MasukRumahnya kini terasa terlalu sunyi.
Noah baru menyadarinya setelah tiga bulan berlalu. Bukan sunyi yang menenangkan, tapi sunyi yang menekan dada, membuat napas terasa berat setiap kali ia melangkah melewati ruangan-ruangan yang dulu selalu diisi suara Amara.
Tidak ada lagi langkah kaki pelan di pagi hari.
Tidak ada lagi suara piring saling beradu di dapur.
Tidak ada lagi aroma teh hangat yang selalu muncul entah dari mana.
Yang tersisa hanya ruang-ruang kosong—dan gema dari apa yang pernah ia katakan malam itu.
Noah berdiri di depan meja makan, tempat lilin-lilin pernah menyala. Meja itu sudah bersih sekarang. Terlalu bersih. Seolah-olah tak pernah ada makan malam romantis yang berakhir dengan kehancuran.
Tangannya mengepal.
Amara tidak pernah kembali.
Pada minggu pertama, Noah yakin itu hanya sementara. Amara hanya butuh waktu. Seperti biasanya. Dia akan kembali setelah emosinya mereda, setelah rasa sakitnya berkurang. Dia selalu kembali.
Tapi minggu kedua datang.
Lalu minggu ketiga.
Dan Amara tetap tidak ada.
Nomornya sudah tidak aktif. Akun media sosialnya menghilang. Bahkan teman-temannya—yang dulu begitu mudah ia hubungi—kini mengajukan pertanyaan yang sama padanya.
Ke mana Amara?
Seolah-olah Amara lenyap dari dunia.
Dan itu membuat Noah mulai gelisah.
Ia duduk di sofa, menatap ponsel di tangannya. Jarum jam di dinding berdetak terlalu keras. Detik demi detik terasa seperti ejekan.
Noah mengingat wajah Amara malam itu.
Matanya yang basah.
Suaranya yang gemetar, tapi tegas.
Kalimat yang tak pernah berhenti menghantuinya.
‘Aku memilih anakku.’
Rahang Noah mengeras.
Dia bilang pada dirinya sendiri bahwa dia benar. Bahwa reaksinya wajar. Bahwa tidak ada laki-laki yang mau menerima anak dari pria lain. Itu logis. Masuk akal, dan semua pria di dunia ini akan melakukan hal yang sama seperti dirinya.
Tapi semakin lama Amara menghilang, semakin alasan-alasan itu terdengar kosong.
Noah bangkit, berjalan menuju kamar mereka—kamar yang kini terasa seperti kamar orang asing. Lemari Amara setengah kosong. Beberapa gaun masih tergantung rapi, tapi parfum kesayangannya sudah tidak ada. Sisirnya menghilang. Buku kecil yang biasa ia baca sebelum tidur juga tidak ada.
Dia benar-benar pergi.
Noah mengusap wajahnya kasar.
“Kalau dia memang selingkuh,” gumamnya pelan, “kenapa dia menghilang?”
Pertanyaan itu muncul tanpa diundang, dan membuat dadanya terasa tidak nyaman.
Jika Amara bersalah, seharusnya dia takut. Seharusnya dia berusaha menghubungi. Membela diri. Memohon. Atau setidaknya … memanfaatkan kelemahannya.
Tapi Amara tidak melakukan apa pun.
Tidak satu pun.
Noah mulai mencarinya diam-diam.
Awalnya, ia hanya melewati jalan-jalan yang biasa mereka lalui. Kafe kecil di sudut kota. Toko buku yang pernah Amara sukai. Salon langganannya.
Kosong.
Lalu ia mulai memperhatikan orang-orang. Setiap perempuan berambut panjang dengan tubuh ramping membuat langkahnya terhenti sesaat. Setiap tawa perempuan di kejauhan membuatnya menoleh refleks.
Ia membayangkan Amara bersama pria lain.
Bayangan itu membuat dadanya terbakar oleh sesuatu yang tidak ingin ia akui sebagai cemburu.
