Share

Bab 9

Author: Rizu Key
last update publish date: 2026-01-01 18:58:13

Ibra spontan beranjak dari duduknya. Kursi kerjanya berdecit pelan saat terdorong ke belakang. Ia tidak langsung mendekati Aya, hanya berdiri tegak di tempatnya, menatap wanita itu dengan sorot mata gelap yang sulit diterjemahkan. Aya sama sekali tak bergerak seperti patung, wajahnya yang tadi pucat pasi, tergeletak begitu saja di depannya.

"Kamu jangan pura-pura di depanku," ucap pria itu dingin . Namun, Aya tak memberikan jawaban.

Perlahan, Ibra berjalan mendekatinya. Ditatapnya wajah pucat yang terpejam rapat. Lalu pria itu menyentuh dahi Aya yang terasa panas. Aya bahkan tidak membuka mata. Bulir keringat dingin membasahi pelipisnya, napasnya berat dan tidak teratur.

"Samuel!" serunya memanggil sang asisten.

Pintu ruangan segera terbuka. Samuel bergegas masuk ketika mendengar namanya dipanggil. Dan seketika pria itu terkejut saat melihat sang Presdir sudah menggendong tubuh salah satu karyawannya.

"Siapkan mobil," perintah Ibra dingin.

"Ba-baik, Pak," sahut Samuel patuh meski ia sendiri bertanya-tanya dalam hati mengapa sang Presdir yang terkenal tak tersentuh itu mau menggendong karyawan biasa yang masih baru di perusahaan mereka.

Beberapa detik kemudian, Ibra mengangkat tubuh Aya sepenuhnya. Tubuh wanita itu terasa ringan. Terlalu ringan baginya. Tubuh itu seolah telah kehilangan tenaga, seperti seseorang yang sudah lama memaksa diri berdiri meski tubuhnya menolak. Dan dari sini, ada sedikit perasaan bersalah di dalam hati Ibra yang selama ini selalu memaksanya bekerja.

Sementara saat Samuel membuka pintu, beberapa karyawan yang melihat dari kejauhan langsung menunduk, tak berani menatap lebih lama. Aura Ibra terlalu dingin, terlalu mengintimidasi saat pria itu berjalan menuju ke lift.

Di dalam mobil, Ibra masih memangku Aya. Hal ini disaksikan oleh Samuel yang menyetir di depan mereka. Pria itu benar-benar tak mengerti mengapa sang bos mau menyentuh seorang wanita.

Aya tidak sadar sepenuhnya. Wanita itu hanya bisa diam dalam pelukan sang Presdir dingin yang menguarkan aroma maskulin yang lembut. Sementara Ibra menatap ke depan. Ada gejolak di dalam hatinya.

'Kenapa perasaan tidak nyaman ini kembali muncul? Setelah sekian lama, aku menemukan wanita ini lagi. Hanya dia yang bisa....' gumam Ibra dalam hati.

*

Tak butuh waktu lama mereka tiba di rumah sakit pusat kota. Begitu mobil berhenti, Ibra turun terlebih dulu. Ia kembali menggendong Aya dengan kedua tangannya, langkahnya cepat menyusuri lorong IGD.

"Periksa dia. Dia tiba-tiba pingsan," ucapnya singkat.

Perawat yang bertugas dengan sigap membantu. Aya segera dibawa masuk ke ruangan dan dibaringkan. Infus terpasang. Dokter pun datang memeriksa kondisi secara umum.

"Pasien kelelahan berat dan kekurang nutrisi. Sepertinya dia juga stres yang memperparah kondisinya," ujar dokter setelah pemeriksaan singkat.

Ibra menyilangkan tangan. "Itu saja?"

Samuel mengernyitkan dahi. Entah mengapa pertanyaan itu seolah tak puas dengan hasil pemeriksaan.

Dokter meliriknya. Aura dinginnya benar-benar membuat tak nyaman. "Untuk sementara hanya itu, Pak. Tapi sebaiknya pasien istirahat total selama beberapa hari," lanjutnya.

Ibra menghela napas. Ketika dokter dan perawat pergi, ruangan kembali hening. Hanya suara detak jarum jam dinding yang bergema pelan.

