LOGINIbra spontan beranjak dari duduknya. Kursi kerjanya berdecit pelan saat terdorong ke belakang. Ia tidak langsung mendekati Aya, hanya berdiri tegak di tempatnya, menatap wanita itu dengan sorot mata gelap yang sulit diterjemahkan. Aya sama sekali tak bergerak seperti patung, wajahnya yang tadi pucat pasi, tergeletak begitu saja di depannya.
"Kamu jangan pura-pura di depanku," ucap pria itu dingin . Namun, Aya tak memberikan jawaban. Perlahan, Ibra berjalan mendekatinya. Ditatapnya wajah pucat yang terpejam rapat. Lalu pria itu menyentuh dahi Aya yang terasa panas. Aya bahkan tidak membuka mata. Bulir keringat dingin membasahi pelipisnya, napasnya berat dan tidak teratur. "Samuel!" serunya memanggil sang asisten. Pintu ruangan segera terbuka. Samuel bergegas masuk ketika mendengar namanya dipanggil. Dan seketika pria itu terkejut saat melihat sang Presdir sudah menggendong tubuh salah satu karyawannya. "Siapkan mobil," perintah Ibra dingin. "Ba-baik, Pak," sahut Samuel patuh meski ia sendiri bertanya-tanya dalam hati mengapa sang Presdir yang terkenal tak tersentuh itu mau menggendong karyawan biasa yang masih baru di perusahaan mereka. Beberapa detik kemudian, Ibra mengangkat tubuh Aya sepenuhnya. Tubuh wanita itu terasa ringan. Terlalu ringan baginya. Tubuh itu seolah telah kehilangan tenaga, seperti seseorang yang sudah lama memaksa diri berdiri meski tubuhnya menolak. Dan dari sini, ada sedikit perasaan bersalah di dalam hati Ibra yang selama ini selalu memaksanya bekerja. Sementara saat Samuel membuka pintu, beberapa karyawan yang melihat dari kejauhan langsung menunduk, tak berani menatap lebih lama. Aura Ibra terlalu dingin, terlalu mengintimidasi saat pria itu berjalan menuju ke lift. Di dalam mobil, Ibra masih memangku Aya. Hal ini disaksikan oleh Samuel yang menyetir di depan mereka. Pria itu benar-benar tak mengerti mengapa sang bos mau menyentuh seorang wanita. Aya tidak sadar sepenuhnya. Wanita itu hanya bisa diam dalam pelukan sang Presdir dingin yang menguarkan aroma maskulin yang lembut. Sementara Ibra menatap ke depan. Ada gejolak di dalam hatinya. 'Kenapa perasaan tidak nyaman ini kembali muncul? Setelah sekian lama, aku menemukan wanita ini lagi. Hanya dia yang bisa....' gumam Ibra dalam hati. * Tak butuh waktu lama mereka tiba di rumah sakit pusat kota. Begitu mobil berhenti, Ibra turun terlebih dulu. Ia kembali menggendong Aya dengan kedua tangannya, langkahnya cepat menyusuri lorong IGD. "Periksa dia. Dia tiba-tiba pingsan," ucapnya singkat. Perawat yang bertugas dengan sigap membantu. Aya segera dibawa masuk ke ruangan dan dibaringkan. Infus terpasang. Dokter pun datang memeriksa kondisi secara umum. "Pasien kelelahan berat dan kekurang nutrisi. Sepertinya dia juga stres yang memperparah kondisinya," ujar dokter setelah pemeriksaan singkat. Ibra menyilangkan tangan. "Itu saja?" Samuel mengernyitkan dahi. Entah mengapa pertanyaan itu seolah tak puas dengan hasil pemeriksaan. Dokter meliriknya. Aura dinginnya benar-benar membuat tak nyaman. "Untuk sementara hanya itu, Pak. Tapi sebaiknya pasien istirahat total selama beberapa hari," lanjutnya. Ibra menghela napas. Ketika dokter dan perawat pergi, ruangan kembali hening. Hanya suara detak jarum jam dinding yang bergema pelan. Pria itu diam. Kakinya disilangkan, sementara tangannya sibuk dengan ponsel. Tak lama kemudian, Aya perlahan membuka mata. Dan pandangan pertamanya adalah langit-langit putih yang asing, namun juga tak terlalu asing baginya. "Ughhh... Di mana ini?" gumamnya sembari memegangi kepalanya yang terasa berat. Perlahan