Noah tidak tahu apa yang lebih membuatnya marah—kemungkinan Amara benar-benar mengkhianatinya, atau kemungkinan bahwa ia telah mengusir satu-satunya orang yang benar-benar ia cintai.
Suatu malam, ia membuka kembali hasil tes kesuburan yang selama ini ia simpan di laci meja kerja. Kertas itu sudah sedikit kusut. Sudutnya terlipat.
Mandul.
Kata itu kembali menamparnya tanpa suara.
Noah memejamkan mata.
Bagaimana jika ….
Bagaimana jika ada kesalahan?
Pikiran itu muncul seperti bisikan kecil, rapuh, tapi menggoda. Ia membencinya. Karena harapan itu datang bukan dari keyakinan, melainkan dari ketakutan.
Takut kehilangan Amara untuk selamanya. Wanita yang ia cintai sejak mereka berada di sekolah menengah yang sama. Berada di fakultas yang sama, dan wanita yang pernah menjadi pacanya bertahun-tahun, hingga menjadi istrinya selama tiga tahun terakhir.
Noah tertawa pelan, hambar.
“Kalau anak itu benar-benar bukan anakku,” gumamnya pada ruangan kosong, “kenapa rasanya seperti aku yang kehilangan segalanya?”
Tidak ada yang menjawab.
Rumah itu tetap sunyi.
Dan untuk pertama kalinya sejak malam itu, Noah mulai merasakan sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada amarah.
Kehilangan.
Noah sedang berdiri di depan jendela ruang tamu ketika suara mesin mobil terdengar dari luar pagar.
Bukan suara mobil yang dikenalnya.
Ia menoleh, sedikit mengernyit. Dari balik tirai tipis, Noah melihat sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan gerbang. Mewah, tenang, dengan kaca hitam seolah sedang menyembunyikan siapa orang di dalam mobil itu.
Seorang pria turun dari kursi kemudi. Penampilannya rapi—setelan jas hitam, sepatu mengilap. Gerakannya efisien, seperti seseorang yang terbiasa menjalankan urusan orang lain.
Bel rumah berbunyi.
Noah menarik napas dalam-dalam sebelum melangkah ke pintu. Ada bagian dalam dirinya yang tiba-tiba menegang, seolah firasat buruk menggesek pelan di kulitnya.
Ia membuka pintu.
“Selamat sore,” sapa pria itu sopan. “Maaf mengganggu. Apa Nona Amara ada di rumah?”
Nama itu.
Noah menatap pria itu tanpa ekspresi. “Tidak.”
Alis pria itu sedikit terangkat, tapi wajahnya tetap tenang. “Oh. Kalau boleh tahu, kapan saya bisa bertemu dengannya? Apa Anda … suaminya?”
Noah menyandarkan bahunya ke kusen pintu. “Saya mantan suaminya. Anda tidak bisa menemukannya di sini, dan saya juga tidak tahu ke mana dia pergi.”
Pria itu terdiam sepersekian detik—cukup singkat untuk nyaris tak terlihat, tapi cukup lama untuk ditangkap Noah.
“Kenapa Anda mencari mantan istri saya?”
“Saya dari perusahaan tempat Nona Amara pernah bekerja,” lanjut pria itu, cepat, seolah sudah menyiapkan kalimat itu sebelumnya. “Nona Amara mengetahui informasi perusahaan yang cukup penting, dan saya memerlukan itu. Kami mencoba menghubungi, tapi nomornya sudah tidak aktif.”
Noah tertawa pendek. Hampa. “Kalau begitu kita sama. Saya juga tidak bisa menghubunginya.”
Pria itu mengangguk pelan. “Apakah keluarganya mungkin tahu?”
“Tidak,” jawab Noah singkat. “Dia tidak punya keluarga di sini. Tidak ada yang tahu.”
Hening sesaat menggantung di antara mereka.
“Baik,” kata pria itu akhirnya. “Terima kasih atas waktunya.”
