Beranda / Rumah Tangga / Anak Siapa di Rahim Istriku? / Bab 1 Kau Mengkhianatiku, Amara?

Share

Anak Siapa di Rahim Istriku?
Anak Siapa di Rahim Istriku?
Penulis: Fachra. L

Bab 1 Kau Mengkhianatiku, Amara?

Penulis: Fachra. L
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-03 06:05:15

Amara duduk di bangku rumah sakit, jemarinya saling bertaut di pangkuannya. Udara siang ini panas, tapi telapak tangannya justru dingin. Sudah sepuluh menit sejak suster mengatakan bahwa hasilnya akan segera keluar. Sepuluh menit yang terasa seperti seumur hidup.

Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya. Tapi tetap saja, ada ketakutan yang menggerogoti pikirannya. Jika hasilnya negative … jika semua ini hanya harapan kosong lagi … maka dia harus pulang dan kembali menghadapi tatapan Rosaline yang selalu sarat dengan makna.

"Kamu harus lebih sering periksa ke dokter, jangan sampai ada masalah sama rahimmu," kata ibu mertuanya beberapa bulan lalu, sambil tersenyum tipis yang tak sampai ke mata. Itu bukan saran. Itu penghakiman.

“Sudah tiga tahun menikah dengan Noah dan belum punya anak? Kau yakin kau tidak bermasalah?” Iparnya—Selvi juga mengatakan demikian.

Amara menutup matanya, meredam suara-suara itu. Hari ini dia berharap tidak ada lagi kecewa seperti yang selalu terulang setiap dia melakukan tes kehamilan.

Dia sudah terlambat tiga minggu, p4yudaranya lebih s3nsitif dari biasanya, dan ada rasa mual di pagi hari. Mungkin kah kali ini benar?

Suara pintu terbuka. Dokter keluar dengan map di tangannya, ekspresinya tenang. Jantung Amara berdegup kencang saat dia bangkit berdiri.

"Selamat, Bu Amara."

Amara mengerjap.

"Kamu hamil," lanjut dokter itu, dengan nada pasti.

Seketika dunia terasa berhenti berputar.

Hamil.

Tangan Amara terangkat ke perutnya, seakan belum benar-benar percaya. Matanya panas, dadanya terasa penuh. Ada sesuatu yang mengembang di dalam hatinya—harapan yang selama ini hampir ia kubur dalam-dalam.

Akhirnya ….

Akhirnya, tidak akan ada lagi bisikan yang menyuruhnya 'bersabar'. Tidak ada lagi tatapan dingin dari Rosaline di meja makan, seakan kehadirannya adalah beban yang harus ditanggung keluarga ini.

Dan Noah ….

Amara tersenyum kecil. Malam ini, dia akan memberitahu Noah. Dengan cara yang istimewa, dengan kejutan yang sudah ia impikan sejak lama.

Anak mereka.

Amara mer3mas kertas hasil tes itu dalam genggamannya, memeluknya di dada. Kali ini, dia tidak akan pulang dengan tangan kosong.

19.00 Noah berjanji akan pulang tepat waktu malam ini.

Amara berdiri di depan meja makan, merapikan lilin yang sudah dinyalakan. Cahaya temaram dari lampu gantung membuat ruangan tampak lebih hangat, lebih intim. Makanan favorit Noah sudah tertata rapi, gelas-gelas kristal berisi anggur merah terpantul cahaya lilin.

Di tengah meja, di samping piring Noah, ada amplop putih berisi hasil tes laboratorium tadi.

Dadanya masih dipenuhi debaran yang sama seperti siang tadi. Kebahagiaan yang nyaris tak tertahankan. Noah akan sangat senang. Ia bisa membayangkan ekspresi terkejutnya, bagaimana laki-laki itu akan bangkit dari kursinya dan memeluknya erat. Bagaimana tangannya akan meraba perut Amara dengan hati-hati, penuh rasa ingin tahu.

Mereka akan memiliki anak.

