LOGINMalam perlahan turun, membawa kedamaian yang sempat terasa jauh sepanjang hari yang panjang ini.
Gaun pengantin yang tadi siang begitu indah kini sudah kuganti dengan pakaian rumahan berwarna biru tua yang sederhana. Riasan yang melukis wajahku dengan cantik tadi sudah dibersihkan hingga bersih kembali, menyisakan wajahku yang polos dan segar. Setelah menata diri, aku melangkah menuju ruang makan, tempat di mana aroma masakan hangat menyambut kedatanganku.Begitu pun dengaTepat pada saat itu juga, pintu terbuka untuk ketiga kalinya. Bang Rey pulang. Dasi sudah dilepas, dua kancing paling atas kemejanya terbuka. Rambutnya agak berantakan. Wajahnya tampak lelah luar biasa. Namun langkah kakinya tetap tegap dan berwibawa. Di belakangnya, terlihat sosok Ayah berjalan masuk. "Ayah?" aku langsung berdiri kaget. "Kok Ayah ikut ke sini?" Ayah tersenyum tipis menyambutku. Wajahnya terlihat semakin banyak keriput sejak aku mengenal Rey lewat beliau lima tahun yang lalu. "Rey nelpon Ayah sore tadi, Rin. Katanya, urusan sama mantan menantu... harus ada kepala keluarga yang jadi saksi resmi. Biar nggak ada fitnah atau masalah baru di masa depan." Aku menutup mulut takjub. Bang Rey... memikirkan sedetail itu demi melindungi kami. Bang Rey berjalan mendekat ke arahku. Ia tak langsung memelukku. Ia meletakkan map tebal yang dibawanya di atas meja tamu. "Sudah beres, Rin," ucapnya pelan. Suaranya s
Malam itu, suasana rumah terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Aira sudah terlelap di kamar, digendong dan ditemani oleh Bu Mira. Denis dan Azka pun belum pulang sekolah, padahal biasanya pukul setengah lima sore mereka sudah berteriak riang meminta makan. Begitu pula Bang Rey, belum ada kabar sedikit pun sejak berangkat ke kantor pagi tadi. Sebelum pergi, ucapnya tegas, "Hari ini Bang Rey akan beresin Dafa. Tunggu di rumah. Jangan kemana-mana." Namun jarum jam di dinding sudah menunjuk angka tujuh malam. Aku duduk termenung di sofa ruang tamu, jariku memainkan ujung selendang dengan gelisah. Ponsel tergeletak di atas meja dalam keadaan mati. Sengaja kupadamkan. Aku takut jika ada nomor tak dikenal mencoba masuk lagi. Aku takut jika Dafa menelpon. "Kenapa, Rin?" tanya Bu Mira yang muncul dari arah dapur membawakan cangkir teh hangat. "Mukanya pucat sekali." Aku menggeleng lemah berusaha tenang. "Tidak apa-apa, Bu. Cuma sedang menung
Tiga hari berlalu, dan ia benar-benar datang. Siang itu, aku baru saja keluar dari dapur membawa dua gelas jus jeruk segar untuk Denis dan Azka yang sebentar lagi pulang sekolah. Langkahku terhenti mendadak di ambang pintu ruang tamu. Terlihat seorang pria duduk santai di sofa kami. Terlalu santai. Seolah-olah itu adalah rumah sendiri, seolah ia baru saja pulang bekerja. Rambutnya gondrong dan kusut masai. Jenggot serta kumisnya tak terawat, menutupi sebagian besar wajah yang dulu pernah kucintai. Pakaiannya tampak lusuh dan berbau jalanan serta napas ruang pengasingan. Itu Dafa. Jantungku berdegup kencang hingga terasa naik ke tenggorokan. Secara refleks, aku mundur selangkah untuk menjaga jarak. Sementara itu, Aira sedang bermain bersama neneknya di dapur. Dafa menoleh perlahan ke arahku. Matanya... penuh dengan tatapan memelas. Persis seperti anjing terluka yang sedang mencari belas kasihan orang lewat. "Rin...
Dua tahun. Dua tahun adalah waktu yang cukup bagi sebuah luka untuk menutup menjadi bekas, dan bekas itu berubah menjadi cerita yang bisa diceritakan kembali tanpa membuat dada terasa sesak lagi. Aira kini berusia dua tahun. Kakinya sudah sekuat tekad hatinya yang pemberani. Ia berlari ke sana kemari di teras rumah kami setiap pagi, rambutnya yang dikepang dua berantakan menari mengikuti langkahnya, mulutnya tak henti berseru riang, "Ma... Yah... Kak Denis, Kak Azka!" Suaranya adalah alarm pagi terindah yang pernah kumiliki seumur hidup. Denis dan Azka kini genap berusia dua belas tahun. Tinggi badan mereka hampir menyamai bahuku. Waktu seolah berjalan terlalu cepat, takut ketinggalan mengikuti alur kebahagiaan kami yang deras. Denis, anak sulungku. Ia tetap pendiam, namun matanya menyimpan kedalaman seperti kanvas yang belum selesai ia lukis. Baru saja kemarin ia meraih juara pertama lomba melukis tingkat kota. Kamarnya berbau khas cat minyak
Aku masih duduk di tepi ranjang rumah sakit, selimut menutupi tubuhku yang sesekali masih gemetar. Mataku terlihat bengkak, pipiku terasa panas karena terlalu lama terisak di kamar mandi tadi. Tidak jauh dari sana, Bang Rey duduk di sofa; ia tidak memaksaku bicara atau mendekat berlebihan. Ia hanya menatapku dengan sorot mata yang sama persis seperti malam pertama pernikahan kami: penuh kesabaran, kedalaman perasaan, dan pengertian yang tulus. Aira sudah terlelap kembali di dalam tempat tidur bayinya, setelah Bang Rey menggendongnya berkeliling kamar selama dua puluh menit untuk menenangkannya. Sementara itu, Denis dan Azka dibawa Bu Mira keluar sebentar untuk membeli bubur ayam. Suasana kamar menjadi hening, hanya terdengar suara detak mesin infus dan napasku yang masih tersengal-sengal menahan sisa emosi. "Rin," panggil Bang Rey pelan namun jelas. Aku tak menjawab. Rasa malu masih menyelimuti hatiku saat hendak menatapnya. Aku merasa rendah diri—sebag
H+1 setelah persalinan. Tubuhku terasa remuk seolah baru saja dilindas truk besar. Jahitan di bagian bawah terasa perih menyayat setiap kali aku mencoba bergerak atau mengubah posisi. Namun, rasa sakit fisik itu terasa tidak seberapa dibanding kegemparan yang terjadi di dalam kepalaku sendiri. Aira tidur pulas di dalam tempat tidur bayinya. Wajahnya tampak tenang damai, bibir mungilnya sesekali bergerak mengecup seolah sedang menyusu dalam mimpi indahnya. Di sofa, Bang Rey terlelap, namun satu tangannya terulur ke arah ranjangku—seperti dalam tidur pun ia takut aku akan menghilang jika dilepaskan sekalipun. Seharusnya aku merasa bahagia. Aku sudah memiliki segala hal yang dulu kupikir mustahil untuk kudapatkan: suami yang selalu siaga, anak yang sehat, serta mertua yang penuh kasih sayang. Namun mengapa dadaku terasa begitu sesak dan berat? Pukul 02.47 dini hari. Aira terbangun lalu menangis pelan. Begitulah bayi baru lahir; tidur dua jam, terjaga,