Pria itu diam. Kakinya disilangkan, sementara tangannya sibuk dengan ponsel. Tak lama kemudian, Aya perlahan membuka mata. Dan pandangan pertamanya adalah langit-langit putih yang asing, namun juga tak terlalu asing baginya.

"Ughhh... Di mana ini?" gumamnya sembari memegangi kepalanya yang terasa berat.

Perlahan wanita cantik itu duduk dan pandangan matanya tertuju pada jarum infus di salah satu tangannya. Wanita itu kembali menatap ke sekeliling dan di sana, tepat di samping tempat tidur kecil itu, Ibra duduk tanpa menoleh menatapnya.

Jantungnya langsung berdegup kencang saat melihat wajah arogan dan dingin itu.

"Akhirnya sadar juga," ucap Ibra dingin, tanpa basa-basi.

Aya menelan ludah. "Pak Ibra...." gumamnya gugup.

"Kamu memang hobi bikin masalah, ya?" sindirnya.

Wajah Aya semakin pucat. "Maaf... Saya tidak bermaksud...."

"Tidak bermaksud apa?" potong Ibra tajam. "Kamu sengaja tidak makan dan pingsan di kantor. Membuatku harus repot-repot mengantarmu ke rumah sakit."

Aya menunduk. Jemarinya mencengkeram selimut.

"Maaf, Pak...." cicitnya.

Ibra terdiam sejenak. Tatapannya mengeras lalu beralih ke jendela.

"Sementara kamu kuizinkan libur. Tapi ingat, tugasmu itu masih banyak. Jadi jangan malas," ucapnya akhirnya, penuh tekanan.

Aya terkejut. Ia mengira pria itu akan terus memaksanya bekerja tanpa henti. Namun ternyata dia mendapatkan izin beberapa hari.

Namun sebelum Aya sempat merespons, ketakutan lain muncul. Wanita itu mengenali selimut biru pucat yang ada di genggamannya. Selimut dengan sebuah bordiran halus di salah satu ujungnya, yang sama dengan selimut rumah sakit anaknya.

'Rumah sakit ini... Nggak, nggak... Jangan sampai dia menemukan Putra....' gumam Aya dalam hati, kembali panik.

Tubuh Aya menegang. Dadanya berdebar hebat. Aya tanpa sadar menatap ke arah sang Presdir dengan ekspresi ketakutan.

Ibra pun menyadarinya. "Kamu kenapa lagi?"

Aya menggeleng cepat. "T-tidak ada apa-apa, Pak...." dustanya.

Ia ingin pergi, membawa Putra menjauh dari ayah kandungnya. Namun tubuhnya terlalu lemah.

Dan karena kegugupannya itu, Ibra mulai menaruh curiga padanya. Tatapannya semakin tajam. Seolah tahu ada yang sedang Aya sembunyikan.

Beberapa saat kemudian, dokter datang kembali. "Sore ini pasien boleh pulang. Tapi harus benar-benar istirahat di rumah."

Ibra mengangguk singkat.

"Pak Ibra... terima kasih. Saya nanti bisa pulang sendiri...." ucapnya tetap sopan.

Ibra menatapnya dalam. "Aku akan menjemputmu."

"Ti-tidak perlu," sahut Aya cepat. Tentu saja ia menolak. Bagaimana nanti jika Ibra tahu tempat tinggalnya bersama buah hatinya?

Alis Ibra terangkat. "Kenapa?"

Aya gugup. "Saya... saya bisa pesan taksi. Lagi pula Anda bos saya, tidak sepantasnya mengantar bawahan seperti saya...." ucapnya memberikan alasan yang masuk akal.

Ibra menatapnya cukup lama. Membuat Aya gugup dan menelan ludahnya susah payah.

"Kamu yakin? Aku tidak mau dicap sebagai bos yang buruk," ujar Ibra dengan nada rendah.

Aya mengangguk. "Iya, Pak. Maafkan saya karena sudah merepotkan Bapak...."

Ada jeda hening yang menekan. Aya tak bisa menebak apa yang akan dilakukan oleh pria itu.

"Baik," ucap Ibra akhirnya. "Jangan menyusahkan orang lagi."

Kalimat itu dingin, kasar, namun entah kenapa justru membuat Aya lega. Saat Ibra berbalik pergi, Aya menghela napas panjang.

