แชร์

77. Saat Bulan Merah Naik

ผู้เขียน: malapalas
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-11 20:15:44

Pagi tadi seharusnya berjalan biasa. Aku bangun, meregangkan otot, membantu nenek di dapur, lalu bersiap menjalani hari tanpa memikirkan apa pun yang aneh. Namun sejak membuka mata, ada perasaan ganjil yang tidak bisa kujelaskan. Seperti sisa mimpi buruk yang enggan pergi meski aku sudah sepenuhnya terjaga.

Nenek bergerak di depanku dengan langkah pelan, tangannya cekatan meski usianya sudah tidak muda lagi. Aroma masakan memenuhi dapur, membuat suasana tampak hangat dan akrab. Jika tidak mempe
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Anak Rahasia Sang Alpha   231. Bahaya di Balik Kabut Pinus

    Pagi itu, Elena membantu ibunya menyiapkan sarapan di dapur kecil rumah mereka. Udara masih terasa dingin. Aroma kayu bakar yang terbakar perlahan memenuhi ruangan, bercampur dengan aroma makanan yang sedang dimasak.Elena baru saja hendak mengambil sesuatu ketika pandangannya tertuju pada tumpukan kayu di sudut dapur.Ia terdiam.Kayu bakar yang tersisa sudah hampir habis, hanya menyisakan beberapa potong ranting kering."Ibu," panggilnya. "Kayu bakarnya hampir habis."Ibunya menoleh dan ikut melihat ke sudut ruangan."Benar juga," gumamnya.Wanita tua itu kemudian berdiri dan melangkah mendekati tungku yang apinya mulai meredup, menyisakan bara merah yang perlahan tertutup abu. Setelah itu, ia menatap keluar melalui jendela kayu yang terbuka sedikit."Ibu mau ke mana?" tanya Elena. Matanya langsung melebar ketika melihat ibunya bersiap meninggalkan rumah."Mencari kayu bakar," jawab sang ibu tenang, jemarinya yang keriput sibuk mengikat tali selempang keranjang bambu di punggungnya.

  • Anak Rahasia Sang Alpha   230. Impian yang Sama

    Aku masih menatap Aaron ketika senyum di wajahku perlahan memudar.Beberapa saat lalu, kata-katanya terasa begitu indah."Dia anakku. Dan kamu Luna-ku.""Aku punya kalian berdua."Kalimat-kalimat itu seharusnya membuatku bahagia. Dan memang, hatiku menghangat melihat betapa tulusnya Aaron membicarakan putra kami, tentang keinginannya untuk segera bertemu, membayangkan wajahnya, bahkan menjadi ayah yang selalu ada untuknya.Ia berbicara tentang masa depan kami dengan begitu mudah.Tentang anak kami.Tentang keluarga kami.Namun, ada satu hal yang tidak pernah ia sebutkan.Pernikahan.Tidak sekali pun.Aku menundukkan pandangan pada tangan kami yang masih bertaut di atas seprai. Perlahan, kebahagiaan yang tadi memenuhi dadaku bercampur dengan kegelisahan yang selama ini berusaha kuabaikan.Jika kami benar-benar akan menjadi sebuah keluarga, lalu siapa aku di dalamnya?Aku ingin menjadi lebih dari sekadar perempuan yang melahirkan anak Aaron. Aku ingin menjadi istrinya, seseorang yang di

  • Anak Rahasia Sang Alpha   229. Sebelum Kami Bertemu

    Aaron mengernyit. "Seberapa cepat?""Saya tidak bisa menentukan tanggal pastinya. Namun, melihat perkembangan janin yang sangat aktif dan kekuatan yang saya rasakan selama mendampingi pemeriksaan Luna, ada kemungkinan kelahirannya terjadi lebih awal."Aku menoleh kepada Aaron.Wajahnya langsung terlihat serius. Ia masih duduk di kursi dekat kepalaku, sementara jemarinya menggenggam tanganku di atas seprai."Jadi kami harus bersiap mulai sekarang?" tanyaku."Lebih baik begitu, Luna.""Apa saja yang harus kami persiapkan?""Perlengkapan bayi, tempat untuk sang pewaris, kebutuhan Luna selama masa pemulihan, dan tentu saja orang-orang yang akan membantu setelah kelahiran."Aaron langsung menyela sebelum aku sempat bertanya lebih jauh."Semua sudah disiapkan."Aku menoleh cepat. "Sudah?"Dokter Reynard hanya tersenyum kecil, seolah jawaban Aaron sama sekali tidak mengejutkannya."Saya tidak terkejut, Alpha."Aku mengerutkan kening lalu memandang Aaron. "Kamu sudah menyiapkan semuanya?""Se