Ia berbalik, melangkah pergi tanpa banyak basa-basi. Noah menutup pintu perlahan, lalu berdiri diam beberapa detik, menatap kayu pintu seolah berharap ada jawaban muncul di sana.
Seseorang mencarinya.
Amara benar-benar tidak menghilang begitu saja.
Pria itu kembali masuk ke mobil. Pintu ditutup rapat. Matanya melihat ke spion, pada wajah seorang pria dengan rahang mengeras yang duduk di bangku penumpang belakang.
“Wanita yang Anda cari tidak ada di sana, Tuan,” katanya kemudian. “Rumah itu milik mantan suaminya. Mereka sudah bercerai.”
“Dia sudah bersuami?” suara itu akhirnya bertanya. Rendah. Datar.
“Ya,” jawab si asisten. “Dan tampaknya hubungan mereka berakhir buruk. Pria itu tidak tahu keberadaan wanita tersebut.”
Pria di kursi itu menghela napas. Bukan marah. Bukan terkejut. Lebih seperti seseorang yang sedang menimbang ulang ingatannya sendiri.
“Kalau begitu …,” gumam suara itu pelan. “Mungkin yang aku lihat malam itu bukan dia.”
Asisten menatap lurus ke depan. “Kami sudah memeriksa hampir semua tamu wanita di lantai kamar hotel itu, Tuan. Tidak ada yang benar-benar cocok.”
“Ingatan bisa salah,” jawab suara itu singkat. “Cari lagi sampai kau menemukan wanita malam itu.”
“Baik.”
Mobil melaju semakin jauh. Lampu-lampu kota berpendar samar di kaca jendela.
Jika bukan wanita bernama Amara … lalu siapa perempuan yang malam itu berada di sana?
***
Di dalam mobil, Amara tidak langsung bicara. Tangannya mencengkeram setir lebih erat dari biasanya. Rahangnya mengeras, napasnya dijaga tetap teratur, seolah satu kata saja bisa membuat semuanya tumpah. Lily duduk di kursi belakang, kakinya yang pendek mengayun pelan, celengan ayam masih ia peluk seperti harta karun. Apartemen mereka terasa sunyi saat pintu tertutup. Amara meletakkan tas, lalu berbalik menghadap putrinya. Ia berlutut agar sejajar dengan wajah Lily. Matanya tajam, bukan karena marah semata, tapi karena takut yang belum reda. “Kamu tahu,” katanya pelan namun tegas, “apa yang kamu lakukan hari ini sangat berbahaya.” Lily mengedip. “Aku tidak nakal.” “Kamu kabur dari sekolah,” suara Amara bergetar tipis. “Bagaimana kamu bisa sampai ke kantor Ibu?” “Jalan kaki,” jawab Lily jujur. “Sekolah dan kantor Ibu dekat.” Dada Amara mencelos. “Lily—” “Ibu tidak bisa mendapatkan ayah untuk kita,” lanjut Lily, polos, tanpa ragu. “Jadi aku yang mencarikan.” Kalimat itu menghan
Melihat Ibunya yang berdandan di depan cermin, Lily mengajukan pertanyaan untuk pertama kali hari itu,“Ibu, dari mana aku berasal?”Amara menghentikan semua gerakannya dan berbalik untuk melihat mata putrinya yang berbinar seperti bintang. Namun mata bulat itu dipenuhi dengan keraguan saat menatapnya.Malam lima tahun yang lalu muncul kembali di benaknya, mengupas luka lama yang belum pernah benar-benar sembuh.Di rumah itu … dia tidak pernah mengkhianati Noah. Tidak sekalipun. Tapi di saat itulah dia baru mengetahui kalau selama ini Noah mandul.Dan pertanyaan yang dulu selalu berputar di kepalanya, tentang bagaimana dia bisa hamil, dan anak siapa yang dia kandung, masih belum memiliki jawaban. Hingga saat ini.Lily melangkah mendekat, menarik rok Ibunya dan bertanya lagi, “Bu, mengapa kamu tidak menjawabku? Dari mana aku berasal?”Amara tersentak. Ingatan itu terputus begitu saja, membuat ekspresinya sesaat kehilangan kewajaran.Dari mana asalnya?Pertanyaan itu menggema—dan ironis
