Share

Bab 8

Author: Rizu Key
last update Last Updated: 2025-12-31 14:45:46

Di depan ruang operasi, Aya menunggu sambil memeluk tasnya erat-erat. Setiap detik terasa begitu panjang. Saat ini dia benar-benar sendirian menunggui anak semata wayangnya.

'Ya Tuhan... selamatkan Putra... Aku nggak mau kehilangan orang yang aku sayangi lagi....' doanya penuh harap. Aya benar-benar takut kejadian enam tahun yang lalu akan terulang lagi.

Beberapa jam kemudian, pintu ruang operasi terbuka. Aya langsung menghampiri dokter yang menangani putranya.

"Dokter, bagaimana keadaan anak saya?" tanya wanita itu tak sabaran.

"Anak ibu baik-baik saja. Operasinya berhasil. Tapi anak ibu tidak boleh melakukan kegiatan yang berat dulu," jawabnya.

Aya mengangguk. "Terima kasih...."

Seusai operasi, Putra dipindahkan ke kamar rawat kelas satu. Aya menunggui anaknya itu dengan penuh kelegaan.

"Bunda... Kamar ini bagus... Lebih bagus dari kamar kita di kontrakan," ucap Putra saat mengagumi kamar rawatnya.

Aya hanya tersenyum.

"Bun, ini pasti mahal. Sebaiknya kita pulang," ucap Putra kemudian.

Aya mengusap lembut pipi putranya. "Kamu nggak usah memikirkan biayanya, Sayang. Semuanya sudah Bunda bayar. Yang penting sekarang, kamu sembuh dulu," ujarnya penuh kasih sayang.

Putra menatap tangan kanannya yang kini terpasang gips. "Maaf, Bunda... Semua ini gara-gara Putra...." cicitnya.

Aya menggeleng pelan. Dia mengusap lembut tangan Putra yang tidak terluka. "Bunda maafin. Tapi ceritakan sama Bunda kenapa tangan kamu bisa sampai terluka?"

Bocah tampan itu sedikit tersentak. Dia pun menatap wajah ibunya sejenak, lalu kembali menunduk, menatapnya lagi, lalu menunduk lagi.

"Putra... Kamu nggak mau cerita?" tanya sang ibu lagi.

Putra menunduk semakin dalam. Tangan kirinya memilin-milin salah satu ujung selimut. "Putra kesal, Bun...."

"Kesal kenapa?" tanya Aya lagi. Dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.

"Dia meledek Putra karena Putra nggak punya Ayah. Dia bilang Putra anak haram...." cicit bocah tampan itu.

Aya tersentak mendengarnya. Dadanya terasa kembali dihantam kuat-kuat.

"Kamu bukan anak haram, Sayang...." ucap Aya mencoba menenangkan. Padahal dialah yang mulai panik sendiri karena ingatan masa lalunya.

"Katanya kalau nggak punya Ayah dan Ayahnya nggak mengakui, itu namanya anak haram, Bun. Dia juga bilang kalau Bunda orang yang nggak baik."

Aya kembali diam menatap anaknya yang menunduk.

"Aku marah, Bun. Karena dia bilang kalau anak haram itu anak yang tidak pantas dilahirkan," lanjut Putra sembari mendongak menatap kedua mata ibunya.

Aya masih terdiam. Dadanya sesak mendengar penjelasan Putra. Lalu ia segera memeluk anak semata wayangnya itu dengan hangat. "Maaf, Sayang... Karena Bunda kamu jadi diejek seperti itu. Tapi kamu bukan anak haram... Di dunia ini tidak ada yang namanya anak haram... Kamu... Kamu anugerah buat Bunda...." isaknya sembari mengusap lembut kepala Putra.

Putra membalas pelukan ibunya. Dia ikut menangis. "Seharusnya Putra nggak usah marah... Tapi... Tapi Putra sebenarnya juga pengen punya Ayah...."

'Maafin Bunda, Sayang... Maaf... Gara-gara Bunda kamu jadi menderita seperti ini... Tapi Bunda nggak mau kamu ketemu sama orang itu....' batin Aya kelu.

