Se connecterDi depan ruang operasi, Aya menunggu sambil memeluk tasnya erat-erat. Setiap detik terasa begitu panjang. Saat ini dia benar-benar sendirian menunggui anak semata wayangnya.
'Ya Tuhan... selamatkan Putra... Aku nggak mau kehilangan orang yang aku sayangi lagi....' doanya penuh harap. Aya benar-benar takut kejadian enam tahun yang lalu akan terulang lagi. Beberapa jam kemudian, pintu ruang operasi terbuka. Aya langsung menghampiri dokter yang menangani putranya. "Dokter, bagaimana keadaan anak saya?" tanya wanita itu tak sabaran. "Anak ibu baik-baik saja. Operasinya berhasil. Tapi anak ibu tidak boleh melakukan kegiatan yang berat dulu," jawabnya. Aya mengangguk. "Terima kasih...." Seusai operasi, Putra dipindahkan ke kamar rawat kelas satu. Aya menunggui anaknya itu dengan penuh kelegaan. "Bunda... Kamar ini bagus... Lebih bagus dari kamar kita di kontrakan," ucap Putra saat mengagumi kamar rawatnya. Aya hanya tersenyum. "Bun, ini pasti mahal. Sebaiknya kita pulang," ucap Putra kemudian. Aya mengusap lembut pipi putranya. "Kamu nggak usah memikirkan biayanya, Sayang. Semuanya sudah Bunda bayar. Yang penting sekarang, kamu sembuh dulu," ujarnya penuh kasih sayang. Putra menatap tangan kanannya yang kini terpasang gips. "Maaf, Bunda... Semua ini gara-gara Putra...." cicitnya. Aya menggeleng pelan. Dia mengusap lembut tangan Putra yang tidak terluka. "Bunda maafin. Tapi ceritakan sama Bunda kenapa tangan kamu bisa sampai terluka?" Bocah tampan itu sedikit tersentak. Dia pun menatap wajah ibunya sejenak, lalu kembali menunduk, menatapnya lagi, lalu menunduk lagi. "Putra... Kamu nggak mau cerita?" tanya sang ibu lagi. Putra menunduk semakin dalam. Tangan kirinya memilin-milin salah satu ujung selimut. "Putra kesal, Bun...." "Kesal kenapa?" tanya Aya lagi. Dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. "Dia meledek Putra karena Putra nggak punya Ayah. Dia bilang Putra anak haram...." cicit bocah tampan itu. Aya tersentak mendengarnya. Dadanya terasa kembali dihantam kuat-kuat. "Kamu bukan anak haram, Sayang...." ucap Aya mencoba menenangkan. Padahal dialah yang mulai panik sendiri karena ingatan masa lalunya. "Katanya kalau nggak punya Ayah dan Ayahnya nggak mengakui, itu namanya anak haram, Bun. Dia juga bilang kalau Bunda orang yang nggak baik." Aya kembali diam menatap anaknya yang menunduk. "Aku marah, Bun. Karena dia bilang kalau anak haram itu anak yang tidak pantas dilahirkan," lanjut Putra sembari mendongak menatap kedua mata ibunya. Aya masih terdiam. Dadanya sesak mendengar penjelasan Putra. Lalu ia segera memeluk anak semata wayangnya itu dengan hangat. "Maaf, Sayang... Karena Bunda kamu jadi diejek seperti itu. Tapi kamu bukan anak haram... Di dunia ini tidak ada yang namanya anak haram... Kamu... Kamu anugerah buat Bunda...." isaknya sembari mengusap lembut kepala Putra. Putra membalas pelukan ibunya. Dia ikut menangis. "Seharusnya Putra nggak usah marah... Tapi... Tapi Putra sebenarnya juga pengen punya Ayah...." 'Maafin Bunda, Sayang... Maaf... Gara-gara Bunda kamu jadi menderita seperti ini... Tapi Bunda nggak mau kamu ketemu sama orang itu....' batin Aya kelu. Drrrt drrrt drrrt Tiba-tiba saja ponsel Aya berdering. Wanita itu memeriksa sebentar dan melihat nama Presdir tertera di sana. Sontak saja ia gugup. Cepat-cepat Aya menghapus air matanya. "Sebentar ya, Sayang? Bunda terima telfon dulu," ucap Aya sembari beranjak dari duduknya. "Iya, Bunda." Aya bergegas keluar dari kamar rawat anaknya sebelum menerima panggilan. Dan saat panggilan