首頁 / Fantasi / Anak Rahasia Sang Alpha / 44. Tidak Ada Jalan Keluar

分享

44. Tidak Ada Jalan Keluar

作者: malapalas
last update publish date: 2026-04-25 12:34:32

Aku tahu dia tidak akan berhenti sebelum mendapatkan jawaban itu. Mempertimbangkan bagaimana keadaannya sekarang dengan luka di perutnya yang masih berada dalam tekanan tubuhku, aku tidak punya pilihan selain mengatakannya sekarang.

Dan terpaksa aku harus mengaku.

Aku berusaha mencari kosakata yang tepat, minimal agar tidak terdengar memalukan di depannya, sementara jemariku tanpa sadar membentuk pola lingkaran di atas dada bidangnya. Namun, tanpa kuduga, sebuah erangan kecil lolos dari bibirny
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Anak Rahasia Sang Alpha   237. Napas Terakhir Sang Penjaga

    Aaron melangkah mendekat dengan mata memancarkan kematian murni. Namun tepat sebelum cakar Aaron merobek leher Jessi, sesosok tubuh bayangan melesat dengan kecepatan tinggi."Jessi!"Sosok Stanley melesat keluar dari kegelapan. Barisan prajurit elit yang mengepung dari kejauhan refleks menghunuskan belati gading mereka, siap menyerang, tetapi tertahan oleh kibasan tangan tenang sang Alpha.Stanley muncul dari balik pepohonan. Dalam sekejap, ia meraih putrinya dan menariknya menjauh."Ayah....""Diam! Kita pergi!"Aaron tidak mengejar. Ia hanya berdiri diam, menatap keduanya menghilang di antara pepohonan.Lucien yang baru tiba langsung berhenti di sampingnya."Tuan!"Aaron masih menatap ke arah Stanley dan Jessi yang menghilang."Biarkan."Lucien mengerutkan kening. Di belakangnya, para prajurit elit saling bertukar pandang penuh ketegangan, menanti perintah pengejaran yang tak kunjung keluar."Tapi mereka—""Aku tahu."Jawaban Aaron begitu tenang hingga Lucien dan para prajurit elit

  • Anak Rahasia Sang Alpha   236. Sang Alpha Turun Tangan

    "Aaron, aku mohon ... bawa aku ke sana sekarang! Nenek ... Nenek terluka parah!"Suara Fay bergetar hebat, pecah oleh kepanikan. Air matanya mengalir tanpa bisa ditahannya, sementara kedua tangannya mencengkeram erat pakaian Aaron dengan tubuh gemetar membayangkan kondisi wanita tua yang sangat dicintainya itu.Melihat kehancuran di wajah Fay, hati Aaron berdenyut perih. Tanpa membuang waktu sedetik pun, Aaron segera merengkuh tubuh Fay dan mengirimkan perintah melalui ikatan batin kepada prajurit khususnya.'Siapkan helikopter. Kita berangkat ke hutan pinus. Sekarang!'Perintah itu terkirim dalam sekejap.Aaron memandu Fay melintasi koridor privat yang membawanya menuju ke atap utama mansion. Selama ini, Fay bahkan tidak tahu bahwa mansion tersebut memiliki tempat pendaratan helikopter. Atap utama bangunan itu begitu luas, sementara landasan pribadi berada di salah satu sisinya, cukup besar untuk helikopter milik Aaron.​Fay bahkan tidak sempat mengagumi kemegahan tempat itu. Pikiran

  • Anak Rahasia Sang Alpha   235. Jawaban dari Sebuah Firasat

    Lift terus bergerak meluncur ke atas, meninggalkan area lantai dua yang tenang. Namun, ketika pintunya terbuka, suasana di sekeliling kami seketika berubah.Sensasi dingin dan tegang langsung terasa di udara.Aku sempat mengira kami akan langsung melihat ruangan pribadi seperti yang ada di lantai mansion lainnya. Namun, begitu melihat keadaan di balik pintu, aku justru terdiam.Beberapa prajurit werewolf berdiri berjajar di sepanjang koridor.Mereka mengenakan pakaian seragam berwarna gelap dengan perlengkapan keamanan lengkap. Sikap mereka begitu tegap dan waspada. Ketika melihat Aaron keluar dari lift sambil menggendongku, seluruh prajurit serentak menundukkan kepala.​"Alpha."Suara mereka terdengar hampir bersamaan.Aku spontan melirik Aaron.Ia hanya mengangguk singkat."Bagaimana keadaan?""Aman, Alpha.""Periksa seluruh sisi luar secara berkala. Jangan ada celah dalam penjagaan.""Siap, Alpha."Aku kembali menatap para prajurit setelah mereka mengambil posisi masing-masing. Jum

