홈 / Rumah Tangga / Anak Selingkuhan Suamiku / BAB 6 Darah yang Membuktikan

공유

BAB 6 Darah yang Membuktikan

작가: Mira Restia
last update 게시일: 2026-06-29 21:02:53

Malam itu rumah terasa lebih sepi dari biasanya.

Dafa baru pulang kerja. Bau keringat dan hujan masih menempel di kemejanya. Ia langsung masuk kamar mandi tanpa banyak bicara. Suara air keran jatuh, memecah hening.

Aku berdiri di depan kamar Denis. Gagang pintu dingin di telapak tanganku.

Denyut jantungku terlalu keras. Terlalu berisik untuk ruangan yang sunyi.

Ini anakku.

Tujuh tahun aku yang bersamanya saat demam, aku yang mengusap punggungnya saat mimpi buruk.

Tapi malam ini, aku berdiri di sini seperti pencuri. Pencuri di rumah sendiri.

Pintu terbuka pelan. Engselnya berdecit lirih, seperti mengeluh.

Lampu tidur bentuk bulan menyala temaram, menumpahkan cahaya kuning ke wajah Denis yang terlelap. Rambutnya hitam, lebat, jatuh ke bantal. Mirip Dafa. Tapi belakangan aku sadar... lebih mirip Maya.

Langkahku jinjit. Setiap tapak kaki rasanya mengkhianati lantai.

Aku duduk di tepi kasur. Denis meringis kecil, tapi tidak bangun.

Tanganku gemetar saat menyentuh helai rambutnya. Dingin. Halus.

Ini rambut yang dulu sering aku ciumi setiap kali ia tertidur di pangkuanku.

Sekarang rambut ini akan jadi saksi. Akan jadi hakim.

Aku tarik napas. Sekali.

Lalu aku cabut beberapa helai dari dekat akar. Cepat. Sekali sentak.

Denis mengerutkan alis. Bibirnya bergerak, menggumam lirih, "Mamah...".

Dadaku seakan ditusuk. Aku buru-buru meniup keningnya. Mengusap rambutnya yang tersisa. Membisik dengan suara yang nyaris pecah.

"Maafin Mamah, Den... Mamah cuma mau tahu. Mamah cuma mau tahu siapa ibu yang sebenarnya..."

Air mataku jatuh. Menetes ke pipi Denis. Aku hapus buru-buru.

Rambut-rambut itu kugenggam erat. Lalu kubungkus dengan tisu. Tisu itu kulipat, dimasukkan ke amplop kecil yang sudah kusiapkan di saku.

Amplop itu panas. Panas seperti bara. Seperti dosa.

Langkah kaki terdengar dari koridor. Air keran mati.

Dafa selesai mandi.

Jantungku berhenti sejenak. Aku berdiri tergesa, menyelipkan amplop ke saku piyama. Tangan satunya merapikan selimut Denis. Pura-pura sibuk, pura-pura hanya mengecek Denis seperti biasanya.

Pintu terbuka. Dafa muncul, handuk masih melingkar di lehernya.

Matanya menatapku, lalu menatap Denis, lalu kembali padaku.

"Ngapain di sini, Rin? Tengah malam begini."

Aku memaksa senyum. Senyum yang retak.

"Tadi aku dengar Denis mengigau. Aku cuma mau menenangkan dia. Mungkin tadi dia lagi mimpi buruk."

Dafa diam dua detik. Menatapku terlalu dalam. Seakan ia bisa membaca amplop panas di sakuku.

Lalu ia menghela napas, mengusap rambutku kasar. "Ya udah, tidur lagi sana! Biar aku yang menenangkan dia kalau dia mengigau lagi."

Ia masuk, duduk di tepi kasur, mengelus kepala Denis.

Aku keluar dari kamar itu. Kaki gemetar.

Di luar, aku bersandar ke dinding. Punggungku dingin. Napasku tercekat.

Tanganku meraba saku. Amplop itu masih di sana. Kecil. Ringan. Tapi rasanya seberat dunia.

