Partager

BAB 45. Adik Ipar

Auteur: Mira Restia
last update Date de publication: 2026-08-07 05:17:40

Bu Mira tersenyum padaku. "Ririn, main dulu ya sampai sore. Sore Keisha pulang, biar kalian kenalan."

Aku mengangguk. "Iya, Bu. Denis sama Azka udah dijemput Om Alif ke rumah Kakek. Jadi saya santai."

Aku duduk di meja makan depan, menikmati tiramisu buatan Bu Mira. Manisnya lumer, tapi obrolan dengan Bu Mira dan Rey lebih manis lagi. Kami ketawa soal Rey yang tadi pagi gagal motong wortel.

Suasana hangat itu pecah saat suara ceria terdengar dari depan. "Assalamuala
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 47. Sup Asin

    Ponselku bergetar tepat jam 9 pagi. Layarnya nyala. Nama "Ibu Mira" muncul."Assalamualaikum, Bu," sapaku, berusaha terdengar cerah padahal semalam kepalaku masih mumet mikirin kata "anak tetangga"."Waalaikumsalam, Nak Ririn. Lagi apa?" suara Bu Mira riang seperti biasa, seolah insiden kemarin nggak pernah ada."Baru beres nyuapin Denis Azka sarapan, Bu," jawabku sambil melirik dua bocah itu yang lagi rebutan mobil-mobilan di lantai."Nak, siang ini Ibu ada arisan ibu-ibu PKK di rumah. Datang ya, ajak Denis Azka. Biar rame. Rumah sepi kalau cuma Ibu sama Rey," ajak Bu Mira.Tanganku berhenti mengusap kepala Denis. Arisan PKK? Aku bukan warga sini. Statusku masih "calon" juga belum jelas."Bu, Ririn nggak enak... Ririn kan bukan warga sini. Nanti malah canggung," tolakku halus.Bu Mira tertawa kecil dari seberang. "Astagfirullah, Nak. Calon keluarga masa nggak boleh ikut arisan. Ibu yang ngundang, tanggung jawab Ibu. Lag

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 46. Iga Sapi

    Ponselku bergetar di tas aku mengambil ponsel dan nama "Mamahnya Rey" muncul di layar. Jantungku berdebar pelan. "Assalamualaikum, Bu," sapaku begitu kutekan tombol hijau."Waalaikumsalam, Nak Ririn. Lagi apa? Suaranya rame," suara Bu Mira hangat seperti biasa.Aku melirik keranjang belanja. Isinya sabun mandi dan pasta gigi anak-anak. "Lagi di supermarket, Bu. Denis sama Azka minta beli pasta gigi rasa stroberi."Bu Mira tertawa kecil dari seberang. "Anak-anak pinter. Eh Nak, main lagi ke rumah ya. Kali ini ajak Denis sama Azka, ya. Kita masak bareng-bareng lagi kayak minggu lalu."Aku tersenyum. "Iya, Bu. Ririn ajak Denis dan Azka. Mumpung mereka libur.""Alhamdulillah.""Oh iya Bu, mau sekalian Ririn belanjain bahan-bahannya? Biar Ibu nggak repot-repot keluar lagi," tawar Ririn."Apa, ya? Tunggu!" Suara Bu Mira melangkah, mungkin sedang mengecek kulkas.Lalu, terdengar Bu Mira berbicara pada seseora

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 45. Adik Ipar

    Bu Mira tersenyum padaku. "Ririn, main dulu ya sampai sore. Sore Keisha pulang, biar kalian kenalan."Aku mengangguk. "Iya, Bu. Denis sama Azka udah dijemput Om Alif ke rumah Kakek. Jadi saya santai."Aku duduk di meja makan depan, menikmati tiramisu buatan Bu Mira. Manisnya lumer, tapi obrolan dengan Bu Mira dan Rey lebih manis lagi. Kami ketawa soal Rey yang tadi pagi gagal motong wortel.Suasana hangat itu pecah saat suara ceria terdengar dari depan. "Assalamualaikum!"Keisha datang. Berlari kecil ke arah Rey, memeluk lengan abangnya. "Bang Rey! Kangen!" Tapi begitu matanya menangkap aku, langkahnya berhenti. Senyumnya luntur. Ia jadi dingin. Hanya mengangguk singkat. "Oh... ada tamu."Perubahan itu terlalu terasa. Dadaku langsung sesak. Insecure menyelinap tanpa izin. Bu Mira langsung berdiri. "Keisha, salim dulu sama calon kakak ipar kamu."Keisha menurut. Ia menjabat tanganku. Dingin. Kaku. Seperti forma