  • Anak Rahasia Sang Alpha   228. Sang Pewaris yang Dinanti

    Sejak aku pindah ke mansion Aaron, seluruh pemeriksaan kehamilanku dilakukan di sini. Dokter Reynard bahkan beberapa kali datang langsung ke kamar kami agar aku tidak perlu bepergian hanya untuk menjalani pemeriksaan.Aaron memang tidak suka melihatku terlalu sering keluar rumah, terlebih usia kandunganku sekarang sudah semakin besar. Gerakan bayi di dalam perutku pun semakin aktif dari hari ke hari.Seperti pagi ini.Begitu mengetahui jadwal pemeriksaanku sudah tiba, Aaron langsung membatalkan semua agenda yang seharusnya ia hadiri di kantor.Aku bahkan sempat mengira aku salah dengar ketika ia mengatakan tidak akan pergi ke mana pun hari ini."Semua rapat dibatalkan?" tanyaku sambil menatapnya.Aaron hanya mengangguk santai. Ia menggulung lengan kemejanya hingga batas siku, memperlihatkan lengannya yang kokoh dan berotot. Gerakannya sederhana, tetapi entah kenapa aku malah terpaku beberapa detik.Aku buru-buru mengalihkan pandangan ketika menyadari bahwa diam-diam aku sedang terpeso

  • Anak Rahasia Sang Alpha   227. Firasat dari Hutan Pinus

    Sudah lebih dari seminggu Elena tinggal di rumah ibunya yang berada di pinggir hutan pinus. Selama itu pula, kehidupan yang sempat terasa begitu jauh dari ingatannya perlahan kembali terasa akrab.Tidak ada kemewahan. Tidak ada kesibukan kota. Hanya rumah sederhana yang dikelilingi pepohonan pinus, udara sejuk, dan suara alam yang menemani setiap pagi hingga malam.Elena dan ibunya melakukan hampir semuanya bersama.Mereka saling membantu memasak, mencuci pakaian, memotong rumput, hingga membersihkan rumah. Hal-hal sederhana yang dahulu terasa biasa, kini justru menjadi sesuatu yang sangat berharga bagi Elena.Mereka juga banyak bercerita. Tentang kehidupan Elena selama bertahun-tahun. Tentang hal-hal kecil yang terjadi di rumah. Tentang masa lalu yang perlahan mereka buka kembali.Bahkan beberapa kali, mereka tertawa hanya karena mengingat tingkah Elena ketika masih kecil.Tentang bagaimana gadis kecil itu dulu sering berlari tanpa alas kaki di halaman. Tentang bagaimana ia pernah me

  • Anak Rahasia Sang Alpha   226. Sebuah Kesempatan

    Jessi tidak langsung menjawab. Ruangan itu kembali sunyi. Hanya suara napas pelan dari seberang telepon yang terdengar samar di telinganya."Karena sekarang ... adalah saat yang paling tepat untuk membalas dendammu."Kalimat Damian terus berputar di benaknya. Namun bersamaan dengan itu, suara lain ikut melintas dalam ingatannya."Untuk sementara waktu, kita harus berhenti." Suara ayahnya terdengar begitu jelas. "Saat ini Aaron sedang berada di puncak kekuatannya. Dia baru mendapatkan kontrak besar. Menyerangnya sekarang adalah tindakan bodoh."Jessi mengepalkan jemarinya kuat-kuat. Ia masih mengingat setiap kata yang diucapkan sang ayah malam itu.Aaron baru memperoleh kontrak besar. Proyek Utara berkembang pesat. Seluruh klan sedang mengagungkannya, dan menyerang Alpha itu secara terbuka sama saja dengan menyodorkan leher ke meja pembantaian."Kita menunggu," lanjut bayangan suara Stanley. "Ketika perang besar antara Aaron dan Tetua Marcus pecah ... pada waktu itulah celah itu akan t

  • Anak Rahasia Sang Alpha   99. Ayah yang Memilih Racun

    Klik.Suara putaran tutup botol kecil itu terdengar sangat samar, hampir tak terdengar, terbuka di balik meja kayu. Tangan Hendra yang memegang botol itu tetap stabil. Terlalu stabil untuk seseorang yang sedang bersiap merenggut sesuatu yang berharga. Gerakannya begitu tenang, mencerminkan sosok ya

  • Anak Rahasia Sang Alpha   94. Tatapan yang Berubah

    Beliau berdiri di dekat mobil sambil menatapku tanpa bergerak sedikit pun.Senyumku perlahan memudar. Untuk beberapa detik, tidak ada suara apa pun selain angin sore yang berembus pelan di antara pohon-pohon pinus.Aku masih berdiri di sana dengan perasaan bahagia yang belum hilang sedikit pun, sem

  • Anak Rahasia Sang Alpha   93. Penantian Fay

    Sejak tadi aku tidak bisa berhenti tersenyum sendiri. Padahal di telepon, ayah sama sekali tidak mengatakan kapan tepatnya beliau akan datang. Hanya bilang akan menemuiku secepatnya.Namun entah kenapa, aku sangat yakin. Sore ini Ayah pasti datang. Perasaan itu begitu kuat sampai membuatku sama sek

  • Anak Rahasia Sang Alpha   85. Jawaban yang Tidak Datang

    Aaron tidak menjawab pertanyaanku. Ia hanya diam. Dan itu membuatku sangat takut.Bahwa apa yang aku rasakan ... tidak sama dengan apa yang ia rasakan.Dadaku perlahan terasa sesak. Jantungku berdegup tidak karuan saat aku menatap wajahnya, berharap pria itu mengatakan sesuatu, apa saja, untuk mene

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status