saat itu. Tidak ada Beatrice, tidak ada pengkhianatan bisnis, dan tidak ada ketegangan yang menyesakkan. Hanya ada suara tawa anak mereka dan janji masa depan yang lebih baik dan lebih aman."Ya. Itu namanya burung camar," sahut Ibra sembari tersenyum.Udara pagi di pesisir pantai itu terasa begitu sejuk, membawa aroma garam yang segar dan sisa-sisa embun yang perlahan menguap disapu sinar matahari yang bersinar keemasan.Ibra, dengan kaos polo putih yang santai, sesekali tertawa kecil menanggapi celotehan Putra yang masih betah bertengger di pundaknya. Aya berjalan di samping mereka, gaun pantai berbahan linen yang ia kenakan berkibar lembut

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 197

    "Sebenarnya... Tuan menggunakan dana pribadinya untuk penyelidikan ini. Dan jumlahnya tidak main-main, Nyonya. Tuan mengerahkan semuanya demi menangkap dalang yang mendukung Beatrice. Apa lagi seperti yang kita tahu, dalang itu pasti memiliki latar belakang yang tidak biasa...." papar Santo sembari berbisik.Aya mengernyitkan dahi. "Begitu, ya?" gumamnya. Wanita itu merasa khawatir pada suaminya. Apa lagi dalang utama belum kunjung ditemukan.*Malam harinya, Bi Tina menyiapkan makan malam seafood bakar di teras villa. Angin malam pun berembus sejuk."Bagaimana perasaanmu? Anak kita tidak rewel, kan?" tanya Ibra sambil menyuapkan sepotong udang ke mulut Aya. Sementara pria itu pakai masker."Dia sangat tenang di sini. Sepertinya dia juga suka suara ombak. Apa lagi tadi aku mewakilinya melihat ayahnya buat istana pasir," jawab Aya dengan senyuman manis.Ibra hanya tersenyum di balik maskernya. "Udah buka aja maskernya, Mas. Ini nggak ada bawang sama sekali," bujuk Aya. Ibra terlihat

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 85

    "Ah, maaf...." cicit Aya yang tersadar akan tindakannya. Wanita itu menegakkan badannya dan melepaskan genggaman tangannya.Ibra hanya diam dengan ekspresi datar. Membuat suasana semakin canggung. Aya cepat-cepat menoleh ke jendela dan membiarkan dirinya memandangi lampu jalanan yang mulai menyala.

    last updateLast Updated : 2026-03-26
  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 76 (18+)

    Aya memejamkan mata. "Nggak... Kita sudah pernah ke sini lagi, kan?" Ia menoleh menatap Ibra."Hm." Ibra memutar tubuhnya menghadap Aya. "Dan malam itu adalah malam pertama bagi kita berdua. Aku memberimu uang itu, dan kamu memberiku malam yang tidak pernah bisa kulupakan...."Aya membulatkan kedua

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 79

    "Apa ini?" tanya Ibra."Putra juga nggak tahu. Nanti minta tolong kasihin ke Bunda, ya, Yah?" jawab Putra."Memangnya bukan dari kamu?"Putra menggeleng pelan. "Bukan, Ayah. Ini hadiah dari Om Hendra."Ibra menatap hadiah kecil yang muat dalam genggaman tangannya itu dengan tatapa

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 77

    Terdengar helaan napas berat di belakang tubuh Aya. Wanita itu merasa takut. Ia takut pertanyaannya memancing emosi sang Presdir dan membuatnya tersiksa dengan percintaan kasar seperti beberapa waktu yang lalu."Ya," jawab Ibra. "Memang begitu. Di setiap generasi di keluargaku hanya akan terlahir s

    last updateLast Updated : 2026-03-25
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status