wanita cantik itu duduk dan pandangan matanya tertuju pada jarum infus di salah satu tangannya. Wanita itu kembali menatap ke sekeliling dan di sana, tepat di samping tempat tidur kecil itu, Ibra duduk tanpa menoleh menatapnya. Jantungnya langsung berdegup kencang saat melihat wajah arogan dan dingin itu. "Akhirnya sadar juga," ucap Ibra dingin, tanpa basa-basi. Aya menelan ludah. "Pak Ibra...." gumamnya gugup. "Kamu memang hobi bikin masalah, ya?" sindirnya. Wajah Aya semakin pucat. "Maaf... Saya tidak bermaksud...." "Tidak bermaksud apa?" potong Ibra tajam. "Kamu sengaja tidak makan dan pingsan di kantor. Membuatku harus repot-repot mengantarmu ke rumah sakit." Aya menunduk. Jemarinya mencengkeram selimut. "Maaf, Pak...." cicitnya. Ibra terdiam sejenak. Tatapannya mengeras lalu beralih ke jendela. "Sementara kamu kuizinkan libur. Tapi ingat, tugasmu itu masih banyak. Jadi jangan malas," ucapnya akhirnya, penuh tekanan. Aya terkejut. Ia mengira pria itu akan terus memaksanya bekerja tanpa henti. Namun ternyata dia mendapatkan izin beberapa hari. Namun sebelum Aya sempat merespons, ketakutan lain muncul. Wanita itu mengenali selimut biru pucat yang ada di genggamannya. Selimut dengan sebuah bordiran halus di salah satu ujungnya, yang sama dengan selimut rumah sakit anaknya. 'Rumah sakit ini... Nggak, nggak... Jangan sampai dia menemukan Putra....' gumam Aya dalam hati, kembali panik. Tubuh Aya menegang. Dadanya berdebar hebat. Aya tanpa sadar menatap ke arah sang Presdir dengan ekspresi ketakutan. Ibra pun menyadarinya. "Kamu kenapa lagi?" Aya menggeleng cepat. "T-tidak ada apa-apa, Pak...." dustanya. Ia ingin pergi, membawa Putra menjauh dari ayah kandungnya. Namun tubuhnya terlalu lemah. Dan karena kegugupannya itu, Ibra mulai menaruh curiga padanya. Tatapannya semakin tajam. Seolah tahu ada yang sedang Aya sembunyikan. Beberapa saat kemudian, dokter datang kembali. "Sore ini pasien boleh pulang. Tapi harus benar-benar istirahat di rumah." Ibra mengangguk singkat. "Pak Ibra... terima kasih. Saya nanti bisa pulang sendiri...." ucapnya tetap sopan. Ibra menatapnya dalam. "Aku akan menjemputmu." "Ti-tidak perlu," sahut Aya cepat. Tentu saja ia menolak. Bagaimana nanti jika Ibra tahu tempat tinggalnya bersama buah hatinya? Alis Ibra terangkat. "Kenapa?" Aya gugup. "Saya... saya bisa pesan taksi. Lagi pula Anda bos saya, tidak sepantasnya mengantar bawahan seperti saya...." ucapnya memberikan alasan yang masuk akal. Ibra menatapnya cukup lama. Membuat Aya gugup dan menelan ludahnya susah payah. "Kamu yakin? Aku tidak mau dicap sebagai bos yang buruk," ujar Ibra dengan nada rendah. Aya mengangguk. "Iya, Pak. Maafkan saya karena sudah merepotkan Bapak...." Ada jeda hening yang menekan. Aya tak bisa menebak apa yang akan dilakukan oleh pria itu. "Baik," ucap Ibra akhirnya. "Jangan menyusahkan orang lagi." Kalimat itu dingin, kasar, namun entah kenapa justru membuat Aya lega. Saat Ibra berbalik pergi, Aya menghela napas panjang. Ibra melangkah keluar bersama Samuel yang setia menunggunya. "Pak," sapa Samuel sopan. "Kita kembali ke kantor. Biarkan saja dia," ujar Ibra dingin. "Baik, Pak. Tapi...." "Tapi apa?" Ibra menatap tajam ke arah Samuel. "Tadi Ibu Anda menelepon, seperti sebelumnya, beliau ingin Anda segera menikah," jawab Samuel sembari menunduk. Ibra tak merespons. Pria itu memilih melanjutkan langkahnya menjauhi ruangan Aya. Dan saat dia baru saja keluar dari gedung rumah sakit itu, tatapan matanya tiba-tiba tertuju pada sebuah taman yang tak jauh dari sana. Tepatnya pada bangku taman di mana ada seorang anak kecil yang sedang duduk memangku kucing dengan tangan dibalut gips putih tulang. "Dia...." ***"Pak, apa kita perlu ikut menyelidiki masalah ini?" tanya Samuel ketika ia dan sang Presdir berjalan keluar melewati lobi."Tahan dulu. Biarkan mereka yang bekerja. Sekarang kita fokus pada masalah kebocoran data itu. Kamu harus bisa menyelesaikannya, secepatnya," jawab Ibra dengan tegas."Baik, Pak," sahut Samuel.