Rumahnya kini terasa terlalu sunyi.Noah baru menyadarinya setelah tiga bulan berlalu. Bukan sunyi yang menenangkan, tapi sunyi yang menekan dada, membuat napas terasa berat setiap kali ia melangkah melewati ruangan-ruangan yang dulu selalu diisi suara Amara.Tidak ada lagi langkah kaki pelan di pagi hari.Tidak ada lagi suara piring saling beradu di dapur.Tidak ada lagi aroma teh hangat yang selalu muncul entah dari mana.Yang tersisa hanya ruang-ruang kosong—dan gema dari apa yang pernah ia katakan malam itu.Noah berdiri di depan meja makan, tempat lilin-lilin pernah menyala. Meja itu sudah bersih sekarang. Terlalu bersih. Seolah-olah tak pernah ada makan malam romantis yang berakhir dengan kehancuran.Tangannya mengepal.Amara tidak pernah kembali.Pada minggu pertama, Noah yakin itu hanya sementara. Amara hanya butuh waktu. Seperti biasanya. Dia akan kembali setelah emosinya mereda, setelah rasa sakitnya berkurang. Dia selalu kembali.Tapi minggu kedua datang.Lalu minggu ketiga
Amara mengira kata-katanya akan membuat Noah terdiam.Tapi yang terjadi justru sebaliknya.Noah menatapnya dengan sorot yang lebih gelap dari sebelumnya, matanya menyala penuh amarah. Lalu, dia tertawa. Tertawa rendah, penuh ejekan.“Aku gak pantas jadi ayahnya?” Noah melangkah maju, suara tawanya berubah dingin. “Amara, dengar baik-baik. Aku juga gak mau jadi ayah dari anak haram kamu!”Amara menegang, tetapi Noah tidak berhenti."Siapa?" desaknya, suaranya semakin tajam. "Siapa yang udah tidur sama kamu? Hah?! Mau ngaku sekarang atau aku harus cari tahu sendiri?"Amara menatapnya dengan ngeri. "Aku nggak pernah—""BOHONG!" Noah membentak, wajahnya penuh kebencian. "DASAR PEREMPUAN MUR4HAN!"Amara tersentak.“Kamu gila? Aku udah bilang kalau aku nggak pernah tidur dengan pria lain selain kamu, Noah!” suaranya meninggi, dadanya naik turun menahan emosi.Tapi Noah sama sekali tidak peduli. "Selama ini aku kira kamu istri yang setia, yang bisa aku banggakan! Tapi nyatanya? Kamu jual dir
Amara duduk di bangku rumah sakit, jemarinya saling bertaut di pangkuannya. Udara siang ini panas, tapi telapak tangannya justru dingin. Sudah sepuluh menit sejak suster mengatakan bahwa hasilnya akan segera keluar. Sepuluh menit yang terasa seperti seumur hidup.Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya. Tapi tetap saja, ada ketakutan yang menggerogoti pikirannya. Jika hasilnya negative … jika semua ini hanya harapan kosong lagi … maka dia harus pulang dan kembali menghadapi tatapan Rosaline yang selalu sarat dengan makna."Kamu harus lebih sering periksa ke dokter, jangan sampai ada masalah sama rahimmu," kata ibu mertuanya beberapa bulan lalu, sambil tersenyum tipis yang tak sampai ke mata. Itu bukan saran. Itu penghakiman.“Sudah tiga tahun menikah dengan Noah dan belum punya anak? Kau yakin kau tidak bermasalah?” Iparnya—Selvi juga mengatakan demikian.Amara menutup matanya, meredam suara-suara itu. Hari ini dia berharap tidak ada lagi kecewa seperti yang selalu