tersambung, ia menerima sebuah bentakan yang mengagetkan. "Di mana kamu?! Bukankah kamu harus menyelesaikan laporan yang telah aku berikan?!" Ibra membentak dengan dingin dan tajam. Sejenak tubuh Aya menegang. Wanita itu menoleh ke kamar putranya. "Ma-maaf, Pak... Tapi... saya ada urusan mendadak... Saya mohon izin...." cicitnya. "Izin?" Nada itu terdengar menakutkan, penuh ancaman di telinga Aya. "Siapa yang memberimu izin?" Tangan Aya mengepal erat. Ia benar-benar benci nada arogan ini. Cara bicara yang dulu juga membuatnya harus patuh merasakan sakitnya malam pertama demi sejumlah uang. Lalu Aya menoleh ke kamar putranya. Ia tak mau Ibra mengetahui keberadaan Putra, anak mereka yang terlahir karena kesalahan satu malam enam tahun yang lalu. "Maafkan saya... Besok saya akan menyerahkan laporannya pada Anda," jawab Aya mencoba memberikan alasan. Bagaimana pun juga ia tak mau meninggalkan anaknya yang baru saja selesai operasi demi pekerjaan. Dan tanpa memikirkan jawaban dari sang Presdir, Aya memutuskan panggilan begitu saja. Wanita itu menekan dadanya yang bergemuruh. Berharap Ibra tidak akan mencarinya dan mengetahui rahasia besarnya itu. Dan karena tidak mau putranya khawatir, Aya kembali masuk ke dalam kamar. "Udah selesai telfonnya, Bunda?" tanya Putra dengan wajah polos yang begitu manis. Aya tersenyum lembut. "Udah, Sayang." "Bunda... kalau Bunda mau kerja, nggak papa, Bun," ucap Putra penuh perhatian. Aya terkesiap. "Ah... Bu-Bunda sudah izin...." dustanya. Tak berani menatap Putra saat menjawab. Padahal baru saja sang Presdir mencarinya dengan marah-marah. "Bunda, jangan begitu. Bunda harus tetep berangkat kerja. Di sini kan ada suster. Jadi Bunda jangan khawatir," ucap Putra yang tampak sedikit lebih dewasa meski dia masih anak-anak. Aya tersenyum simpul. "Nggak papa, Sayang. Bunda udah izin buat jagain kamu." "Oh... Baiklah...." Dengan polosnya Putra akhirnya percaya saja. Hingga malam hari ketika Putra tertidur, Aya menerima panggilan dari salah satu rekan kerjanya. Wanita itu pun berdiri di dekat jendela membelakangi anaknya. "Ada apa, Mbak?" tanya Aya. "Aya. Kamu tadi ke mana?" tanya rekan kerja Aya dari ujung panggilan. Aya menghela napas. "Aku ada urusan mendadak, Mbak." "Beneran? Tadi Pak Ibra marah waktu kamu nggak ada di tempat. Kamu sebenernya ada masalah apa, Ay? Kuperhatiin Pak Ibra kaya menargetkan kamu terus?" "Nggak papa, Mbak. Mungkin karena aku masih anak baru," jawab Aya mencoba meminimalisir kecurigaan rekannya. Panggilan pun berakhir. Aya menatap ke langit yang dipenuhi bintang. Dadanya bergemuruh. Ia lalu menatap Putra yang sudah tertidur lelap. Hanya anak itu satu-satunya cahaya dalam hidupnya yang membuat wanita itu terus bertahan. 'Dia nggak boleh menemukan kamu....' gumam Aya dalam hati. * Di hari berikutnya, Aya masih dengan sabar dan penuh kasih sayang merawat anaknya sebelum berangkat. "Oh iya, Sayang. Hari ini Bunda mau berangkat kerja, ya? Kamu berani di sini sendiri, kan? Nanti biar ditemani suster," ucap Aya kemudian. Putra menatap ibunya dengan senyuman. "Iya. Putra berani," jawabnya kemudian. "Kalau begitu Bunda berangkat dulu," ucap Aya yang kemudian mencium kening anaknya dengan lembut. Putra hanya mengangguk dan menatap sang ibu yang melambaikan tangan sebelum menutup pintu. Wajah bocah tampan itu pun kembali murung saat menatap tangan kanannya yang digips. Sementara itu, Aya segera menyerahkan berkas kepada sang Presdir. Ibra sendiri sudah menunggunya dengan tatapan tajam yang menakutkan. "Ke mana saja kamu kemarin? Apa kamu pikir