Anak yang selama ini mereka nanti-nantikan.

Suara mesin mobil berhenti di halaman. Amara buru-buru melangkah ke depan pintu, jantungnya makin berdegup cepat. Begitu pintu terbuka, Noah masuk dengan jas tersampir di lengannya, raut wajah lelah, tetapi langsung berubah saat melihat meja makan yang tertata indah.

"Wow." Dia terkekeh kecil, menatap Amara. "Ada acara apa ini?"

Amara tersenyum, menuntunnya ke meja. "Duduk, aku punya sesuatu untukmu."

Noah mengangkat alis, tapi menurut. Dia menarik kursinya, melirik ke sekeliling. "Romantis sekali. Aku suka."

Amara duduk di hadapannya, menatapnya penuh harap. Ia mendorong amplop putih itu ke depan Noah.

"Ada sesuatu yang lebih spesial," bisiknya.

Noah menatapnya sejenak, lalu meraih amplop itu. Dahinya mengernyit ketika membaca tulisan di atasnya. Perlahan, dia membuka isinya, mengeluarkan lembaran hasil lab, membacanya dalam diam.

Detik berikutnya, sesuatu yang tak pernah Amara bayangkan terjadi.

Hasil lab itu terlepas dari tangan Noah, jatuh ke lantai.

Amara melihat bagaimana ekspresi suaminya berubah dalam sekejap. Mata yang tadi penuh kelembutan kini dipenuhi amarah yang meledak-ledak. Rahangnya mengeras, dadanya naik-turun seiring napasnya yang tiba-tiba memburu.

Dan kemudian, suara Noah menggelegar, membelah keheningan rumah mereka.

"Kau mengkhianatiku, Amara?”

Dunia Amara seakan berhenti berputar. "Apa?" suaranya nyaris bergetar.

Noah bangkit dari kursinya dengan kasar, tangannya mengepal. "Jangan pura-pura bodoh, Amara!" bentaknya. "Siapa yang udah buat kamu hamil?! Karena itu jelas-jelas bukan anakku!"

Amara terperangah. "Noah, apa maksudmu? Anak ini anak kita—"

"JANGAN NGACO!" suara Noah menggelegar. "Kamu pikir aku t0lol?!"

Amara berdiri, hatinya mencelos melihat kemarahan di mata laki-laki itu. Air mata mulai menggenang di pelupuknya.

"Kenapa kamu ngomong kayak gitu?!" Suaranya meninggi, emosinya ikut tersulut. "Aku ini istri kamu! Aku gak pernah sekalipun nyentuh laki-laki lain selain kamu!"

Noah tertawa sinis, gelengan kepalanya penuh kemarahan. "Omong kosong!" bentaknya. "Tiga tahun, Amara. TIGA TAHUN, kita enggak pernah punya anak! Tiba-tiba kamu hamil? Dari mana?!"

Amara mencengkeram dadanya yang terasa sesak. "Karena Tuhan akhirnya kasih kita anak, Noah! Ini yang selama ini aku doain!"

"BOHONG!"

Teriakan Noah membungkamnya. Laki-laki itu melangkah maju, menatapnya dengan mata penuh amarah dan kebencian.

"Kamu mau tahu kenapa kita enggak pernah punya anak?" Suara Noah kini lebih rendah, tetapi setiap kata terasa seperti pisau yang menusuk hati Amara. "Karena aku … mandul."

Deg.

Amara membeku di tempatnya.

"Apa?" bisiknya, nyaris tidak percaya.

Noah menatapnya tajam. "Aku mandul, Amara," katanya lagi, kali ini lebih jelas. "Aku udah tahu dari awal pernikahan kita, dan aku diam. Aku gak mau kamu pergi. Aku gak mau kamu ninggalin aku karena alasan itu."

Amara kehilangan kata-kata. Seluruh tubuhnya gemetar.

Tiga tahun.

Tiga tahun dia menyalahkan dirinya sendiri. Menanggung bisikan, tatapan dingin dari semua orang, termasuk ibu mertuanya.

