Home / Rumah Tangga / Anak Selingkuhan Suamiku / BAB 70. Trimester 3 Part 2

Share

BAB 70. Trimester 3 Part 2

Author: Mira Restia
last update publish date: 2026-08-27 03:09:49

Bu Mira mengangkat daguku hingga mataku bertemu dengan pandangannya yang jernih. “Yang merepotkan itu anak Mama kalau begitu pikir. Kamu tidak merepotkan, nduk. Kamu sedang berjuang demi cucu Mama. Itu tugas Mama sekarang: menjaga pejuang ini tetap kuat.”

Sore itu, untuk pertama kalinya sejak mengetahui posisi sungsang, aku tertawa lepas dan lega. Bu Mira membongkar isi kopernya di dapur. Terdapat rantang berisi opor ayam lezat, toples-toples berisi bumbu halus rapi, botol kaca beri
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 74. Baby Blues

    H+1 setelah persalinan. Tubuhku terasa remuk seolah baru saja dilindas truk besar. Jahitan di bagian bawah terasa perih menyayat setiap kali aku mencoba bergerak atau mengubah posisi. Namun, rasa sakit fisik itu terasa tidak seberapa dibanding kegemparan yang terjadi di dalam kepalaku sendiri. Aira tidur pulas di dalam tempat tidur bayinya. Wajahnya tampak tenang damai, bibir mungilnya sesekali bergerak mengecup seolah sedang menyusu dalam mimpi indahnya. Di sofa, Bang Rey terlelap, namun satu tangannya terulur ke arah ranjangku—seperti dalam tidur pun ia takut aku akan menghilang jika dilepaskan sekalipun. Seharusnya aku merasa bahagia. Aku sudah memiliki segala hal yang dulu kupikir mustahil untuk kudapatkan: suami yang selalu siaga, anak yang sehat, serta mertua yang penuh kasih sayang. Namun mengapa dadaku terasa begitu sesak dan berat? Pukul 02.47 dini hari. Aira terbangun lalu menangis pelan. Begitulah bayi baru lahir; tidur dua jam, terjaga,

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 73. Bayiku

    Dengan tangan gemetar, aku mengangkat lenganku untuk menyentuh pipi bayi mungil itu. Kulitnya sangat halus, hidungnya mancung persis seperti Bang Rey, bibirnya tipis menirukan milikku. Matanya masih terpejam rapat dalam tidur pertamanya. “Halo, Aira...” bisikku lirih. “Selamat datang di dunia, Nak. Maaf Mama membuatmu menunggu lama ya...” Aira mengerutkan kening mungilnya, lalu sedikit membuka matanya. Matanya hitam jernih, menatapku seolah ia sudah mengenal siapa ibunya sejak lama. Ada rasa seolah tersambar petir yang lembut namun mendalam di dadaku. Inilah cinta tanpa syarat yang sejati. Cinta yang hadir seketika, tanpa butuh waktu untuk dipelajari. Bang Rey mengambil ponselnya dengan tangan yang masih gemetar hebat. Ia merekam video dan memotret dari berbagai sudut dengan teliti. Tangannya tak henti bergetar karena emosi. “Rin, lihat. Dia mirip kamu sekali. Lihat hidungnya, manis sekali,” ucapnya bangga seolah baru saja memenangkan pertandi

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 72. Waktunya Tiba

    Malam itu, udara terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Aku berbaring miring ke kiri sesuai anjuran bidan, memeluk erat guling panjang untuk menopang tubuh. Di sampingku, Bang Rey terlelap, namun satu tangannya tetap terulur menggenggam jemariku seolah tak mau terpisah sekalipun dalam mimpi. Dari kamar sebelah, terdengar dengkuran halus Bu Mira sesekali memecah keheningan. Di kasur kecil mereka, Denis dan Azka tidur berpelukan rapat, persis seperti dua anak kucing yang tak ingin terpisah. Aku memejamkan mata, berusaha mengabaikan rasa pegal yang menusuk di pinggang. Sejak diagnosa posisi sungsang dan perjuangan keras memutar Aira beberapa minggu lalu, tidur nyenyak menjadi kemewahan yang jarang kudapatkan. Namun malam ini terasa berbeda. Ada rasa berat sekaligus penuh yang sulit kujelaskan dengan kata-kata. Jam dinding menunjuk tepat pukul 02.15. Perlahan aku membalikkan badan, berharap menemukan posisi yang lebih nyaman bagi punggungku. Tiba-tiba, sebuah sensas