kantor ini milikmu, ha?" sentaknya tajam. Aya memejamkan sejenak kedua matanya. "Maaf...." cicitnya. "Dasar tidak becus. Sekarang juga cepat selesaikan laporan itu! Aku mau kamu berikan padaku sore ini!" tegas Ibra. Aya hanya diam. Ia merasa pria itu semakin sewenang-wenang dengan jabatannya. Lagi-lagi memberikan tugas yang tidak masuk akal. Namun, sekali lagi ia memilih mengalah dan mematuhi perintah atasan. "Baik, Pak," sahut Aya. Ibra terus menatap tajam ke arah Aya yang keluar meninggalkan ruangannya. Rahangnya mengeras dan kedua tangannya terkepal erat. 'Sialan. Kenapa aku malah hanya bereaksi pada wanita tak tahu diri sepertinya? Selama ini dia hanya menggunakan uang yang aku berikan,' batin pria tampan itu. Aya menghela napas ketika ia baru saja duduk di kursi kerjanya. Wanita itu segera mengerjakan laporan yang diminta. Fokusnya cukup bagus hingga waktu makan siang tiba. Aya memeriksa ponselnya dan tanpa kata segera pergi meninggalkan mejanya begitu saja. "Pergi ke mana lagi dia?" tanya Ibra yang tanpa Aya sadari berpapasan dengannya. Ibra melihat Aya yang berjalan tergesa-gesa. "Ini jam makan siang, Pak. Mungkin dia juga mau makan siang," jawab Samuel. Ibra mengalihkan pandangannya dan segera pergi begitu saja. Sementara tanpa pria itu ketahui, Aya kembali ke rumah sakit untuk menemani putranya sebentar. Menyuapi Putra makan siang dan menyeka keringat anaknya. Hingga jam makan siang usai, Aya kembali ke kantor, melupakan makan siangnya sendiri karena jarak rumah sakit dan kantor lebih jauh dari Taman Kanak-Kanak. "Aya. Kamu baik-baik saja?" tanya salah satu rekan kerja Aya yang menyaksikan bagaimana wanita muda itu bekerja begitu keras dan bahkan lebih keras dari rekan-rekannya. "Aku baik-baik saja, Mbak," jawab Aya sembari memasang senyuman. Wanita itu terus fokus pada laporan-laporan yang begitu banyak jumlahnya. Hingga sore hari, sebelum waktu pulang, akhirnya ia menyelesaikan semua laporan yang diminta sang Presdir. "Akhirnya selesai juga...." gumam Aya sembari meregangkan otot-ototnya. Wanita itu bergegas mencetak semua laporan yang telah ia buat dan segera menyerahkannya ke ruangan sang Presdir. "Pak, saya sudah selesai," ucap Aya sembari meletakkan laporan di hadapan Ibra. "Hm." Pria itu hanya melirik sekilas. Aya mengangguk. "Kalau begitu saya permisi dulu," ucapnya kemudian. Ibra kembali menatapnya diam-diam. Dan saat itu juga ia menyadari wajah Aya yang sudah pucat pasi. Saat Aya berbalik, wanita itu berjalan sedikit limbung sebelum akhirnya jatuh tersungkur di hadapan sang Presdir. ***"Beneran, Nek?" tanya Putra dengan mata berbinar."Iya, Sayang. Jadilah anak pintar ya, nurut sama Ayah dan Bunda. Nenek pulang dulu," sahur Dewi.Setelah mengantar Dewi sampai ke depan pintu dan memastikan mobilnya berlalu, Ibra kembali ke dalam. Suasana rumah terasa lebih tenang, hanya ada suara denting piring dari dapur tempat Aya menyiapkan makan malam."Mas mandilah dulu. Kita makan," ucap Aya lembut.Ibra mendekati istrinya terlebih dahulu. Lalu memeluk Aya dari belakang dan mengusap lembut perutnya. "Iya, Aya. Kamu duduk saja. Biar Bi Tina yang siapin semuanya.""Nggak papa, Mas. Sudah. Sana mandi." Aya berujar lembut."Aku tidak akan mandi kalau kamu tidak mau duduk," sahut Ibra sembari menarik tangan sang istri. Membawa wanita itu agar duduk di kursi makan."Baiklah." Aya akhirnya menurut. Wanita itu duduk di kursinya. Sementara Putra ikut mendekat dan duduk di hadapan sang ibu."Ayah, biar Putra aja yang bantuin Bunda. Ayah mandi aja," ucap bocah tampan nan menggemaskan itu.