Aku menutup mata. Berbisik pada diriku sendiri, pada darah yang tidak pernah bohong:

"Darah... tolong jangan bohongi aku."

---

Aku kembali ke kamar dengan langkah yang lebih berat dari saat masuk kamar Denis.

Amplop kecil di saku piyama itu kubuka pelan. Tisu yang membungkus rambut Denis masih hangat oleh sentuhanku sendiri.

Aku simpan di laci meja rias. Paling bawah. Di balik tumpukan lipstik dan bedak yang sudah lama tidak kupakai.

Kututup rapat. Kukunci. Kuncinya kuselipkan di balik bingkai foto pernikahanku dengan Dafa. Ironis. Bukti pengkhianatan disembunyikan di balik bukti pernikahan.

Aku naik ke atas kasur. Punggungku masih dingin oleh keringat.

Jari-jemariku gemetar saat membuka ponsel. Nama Alif kutekan.

Ketik. Hapus. Ketik lagi. Tangan ini terlalu penakut untuk jujur.

Akhirnya kukirim satu kalimat pendek:

"Alif, besok anterin Kakak ke lab RS, ya. Buat... urusan pribadi."

Balasan Alif cepat. Tidak bertanya. Tidak menghakimi.

"Siap, Kak. Jam 9 gue jemput. Mau ngapain juga gue temenin."

Aku menutup mata. Terima kasih, Adik. Terima kasih karena masih mau jadi rumah untuk Kakak.

---

Keesokan paginya, langit mendung. Seperti hatiku.

Alif sudah menunggu di depan pagar dengan mobilnya. "Ayo, Kak! Kita pergi sekarang? Kak Dafa tahu nggak Kakak ke luar?"

"Enggak, dia nggak tahu."

Di rumah sakit, kami tidak langsung menyerahkan sampel. Kami bertanya dulu. Resepsionis lab menjelaskan prosedur dengan suara datar, seperti membaca teks. Harga. Waktu. Cara pengambilan.

Saat amplop itu kuserahkan ke petugas, rasanya seperti menyerahkan separuh nyawaku.

"Hasilnya tiga hari, Mbak. Nanti dikirim ke email yang terdaftar kalau sudah keluar hasilnya."

Tiga hari. Tiga kali matahari terbit dan tenggelam dalam kecemasan.

Aku keluar dari lab dengan langkah gontai. Mata perih menahan tangis yang tidak diizinkan jatuh.

Alif menatapku lama. Lalu ia mengacak rambutnya sendiri, canggung.

"Kak, laper nggak? Makan yuk. Traktir gue... eh maksudnya gue traktir Kakak. Bebas mau makan apa aja."

Ia merogoh saku. Mengintip dompetnya. Lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Asal... jangan yang mahal-mahal ya, Kak."

Aku tertawa kecil. Tawa pertama sejak semalam. Pecah, tapi lega.

Adik bodoh ini. Selalu punya cara membuat duniaku yang runtuh jadi sedikit lebih manusiawi.

"Maklum, Kak. Semalam boncos ngajak jalan cewek."

Aku menepuk lengannya pelan. "Cantik nggak ceweknya?"

"Cantikan Kakak, sih!" ucapnya sambil senyum. "Tapi boong!"

Aku memukul lengan Alif pelan.

Kami pun naik mobil dan pergi ke resto yang katanya langganan Alif itu.

"Ini tempat kamu biasa makan sama cewek kamu, Lif?"

"Ngga juga. Kadang sama teman-teman, kadang sendiri doang. Yang punya tempat ini keluarga teman gue, Kak. Keluarga Bang Rey."

"Oh, temanmu yang waktu itu mau main tenis tapi nggak jadi? Kamu dekat banget kayaknya sama orang yang namanya Rey itu."

"Iya, kebetulan aja akhir-akhir ini dekat karena sering olahraga bareng. Dia itu pengacara terkenal, loh, Kak. Nanti kalau Kakak pisah sama Dafa, biar Bang Rey aja yang bantu."

