LOGINGina segera melangkah mendekat. Ia duduk di sisi ranjang, lalu meraih tangan Aya, menggenggamnya erat seolah memberi penopang.
“Aya…” suaranya lembut, tapi serius. “Tadi waktu kamu pingsan, dokter periksa kamu, dan ternyata … kamu hamil.” Kata itu menghantam lebih keras dari yang Aya bayangkan. Wajahnya memucat. Jantungnya berdetak tak karuan. “Ha… hamil?” suaranya nyaris tak keluar. Dugaan yang sejak tadi ia tekan kini menjelma kenyataan. Aya menelan ludah, napasnya bergetar. Gina tak melepas genggaman tangan Aya. Tatapannya tenang, tanpa tuduhan. “Aya… sebenarnya apa yang terjadi sama kamu?” Air mata Aya menggenang. Ia menunduk, bahunya bergetar. “Maaf…,” hanya itu yang sanggup ia ucapkan. “Aku nggak bisa cerita.” Hendra menarik napas dalam, lalu berkata pelan, “Kalau begitu dengarkan aku. Apa pun kondisimu, aku siap tanggung jawab. Aku siap jadi ayah untuk anak itu… dan suami untuk kamu.” Aya mendongak, lalu menggeleng keras. “Mas, nggak,” suaranya bergetar. “Aku nggak pantas buat Mas Hendra. Aku nggak mau Mas Hendra terikat sama hidupku.” “Ini bukan soal pantas atau nggak pantas,” bantah Hendra cepat. “Kamu nggak sendirian, Ay. Kamu hamil. Kamu butuh perlindungan, dan aku memang mencintaimu, Aya.” Gina ikut bicara, nadanya tetap lembut tapi tegas. “Aya, Mas Hendra cuma mau bantu. Dia tulus.” Aya menggeleng lagi, lebih kuat. “Justru karena itu aku nggak bisa,” katanya lirih tapi keras. “Mas Hendra orang baik. Terlalu baik buat hidupku yang berantakan.” “Aya….” Hendra maju selangkah. “Aku nggak merasa dipaksa. Ini pilihanku.” “Tapi aku merasa bersalah,” potong Aya. Matanya basah menatap Hendra. “Aku nggak mau hidup Mas rusak cuma karena aku dan anak ini.” Ruangan itu hening sesaat. Gina menatap Aya dengan mata berkaca-kaca. “Kalau kamu pergi, kamu mau hadapi semuanya sendiri?” Aya menunduk. Tangannya mengepal di atas perutnya. “Iya,” jawabnya pelan. “Itu memang seharusnya aku lakukan.” Hendra terdiam. Rahangnya mengeras, tapi matanya menyimpan kekhawatiran yang tak bisa ia sembunyikan. “Aku akan tetap pergi,” lanjut Aya lirih. “Terima kasih selama ini kalian udah baik sama aku. Maaf aku malah membuat kalian kecewa.” ** Lima tahun berlalu. Setelah kejadian itu, Aya memilih untuk pergi ke kota, hidup seorang diri dengan pekerjaan seadanya. Untuk membiayai kehidupannya dan anaknya yang kini telah menginjak usia 5 tahun, selain dari pekerjaan serabutan, Aya terpaksa menggunakan kartu ATM itu. Selama itu juga, Aya benar-benar memutuskan hubungannya dengan Gina dan Hendra. Ia tak ingin lagi membebani mereka. "Putra, kamu sedang apa?" Waktu berjalan begitu cepat. Putra yang dulu mungil, kini sudah tumbuh menjadi bocah yang tampan, sehat, dan cerdas. Bahkan di usianya yang belum genap lima tahun, dia sudah lancar membaca buku cerita anak-anak dan menghitung angka dengan cepat. Kini, bocah tampan itu akan mulai memasuki Taman Kanak-Kanak. "Bunda, gimana? Bagus nggak seragamnya?" tanya Putra yang saat itu sedang mencoba seragam barunya. Aya diam sejenak. Dia mengamati wajah putranya yang semakin mirip dengan ayah kandungnya. Jelas, Aya masih mengingat baik wajah pria itu. "Bagus. Jadi tambah ganteng anak Bunda," puji Aya sembari tersenyum. "Bunda," panggil Putra lagi sembari mendekati sang ibu dan duduk di sebelahnya. "Iya, Sayang?" Putra menatap ibunya dengan mata bulat penuh rasa ingin tahu. "Kemarin pas daftar sekolah Putra lihat temen-temen diantar ayah