Drrrt drrrt drrrt

Tiba-tiba saja ponsel Aya berdering. Wanita itu memeriksa sebentar dan melihat nama Presdir tertera di sana. Sontak saja ia gugup. Cepat-cepat Aya menghapus air matanya.

"Sebentar ya, Sayang? Bunda terima telfon dulu," ucap Aya sembari beranjak dari duduknya.

"Iya, Bunda."

Aya bergegas keluar dari kamar rawat anaknya sebelum menerima panggilan. Dan saat panggilan tersambung, ia menerima sebuah bentakan yang mengagetkan.

"Di mana kamu?! Bukankah kamu harus menyelesaikan laporan yang telah aku berikan?!" Ibra membentak dengan dingin dan tajam.

Sejenak tubuh Aya menegang. Wanita itu menoleh ke kamar putranya. "Ma-maaf, Pak... Tapi... saya ada urusan mendadak... Saya mohon izin...." cicitnya.

"Izin?" Nada itu terdengar menakutkan, penuh ancaman di telinga Aya. "Siapa yang memberimu izin?"

Tangan Aya mengepal erat. Ia benar-benar benci nada arogan ini. Cara bicara yang dulu juga membuatnya harus patuh merasakan sakitnya malam pertama demi sejumlah uang.

Lalu Aya menoleh ke kamar putranya. Ia tak mau Ibra mengetahui keberadaan Putra, anak mereka yang terlahir karena kesalahan satu malam enam tahun yang lalu.

"Maafkan saya... Besok saya akan menyerahkan laporannya pada Anda," jawab Aya mencoba memberikan alasan. Bagaimana pun juga ia tak mau meninggalkan anaknya yang baru saja selesai operasi demi pekerjaan. Dan tanpa memikirkan jawaban dari sang Presdir, Aya memutuskan panggilan begitu saja.

Wanita itu menekan dadanya yang bergemuruh. Berharap Ibra tidak akan mencarinya dan mengetahui rahasia besarnya itu. Dan karena tidak mau putranya khawatir, Aya kembali masuk ke dalam kamar.

"Udah selesai telfonnya, Bunda?" tanya Putra dengan wajah polos yang begitu manis.

Aya tersenyum lembut. "Udah, Sayang."

"Bunda... kalau Bunda mau kerja, nggak papa, Bun," ucap Putra penuh perhatian.

Aya terkesiap. "Ah... Bu-Bunda sudah izin...." dustanya. Tak berani menatap Putra saat menjawab. Padahal baru saja sang Presdir mencarinya dengan marah-marah.

"Bunda, jangan begitu. Bunda harus tetep berangkat kerja. Di sini kan ada suster. Jadi Bunda jangan khawatir," ucap Putra yang tampak sedikit lebih dewasa meski dia masih anak-anak.

Aya tersenyum simpul. "Nggak papa, Sayang. Bunda udah izin buat jagain kamu."

"Oh... Baiklah...." Dengan polosnya Putra akhirnya percaya saja.

Hingga malam hari ketika Putra tertidur, Aya menerima panggilan dari salah satu rekan kerjanya. Wanita itu pun berdiri di dekat jendela membelakangi anaknya.

"Ada apa, Mbak?" tanya Aya.

"Aya. Kamu tadi ke mana?" tanya rekan kerja Aya dari ujung panggilan.

Aya menghela napas. "Aku ada urusan mendadak, Mbak."

"Beneran? Tadi Pak Ibra marah waktu kamu nggak ada di tempat. Kamu sebenernya ada masalah apa, Ay? Kuperhatiin Pak Ibra kaya menargetkan kamu terus?"

"Nggak papa, Mbak. Mungkin karena aku masih anak baru," jawab Aya mencoba meminimalisir kecurigaan rekannya.

Panggilan pun berakhir. Aya menatap ke langit yang dipenuhi bintang. Dadanya bergemuruh. Ia lalu menatap Putra yang sudah tertidur lelap. Hanya anak itu satu-satunya cahaya dalam hidupnya yang membuat wanita itu terus bertahan.

