Share

BAB 16. Sidang

Author: Mira Restia
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-05 04:00:03

Aku terbangun pukul 04.00 dini hari di UGD RS Medika. Infus masih menancap di punggung tangan kiri, tapi kepalaku sudah tidak berputar seperti kemarin.

Pintu kamar terbuka pelan. Bang Rey masuk. Jasnya masih rapi meski waktu sudah menunjukkan dini hari. Di tangan kanannya ada map cokelat, di tangan kirinya segelas cokelat yang masih mengepul.

Beliau tidak banyak bicara. Ia duduk di kursi samping ranjang, lalu menyodorkan gelas itu padaku. "Bu Ririn, minum dulu. Ini manis, b
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Anak Selingkuhan Suamiku   96. Azka - Denis

    Senin pagi, Azka datang ke ruang praktik dengan membawa dua lembar desain yang dibuat Denis.Sejak berangkat dari rumah, anak itu sudah membayangkan robot mereka terlihat lebih rapi setelah bagian luarnya diperbaiki. Namun, bayangan tersebut langsung berantakan begitu salah satu anggota tim melihat desain yang ia bawa."Ini nggak bisa."Azka yang baru saja meletakkan tas menoleh. "Kenapa?"Temannya menunjuk bagian depan robot. "Kalau dipasang seperti ini, sensornya jadi terlalu dekat sama bodi."Azka mengambil kertas itu dan memeriksanya lagi. "Tapi masih bisa digeser.""Kalau digeser, bagian kabelnya harus dipindah.""Ya tinggal pindah."Temannya menghela napas. "Azka, nggak semudah itu."Azka mulai tidak sabar. Ia sudah memikirkan desain tersebut sejak kemarin, bahkan Denis sudah meluangkan waktu untuk membuat beberapa sketsa. Rasanya menyebalkan ketika baru saja dibawa ke sekolah, desain itu malah la

  • Anak Selingkuhan Suamiku    95. Kerja Sama

    Hari Sabtu seharusnya menjadi hari yang menyenangkan.Setidaknya begitu yang Azka pikirkan ketika berangkat ke sekolah pagi-pagi dengan membawa tas berisi beberapa kabel, obeng kecil, dan komponen robot yang dibungkus menggunakan kotak bekas makanan.Namun, begitu pintu ruang praktik dibuka, Azka langsung tahu bahwa hari itu tidak akan semudah yang dia bayangkan.Robot mereka sudah berada di atas meja.Bentuknya masih jauh dari kata keren. Ada beberapa kabel yang menjuntai di samping, roda kecil terpasang di kedua sisi, sementara bagian atasnya dipenuhi komponen yang menurut Azka terlihat seperti sesuatu yang seharusnya hanya boleh disentuh oleh orang yang tahu apa yang sedang dilakukan.Masalahnya, tidak seorang pun di dalam ruangan itu benar-benar tahu semuanya."Kita coba lagi dari awal," kata Pak Dimas sambil berdiri di depan meja. "Tapi kali ini, jangan ada yang langsung menyalahkan program, motor, baterai, atau robotnya."

  • Anak Selingkuhan Suamiku   94. Robotik 2

    Latihan tim robotik ternyata tidak semudah yang Azka bayangkan.Selama beberapa hari pertama, mereka memang berhasil membuat robot bergerak. Masalahnya, robot itu sepertinya punya pendapat sendiri tentang ke mana ia ingin pergi.“Jalan!” Azka menekan tombol pada remote.Robot bergerak maju. Tiga detik kemudian, robot berbelok ke kiri.“Eh!”Azka buru-buru mengendalikan remote. Robot kembali lurus, tetapi baru berjalan beberapa sentimeter, arahnya berubah lagi dan kali ini malah bergerak mundur.Teman satu timnya menatap robot itu dengan wajah tidak percaya.“Kenapa mundur?”Azka mengerutkan kening. “Harusnya maju.”“Dia tahu?”Azka mendengus. “Makanya kita bikin dia tahu.”Ia berjongkok dan memeriksa bagian roda. Temannya memeriksa program pada laptop, sementara anggota lain memperhatikan sensor.“Programnya benar,” kata teman yang bertugas coding.“Kalau begitu mekan