mereka,” kata bocah itu dengan polosnya. “Putra juga pengen. Ayah dimana sih, Bunda?” Aya langsung terdiam. Pertanyaan itu akhirnya datang juga. Wanita itu menelan ludahnya. Ia sudah sering membayangkan momen ini, namun tetap saja dadanya terasa sesak saat benar-benar menghadapinya. "Bunda kok nggak jawab?" tanya Putra lagi, masih menatap wajah ibunya dengan penuh tanda tanya. "Kenapa Ayah gak pernah datang?" tambah bocah tampan itu. Aya masih diam. Kecerdasan putranya nyatanya juga bisa menyusahkannya seperti ini. Namun, dia tidak marah pada anak semata wayangnya itu. Justru dia kembali merasa bersalah. “Sayang...." Aya menatap wajah anaknya dengan senyum lembut. “Ayah nggak di sini, dia lagi … jauh. Jadi, putra sama Bunda aja gak apa-apa, ya?” "Jauh di mana?" tanya Putra lagi, mengejar ibunya. “Di tempat yang gak bisa kita datangi," jawab Aya tetap terlihat tenang. Berharap anaknya akan mengerti dan tidak bertanya lagi. Putra terdiam sejenak, lalu mengerutkan kening kecilnya. "Ayah Putra nggak sayang kita ya? Kok Ayah pergi jauh?" Pertanyaan lain justru muncul dan hal itu membuat kedua mata Aya berkaca-kaca. Namun, Aya berusaha menahannya, tidak ingin menjatuhkan air mata di depan anaknya. “Ayah sayang kita. Tapi, Ayah masih ada pekerjaan jadi harus pergi dulu,” alibi Aya akhirnya. Akhirnya, Putra hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya sudah, kalau gitu kita pergi ke sekolah ya supaya nggak terlambat,” kata Aya lagi, mengalihkan pembicaraan. Seketika wajah Putra berubah menjadi lebih antusias, seolah permasalahan sebelumnya telah lenyap begitu saja. “Ayo! Putra nggak sabar mau belajar!” seru bocah itu antusias. Dia langsung meraih tas merah dengan karakter kartun itu dan berlari kecil ke luar rumah. Aya tersenyum sedikit lega, lalu langsung meraih tas kerjanya dan menyusul putranya. Setelah mengantar anaknya, Aya harus langsung pergi ke kantor dan bekerja. Sebulan terakhir, Aya bekerja di sebuah perusahaan yang cukup terkenal, Bagaskara Group. Meskipun hanya berstatus karyawan kontrak di bagian administrasi, tapi Aya itu tidak membuat Aya berkecil hati. Kemampuannya bahkan bisa dibandingkan dengan karyawan senior yang satu divisi dengannya. Dan wanita itu disukai rekan-rekan kerjanya yang merasa tertolong karena kemampuannya. Tak lama setelah Aya tiba di kantor dan fokus pada pekerjaannya, tiba-tiba Bu Vega, manajer senior itu datang dengan wajah kesal. Brak! Bu Vega membanting satu dokumen yang cukup tebal ke meja Aya, membuat wanita itu terkejut seketika. “Kamu kalau gak bisa kerja, lebih baik keluar dari kantor ini!” seru Bu Vega penuh amarah. “M–maaf, Bu. Saya ada salah apa?” tanya Aya ragu. Selama ini, dia selalu mengerjakan semua pekerjaan itu sesuai arahan. “Semua yang kamu masukkan ke berkas laporan itu salah! Kamu tahu apa akibatnya, Aya?!” Bu Vega menatap Aya dengan tajam. “Kantor ini bisa rugi puluhan juta, Aya!” Aya membelalakkan matanya tak percaya. Dia langsung meraih dokumen itu dan mengeceknya dengan teliti. Namun, semua yang tertera di sana benar-benar membuat Aya terperanga. “Bu, ini bukan hasil pekerjaan saya,” kata Aya segera. “Bukan ini yang saya kerjakan.” Aya ingat betul apa yang sudah dia kerjakan, jadi dia tidak mungkin salah. “Kamu mau mengelak? Jelas-jelas ini file yang kamu kasih ke saya,” sinis Bu Vega. “S–Saya bisa buktikan, itu bukan hasil kerja saya.” Aya buru-buru membuka folder dokumen laporan yang ada