Share

Bab 42

Penulis: Rizu Key
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-18 18:00:59

Pertanyaan polos namun tajam dari bocah berusia lima tahun itu menggantung di udara, menciptakan keheningan yang menyesakkan di dalam mobil mewah tersebut. Ibra, pria yang biasanya memiliki jawaban untuk segala negosiasi bisnis bernilai miliaran, kini mendadak diam. Lidahnya kelu, dan tenggorokannya terasa seperti tercekat.

"Kenapa Pak Presdir membiarkan Bunda membesarkan saya sendirian dan juga selalu membuat Bunda kecapekan?" ulang Putra dengan suara bergetar, menuntut pertanggungjawaba
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 81

    Angin pedesaan berembus pelan, membawa aroma tanah basah dan sisa-sisa hujan semalam. Mobil mewah hitam yang dikemudikan Santo akhirnya berhenti di sebuah jalan setapak yang hanya cukup untuk satu kendaraan. Di hadapan mereka, hamparan nisan tua menyambut dengan keheningan yang menyesakkan."Kita udah sampai, Sayang," bisik Aya pada Putra.Aya menarik napas panjang. Ia menggenggam tangan kecil Putra, bocah laki-laki berusia lima tahun yang mewarisi mata tajam ayahnya. Di belakang mereka, Ibra dengan setelan kemeja mahal yang tampak sangat kontras dengan lingkungan pedesaan ikut melangkah turun dengan wajah datar tanpa ekspresi.Mereka bertiga melangkah menuju dua gundukan tanah dengan nisan kayu yang sudah lapuk bertuliskan nama kedua orang tua Aya. Aya bersimpuh, jemarinya mengusap nisan sang ibu yang telah lama ia tinggalkan demi mencari penghidupan di kota besar dan juga menjaga nama baik kedua orang tuanya yang telah tiada karena kehamilannya. Air matanya pun luruh t

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 80

    "Hanya karena kado dari dia, kamu menangis seperti itu?" suara Ibra dingin, penuh dengan nada tidak suka. Lalu ia menarik Aya dan mencengkeram dagunya dengan satu tangan."Aku peringatkan padamu agar tidak berbuat hal yang bodoh. Kita baru saja menikah dan kamu istriku!" tegasnya dengan tatapan tajam.Aya tidak menjawab. Ia malah kembali menangis dengan bahunya terguncang hebat. Ia lalu mengambil isi kotak itu dan mengangkatnya di hadapan sang suami.Ibra tertegun. Ia menatap benda di tangan istrinya. Dahinya mengernyit dengan kedua matanya menyipit tajam. Di tangan Aya, ada benda yang ia sendiri tak mengerti apa."Hanya itu?" tanyanya masih dengan nada dingin.Aya menepis pelan tangan yang mencengkeramnya. Lalu ia membuka lembaran pertama pada album foto kecil di tangannya. Ibra ikut melihat dan kini ia tahu pada bagian pertama album ada foto Aya dan dua orang lainnya yang lebih tua. Aya di sana masih mengenakan seragam SMA.Ibra terdiam. Ia menebak bahwa kedua orang tua itu adalah a

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 79

    "Apa ini?" tanya Ibra."Putra juga nggak tahu. Nanti minta tolong kasihin ke Bunda, ya, Yah?" jawab Putra."Memangnya bukan dari kamu?"Putra menggeleng pelan. "Bukan, Ayah. Ini hadiah dari Om Hendra."Ibra menatap hadiah kecil yang muat dalam genggaman tangannya itu dengan tatapan yang sulit diartikan. "Baiklah," sahutnya."Makasih, Ayah.""Iya." Ibra kemudian menatap ibunya. "Kalian ada apa datang pagi-pagi ke sini?" tanyanya."Mamah cuma mau nganterin Putra aja, Bra. Maaf kalau mengganggu waktu berduaan kalian. Tapi Putra bilang mau kasih hadiah itu. Katanya penting," jelas Dewi.Ibra terdiam sejenak. Tatapannya kembali pada benda di tangannya. Sementara Putra mendekat dan memeluk kedua kaki sang ayah."Sudah, kan? Kita pulang, ya? Biarkan Ayah dan Bunda berduaan dulu," bujuk Dewi kemudian."Iya, Nenek. Dadah, Ayah! Putra pulang dulu, ya!" seru Putra sembari melambaikan tangannya."Hm."Bocah itu segera pergi. Ternyata kedatangannya