*Sore harinya, Ibra kembali ke rumah dengan beban di pundak yang terasa semakin berat. Namun, pemandangan di ruang tengah sedikit meredakan ketegangannya.Putra sudah mau keluar dari kamar. Ia duduk di sofa, diapit oleh Aya dan Dewi. Mereka sedang menyusun balok-balok mainan dengan tenang. Aya terlihat membisikkan sesuatu yang membuat Putra tersenyum tipis. Meski senyumannya belum seceria biasanya.Di belakang mereka, Lili memilih tidur dengan tenang. Nampaknya kucing kecil itu sudah kelelahan karena bermain menghibur teman kecilnya."Ayah?" panggil Putra pelan.Aya menoleh, menatap suaminya. Menyadari gurat kelelahan di wajah Ibra. Ia ber
Di kantor polisi, tepatnya di ruang interogasi. Sementara kehangatan menyelimuti kamar Putra, atmosfer di kantor polisi justru sedingin es. Ibra berdiri di balik kaca satu arah, menatap dua sosok yang telah menghancurkan ketenangannya, yaitu Timo dan Beatrice.Samuel berdiri di samping Ibra, memegang beberapa berkas tuntutan dan bukti kejahatan yang dilakukan kedua orang itu."Kita punya cukup bukti untuk menjerat mereka berdua, Pak. Terutama Timo, dia tertangkap tangan dengan bukti digitalnya. Dan ini berkat ketelitian Bu Aya," papar Samuel.Rahang Ibra mengeras saat menatap kedua orang yang duduk berdampingan di hadapannya. Mereka pun menyadari kemunculan Ibra dan Samuel.Ibra melangkah masuk ke ruang interogasi pertama. Di sana, Timo duduk dengan bahu merosot dan tangan terborgol. Begitu melihat Ibra, pria yang dulunya adalah orang kepercayaan di tim IT itu langsung bersimpuh di lantai, memeluk kedua kakinya."Pak Ibra... saya mohon maaf, Pak! Saya khilaf!" ra
Mentari pagi yang biasanya disambut dengan kehangatan aktivitas persiapan sekolah, kali ini terasa hening di kediaman Ibra. Cahaya yang menyusup lewat celah gorden kamar Putra tidak mampu mengusir sisa-sisa trauma yang menyelimuti bocah lima tahun itu.Putra masih meringkuk di balik selimut tebalnya. Meski ruangan itu luas dan terang, di matanya, kegelapan ruangan dan lemari sempit tempatnya disekap kemarin masih membayang. Setiap kali ia memejamkan mata, ia kembali merasakan hawa dingin dan sesak yang mencekik napasnya dan juga suara amarah wanita yang menjadikannya sandera."Meong!" Lili berseru pelan. Mengeluarkan tubuhnya dengan lentur di sebelah Putra. Seolah tahu akan keadaan teman kecilnya itu, Lili duduk dengan bulu putih yang berantakan, lalu menyandarkan kedua cakar depannya di dada Putra."Lili...." cicit Putra pelan."Meong...." Lili membalas dengan ngeongan lembut. Kucing kecil itu pun semakin mendekat dan kini berpindah duduk tepat di sebelah bahu Putra. Kepalanya pun m
Ibra mengangguk. "Ya. Dia berhasil mengecoh kita."Aya mengepalkan kedua tangannya. "Mas, sebaiknya kita bicara di luar." Wanita itu menoleh ke arah anaknya dan mengusap pipi Putra dengan lembut."Sayang, kamu istirahat, ya? Biar ditemani Lili. Bunda, Ayah, sama Nenek mau bicara," ucap Aya lembut dan penuh kasih sayang."Iya, Bunda." Putra mengangguk patuh. Bocah itu memeluk ibu lalu neneknya terlebih dahulu. Lalu ia menoleh ke arah ayahnya."Ayah, makasih," ujarnya sebelum memeluk sang ayah juga."Sama-sama, Jagoan. Ayah tidak akan biarkan kamu terluka," ucap Ibra. Pria itu menatap sang istri."Kalian keluarlah dulu. Aku mau obati tangan Putra," ujarnya."Apa?!" Aya memekik. Wanita itu menarik tangan mungil anaknya dan melihat ruam merah di pergelangan Putra."Astaga... Biar Bunda yang obati.""Tidak, biar Nenek saja!"Dan setelah itu, Aya dan Dewi mengobati tangan Putra bersama. Mereka bertiga pun segera keluar dan membiarkan bocah itu tidur
