Share

Bab 4

Penulis: Rizu Key
last update Tanggal publikasi: 2025-11-27 13:23:40

Aya menelan ludah. Jantungnya berdegup semakin liar saat pria itu melangkah lebih jauh ke dalam ruangan. Aura dingin yang dibawanya seperti menyapu seluruh sudut kantor, membuat siapa pun enggan bergerak.

Pria itu berhenti tepat di depan meja Aya.

Aya refleks menunduk. Pandangannya tertuju pada lantai yang ia pijak, namun kepalanya dipenuhi kekacauan.

'Kenapa dia ada di sini?' gumamnya dalam hati.

Sekilas, Aya mendengar bisik-bisik karyawan lain yang menyebut pria itu adalah Presiden Direktur perusahaan ini.

Seketika, Aya membelalakkan matanya. Selama ini, ini ia belum pernah bertemu dengan bosnya, dan hanya mendengar desas-desus dari karyawan lain. Dan hari ini, pria itu berdiri di hadapan Aya.

Namun, bukan itu yang mengusik pikiran Aya. Melainkan soal kejadian masa lalu mereka.

“Ah, Pak Ibra.” Bu Vega refleks merapikan sikap. Wajahnya yang tadi penuh amarah mendadak menegang. “Ini, Pak… Aya, karyawan baru. Dia ceroboh, Pak. Laporannya kacau dan bisa merugikan perusahaan.”

Ibra melirik Aya sekilas, lalu kembali fokus pada Bu Vega. “Mana berkasnya?”

Bu Vega langsung menyerahkan dokumen itu. Ibra membukanya, membalik beberapa halaman dengan gerakan tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang sedang diberitahu soal potensi kerugian puluhan juta.

Hening menyelimuti ruangan.

Aya menahan napas, jari-jarinya semakin terasa dingin.

Beberapa detik kemudian, Ibra menutup map dan mengangkat pandangannya. Tatapannya jatuh tepat ke arah Aya.

“Kamu yang mengerjakan ini?” tanyanya.

“I–iya, Pak,” jawab Aya pelan, tenggorokannya kering. “Tapi data di situ bukan yang saya susun.”

Ibra tidak langsung menanggapi. Matanya bergeser ke laptop Aya yang masih menyala. “Kapan terakhir kali kamu menyimpan file laporan yang kamu buat?”

Aya terkejut, tapi segera menjawab. “Semalam, Pak. Setelah direvisi sesuai arahan.”

“Di mana kamu menyimpannya?”

“Di folder utama laptop saya dan satu salinan di flashdisk.” Dengan sedikit keraguan, Aya menunjukkan laptopnya yang menyala dan satu flashdisk miliknya. “T–tapi, file yang asli tiba-tiba hilang, Pak.”

Tatapan pria itu berpindah ke Bu Vega. “Siapa saja yang punya akses ke komputer ini?”

Bu Vega tersentak. “M-maksudnya, Pak?”

“Pertanyaan saya jelas.” Ibra menaikkan satu alisnya.

Bu Vega terdiam sesaat. “Staf satu divisi… termasuk saya.”

Pria itu mengangguk tipis, lalu kembali menatap Aya. Kali ini, tatapannya tak lagi setajam sebelumnya, tapi justru membuat Aya semakin gelisah.

“Saya ingin semua akses data dicek ulang,” lanjut pria itu dingin, lalu melirik Aya sekilas. “Sampai jelas siapa yang bermain di balik laporan ini.”

Aya refleks mengangkat kepala. Mata mereka hampir bertemu, membuat dadanya kembali sesak.

Bu Vega membuka mulut, hendak menyela. “Pak, tapi—”

“Cukup,” potongnya singkat. “Saya tidak suka keputusan sepihak dan tergesa-gesa.”

Ruangan kembali sunyi. Bu Vega terdiam, rahangnya mengeras, sementara Aya berdiri kaku dengan perasaan campur aduk.

Pria itu berbalik pergi, namun langkahnya terhenti sejenak di ambang pintu. Dan tanpa menoleh, ia berkata, “Kamu… ikut saya.”

Namun, tanpa sadar Aya tetap menurut dan melangkah di belakang Ibra.

Samuel mengernyit, tak mengerti apa yang sedang dibicarakan Presiden Direktur dengan karyawan baru yang terlihat lugu itu.

Kini Aya duduk di dalam ruangan Presiden Direktur Baskara Group, tempat yang bahkan tak pernah ia bayangkan bisa ia masuki. Sosok presdir yang selama ini dikenal misterius itu kini berada tepat di hadapannya.