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 78 (18+)

    "Hentikan...." ucap Aya merasa kegelian.Tangan besar Ibra kini bergerak membelai dadanya. Menarik tangan Aya agar tak menutupi dada sintal itu. Lalu menarik tubuh Aya ke dalam pelukannya. Membuat Aya dapat merasakan debaran jantung Ibra yang menempel punggung."Aku ingin melakukannya sekarang," bisik pria itu dengan suara berat yang menggelitik. Dagu Ibra menempel di baju Aya. Dan pelukannya cukup erat sehingga mustahil wanita itu bisa kabur."Ta-tapi tadi malam sudah...." cicit Aya dengan wajah mulai memerah.Tangan Ibra meremas lembut dada Aya yang memenuhi genggaman telapak tangannya. Pria itu kemudian menciumi leher Aya, menimbulkan suara decapan basah."Hmmm...." Aya menahan desahannya. Ia menggeliat pelan dalam kungkungan Ibra."Kita akan melakukannya di sini. Tadi malam tidaklah cukup," bisik Ibra dingin. Namun, tatapannya tidak sedingin suaranya. Matanya menggelap saat melihat air mengalir di lekuk tubuh istrinya."Tapi aku mau mandi...." cicit Aya mencoba melepaskan diri."

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 77

    Terdengar helaan napas berat di belakang tubuh Aya. Wanita itu merasa takut. Ia takut pertanyaannya memancing emosi sang Presdir dan membuatnya tersiksa dengan percintaan kasar seperti beberapa waktu yang lalu."Ya," jawab Ibra. "Memang begitu. Di setiap generasi di keluargaku hanya akan terlahir satu keturunan saja. Maka dari itu... ketika aku tahu diriku impoten, aku tidak punya harapan lagi untuk keluargaku," lanjutnya.Entah mengapa Aya merasa kasihan pada Ibra. Atau mungkin pada keluarga pria itu?"Tapi setelah tahu Putra anakku, aku mulai percaya adanya keajaiban...." imbuhnya.Aya memilih diam. Entah mengapa malam ini Ibra sedikit berbeda dari biasanya. Aura dominan dan dingin yang biasanya terpancar kini seolah hilang ditelan bumi.Tiba-tiba saja Ibra mengeratkan pelukannya. Membuat Aya terkesiap."Apa kamu kecewa?" tanya pria itu tanpa diduga. Ada nada penuh penyesalan di sana."Tidak juga...." jawab Aya kemudian. "Baguslah. Karena pernikahan kita akan segera diketahui banya

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 76 (18+)

    Aya memejamkan mata. "Nggak... Kita sudah pernah ke sini lagi, kan?" Ia menoleh menatap Ibra."Hm." Ibra memutar tubuhnya menghadap Aya. "Dan malam itu adalah malam pertama bagi kita berdua. Aku memberimu uang itu, dan kamu memberiku malam yang tidak pernah bisa kulupakan...."Aya membulatkan kedua matanya. Kaget dengan pernyataan Ibra yang entah mengapa lebih lembut dari biasanya. Dan tanpa diduga, air matanya jatuh tanpa alasan yang dapat ia pahami."Kamu boleh membenciku. Tapi kamu tetap milikku," tegasnya kemudian.Ibra mengangkat dagu Aya, menghapus air mata yang membasahi pipinya dengan ibu jari. Tatapannya kini tidak lagi tajam, anehnya terasa hangat dan penuh tuntutan yang berbeda. Ia mulai mencium kening Aya, lalu turun ke kelopak matanya, dan berakhir di bibir Aya dengan kelembutan yang mengejutkan.CupCiuman itu awalnya ragu-ragu, namun segera berubah menjadi gairah yang membara. Aya pun tak menolaknya.Tangan Ibra mulai membuka resleting gaun di punggung Aya dengan geraka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status