di laptopnya. Namun, begitu folder itu terbuka, mata Aya semakin terbelalak. “Kenapa kosong?” gumam Aya bingung. Dia buru-buru mengambil flashdisk yang ada di laci meja kerjanya, dia ingat betul sudah menyalin file itu. Namun, lagi-lagi folder dokumen itu kosong. “Sudahlah, kalau lebih baik kamu pergi dari kantor ini sebelum membuat kantor ini semakin merugi!” seru Bu Vega tak tahan lagi. Aya semakin panik, tangannya mulai gemetar. Itu semua bukan hasil pekerjaannya, tapi kenapa dia yang disalahkan. Belum sempat Aya bersuara lagi, suara bariton seorang pria muncul dari arah pintu ruangan, membuat Aya dan Bu Vega seketika terkejut. “Kenapa ribut sekali di jam kerja?!” Namun, begitu Aya melihat pemilik suara itu, jantungnya seolah berhenti bekerja. Matanya melebar, lidahnya kelu. Pria itu …. Setelah sekian lama, kenapa pria itu muncul kembali di hadapan Aya?! ***Sementara itu, di kediaman megah keluarga Ibra, suasana mendadak terasa begitu sepi setelah keberangkatan suami dan anaknya. Aya berjalan perlahan kembali ke dalam rumah. Langkah kakinya terasa sedikit lebih berat karena usia kandungannya yang sudah memasuki bulan ketujuh lebih. Satu tangannya tidak pernah lepas dari bagian bawah perutnya, menopang bobot sang calon buah hati yang akhir-akhir ini semakin aktif bergerak.Aya kemudian duduk di sofa ruang keluarga yang luas. Pandangannya menerawang menatap langit-langit rumah. Ucapan Putra yang terpotong tadi pagi kembali terngiang-ngiang di kepalanya.'Bunda! Selamat ulang tahun, ya! Nanti sore Ayah mau bawa Bunda ke-'Aya menghela napas panjang. Ia tersenyum lembut. "Setidaknya Putra ingat hari ulang tahunku. Dan Mas Ibra sepertinya juga ingat...." gumamnya dengan suara lirih. Sebuah perasaan hangat dan haru menjalar di dalam dadanya.Hubungan mereka memang berawal dari ikatan bisnis semata saja. Demi pengorbanan Aya terhadap keselamata
Mobil Maybach hitam itu terus melaju dengan tenang membelah jalanan kota yang mulai padat oleh kendaraan. Di kursi belakang, setelah drama kecil yang menegangkan sekaligus menggemaskan tadi, keheningan yang nyaman kembali tercipta. Putra sibuk memandangi pemandangan di luar jendela, sementara Ibra kembali meraih tabletnya. Namun, fokus pria itu tidak lagi sepenuhnya berada pada deretan angka laporan keuangan atau email dari para investor. Pikirannya melayang kembali pada ekspresi curiga Aya di teras rumah tadi.Ibra mengulum senyum tipis. Mengelabui wanita secerdas dan sepeka Aya memang bukan perkara mudah. Sejak awal pernikahan mereka, Aya selalu memiliki intuisi yang sangat tajam. Ibra tahu, penjelasannya tadi untuk menutupi kecurigaan Aya sama sekali tidak meyakinkan. Tapi untungnya, kondisi fisik Aya yang sedang mengandung anak kedua mereka membuat wanita itu lebih mudah merasa lelah dan memilih untuk tidak memperpanjang urusan kecil tersebut."Pak Santo," panggil Ibra dengan suar
Satu jam kemudian, suasana rumah mulai ramai. Putra, anak laki-laki mereka yang menggemaskan, sudah rapi dengan seragam taman kanak-kanaknya. Mereka bertiga kini berada di ruang makan, menikmati sarapan pagi yang hangat seperti biasa, tanpa ada aroma bawang sama sekali.Sebelum Ibra menyantap makanannya, pria itu mengambilkan nasi dan lauk untuk sang istri. Ia lalu mengambil makanan ke piringnya lalu membaca email di tabletnya sebentar, sementara Aya memperhatikan suaminya dengan senyuman.Setelah sarapan selesai, Ibra berdiri dan merapikan dasinya, bersiap untuk berangkat kerja. Seperti biasa, dia akan mengantar Putra ke sekolah TK-nya terlebih dahulu sebelum menuju ke kantor pusat."Ayo, Ayah!" seru Putra dengan penuh semangat."Semangat sekali," gumam Aya sembari tersenyum.Aya mengantar suami dan anaknya hingga ke teras depan, tempat mobil Maybach mewah Ibra sudah terparkir rapi dengan pintu yang dibukakan oleh Santo."Aku berangkat dulu," ucap Ibra, melangkah mendekat ke arah Aya
