Share

BAB 75. Obat Hati

Author: Mira Restia
last update publish date: 2026-09-01 03:28:45

Aku masih duduk di tepi ranjang rumah sakit, selimut menutupi tubuhku yang sesekali masih gemetar. Mataku terlihat bengkak, pipiku terasa panas karena terlalu lama terisak di kamar mandi tadi. Tidak jauh dari sana, Bang Rey duduk di sofa; ia tidak memaksaku bicara atau mendekat berlebihan. Ia hanya menatapku dengan sorot mata yang sama persis seperti malam pertama pernikahan kami: penuh kesabaran, kedalaman perasaan, dan pengertian yang tulus.

Aira sudah terlelap kembali di dalam te
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 77. Dafa Kembali 2

    Tiga hari berlalu, dan ia benar-benar datang. Siang itu, aku baru saja keluar dari dapur membawa dua gelas jus jeruk segar untuk Denis dan Azka yang sebentar lagi pulang sekolah. Langkahku terhenti mendadak di ambang pintu ruang tamu. Terlihat seorang pria duduk santai di sofa kami. Terlalu santai. Seolah-olah itu adalah rumah sendiri, seolah ia baru saja pulang bekerja. Rambutnya gondrong dan kusut masai. Jenggot serta kumisnya tak terawat, menutupi sebagian besar wajah yang dulu pernah kucintai. Pakaiannya tampak lusuh dan berbau jalanan serta napas ruang pengasingan. Itu Dafa. Jantungku berdegup kencang hingga terasa naik ke tenggorokan. Secara refleks, aku mundur selangkah untuk menjaga jarak. Sementara itu, Aira sedang bermain bersama neneknya di dapur. Dafa menoleh perlahan ke arahku. Matanya... penuh dengan tatapan memelas. Persis seperti anjing terluka yang sedang mencari belas kasihan orang lewat. "Rin...

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 76. Dafa Kembali

    Dua tahun. Dua tahun adalah waktu yang cukup bagi sebuah luka untuk menutup menjadi bekas, dan bekas itu berubah menjadi cerita yang bisa diceritakan kembali tanpa membuat dada terasa sesak lagi. Aira kini berusia dua tahun. Kakinya sudah sekuat tekad hatinya yang pemberani. Ia berlari ke sana kemari di teras rumah kami setiap pagi, rambutnya yang dikepang dua berantakan menari mengikuti langkahnya, mulutnya tak henti berseru riang, "Ma... Yah... Kak Denis, Kak Azka!" Suaranya adalah alarm pagi terindah yang pernah kumiliki seumur hidup. Denis dan Azka kini genap berusia dua belas tahun. Tinggi badan mereka hampir menyamai bahuku. Waktu seolah berjalan terlalu cepat, takut ketinggalan mengikuti alur kebahagiaan kami yang deras. Denis, anak sulungku. Ia tetap pendiam, namun matanya menyimpan kedalaman seperti kanvas yang belum selesai ia lukis. Baru saja kemarin ia meraih juara pertama lomba melukis tingkat kota. Kamarnya berbau khas cat minyak

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 75. Obat Hati

    Aku masih duduk di tepi ranjang rumah sakit, selimut menutupi tubuhku yang sesekali masih gemetar. Mataku terlihat bengkak, pipiku terasa panas karena terlalu lama terisak di kamar mandi tadi. Tidak jauh dari sana, Bang Rey duduk di sofa; ia tidak memaksaku bicara atau mendekat berlebihan. Ia hanya menatapku dengan sorot mata yang sama persis seperti malam pertama pernikahan kami: penuh kesabaran, kedalaman perasaan, dan pengertian yang tulus. Aira sudah terlelap kembali di dalam tempat tidur bayinya, setelah Bang Rey menggendongnya berkeliling kamar selama dua puluh menit untuk menenangkannya. Sementara itu, Denis dan Azka dibawa Bu Mira keluar sebentar untuk membeli bubur ayam. Suasana kamar menjadi hening, hanya terdengar suara detak mesin infus dan napasku yang masih tersengal-sengal menahan sisa emosi. "Rin," panggil Bang Rey pelan namun jelas. Aku tak menjawab. Rasa malu masih menyelimuti hatiku saat hendak menatapnya. Aku merasa rendah diri—sebag