Ibra melangkah keluar bersama Samuel yang setia menunggunya.

"Pak," sapa Samuel sopan.

"Kita kembali ke kantor. Biarkan saja dia," ujar Ibra dingin.

"Baik, Pak. Tapi...."

"Tapi apa?" Ibra menatap tajam ke arah Samuel.

"Tadi Ibu Anda menelepon, seperti sebelumnya, beliau ingin Anda segera menikah," jawab Samuel sembari menunduk.

Ibra tak merespons. Pria itu memilih melanjutkan langkahnya menjauhi ruangan Aya. Dan saat dia baru saja keluar dari gedung rumah sakit itu, tatapan matanya tiba-tiba tertuju pada sebuah taman yang tak jauh dari sana. Tepatnya pada bangku taman di mana ada seorang anak kecil yang sedang duduk memangku kucing dengan tangan dibalut gips putih tulang.

"Dia...."

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (4)
goodnovel comment avatar
tetty nyuhadarwati
lklan gak bisa dibuka..
goodnovel comment avatar
Eva Amelya
ngulang lagi
goodnovel comment avatar
Lucia Dewi
cerita yg bagus
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 353 [TAMAT]

    Keesokan harinya, pemberitaan media dipenuhi oleh liputan acara pesta perkenalan tersebut. Surat kabar utama, majalah bisnis, hingga media hiburan terkemuka menayangkan berita utama dengan positif. Berita mengenai Pemimpin Bagaskara Group yang telah menjadi seorang suami dan ayah yang bertanggung jawab penuh menjadi topik hangat yang dipuji banyak pihak. Foto keluarga mereka di pesta itu telah menjadi trending topik yang terus dibahas selama lebih dari satu bulan. Sementara di sebuah pantai berpasir putih yang indah, sebuah vila di sana terlihat cukup damai dan hangat. Di dalam vila mewah itu, cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui jendela kaca besar di ruang tengah. Tidak ada lagi rasa cemas, ketakutan, atau bayang-bayang fitnah yang menghantui keluarga Bagaskara. "Ayah, Bunda?" panggil Putra yang baru saja bangun tidur. Bocah itu baru keluar dari kamarnya dengan wajah bantal dan rambut berantakan. "Kamu sudah bangun, Sayang?" sapa Aya lembut, menoleh menatap putra sulun

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 352

    "Tidak, Sayang. Kenapa?" Pria itu balas bertanya lalu duduk di samping sang istri. Membiarkan bayi perempuan mereka yang tidur lelap di dalam tempat tidur bayi.Aya tampak cemberut dan Ibra tahu bahwa istrinya sedang cemburu. Pria itu lalu meraih pinggang Aya dan memeluknya."Aku sama sekali nggak menghubunginya, Sayang. Percayalah. Dia yang tiba-tiba muncul dan membuat berita palsu itu. Lagi pula kamu kan tahu kalau aku sudah tidak bekerja sama dengannya," jelas Ibra membela diri.Aya tiba-tiba tersenyum dan memeluk suaminya. "Iya. Aku percaya, kok, Mas. Hehe.""Kamu ngerjain aku?" Ibra langsung menautkan kedua alisnya.Aya terkekeh geli. "Habisnya Mas lucu kalau lagi panik gini."Ibra mendengus pelan."Aku percaya sama Mas Ibra. Mas nggak mungkin selingkuh. Lagi pula Mas udah punya dua anak. Jadi awas saja kalau berani macam-macam di luar sana!" ancam Aya sembari mencubit pelan perut suaminya.Ibra meringis pelan. "Ah... Aku nggak mungkin selingkuh. Lagi pula kamu saja sudah cukup."