Ibra mengangguk, memberikan senyuman tipis terakhir sebelum melangkah pergi. Saat menuju pintu keluar, ia melihat Samuel yang juga sudah selesai makan dan menunggunya. "Pak," sapa Samuel sopan."Ayo kembali. Masih ada beberapa hal yang harus aku lakukan," ajaknya dengan ekspresi datar dan satu tangannya menepuk saku jas di mana ponsel yang menyimpan catatan kesukaan istrinya ada di sana.Langkah kaki Ibra kembali tegap dan tegas, memancarkan aura wibawa seorang Presdir papan atas yang semula sempat luntur oleh rasa malu di dalam restoran tadi.Setelah punggung Ibra benar-benar menghilang di balik pintu kaca restoran, Gina langsung menyandarkan tubuhnya ke bahu Niko, mengembuskan napas panjang seolah baru saja lolos dari ujian paling menegangkan dalam hidupnya."Huffttt... gila, Yang! Aku masih nggak percaya dengan apa yang baru saja terjadi," gumam Gina dengan suara setengah berbisik namun penuh penekanan. "Seorang Presdir kaku, dingin, dan berwajah datar sepert
Ibra terpaku. Lidahnya mendadak kelu untuk merangkai kata. Pertanyaan Gina tidak salah, sangat logis bagi seorang sahabat yang peduli. Namun, bagi pria dengan harga diri setinggi langit seperti Ibra, mengakui bahwa dirinya terlalu kaku untuk bertanya langsung pada istrinya sendiri adalah hal yang sangat menguji rasa malunya. Ketegangan pun kembali menyelimuti di antara mereka bertiga.Melihat rahang Ibra yang mengeras dan tatapan matanya yang mendadak lurus menatap cangkir teh chamomile di depannya, Gina langsung menyadari bahwa pertanyaannya mungkin sudah melewati batas. Ketakutan mulai merayap di benak gadis itu. Bagaimana jika sang Presdir tersinggung dan membuat Niko kesulitan dalam memulai kembali bisnisnya?Sadar suasana menjadi terlalu tegang, Gina segera memutar otak. Dengan cepat, ia mengulas senyum lebar dan melepaskan tawa renyah yang sengaja dibuat sedikit heboh untuk mencairkan keheningan yang membeku."Ahahaha! Maaf, maaf, Pak Ibra! Aduh, saya ini kalau bicara memang suk
"Ah. Tidak, tidak. Saya akan memberi tahu Anda apa yang saya tahu. Jadi apa yang ingin Anda tanyakan soal Aya?" Gina cepat-cepat berbicara. Kembali bertanya. Ia tidak ingin membuat suasana menjadi canggung kembali. Sementara Niko memilih diam menyimak.Ibra menghela napas panjang. "Bagi beberapa orang mungkin ini hal kecil, tapi bagiku ini penting. Aku memang salah karena tidak terlalu memerhatikan istriku sendiri. Jadi, tolong beri tahu aku. Apa saja makanan kesukaan Aya yang paling ia gemari? Dan apa yang paling tidak ia sukai?"Gina tampak terkejut. Jadi ternyata memang benar sang Presdir tidak tahu kesukaan istrinya sendiri. Lalu Gina tersenyum lebar, merasa sangat senang karena sahabatnya ternyata memiliki suami yang sedemikian rupa ingin berusaha, meskipun caranya sangat kaku. Dan yang ia tahu lagi adalah, suami sahabatnya itu terlalu gengsi dan itu lucu."Ehem." Gina berdeham pelan. "Kalau soal makanan, Aya itu sebenarnya tidak muluk-muluk, Pak," jawab Gina bersemangat. "Dia it