"Pak, apa kita perlu ikut menyelidiki masalah ini?" tanya Samuel ketika ia dan sang Presdir berjalan keluar melewati lobi."Tahan dulu. Biarkan mereka yang bekerja. Sekarang kita fokus pada masalah kebocoran data itu. Kamu harus bisa menyelesaikannya, secepatnya," jawab Ibra dengan tegas."Baik, Pak," sahut Samuel.*Sore harinya, Ibra kembali ke rumah dengan beban di pundak yang terasa semakin berat. Namun, pemandangan di ruang tengah sedikit meredakan ketegangannya.Putra sudah mau keluar dari kamar. Ia duduk di sofa, diapit oleh Aya dan Dewi. Mereka sedang menyusun balok-balok mainan dengan tenang. Aya terlihat membisikkan sesuatu yang membuat Putra tersenyum tipis. Meski senyumannya belum seceria biasanya.Di belakang mereka, Lili memilih tidur dengan tenang. Nampaknya kucing kecil itu sudah kelelahan karena bermain menghibur teman kecilnya."Ayah?" panggil Putra pelan.Aya menoleh, menatap suaminya. Menyadari gurat kelelahan di wajah Ibra. Ia ber
Di kantor polisi, tepatnya di ruang interogasi. Sementara kehangatan menyelimuti kamar Putra, atmosfer di kantor polisi justru sedingin es. Ibra berdiri di balik kaca satu arah, menatap dua sosok yang telah menghancurkan ketenangannya, yaitu Timo dan Beatrice.Samuel berdiri di samping Ibra, memegang beberapa berkas tuntutan dan bukti kejahatan yang dilakukan kedua orang itu."Kita punya cukup bukti untuk menjerat mereka berdua, Pak. Terutama Timo, dia tertangkap tangan dengan bukti digitalnya. Dan ini berkat ketelitian Bu Aya," papar Samuel.Rahang Ibra mengeras saat menatap kedua orang yang duduk berdampingan di hadapannya. Mereka pun menyadari kemunculan Ibra dan Samuel.Ibra melangkah masuk ke ruang interogasi pertama. Di sana, Timo duduk dengan bahu merosot dan tangan terborgol. Begitu melihat Ibra, pria yang dulunya adalah orang kepercayaan di tim IT itu langsung bersimpuh di lantai, memeluk kedua kakinya."Pak Ibra... saya mohon maaf, Pak! Saya khilaf!" ra
Mentari pagi yang biasanya disambut dengan kehangatan aktivitas persiapan sekolah, kali ini terasa hening di kediaman Ibra. Cahaya yang menyusup lewat celah gorden kamar Putra tidak mampu mengusir sisa-sisa trauma yang menyelimuti bocah lima tahun itu.Putra masih meringkuk di balik selimut tebalnya. Meski ruangan itu luas dan terang, di matanya, kegelapan ruangan dan lemari sempit tempatnya disekap kemarin masih membayang. Setiap kali ia memejamkan mata, ia kembali merasakan hawa dingin dan sesak yang mencekik napasnya dan juga suara amarah wanita yang menjadikannya sandera."Meong!" Lili berseru pelan. Mengeluarkan tubuhnya dengan lentur di sebelah Putra. Seolah tahu akan keadaan teman kecilnya itu, Lili duduk dengan bulu putih yang berantakan, lalu menyandarkan kedua cakar depannya di dada Putra."Lili...." cicit Putra pelan."Meong...." Lili membalas dengan ngeongan lembut. Kucing kecil itu pun semakin mendekat dan kini berpindah duduk tepat di sebelah bahu Putra. Kepalanya pun m