'Dia nggak boleh menemukan kamu....' gumam Aya dalam hati.

*

Di hari berikutnya, Aya masih dengan sabar dan penuh kasih sayang merawat anaknya sebelum berangkat.

"Oh iya, Sayang. Hari ini Bunda mau berangkat kerja, ya? Kamu berani di sini sendiri, kan? Nanti biar ditemani suster," ucap Aya kemudian.

Putra menatap ibunya dengan senyuman. "Iya. Putra berani," jawabnya kemudian.

"Kalau begitu Bunda berangkat dulu," ucap Aya yang kemudian mencium kening anaknya dengan lembut.

Putra hanya mengangguk dan menatap sang ibu yang melambaikan tangan sebelum menutup pintu. Wajah bocah tampan itu pun kembali murung saat menatap tangan kanannya yang digips.

Sementara itu, Aya segera menyerahkan berkas kepada sang Presdir. Ibra sendiri sudah menunggunya dengan tatapan tajam yang menakutkan.

"Ke mana saja kamu kemarin? Apa kamu pikir kantor ini milikmu, ha?" sentaknya tajam.

Aya memejamkan sejenak kedua matanya. "Maaf...." cicitnya.

"Dasar tidak becus. Sekarang juga cepat selesaikan laporan itu! Aku mau kamu berikan padaku sore ini!" tegas Ibra.

Aya hanya diam. Ia merasa pria itu semakin sewenang-wenang dengan jabatannya. Lagi-lagi memberikan tugas yang tidak masuk akal. Namun, sekali lagi ia memilih mengalah dan mematuhi perintah atasan.

"Baik, Pak," sahut Aya.

Ibra terus menatap tajam ke arah Aya yang keluar meninggalkan ruangannya. Rahangnya mengeras dan kedua tangannya terkepal erat.

'Sialan. Kenapa aku malah hanya bereaksi pada wanita tak tahu diri sepertinya? Selama ini dia hanya menggunakan uang yang aku berikan,' batin pria tampan itu.

Aya menghela napas ketika ia baru saja duduk di kursi kerjanya. Wanita itu segera mengerjakan laporan yang diminta. Fokusnya cukup bagus hingga waktu makan siang tiba. Aya memeriksa ponselnya dan tanpa kata segera pergi meninggalkan mejanya begitu saja.

"Pergi ke mana lagi dia?" tanya Ibra yang tanpa Aya sadari berpapasan dengannya. Ibra melihat Aya yang berjalan tergesa-gesa.

"Ini jam makan siang, Pak. Mungkin dia juga mau makan siang," jawab Samuel.

Ibra mengalihkan pandangannya dan segera pergi begitu saja. Sementara tanpa pria itu ketahui, Aya kembali ke rumah sakit untuk menemani putranya sebentar. Menyuapi Putra makan siang dan menyeka keringat anaknya. Hingga jam makan siang usai, Aya kembali ke kantor, melupakan makan siangnya sendiri karena jarak rumah sakit dan kantor lebih jauh dari Taman Kanak-Kanak.

"Aya. Kamu baik-baik saja?" tanya salah satu rekan kerja Aya yang menyaksikan bagaimana wanita muda itu bekerja begitu keras dan bahkan lebih keras dari rekan-rekannya.

"Aku baik-baik saja, Mbak," jawab Aya sembari memasang senyuman.

Wanita itu terus fokus pada laporan-laporan yang begitu banyak jumlahnya. Hingga sore hari, sebelum waktu pulang, akhirnya ia menyelesaikan semua laporan yang diminta sang Presdir.

"Akhirnya selesai juga...." gumam Aya sembari meregangkan otot-ototnya.

Wanita itu bergegas mencetak semua laporan yang telah ia buat dan segera menyerahkannya ke ruangan sang Presdir.

"Pak, saya sudah selesai," ucap Aya sembari meletakkan laporan di hadapan Ibra.