Malam itu, mobil Maybach hitam metalik milik Ibra terus membelah jalanan. Meninggalkan area pantai kembali ke pusat kota yang cukup jauh. Hingga pukul sembilan malam, mobil Ibra tiba di depan rumahnya.Lampu teras berpijar kuning temaram, menerangi dua sosok wanita yang wajahnya telah luruh oleh air mata dan kecemasan. Aya berdiri di ambang pintu, jemarinya saling meremas.Di sampingnya, Dewi tak henti-hentinya berdoa dengan bibir gemetar. Sudah lima jam sejak Putra hilang tanpa jejak dari sekolahnya. Lima jam yang terasa seperti lima abad di neraka karena tak bertemu dengan cucunya.Lalu, sepasang lampu sorot mobil membelah kegelapan. Masuk ke area rumah Ibra, melewati pintu gerbang uang tinggi.Mobil Maybach hitam itu berhenti dengan decitan pelan tepat di depan teras. Jantung Aya seakan berhenti berdetak saat pintu belakang terbuka. Ibra keluar dari sana. Wajahnya pucat, bajunya kusut, rambutnya berantakan, tapi matanya memancarkan sesuatu yang membuat napas Aya kembali tercekat."
Dinding batu yang lembap itu seolah menghimpit paru-paru Beatrice. Napasnya tersengal, meninggalkan uap tipis di udara lorong bawah tanah yang dingin dan berbau tanah. Di belakangnya, gema langkah sepatu bot yang berat menghantam lantai beton terdengar semakin jelas.Itu mereka. Dua anak buah Ibra."Dia tidak mungkin jauh! Cari di setiap tikungan!" suara parau itu menggelegar, memantul di dinding lorong yang sempit, membuat bulu kuduk Beatrice meremang.'Sialan. Mereka berhasil menemukan tempat ini,' umpat Beatrice dalam hati.Wanita itu terus berlari tanpa alas kaki. Dirinya yang biasanya memikirkan penampilan yang sempurna, kini tidak peduli. Pikirannya hanya terfokus pada satu hal, yaitu keluar dari tempat ini dan menjauh dari Ibra sejauh mungkin.Lampu-lampu redup yang berkedip di langit-langit lorong hanya memberikan penerangan minimal, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menakutkan. Setiap kali ia melewati persimpangan, ia memilih arah secara acak, berharap instingnya leb
Matanya terus mengejar motor yang perlahan menjauh dari tempatnya. Bayangan wajah mungil itu masih tertinggal jelas di pelupuk mata Ibra.Denyut jantung Ibra kian kencang, seolah menghantam rusuknya dengan keras. Ia teringat kembali kata-kata ibunya beberapa hari yang lalu di mana menyatakan
"Mah? Kenapa kita tiba-tiba ke TK? Aku masih ada urusan di kantor." Ibra terlihat kesal.Dewi menahan lengan putranya. "Ibra, tunggu dulu. Kamu harus ikut Mamah pergi," ucapnya.Ibra menoleh menatap sang ibu. Terdiam sejenak di kursinya. Bayangan wajah Aya yang pagi tadi melayaninya membu
[Pastikan kamu ada di kantorku jam 7 tepat. Jangan terlambat satu detik pun.]Aya menghela napas, menatap bubur ayam yang sedang ia siapkan untuk Putra. Ia harus mengantar Putra ke sekolah lebih awal dari biasanya setelah menerima pesan singkat dari sang Presdir."Putra, bangun, Sayang," bisik Aya
Putra mengerutkan kening kecilnya, tampak berpikir keras. "Emm... Bunda bilang tempat kerjanya besar sekali, Nek. Banyak orang pakai baju bagus. Tapi Putra nggak tahu namanya apa. Bunda nggak pernah ajak Putra ke sana."Dewi menghela napas panjang. Hatinya mencelos mendengar jawaban polos itu