Dan sekarang ….

Dada Amara naik turun, seluruh emosinya membuncah menjadi satu.

"Kamu tahu?" Suaranya bergetar, bukan karena sedih, tapi karena marah. "Kamu tahu selama ini, dan kamu DIAM?! Kamu biarkan aku disalahkan, kamu biarkan aku ngerasa ini semua salahku?!"

Noah memalingkan wajahnya, tapi Amara tidak peduli.

"Kamu tahu," ulangnya, air mata jatuh satu per satu dari matanya. "Tapi kamu lebih memilih nyalahin aku, nuduh aku selingkuh, daripada—"

Suara Amara tercekat.

Dia tertawa kecil, getir.

"Aku kira … hari ini akan jadi hari paling bahagia dalam hidupku." Matanya menatap Noah penuh luka. "Ternyata, ini hari paling menyakitkan."

Dia melangkah mundur. Tanpa sepatah kata pun.

"Noah," katanya, tanpa menoleh. "Aku gak tahu anak ini milik siapa kalau bukan milik kamu. Tapi satu hal yang aku tahu."

Dia menghela napas panjang, menyeka air matanya, lalu berbisik,

"Kamu gak pantas jadi ayahnya."

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Anak Siapa di Rahim Istriku?   Bab 5 Aku Ingin Ayah

    Di dalam mobil, Amara tidak langsung bicara. Tangannya mencengkeram setir lebih erat dari biasanya. Rahangnya mengeras, napasnya dijaga tetap teratur, seolah satu kata saja bisa membuat semuanya tumpah. Lily duduk di kursi belakang, kakinya yang pendek mengayun pelan, celengan ayam masih ia peluk seperti harta karun. Apartemen mereka terasa sunyi saat pintu tertutup. Amara meletakkan tas, lalu berbalik menghadap putrinya. Ia berlutut agar sejajar dengan wajah Lily. Matanya tajam, bukan karena marah semata, tapi karena takut yang belum reda. “Kamu tahu,” katanya pelan namun tegas, “apa yang kamu lakukan hari ini sangat berbahaya.” Lily mengedip. “Aku tidak nakal.” “Kamu kabur dari sekolah,” suara Amara bergetar tipis. “Bagaimana kamu bisa sampai ke kantor Ibu?” “Jalan kaki,” jawab Lily jujur. “Sekolah dan kantor Ibu dekat.” Dada Amara mencelos. “Lily—” “Ibu tidak bisa mendapatkan ayah untuk kita,” lanjut Lily, polos, tanpa ragu. “Jadi aku yang mencarikan.” Kalimat itu menghan

  • Anak Siapa di Rahim Istriku?   Bab 4 Aku Tidak Mau Menjadi Ayahmu!

    Melihat Ibunya yang berdandan di depan cermin, Lily mengajukan pertanyaan untuk pertama kali hari itu,“Ibu, dari mana aku berasal?”Amara menghentikan semua gerakannya dan berbalik untuk melihat mata putrinya yang berbinar seperti bintang. Namun mata bulat itu dipenuhi dengan keraguan saat menatapnya.Malam lima tahun yang lalu muncul kembali di benaknya, mengupas luka lama yang belum pernah benar-benar sembuh.Di rumah itu … dia tidak pernah mengkhianati Noah. Tidak sekalipun. Tapi di saat itulah dia baru mengetahui kalau selama ini Noah mandul.Dan pertanyaan yang dulu selalu berputar di kepalanya, tentang bagaimana dia bisa hamil, dan anak siapa yang dia kandung, masih belum memiliki jawaban. Hingga saat ini.Lily melangkah mendekat, menarik rok Ibunya dan bertanya lagi, “Bu, mengapa kamu tidak menjawabku? Dari mana aku berasal?”Amara tersentak. Ingatan itu terputus begitu saja, membuat ekspresinya sesaat kehilangan kewajaran.Dari mana asalnya?Pertanyaan itu menggema—dan ironis