"Hm." Pria itu hanya melirik sekilas.

Aya mengangguk. "Kalau begitu saya permisi dulu," ucapnya kemudian.

Ibra kembali menatapnya diam-diam. Dan saat itu juga ia menyadari wajah Aya yang sudah pucat pasi. Saat Aya berbalik, wanita itu berjalan sedikit limbung sebelum akhirnya jatuh tersungkur di hadapan sang Presdir.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 80

    "Hanya karena kado dari dia, kamu menangis seperti itu?" suara Ibra dingin, penuh dengan nada tidak suka. Lalu ia menarik Aya dan mencengkeram dagunya dengan satu tangan."Aku peringatkan padamu agar tidak berbuat hal yang bodoh. Kita baru saja menikah dan kamu istriku!" tegasnya dengan tatapan tajam.Aya tidak menjawab. Ia malah kembali menangis dengan bahunya terguncang hebat. Ia lalu mengambil isi kotak itu dan mengangkatnya di hadapan sang suami.Ibra tertegun. Ia menatap benda di tangan istrinya. Dahinya mengernyit dengan kedua matanya menyipit tajam. Di tangan Aya, ada benda yang ia sendiri tak mengerti apa."Hanya itu?" tanyanya masih dengan nada dingin.Aya menepis pelan tangan yang mencengkeramnya. Lalu ia membuka lembaran pertama pada album foto kecil di tangannya. Ibra ikut melihat dan kini ia tahu pada bagian pertama album ada foto Aya dan dua orang lainnya yang lebih tua. Aya di sana masih mengenakan seragam SMA.Ibra terdiam. Ia menebak bahwa kedua orang tua itu adalah a

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 79

    "Apa ini?" tanya Ibra."Putra juga nggak tahu. Nanti minta tolong kasihin ke Bunda, ya, Yah?" jawab Putra."Memangnya bukan dari kamu?"Putra menggeleng pelan. "Bukan, Ayah. Ini hadiah dari Om Hendra."Ibra menatap hadiah kecil yang muat dalam genggaman tangannya itu dengan tatapan yang sulit diartikan. "Baiklah," sahutnya."Makasih, Ayah.""Iya." Ibra kemudian menatap ibunya. "Kalian ada apa datang pagi-pagi ke sini?" tanyanya."Mamah cuma mau nganterin Putra aja, Bra. Maaf kalau mengganggu waktu berduaan kalian. Tapi Putra bilang mau kasih hadiah itu. Katanya penting," jelas Dewi.Ibra terdiam sejenak. Tatapannya kembali pada benda di tangannya. Sementara Putra mendekat dan memeluk kedua kaki sang ayah."Sudah, kan? Kita pulang, ya? Biarkan Ayah dan Bunda berduaan dulu," bujuk Dewi kemudian."Iya, Nenek. Dadah, Ayah! Putra pulang dulu, ya!" seru Putra sembari melambaikan tangannya."Hm."Bocah itu segera pergi. Ternyata kedatangannya

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 78 (18+)

    "Hentikan...." ucap Aya merasa kegelian.Tangan besar Ibra kini bergerak membelai dadanya. Menarik tangan Aya agar tak menutupi dada sintal itu. Lalu menarik tubuh Aya ke dalam pelukannya. Membuat Aya dapat merasakan debaran jantung Ibra yang menempel punggung."Aku ingin melakukannya sekarang," bisik pria itu dengan suara berat yang menggelitik. Dagu Ibra menempel di baju Aya. Dan pelukannya cukup erat sehingga mustahil wanita itu bisa kabur."Ta-tapi tadi malam sudah...." cicit Aya dengan wajah mulai memerah.Tangan Ibra meremas lembut dada Aya yang memenuhi genggaman telapak tangannya. Pria itu kemudian menciumi leher Aya, menimbulkan suara decapan basah."Hmmm...." Aya menahan desahannya. Ia menggeliat pelan dalam kungkungan Ibra."Kita akan melakukannya di sini. Tadi malam tidaklah cukup," bisik Ibra dingin. Namun, tatapannya tidak sedingin suaranya. Matanya menggelap saat melihat air mengalir di lekuk tubuh istrinya."Tapi aku mau mandi...." cicit Aya mencoba melepaskan diri."