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 44 Rumah Rey

    Ibu Rey berdiri dari sofa. Langkahnya anggun meski usianya sudah tidak muda lagi. Beliau mengulurkan tangan, tersenyum hangat. "Salam kenal, Ririn. Aku Mira, ibunya Rey."Aku menyambut uluran tangannya. Jabatannya lembut, tapi terasa tulus. "Salam kenal juga, Bu Mira.""Rey sering cerita tentang kamu," kata Bu Mira, matanya berbinar. "Katanya kamu perempuan kuat, mandiri, masakannya enak."Aku tersipu. Wajahku panas. "Rey... suka melebih-lebihkan, Bu."Bu Mira tertawa kecil. Ia mempersilahkanku duduk, lalu membukakan toples kue di meja. Kue kering, brownies, dan tiramisu. Ia menyerahkan toples padaku. "Ini buatan Ibu sendiri. Coba, ya, Rin."Aku mengambil kue itu. "Terima kasih, Bu.""Di depan kamu ada tiramisu sama aneka pastry," lanjut Bu Mira. "Ini produk dari toko kecil Ibu yang berada dekat dari rumah ini. Kata Rey, kamu suka tiramisu. Jadi Ibu produksi lebih banyak. Biar kamu bisa makan kapan pun kamu mau."

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 43. Aku Milikmu

    Masih di restoran. Azka dan Denis makan dessert dengan serius. Sendok kecil mereka menyendok tiramisu lapis demi lapis, seakan sedang mengerjakan ujian. Aku hanya tersenyum melihatnya, lalu menyuap tiramisu di piringku pelan. Manisnya lumer di lidah, tapi pikiranku melayang pada kata-kata Rey barusan.Rey meletakkan sendoknya. Ia menatapku. "Ririn... aku mau perkenalkan kamu sama ibu aku."Tanganku berhenti di tengah jalan. Garpu yang menahan tiramisu bergetar kecil. Aku tertegun. Belum siap. Tapi aku tidak bicara. Hanya menunduk, menatap dessert yang mulai meleleh.Rey menyadari reaksiku. "Kenapa? Kamu seperti nggak suka?"Aku menggeleng pelan. "Belum siap, Rey. Terlalu cepat."Aku melamun. Bayangan lama datang tanpa izin. Bu Sinta. Ibu mertuaku dulu. Setiap kali aku masak, selalu ada komentarnya. "Sayurnya kurang asin." "Masakanmu hambar." "Ibu yang nggak becus." "Parenting anakmu aneh-aneh." Tidak ada yang benar di matanya. Bahkan hal kecil pun bisa jadi masalah besar.Rasanya ses

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 42 Kalung

    Keesokan harinya.Pagi Bekasi datang tanpa suara. Matahari naik pelan, menyelinap lewat celah tirai. Aku duduk di sofa, memeluk bantal. Di meja, ponselku bergetar.Nama Rey muncul di layar.Jari-jariku berhenti. Aku menatap nama itu lama. Antara menolak atau menerima. Antara mempertahankan gengsi atau mengubur rasa penasaran yang semalaman tidak bisa tidur.Tiga dering. Empat dering. Akhirnya aku angkat. Suaraku keluar pelan, seperlunya, seformal mungkin. "Halo."Seberang sana, napas Rey terdengar lebih dulu sebelum kata. "Udah sarapan belum?" katanya, basa-basi. "Azka sama Denis udah bangun?" Nada suaranya hati-hati. Seperti orang yang berjalan di atas pecahan kaca.Aku menjawab singkat. "Udah. Udah bangun."Di dalam hati aku menggerutu. _Bukannya sudah dibilang jangan telepon kalau tidak penting? Kenapa Rey keras kepala sekali?_ Tapi kata-kata itu hanya berputar di kepalaku. Tidak sampai ke bibir.Hening. Hanya suara napas kami yang saling bersahutan lewat sambungan telepon. Mun

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status