Ibra mengangguk. "Ya. Dia berhasil mengecoh kita."Aya mengepalkan kedua tangannya. "Mas, sebaiknya kita bicara di luar." Wanita itu menoleh ke arah anaknya dan mengusap pipi Putra dengan lembut."Sayang, kamu istirahat, ya? Biar ditemani Lili. Bunda, Ayah, sama Nenek mau bicara," ucap Aya lembut dan penuh kasih sayang."Iya, Bunda." Putra mengangguk patuh. Bocah itu memeluk ibu lalu neneknya terlebih dahulu. Lalu ia menoleh ke arah ayahnya."Ayah, makasih," ujarnya sebelum memeluk sang ayah juga."Sama-sama, Jagoan. Ayah tidak akan biarkan kamu terluka," ucap Ibra. Pria itu menatap sang istri."Kalian keluarlah dulu. Aku mau obati tangan Putra," ujarnya."Apa?!" Aya memekik. Wanita itu menarik tangan mungil anaknya dan melihat ruam merah di pergelangan Putra."Astaga... Biar Bunda yang obati.""Tidak, biar Nenek saja!"Dan setelah itu, Aya dan Dewi mengobati tangan Putra bersama. Mereka bertiga pun segera keluar dan membiarkan bocah itu tidur
Malam itu, mobil Maybach hitam metalik milik Ibra terus membelah jalanan. Meninggalkan area pantai kembali ke pusat kota yang cukup jauh. Hingga pukul sembilan malam, mobil Ibra tiba di depan rumahnya.Lampu teras berpijar kuning temaram, menerangi dua sosok wanita yang wajahnya telah luruh oleh air mata dan kecemasan. Aya berdiri di ambang pintu, jemarinya saling meremas.Di sampingnya, Dewi tak henti-hentinya berdoa dengan bibir gemetar. Sudah lima jam sejak Putra hilang tanpa jejak dari sekolahnya. Lima jam yang terasa seperti lima abad di neraka karena tak bertemu dengan cucunya.Lalu, sepasang lampu sorot mobil membelah kegelapan. Masuk ke area rumah Ibra, melewati pintu gerbang uang tinggi.Mobil Maybach hitam itu berhenti dengan decitan pelan tepat di depan teras. Jantung Aya seakan berhenti berdetak saat pintu belakang terbuka. Ibra keluar dari sana. Wajahnya pucat, bajunya kusut, rambutnya berantakan, tapi matanya memancarkan sesuatu yang membuat napas Aya kembali tercekat."
Ibra mengangkat tangan kanannya. Memberikan isyarat agar rapat terus dilanjutkan meski dirinya tidak ikut sampai akhir. "Lanjutkan saja. Saya permisi." Ibra memegangi perutnya. Pria itu lalu berjalan keluar dari ruangan rapat. Menimbulkan pertanyaan bagi yang lainnya. Samuel s
"Kamu kenapa?" tanya Aya dengan dahi mengernyit.Spontan, Ibra bangkit dan melompat dari tempat tidur. Dengan langkah sempoyongan dan tangan menekan perut, ia berlari menuju kamar mandi. Suara muntah yang hebat terdengar dari dalam, membuat Aya kaget."Astaga... separah ini kah?" gumam Aya kasihan.
"Hm," jawab Ibra singkat. Menanggapi sapaan manis dari Beatrice.Beatrice tampak sangat bahagia. Ia menatap wajah tampan Ibra yang semakin memesona dan berwibawa."Aku senang sekali kamu mengajakku makan malam di sini. Samuel tadi yang kirim undangan ke aku," papar Beatrice masih dengan senyuman ma
"Apa maksudmu aku menyukainya?" tanya Ibra dengan tatapan kesal.Samuel menghela napas panjang. Ia tahu akan sulit memberi tahu sang bos yang arogan dan dingin ini."Aku menikahinya karena hanya dia yang bisa mengandung anakku. Tujuanku hanya ingin menjadikan Putra penerusku. Karena di keluargaku h