  • Anak Selingkuhan Suamiku    93. Robotik

    Azka sudah dua hari memperhatikan papan pengumuman di depan ruang laboratorium.Bukan karena ada sesuatu yang menarik di sana. Justru sebaliknya. Ada satu kertas putih yang ditempel dengan selotip bening, bertuliskan pengumuman pembentukan tim robotik untuk persiapan lomba antarsekolah tingkat kota. Di bawah tulisan itu terdapat beberapa persyaratan dan jadwal pendaftaran.Azka sudah membaca semuanya setidaknya lima kali.1. Nama peserta maksimal empat orang.2. Bersedia mengikuti latihan tambahan.3. Memahami dasar robotik.4. Mampu bekerja sama dalam tim.Azka berhenti pada poin terakhir.5. Mampu bekerja sama dalam tim.Entah kenapa bagian itu justru membuatnya ragu.Ia memang bisa mengutak-atik robot. Bisa menggambar bentuk rangka, memasang roda, membongkar motor kecil, bahkan mulai memahami bagaimana sensor bekerja. Namun bekerja dalam tim terdengar berbeda. Bagaimana kalau ia melakukan ke

  • Anak Selingkuhan Suamiku   92. Dafa - Azka

    Sejak keluar dari penjara, Dafa baru menyadari bahwa ada banyak hal dalam hidup yang tidak bisa dikembalikan hanya dengan sebuah kata maaf.Ia sudah mengucapkannya kepada Ririn. Sudah mengucapkannya kepada Azka. Bahkan dalam hati, entah berapa kali ia mengulang kalimat yang sama setiap malam sebelum tidur. Namun setiap kali mengingat wajah anak laki-laki itu, Dafa tahu satu hal: maaf tidak akan menghapus tujuh tahun yang telah hilang.Hari itu, Dafa kembali datang ke sekitar rumah Ririn. Bukan untuk meminta sesuatu. Bukan pula untuk mencari alasan agar bisa masuk ke dalam kehidupan mereka. Ia hanya memiliki urusan yang kebetulan membawanya ke daerah tersebut.Setidaknya, itulah alasan yang ia katakan kepada dirinya sendiri.Ketika melihat gerbang sekolah dari seberang jalan, langkah Dafa justru berhenti. Beberapa siswa baru saja keluar. Ada yang berlari mengejar temannya, ada yang sibuk dengan ponsel, ada pula yang berjalan berkelompok sambil tert

  • Anak Selingkuhan Suamiku   91. Impian Azka

    Azka mulai merasa bahwa robotiknya akan menjadi kegiatan yang cukup menyenangkan. Setidaknya sampai robot buatannya kembali menabrak sesuatu.“Berhenti!”Azka buru-buru menekan tombol pada remote kecil di tangannya. Robot itu berhenti hanya beberapa sentimeter sebelum menabrak kaki meja. Teman di sebelahnya langsung tertawa. “Nyaris.”Azka menghela napas lega. “Memangnya kamu kira gampang?”“Katanya kemarin sudah diperbaiki.”“Sudah.”“Terus kenapa hampir nabrak lagi?”Azka menatap robot kecil di atas lantai. “Dia keras kepala.”Temannya tertawa lagi. Azka tidak peduli. Ia justru jongkok dan memeriksa roda robotnya. Sejak mengikuti ekstrakurikuler ini, ia mulai terbiasa dengan kegagalan kecil. Kadang robot tidak bergerak, kadang bergerak terlalu cepat, kadang berputar di tempat, dan kadang memilih menabrak benda yang sebenarnya bisa dihindari. Menurut Azka, robot itu punya masalah kepribadian.Hari itu,

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status