"Boleh juga, Lif!"

"Kak mau pesan apa? Gimana kalau menu serba pedas aja, Kak," Alif menyarankan, matanya berbinar. "Biar ngalahin pedasnya kelakuan Bang Dafa."

Aku menaikkan alis. "Yang ada Kakak mencret kalau pakai ide kamu."

"Enggak lah," dia nyengir. "Masakan pedas di sini pedas yang masuk akal. Masih bisa dinikmati. Gue saranin Pangsit Chili Oil sama Dimsum Mentai. Enak, Kak. Sumpah. Kalau mau makanan beratnya, ayam goreng pakai sambal matah aja, Kak. Pedas nampol."

Aku mengangguk, karena sebenarnya apa pun yang kumakan bagiku sama saja saat ini. Dengan hati sekacau ini.

Kebetulan, anak pemilik resto sedang berdiri di dekat kasir. Tinggi. Rambutnya sedikit berantakan, tapi rapi.

Alif langsung melambaikan tangan. "Bang Rey!"

Pria itu menoleh. Senyumnya hangat, tidak berlebihan. "Alif. Lama nggak mampir."

"Rame terus ya, Bang?" Alif membalas. "Makasih ya, Bang, waktu itu udah ngasih izin gue tukeran mobil."

Rey mengangkat bahu, santai. "Nggak usah sungkan, Lif. Santai aja. Kalau butuh tukar lagi, boleh kontak kapan aja."

Dari percakapan singkat itu, kepalaku mencatat satu hal: mobil yang Alif pakai kemarin buat nguntit Dafa... ternyata punya Rey. Bukan sewaan.

Aku melirik Rey lagi. Ada rasa familiar yang menggantung di ujung ingatan. Seperti wajah yang pernah kulihat di suatu tempat. Entah di mana.

"Bang Rey kok kayaknya nggak asing ya?" tanyaku pelan saat ia berlalu ke dapur.

Alif nyengir, menyeruput es tehnya. "Iya lah, Kak. Kalian satu almamater. Satu angkatan juga. Mungkin pernah papasan pas KKN atau wisuda."

Aku mengangguk pelan. Mungkin. Dunia memang sempit. Terlalu sempit untuk menyembunyikan rahasia.

"Kok dia mau ya tukeran mobil? Dia tahu nggak tujuannya buat apa?"

"Tahu lah. Pas Kakak telepon, dia tepat ada di samping gue."

"Ya ampun, malu banget ketahuan lagi nguntit orang."

"Santai aja, Kak. Bang Rey udah kayak saudara buat gue. Nggak bakal mempermalukan Kakak."

Aku hanya mengangguk.

Sambil menunggu pesanan, kesedihan yang kutahan dari tadi akhirnya meluber.

"Alif," suaraku pelan, hampir tenggelam oleh musik resto. "Kalau... kalau Denis beneran bukan anak Kakak, Kakak harus ngapain?"

Alif menatapku. Tidak ada canda di matanya kali ini.

"Berarti ada anak lain, Kak. Anak kandung Kakak. Mungkin disembunyiin. Mungkin..." Ia berhenti. Menelan ludah. "Mungkin udah meninggal."

Dadaku sesak. Kata "meninggal" itu lebih tajam dari pisau.

"Aku bingung, Alif. Kalau bener begitu, Kakak harus mulai dari mana?"

Alif menggenggam tanganku di atas meja. Genggamannya kuat. Hangat.

"Kak nggak sendirian. Kalau Denis bukan anak Kakak, berarti keponakan gue yang asli ada di luar sana. Gue janji, Kak. Gue bakal bantu selidiki sampai tuntas. Sampai kita nemuin dia."

Sebelum aku sempat menjawab, pesanan datang.

Pangsit Chili Oil mengepulkan asap. Dimsum Mentai berkilau dengan saus putihnya.

Aku menyuap pertama. Pedasnya masuk akal. Menggigit, tapi tidak menyakiti. Seperti yang Alif bilang.