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 74. Baby Blues

    H+1 setelah persalinan. Tubuhku terasa remuk seolah baru saja dilindas truk besar. Jahitan di bagian bawah terasa perih menyayat setiap kali aku mencoba bergerak atau mengubah posisi. Namun, rasa sakit fisik itu terasa tidak seberapa dibanding kegemparan yang terjadi di dalam kepalaku sendiri. Aira tidur pulas di dalam tempat tidur bayinya. Wajahnya tampak tenang damai, bibir mungilnya sesekali bergerak mengecup seolah sedang menyusu dalam mimpi indahnya. Di sofa, Bang Rey terlelap, namun satu tangannya terulur ke arah ranjangku—seperti dalam tidur pun ia takut aku akan menghilang jika dilepaskan sekalipun. Seharusnya aku merasa bahagia. Aku sudah memiliki segala hal yang dulu kupikir mustahil untuk kudapatkan: suami yang selalu siaga, anak yang sehat, serta mertua yang penuh kasih sayang. Namun mengapa dadaku terasa begitu sesak dan berat? Pukul 02.47 dini hari. Aira terbangun lalu menangis pelan. Begitulah bayi baru lahir; tidur dua jam, terjaga,

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 73. Bayiku

    Dengan tangan gemetar, aku mengangkat lenganku untuk menyentuh pipi bayi mungil itu. Kulitnya sangat halus, hidungnya mancung persis seperti Bang Rey, bibirnya tipis menirukan milikku. Matanya masih terpejam rapat dalam tidur pertamanya. “Halo, Aira...” bisikku lirih. “Selamat datang di dunia, Nak. Maaf Mama membuatmu menunggu lama ya...” Aira mengerutkan kening mungilnya, lalu sedikit membuka matanya. Matanya hitam jernih, menatapku seolah ia sudah mengenal siapa ibunya sejak lama. Ada rasa seolah tersambar petir yang lembut namun mendalam di dadaku. Inilah cinta tanpa syarat yang sejati. Cinta yang hadir seketika, tanpa butuh waktu untuk dipelajari. Bang Rey mengambil ponselnya dengan tangan yang masih gemetar hebat. Ia merekam video dan memotret dari berbagai sudut dengan teliti. Tangannya tak henti bergetar karena emosi. “Rin, lihat. Dia mirip kamu sekali. Lihat hidungnya, manis sekali,” ucapnya bangga seolah baru saja memenangkan pertandi

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 72. Waktunya Tiba

    Malam itu, udara terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Aku berbaring miring ke kiri sesuai anjuran bidan, memeluk erat guling panjang untuk menopang tubuh. Di sampingku, Bang Rey terlelap, namun satu tangannya tetap terulur menggenggam jemariku seolah tak mau terpisah sekalipun dalam mimpi. Dari kamar sebelah, terdengar dengkuran halus Bu Mira sesekali memecah keheningan. Di kasur kecil mereka, Denis dan Azka tidur berpelukan rapat, persis seperti dua anak kucing yang tak ingin terpisah. Aku memejamkan mata, berusaha mengabaikan rasa pegal yang menusuk di pinggang. Sejak diagnosa posisi sungsang dan perjuangan keras memutar Aira beberapa minggu lalu, tidur nyenyak menjadi kemewahan yang jarang kudapatkan. Namun malam ini terasa berbeda. Ada rasa berat sekaligus penuh yang sulit kujelaskan dengan kata-kata. Jam dinding menunjuk tepat pukul 02.15. Perlahan aku membalikkan badan, berharap menemukan posisi yang lebih nyaman bagi punggungku. Tiba-tiba, sebuah sensas

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status