  • Anak Rahasia Sang Alpha   234. Menjelajahi Dunia Aaron

    Aaron membawaku berkeliling mansion, dimulai dari ruang bawah tanah yang ternyata menyimpan dunia tersendiri di balik dinding-dinding beton yang dingin. Aku membiarkan pandanganku menjelajahi setiap sudut yang kami lewati. Di balik pintu kaca tebal berteknologi tinggi, deretan mobil mewah koleksi Aaron tampak berkilau di bawah sorotan lampu. Beberapa di antaranya bahkan terlihat seperti kendaraan yang hanya pernah kulihat di majalah atau layar televisi. Namun, ternyata garasi itu bukanlah bagian paling menarik dari lantai bawah tanah ini. Aaron membawaku lebih jauh hingga berhenti di depan sebuah pintu baja tebal dengan pemindai biometrik di sampingnya. "Ini apa?" tanyaku penasaran. "Ruang keamanan utama." Ia menempelkan telapak tangannya pada pemindai. Setelah identitasnya dikenali, pintu baja itu terbuka perlahan. Aku langsung membelalakkan mata. Di baliknya terdapat ruangan yang dipenuhi layar pemantauan, panel komunikasi, serta peta digital yang menampilkan kondisi mansion

  • Anak Rahasia Sang Alpha   233. Janji yang Tak Terlupakan

    Pagi ini aku sama sekali tidak bisa tenang.Ada sesuatu yang mengganggu pikiranku sejak bangun tidur, tetapi aku sendiri bahkan tidak tahu apa yang salah. Perasaan tidak nyaman itu semakin kuat hingga membuatku frustrasi. Sedari tadi aku hanya mondar-mandir di dalam kamar tanpa tujuan.Aaron yang sudah selesai mandi dan berganti pakaian untuk pergi ke kantor akhirnya menyadari kegelisahanku.Ia mendekat, lalu menghentikan langkahku dengan kedua tangannya yang lembut bertumpu di bahuku."Ada apa?" Tatapannya mengunci wajahku, tetapi kelembutan di sana membuatku sedikit lebih tenang."Aku ... nggak tahu." Aku menggeleng pelan. "Tiba-tiba saja aku merasa nggak enak. Rasanya seperti sesuatu telah terjadi."Aaron tersenyum kecil."Mungkin kamu terlalu lelah. Atau mungkin hormon kehamilanmu sedang membuatmu lebih sensitif, Sayang.""Tapi ini nggak seperti biasanya, Aaron. Aku merasa seolah-olah ada sesuatu yang—""Baiklah." Ia memotong ucapanku dengan nada tenang. "Kalau begitu, hari ini ak

  • Anak Rahasia Sang Alpha   232. Serangan yang Tak Terduga

    Lucien melesat menembus kabut pinus, menepis ranting dan semak yang menghalangi jalannya. Namun, begitu tiba di tempat semula, langkahnya mendadak terhenti.Tubuh nenek Fay telah tergeletak di atas tanah.Keranjang bambu yang sebelumnya berada di punggungnya terlepas dan jatuh beberapa langkah dari tubuhnya. Ranting-ranting yang baru saja dikumpulkannya berserakan di antara dedaunan kering.Lucien langsung berlari menghampiri."Nenek!"Tanpa membuang waktu, Lucien melepas paksa tali selempang keranjang yang masih tersangkut di punggung sang nenek dan menepisnya ke samping. Ia menahan punggung tua itu, mengangkat kepala nenek Fay ke pangkuannya sembari menekan luka tusukan menganga di perut sang nenek untuk menahan pendarahan."Nek, dengar saya. Anda bisa mendengar saya?"Napas sang nenek tersengal parah. Darah segar ikut merembes dari sudut bibirnya yang gemetar.​"Nek, bertahanlah!" panggil Lucien, rahangnya mengetat erat. "Siapa yang melakukan ini?!"Sang nenek mengangkat pandangann

  • Anak Rahasia Sang Alpha   83. Pelukan yang Terasa Berbeda

    Aku masih bisa merasakan sisa-sisa nyeri di tubuhku saat Aaron duduk di kursi, persis di samping ranjangku. Tangannya belum berpindah dari perutku, seolah ia takut rasa sakit itu akan kembali menyerang begitu saja jika ia melepaskannya.Dan anehnya ... kehangatan itu benar-benar menenangkan.Janin

  • Anak Rahasia Sang Alpha   81. Ancaman dari Dalam Rahim

    "Aku nggak akan gagal," ucap Hendra dingin.​Pria bermantel hitam itu memperhatikannya selama beberapa saat, seolah sedang menakar kadar keyakinan di mata Hendra, sebelum akhirnya terkekeh pelan."Aku sangat berharap begitu, demi keselamatan nyawamu sendiri."​Ia berbalik perlahan, mantel hitamnya

  • Anak Rahasia Sang Alpha   77. Saat Bulan Merah Naik

    Pagi tadi seharusnya berjalan biasa. Aku bangun, meregangkan otot, membantu nenek di dapur, lalu bersiap menjalani hari tanpa memikirkan apa pun yang aneh. Namun sejak membuka mata, ada perasaan ganjil yang tidak bisa kujelaskan. Seperti sisa mimpi buruk yang enggan pergi meski aku sudah sepenuhnya

  • Anak Rahasia Sang Alpha   75. Potongan yang Menyatu

    ​"Tuan."​Suara Aldrick memecah keheningan ruang kerja itu.Aaron mengangkat pandangan perlahan. “Ada perkembangan?”“Ya.” Aldrick melangkah mendekat. “Orang bermantel hitam itu kembali bergerak.”Tatapan Aaron langsung berubah tajam. “Lanjutkan.”Aldrick mengangguk singkat. “Setelah pengamanan kit

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status