Minumannya juga pas. Manisnya tidak berlebihan. Menghapus sedikit rasa pahit di lidahku.

Untuk beberapa menit, aku membiarkan diriku lupa. Lupa pada amplop di laci. Lupa pada tiga hari penantian. Lupa pada Dafa.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Anak Selingkuhan Suamiku   125. Rumah

    AzkaHari kelulusan tiba lebih cepat dari yang terasa. Lapangan sekolah dipenuhi toga hitam dan wajah-wajah yang campur haru dan lega, orang tua berjejer di tribun sambil mengangkat ponsel, mengabadikan momen yang mereka tunggu bertahun-tahun.Azka berdiri di barisan depan, mencari-cari wajah keluarganya di antara kerumunan penonton. Ia menemukan mereka dengan mudah—Ririn yang melambai antusias, Rey di sampingnya menggendong Aira yang ikut melambai meski tidak sepenuhnya paham apa yang sedang dirayakan, dan Denis yang berdiri beberapa langkah dari mereka, sudah lebih dulu lulus dan sengaja datang untuk menyaksikan momen adiknya.Ketika namanya dipanggil untuk maju ke panggung, Azka melangkah dengan mantap, mengambil ijazahnya, lalu menoleh ke arah keluarganya yang bersorak paling keras di antara penonton lain.Sepulang dari acara, mereka merayakan dengan makan malam sederhana di rumah, memesan lebih banyak lauk dari biasanya sebagai bentuk perayaan kecil, persis seperti kebiasaan mer

  • Anak Selingkuhan Suamiku   124. Menutup

    Beberapa minggu setelah pameran lukisannya berlangsung sukses, hidup Denis perlahan menemukan ritme barunya. Gosip di sekolah sudah jauh mereda, digantikan obrolan tentang tugas akhir, ujian, dan rencana kelulusan yang semakin dekat.Namun ada satu hal yang masih mengganjal di hatinya—kabar terakhir soal Maya, yang sejak malam ia pulang dari rumah itu, tidak pernah lagi ia dengar.Suatu sore, sepulang sekolah, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang sudah lama tidak pernah menghubunginya.*"Denis, ini Bu RT dari daerah rumah ibumu dulu. Ibu titip nomor kamu ke saya, jaga-jaga kalau ada apa-apa. Ibu kamu, Maya, kemarin dibawa ke rumah sakit. Katanya sudah lama sakit tapi nggak pernah periksa. Kalau kamu mau, mungkin bisa sekadar dijenguk."*Denis menatap pesan itu lama, dadanya terasa berat oleh perasaan yang campur aduk—bukan lagi kemarahan yang dulu selalu muncul setiap kali nama itu disebut, melainkan sesuatu yang lebih rumit, semacam iba yang enggan ia akui sepenuhny

  • Anak Selingkuhan Suamiku   123. Rencana ke Depan

    Minggu sore itu, rumah terasa lebih santai dari biasanya. Tidak ada gosip yang perlu dipikirkan, tidak ada urusan sekolah yang mendesak—hanya keluarga yang berkumpul di ruang tengah, menikmati waktu yang jarang bisa mereka nikmati bersama tanpa terburu-buru.Aira duduk di karpet, sibuk menyusun puzzle bergambar kebun binatang, sesekali berteriak kegirangan setiap berhasil menemukan potongan yang pas. Denis duduk di sofa, sketsa barunya tergeletak di pangkuan, meski ia lebih banyak memperhatikan Aira daripada menggambar.Sifa datang sore itu, membawa sekotak kue yang katanya baru dicoba resepnya oleh ibunya. Ia disambut hangat, sudah dianggap seperti bagian dari keluarga sejak lama."Sifa, sini duduk," kata Ririn, menggeser posisi duduknya di sofa. "Kebetulan lagi santai semua."Sifa duduk di samping Azka, menyerahkan kotak kue kepada Ririn. "Ini oleh-oleh dari Mama, Tante. Katanya buat dicicipin.""Wah, makasih banyak," jawab Ririn, tersenyum, membuka kotak itu dan langsung mencium ar