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 351

    "Selama beberapa hari terakhir, media gosip dan jaringan buzzer secara sistematis menyebar luaskan isu bahwasanya kedua anak saya bukanlah anak kandung saya, serta melampirkan rekam medis palsu yang menyebutkan bahwa saya mengalami impotensi total," lanjut Ibra dengan tatapan lurus mengunci kamera media utama. "Hari ini, kami hadirkan fakta hukum yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun."Layar besar di belakangnya langsung menampilkan dokumen resmi berstempel dari lembaga terakreditasi dan juga dari rumah sakit ternama."Di layar utama, Anda sekalian bisa melihat hasil uji DNA forensik yang dilakukan secara independen oleh tiga laboratorium berbeda di bawah pengawasan Polda. Hasilnya menunjukkan tingkat keidentikan 99,99 persen. Kedua anak saya adalah anak biologis, anak kandung saya tanpa keraguan sedikit pun," tegas Ibra, suaranya tajam menembus kesunyian ruangan.Layar kemudian bergeser menampilkan dokumen rekam medis bertanda "PALSU" dengan watermark merah besar, disandingkan deng

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 350

    Ibra terkekeh dingin. Sebuah tawa yang sanggup membuat siapa pun di ruangan itu merinding. "Kerabat Om Hengki, ya.... gumamnya dengan rahang mengeras."Iya, Pak. Menurut data yang kami dapat, Bagus ini merupakan saudara sepupu yang cukup jauh. Hanya saja mereka akrab dan sama-sama licik," jawab Yudha."Baiklah. Lakukan apa yang harus kalian lakukan. Wanita murahan dan pria licik adalah pasangan yang sangat cocok," geram Ibra lagi dengan tangan terkepal."Baik, Pak," sahut Yudha. "Barang buktinya juga sudah lengkap," lanjutnya seraya membuka folder di meja. "Di dalam laptop pribadi Kaila yang disita polisi, kami juga menemukan file rekaman suara Anda dan Dokter Rian, draf narasi fitnah yang dikirim ke beberapa akun gosip besar, serta bukti transaksi pembayaran bernilai ratusan juta rupiah kepada para influencer dan buzzer untuk menggoreng isu skandal ini."Yudha menekan tombol play pada tabletnya, menampilkan rekaman penggerebekan yang baru saja terjadi beberapa jam lalu. Di dalam vide

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 349

    "Kenapa, Yah?" tanya Putra heran. Bocah itu memiringkan sedikit kepalanya.Suasana di meja makan yang tadinya penuh gurauan hangat perlahan tergantikan oleh ketegangan tipis yang terasa. Putra menatap ayahnya dengan sepasang mata bulat yang memancarkan kekecewaan sekaligus kebingungan. Sendok di tangannya terhenti di udara sebelum akhirnya ia letakkan kembali di atas piring.Sang ayah masih diam. Putra kembali bersuara. "Kenapa nggak boleh sekolah, Ayah? Putra udah pakai seragam loh. Kan gosipnya udah ditangani Om Samuel?" tanya Putra lagi, mencoba mencari celah negosiasi.Meski masih kecil, sebagai anak laki-laki tertua yang mulai paham situasi, ia merasa cemas jika harus tertinggal pelajaran. Putra juga sudah punya banyak teman dan bisa bermain dengan mereka setiap istirahat. Dan yang bocah itu takuti, teman-temannya akan memusuhinya jika mereka juga membaca gosip yang tersebar di internet."Aku sebenarnya juga takut, Ayah, Bunda... Gimana kalau teman-teman Putra menjauhi Putra gara

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 348

    Ibra tertohok. Hampir tersedak ludahnya sendiri. Pria itu kemudian mengubah posisinya, bergeser turun dan berbaring di samping Aya. Ia membetulkan pakaian Aya. Lalu dengan lembut menarik tubuh istrinya masuk ke dalam dekapan hangatnya. Tak lupa menarik selimut untuk menyelimuti tubuh mereka berdua dengan selimut tebal hingga sebatas dada. Satu kaki panjang Ibra sengaja dilingkarkan di atas paha Aya, mengunci wanita itu dengan posesif namun tetap lembut."Maafkan aku, ya, Sayang. Aku benar-benar hampir saja menyakitimu," bisik Ibra tulus kembali meminta maaf. Ia mengecup kening Aya cukup lama."Nggak papa, Mas. Aku tahu kamu cuma kangen kan," jawab Aya seraya menyandarkan kepalanya di dada telanjang Ibra, mendengarkan detak jantung pria itu yang perlahan-lahan kembali melambat dan stabil.Ibra mengusap-usap punggung Aya penuh kehangatan, meninggalkan rasa nyaman yang menjalar ke seluruh tubuh sang istri. Rasa gairah membara tadi kini berganti menjadi kehangatan yang sangat menenangkan.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status