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 77

    Terdengar helaan napas berat di belakang tubuh Aya. Wanita itu merasa takut. Ia takut pertanyaannya memancing emosi sang Presdir dan membuatnya tersiksa dengan percintaan kasar seperti beberapa waktu yang lalu."Ya," jawab Ibra. "Memang begitu. Di setiap generasi di keluargaku hanya akan terlahir satu keturunan saja. Maka dari itu... ketika aku tahu diriku impoten, aku tidak punya harapan lagi untuk keluargaku," lanjutnya.Entah mengapa Aya merasa kasihan pada Ibra. Atau mungkin pada keluarga pria itu?"Tapi setelah tahu Putra anakku, aku mulai percaya adanya keajaiban...." imbuhnya.Aya memilih diam. Entah mengapa malam ini Ibra sedikit berbeda dari biasanya. Aura dominan dan dingin yang biasanya terpancar kini seolah hilang ditelan bumi.Tiba-tiba saja Ibra mengeratkan pelukannya. Membuat Aya terkesiap."Apa kamu kecewa?" tanya pria itu tanpa diduga. Ada nada penuh penyesalan di sana."Tidak juga...." jawab Aya kemudian. "Baguslah. Karena pernikahan kita akan segera diketahui banya

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 76 (18+)

    Aya memejamkan mata. "Nggak... Kita sudah pernah ke sini lagi, kan?" Ia menoleh menatap Ibra."Hm." Ibra memutar tubuhnya menghadap Aya. "Dan malam itu adalah malam pertama bagi kita berdua. Aku memberimu uang itu, dan kamu memberiku malam yang tidak pernah bisa kulupakan...."Aya membulatkan kedua matanya. Kaget dengan pernyataan Ibra yang entah mengapa lebih lembut dari biasanya. Dan tanpa diduga, air matanya jatuh tanpa alasan yang dapat ia pahami."Kamu boleh membenciku. Tapi kamu tetap milikku," tegasnya kemudian.Ibra mengangkat dagu Aya, menghapus air mata yang membasahi pipinya dengan ibu jari. Tatapannya kini tidak lagi tajam, anehnya terasa hangat dan penuh tuntutan yang berbeda. Ia mulai mencium kening Aya, lalu turun ke kelopak matanya, dan berakhir di bibir Aya dengan kelembutan yang mengejutkan.CupCiuman itu awalnya ragu-ragu, namun segera berubah menjadi gairah yang membara. Aya pun tak menolaknya.Tangan Ibra mulai membuka resleting gaun di punggung Aya dengan geraka

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 75

    Ibra tidak menjawab. Ia berdeham pelan, lalu membuang muka sesaat untuk menenangkan detak jantungnya yang tiba-tiba berpacu."Biasa saja," gumamnya dingin, meski matanya kembali tertuju pada Aya tanpa bisa ia cegah.Dewi pun hanya terkekeh pelan menyaksikan tingkah putra semata wayangnya itu.Ibra menatap Aya yang melangkah semakin dekat dengannya. Putra dengan senyuman ceria berjalan di depan ibunya, seolah menjadi satu-satunya malaikat yang bisa menyatukan kedua orang tuanya.Kini, Aya sudah berdiri di hadapan Ibra. Putra dan Gina segera menepi. Saat Hendra menyerahkan tangan Aya ke tangan Ibra, suasana menjadi hening. Tatapan kedua pria itu bertemu. Hendra menatapnya memberikan peringatan, sedangkan Ibra dengan tatapan dinginnya yang tajam."Anda harus menjaga dia. Jika seujung kuku saja dia terluka, saya akan menjemputnya dan membawanya pergi," ucap Hendra sebelum mundur.Ibra menarik tangan Aya, menggenggamnya erat. Aya merasa tubuhnya gemetar saat bersentuhan dengan kulit Ibra.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status