  • Anak Selingkuhan Suamiku   122. Sisi Lain Cerita

    Beberapa hari setelah masa skorsing berakhir, Denis akhirnya membalas pesan Rendy, memutuskan untuk bertemu di kantin sekolah yang sudah sepi sepulang jam pelajaran.Rendy datang dengan wajah lebih tenang dari terakhir kali mereka bertemu di jalan waktu itu—tidak ada lagi nada mengejek dalam suaranya, hanya kecanggungan yang wajar di antara dua orang yang baru saja berdamai."Makasih mau ketemu," kata Rendy, duduk di seberang Denis, tangannya memutar-mutar botol minum tanpa benar-benar meminumnya. "Aku... beneran minta maaf soal waktu itu. Aku lampiasin emosi ke orang yang salah."Denis mengangguk pelan. "Ceritain aja. Aku pengen ngerti kenapa waktu itu kamu sampe segitunya."Rendy menghela napas panjang, seperti sudah menyiapkan cerita ini sejak lama tapi baru sekarang berani mengucapkannya. "Bokap gue kerja bareng Maya beberapa bulan lalu, buka usaha kecil-kecilan jualan sembako online. Maya yang ngajak duluan, bilang dia punya modal dari 'anak yang udah sukses'—maksudnya kamu, tern

  • Anak Selingkuhan Suamiku   121. Konsekuensi

    DenisMalam itu, setelah beberapa hari menimbang, Denis akhirnya duduk bersama Ririn, Rey, dan Azka di ruang keluarga, menceritakan detail kejadian di jalan pulang—Leo yang mendorongnya, Rendy yang menendang, dan ucapan-ucapan yang mereka lontarkan soal Maya dan asal-usulnya.Ririn mendengarkan dengan rahang mengeras, matanya berkaca-kaca menahan campuran marah dan sedih. "Kenapa nggak langsung cerita waktu itu?""Aku capek, Ma," jawab Denis, jujur. "Aku pikir kalau aku diem, semuanya bakal reda sendiri.""Kekerasan nggak boleh dibiarin reda sendiri, Denis," kata Rey, tegas. "Besok kita ke sekolah. Ketemu wali kelas, kalau perlu kepala sekolah."Azka menggenggam tangan kakaknya. "Aku temenin, Kak. Kita hadapin bareng."Denis mengangguk pelan, meski masih ada rasa cemas yang mengganjal di dadanya.---Keesokan harinya, Rey dan Ririn datang ke sekolah, ditemani Denis yang duduk di antara mereka di ruang kepala sekolah. Wali kelas Leo, Damar, dan Rendy juga hadir, wajah mereka tegang se

  • Anak Selingkuhan Suamiku   120. Kata-kata yang Tersembunyi

    Pagi setelah malam yang panjang itu, Denis bangun lebih siang dari biasanya. Tubuhnya terasa lebih ringan, meski matanya masih sedikit bengkak sisa tangisan semalam.Ia turun ke ruang makan, mendapati Ririn sudah menyiapkan sarapan seperti biasa—nasi goreng dengan telur ceplok, menu yang sama sejak bertahun-tahun lalu, meski sekarang dengan tambahan sosis dan kerupuk sebagai pelengkap."Tidur nyenyak?" tanya Ririn, tersenyum lembut, meski matanya masih menyisakan sedikit kelelahan dari malam sebelumnya."Lumayan, Ma," jawab Denis, duduk di kursinya.Azka muncul tidak lama kemudian, disusul Rey yang sengaja mengambil cuti sehari untuk memastikan suasana rumah benar-benar tenang sebelum semua orang kembali ke rutinitas masing-masing.Sarapan berlangsung lebih tenang dari biasanya, meski ada kecanggungan kecil yang masih tersisa di udara."Kak," kata Azka akhirnya, memutuskan untuk langsung bertanya. "Kemarin, pas di rumah Ibu kandung Kakak... Kakak sempet nyebut soal Oma Siti. Katanya d

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status