Aya duduk terdiam, menunduk, gugup. Sementara tatapan Ibra terus tertuju padanya, datar namun menekan.

“Bagaimana?” tanya Ibra pada asistennya.

Samuel segera mendekat. “Bu Vega yang mencuri flashdisknya, Pak. Sepertinya dia sengaja ingin menjatuhkan karyawan baru demi kepentingan jabatannya,” jelasnya.

Aya hanya menyimak. Tak berani bersuara. Yang ingin ia lakukan hanyalah keluar dari ruangan itu dan pulang ke kontrakannya.

“Bagaimana kalau dia menemukan Putra?” pikirnya, ketakutan mulai merambat.

“Kalau begitu, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan, Sam. Pergi,” ucap Ibra.

“Baik, Pak.” Samuel segera keluar dengan perasaan heran.

Ibra beranjak dari duduknya dan melangkah mendekati Aya yang masih enggan menatap wajahnya. Pria itu berdiri tepat di hadapannya.

“Apa kamu sengaja muncul di hadapanku?” tanyanya datar.

Aya menatap sepasang iris gelap itu sesaat, lalu cepat-cepat memalingkan wajahnya. Jantungnya berdegup kencang.

Pria itu masih mengingatnya?

“M–Maksud Bapak apa?” tanya Aya ragu, pura-pura tidak paham.

Aya diam menatap kedua netra beriris gelap itu. Lalu cepat-cepat memalingkan wajahnya. Menjauh dari cengkeraman sang Presdir. Namun, pria itu tak melepaskannya.

"Katakan, sudah berapa laki-laki yang kamu layani sejak hari itu, hm?" Pertanyaan Ibra terdengar mengejek.

Aya menautkan kedua alisnya. "Itu bukan urusan Anda."

"Tentu saja itu urusanku. Bukankah aku pelanggan pertamamu yang paling berjasa?" Pertanyaan kedua membuat Aya diam.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 310

    Sementara itu, di kediaman megah keluarga Ibra, suasana mendadak terasa begitu sepi setelah keberangkatan suami dan anaknya. Aya berjalan perlahan kembali ke dalam rumah. Langkah kakinya terasa sedikit lebih berat karena usia kandungannya yang sudah memasuki bulan ketujuh lebih. Satu tangannya tidak pernah lepas dari bagian bawah perutnya, menopang bobot sang calon buah hati yang akhir-akhir ini semakin aktif bergerak.Aya kemudian duduk di sofa ruang keluarga yang luas. Pandangannya menerawang menatap langit-langit rumah. Ucapan Putra yang terpotong tadi pagi kembali terngiang-ngiang di kepalanya.'Bunda! Selamat ulang tahun, ya! Nanti sore Ayah mau bawa Bunda ke-'Aya menghela napas panjang. Ia tersenyum lembut. "Setidaknya Putra ingat hari ulang tahunku. Dan Mas Ibra sepertinya juga ingat...." gumamnya dengan suara lirih. Sebuah perasaan hangat dan haru menjalar di dalam dadanya.Hubungan mereka memang berawal dari ikatan bisnis semata saja. Demi pengorbanan Aya terhadap keselamata

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 309

    Mobil Maybach hitam itu terus melaju dengan tenang membelah jalanan kota yang mulai padat oleh kendaraan. Di kursi belakang, setelah drama kecil yang menegangkan sekaligus menggemaskan tadi, keheningan yang nyaman kembali tercipta. Putra sibuk memandangi pemandangan di luar jendela, sementara Ibra kembali meraih tabletnya. Namun, fokus pria itu tidak lagi sepenuhnya berada pada deretan angka laporan keuangan atau email dari para investor. Pikirannya melayang kembali pada ekspresi curiga Aya di teras rumah tadi.Ibra mengulum senyum tipis. Mengelabui wanita secerdas dan sepeka Aya memang bukan perkara mudah. Sejak awal pernikahan mereka, Aya selalu memiliki intuisi yang sangat tajam. Ibra tahu, penjelasannya tadi untuk menutupi kecurigaan Aya sama sekali tidak meyakinkan. Tapi untungnya, kondisi fisik Aya yang sedang mengandung anak kedua mereka membuat wanita itu lebih mudah merasa lelah dan memilih untuk tidak memperpanjang urusan kecil tersebut."Pak Santo," panggil Ibra dengan suar