  • Anak Siapa di Rahim Istriku?   Bab 3 Bukan Amara

    Rumahnya kini terasa terlalu sunyi.Noah baru menyadarinya setelah tiga bulan berlalu. Bukan sunyi yang menenangkan, tapi sunyi yang menekan dada, membuat napas terasa berat setiap kali ia melangkah melewati ruangan-ruangan yang dulu selalu diisi suara Amara.Tidak ada lagi langkah kaki pelan di pagi hari.Tidak ada lagi suara piring saling beradu di dapur.Tidak ada lagi aroma teh hangat yang selalu muncul entah dari mana.Yang tersisa hanya ruang-ruang kosong—dan gema dari apa yang pernah ia katakan malam itu.Noah berdiri di depan meja makan, tempat lilin-lilin pernah menyala. Meja itu sudah bersih sekarang. Terlalu bersih. Seolah-olah tak pernah ada makan malam romantis yang berakhir dengan kehancuran.Tangannya mengepal.Amara tidak pernah kembali.Pada minggu pertama, Noah yakin itu hanya sementara. Amara hanya butuh waktu. Seperti biasanya. Dia akan kembali setelah emosinya mereda, setelah rasa sakitnya berkurang. Dia selalu kembali.Tapi minggu kedua datang.Lalu minggu ketiga

  • Anak Siapa di Rahim Istriku?   Bab 2 Gugurkan Bayi Itu!

    Amara mengira kata-katanya akan membuat Noah terdiam.Tapi yang terjadi justru sebaliknya.Noah menatapnya dengan sorot yang lebih gelap dari sebelumnya, matanya menyala penuh amarah. Lalu, dia tertawa. Tertawa rendah, penuh ejekan.“Aku gak pantas jadi ayahnya?” Noah melangkah maju, suara tawanya berubah dingin. “Amara, dengar baik-baik. Aku juga gak mau jadi ayah dari anak haram kamu!”Amara menegang, tetapi Noah tidak berhenti."Siapa?" desaknya, suaranya semakin tajam. "Siapa yang udah tidur sama kamu? Hah?! Mau ngaku sekarang atau aku harus cari tahu sendiri?"Amara menatapnya dengan ngeri. "Aku nggak pernah—""BOHONG!" Noah membentak, wajahnya penuh kebencian. "DASAR PEREMPUAN MUR4HAN!"Amara tersentak.“Kamu gila? Aku udah bilang kalau aku nggak pernah tidur dengan pria lain selain kamu, Noah!” suaranya meninggi, dadanya naik turun menahan emosi.Tapi Noah sama sekali tidak peduli. "Selama ini aku kira kamu istri yang setia, yang bisa aku banggakan! Tapi nyatanya? Kamu jual dir

  • Anak Siapa di Rahim Istriku?   Bab 1 Kau Mengkhianatiku, Amara?

    Amara duduk di bangku rumah sakit, jemarinya saling bertaut di pangkuannya. Udara siang ini panas, tapi telapak tangannya justru dingin. Sudah sepuluh menit sejak suster mengatakan bahwa hasilnya akan segera keluar. Sepuluh menit yang terasa seperti seumur hidup.Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya. Tapi tetap saja, ada ketakutan yang menggerogoti pikirannya. Jika hasilnya negative … jika semua ini hanya harapan kosong lagi … maka dia harus pulang dan kembali menghadapi tatapan Rosaline yang selalu sarat dengan makna."Kamu harus lebih sering periksa ke dokter, jangan sampai ada masalah sama rahimmu," kata ibu mertuanya beberapa bulan lalu, sambil tersenyum tipis yang tak sampai ke mata. Itu bukan saran. Itu penghakiman.“Sudah tiga tahun menikah dengan Noah dan belum punya anak? Kau yakin kau tidak bermasalah?” Iparnya—Selvi juga mengatakan demikian.Amara menutup matanya, meredam suara-suara itu. Hari ini dia berharap tidak ada lagi kecewa seperti yang selalu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status