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 71. Trimester 3 Part 3

    Keesokan harinya tiba jadwal pemeriksaan USG ulang. Ini adalah momen penentuan di usia 38 minggu. Jika posisi bayi belum berubah juga, maka kami harus memantapkan hati bersiap untuk persalinan caesar. Di ruang pemeriksaan, suasananya terasa lebih tegang dari biasanya. Bang Rey menggenggam tanganku lebih erat dari sebelumnya. Bu Mira menunggu di kursi luar ruangan, namun sebelum aku masuk beliau menitipkan sebuah tasbih kecil di genggamanku agar selalu dipegang. Dokter kembali mengoleskan gel dingin ke atas perutku. Layar monitor menampilkan gambar hitam putih yang bergerak lagi. Jantungku berdegup kencang sekali hingga rasanya aku bisa mendengar detak itu sendiri di telinga. Dokter menggeser alat pemeriksa ke sisi kiri, lalu berpindah ke kanan. Ia terdiam cukup lama menyimak gambar di layar. Bang Rey menahan napas di sampingku. Aku memejamkan mata rapat-rapat, tak berani sekilas pun melirik layar itu. “Ibu, Bapak...” suara dokter terdengar mem

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 70. Trimester 3 Part 2

    Bu Mira mengangkat daguku hingga mataku bertemu dengan pandangannya yang jernih. “Yang merepotkan itu anak Mama kalau begitu pikir. Kamu tidak merepotkan, nduk. Kamu sedang berjuang demi cucu Mama. Itu tugas Mama sekarang: menjaga pejuang ini tetap kuat.” Sore itu, untuk pertama kalinya sejak mengetahui posisi sungsang, aku tertawa lepas dan lega. Bu Mira membongkar isi kopernya di dapur. Terdapat rantang berisi opor ayam lezat, toples-toples berisi bumbu halus rapi, botol kaca berisi jamu kunyit asam buatan sendiri, dan yang paling membuatku terkejut: satu set alat pijat tradisional dari kayu yang halus. “Mama belajar teknik pijat ini dari bidan di kampung, nduk. Dulu waktu Mama melahirkan Bang Rey pun posisinya sungsang. Jaman itu belum ada teknologi ECV seperti sekarang, jadi Mama pasrah saja. Alhamdulillah bisa lahir secara normal, tapi perjuangannya sungguh berat. Sekarang zamannya sudah beda jauh. Kamu ada dokter yang cakap, ada prosedur ECV. Tugas Mama sed

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 69. Trimester 3

    Usia kehamilanku memasuki 36 minggu. Perutku semakin membuncit besar, membuat langkahku terasa berat dan pelan. Setiap malam sebelum terlelap, aku selalu meletakkan telapak tangan di atas perut itu, merasakan sentuhan halus dan tendangan kecil dari dalam. Rasanya persis seperti sayap kupu-kupu yang mengetuk pelan dari balik dinding rahim, memberi tahu bahwa kehidupan sedang tumbuh dengan sehat. Hari itu adalah jadwal kontrol rutin ke rumah sakit. Bang Rey sudah mengambil cuti setengah hari sejak pagi buta. Ia tampak rapi dengan kemeja biru muda, dasinya sengaja dilonggarkan sedikit agar lebih leluasa. Di tangannya tergenggam erat map berisi hasil laboratorium dan buku KIA milikku. “Rin, sudah siap?” tanyanya lembut sambil merapikan kerah jilbabku dengan teliti. “Sudah, Bang,” jawabku sambil tersenyum, berusaha menyembunyikan sedikit kegelisahan yang mulai merayap. Perjalanan ke rumah sakit hanya memakan waktu lima belas menit. Bang Rey menyeti

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status