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 308

    Satu jam kemudian, suasana rumah mulai ramai. Putra, anak laki-laki mereka yang menggemaskan, sudah rapi dengan seragam taman kanak-kanaknya. Mereka bertiga kini berada di ruang makan, menikmati sarapan pagi yang hangat seperti biasa, tanpa ada aroma bawang sama sekali.Sebelum Ibra menyantap makanannya, pria itu mengambilkan nasi dan lauk untuk sang istri. Ia lalu mengambil makanan ke piringnya lalu membaca email di tabletnya sebentar, sementara Aya memperhatikan suaminya dengan senyuman.Setelah sarapan selesai, Ibra berdiri dan merapikan dasinya, bersiap untuk berangkat kerja. Seperti biasa, dia akan mengantar Putra ke sekolah TK-nya terlebih dahulu sebelum menuju ke kantor pusat."Ayo, Ayah!" seru Putra dengan penuh semangat."Semangat sekali," gumam Aya sembari tersenyum.Aya mengantar suami dan anaknya hingga ke teras depan, tempat mobil Maybach mewah Ibra sudah terparkir rapi dengan pintu yang dibukakan oleh Santo."Aku berangkat dulu," ucap Ibra, melangkah mendekat ke arah Aya

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 307

    Ibra mengangguk, memberikan senyuman tipis terakhir sebelum melangkah pergi. Saat menuju pintu keluar, ia melihat Samuel yang juga sudah selesai makan dan menunggunya. "Pak," sapa Samuel sopan."Ayo kembali. Masih ada beberapa hal yang harus aku lakukan," ajaknya dengan ekspresi datar dan satu tangannya menepuk saku jas di mana ponsel yang menyimpan catatan kesukaan istrinya ada di sana.Langkah kaki Ibra kembali tegap dan tegas, memancarkan aura wibawa seorang Presdir papan atas yang semula sempat luntur oleh rasa malu di dalam restoran tadi.Setelah punggung Ibra benar-benar menghilang di balik pintu kaca restoran, Gina langsung menyandarkan tubuhnya ke bahu Niko, mengembuskan napas panjang seolah baru saja lolos dari ujian paling menegangkan dalam hidupnya."Huffttt... gila, Yang! Aku masih nggak percaya dengan apa yang baru saja terjadi," gumam Gina dengan suara setengah berbisik namun penuh penekanan. "Seorang Presdir kaku, dingin, dan berwajah datar sepert

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 306

    Ibra terpaku. Lidahnya mendadak kelu untuk merangkai kata. Pertanyaan Gina tidak salah, sangat logis bagi seorang sahabat yang peduli. Namun, bagi pria dengan harga diri setinggi langit seperti Ibra, mengakui bahwa dirinya terlalu kaku untuk bertanya langsung pada istrinya sendiri adalah hal yang sangat menguji rasa malunya. Ketegangan pun kembali menyelimuti di antara mereka bertiga.Melihat rahang Ibra yang mengeras dan tatapan matanya yang mendadak lurus menatap cangkir teh chamomile di depannya, Gina langsung menyadari bahwa pertanyaannya mungkin sudah melewati batas. Ketakutan mulai merayap di benak gadis itu. Bagaimana jika sang Presdir tersinggung dan membuat Niko kesulitan dalam memulai kembali bisnisnya?Sadar suasana menjadi terlalu tegang, Gina segera memutar otak. Dengan cepat, ia mengulas senyum lebar dan melepaskan tawa renyah yang sengaja dibuat sedikit heboh untuk mencairkan keheningan yang membeku."Ahahaha! Maaf, maaf, Pak Ibra! Aduh, saya ini kalau bicara memang suk

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 305

    "Ah. Tidak, tidak. Saya akan memberi tahu Anda apa yang saya tahu. Jadi apa yang ingin Anda tanyakan soal Aya?" Gina cepat-cepat berbicara. Kembali bertanya. Ia tidak ingin membuat suasana menjadi canggung kembali. Sementara Niko memilih diam menyimak.Ibra menghela napas panjang. "Bagi beberapa orang mungkin ini hal kecil, tapi bagiku ini penting. Aku memang salah karena tidak terlalu memerhatikan istriku sendiri. Jadi, tolong beri tahu aku. Apa saja makanan kesukaan Aya yang paling ia gemari? Dan apa yang paling tidak ia sukai?"Gina tampak terkejut. Jadi ternyata memang benar sang Presdir tidak tahu kesukaan istrinya sendiri. Lalu Gina tersenyum lebar, merasa sangat senang karena sahabatnya ternyata memiliki suami yang sedemikian rupa ingin berusaha, meskipun caranya sangat kaku. Dan yang ia tahu lagi adalah, suami sahabatnya itu terlalu gengsi dan itu lucu."Ehem." Gina berdeham pelan. "Kalau soal makanan, Aya itu sebenarnya tidak muluk-muluk, Pak," jawab Gina bersemangat. "Dia it

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status