MasukDi dalam mobil, Amara tidak langsung bicara.
Tangannya mencengkeram setir lebih erat dari biasanya. Rahangnya mengeras, napasnya dijaga tetap teratur, seolah satu kata saja bisa membuat semuanya tumpah. Lily duduk di kursi belakang, kakinya yang pendek mengayun pelan, celengan ayam masih ia peluk seperti harta karun. Apartemen mereka terasa sunyi saat pintu tertutup. Amara meletakkan tas, lalu berbalik menghadap putrinya. Ia berlutut agar sejajar dengan wajah Lily. Matanya tajam, bukan karena marah semata, tapi karena takut yang belum reda. “Kamu tahu,” katanya pelan namun tegas, “apa yang kamu lakukan hari ini sangat berbahaya.” Lily mengedip. “Aku tidak nakal.” “Kamu kabur dari sekolah,” suara Amara bergetar tipis. “Bagaimana kamu bisa sampai ke kantor Ibu?” “Jalan kaki,” jawab Lily jujur. “Sekolah dan kantor Ibu dekat.” Dada Amara mencelos. “Lily—” “Ibu tidak bisa mendapatkan ayah untuk kita,” lanjut Lily, polos, tanpa ragu. “Jadi aku yang mencarikan.” Kalimat itu menghantam lebih keras dari tinju siapa pun. Amara menelan ludah. “Siapa yang mengajarimu berpikir seperti itu?” “Teman-temanku punya ayah,” jawab Lily sederhana. “Ayah mereka mengantar ke sekolah. Menggandeng tangan mereka. Aku juga mau digandeng.” Amara memejamkan mata sejenak. Sakit. Perih. Dan rasa bersalah yang tak pernah benar-benar pergi. Ia menghela napas, lalu membuka mata kembali. “Lily, dengarkan Ibu baik-baik.” Ia menggenggam tangan kecil itu. “Kabur dari sekolah sebelum Ibu menjemputmu itu tidak boleh. Jangan pernah.” Lily terdiam. “Dan kamu tidak boleh mendekati orang asing seperti tadi. Bagaimana kalau dia membawamu ke tempat yang jauh? Ke hutan? Atau ke tempat yang Ibu tidak bisa menemukanmu?” “Tapi aku tidak memaksa,” bantah Lily cepat. “Aku membeli.” Amara mengernyit. “Membeli?” Lily mengangkat celengan ayamnya. “Dengan uang tabunganku.” Untuk sesaat, Amara kehilangan kata. Ia mengusap wajahnya, lalu mendesah. Kesalnya muncul, bercampur dengan rasa tak berdaya. “Ayah itu bukan barang yang bisa dibeli, Lily.” “Tapi Ibu bilang uang bisa membeli banyak hal.” “Tidak semua,” jawab Amara lebih keras dari yang ia niatkan. Ia segera menurunkan suaranya. “Dan tidak semua orang itu baik.” Lily menunduk. Bibirnya mengerut. “Aku cuma ingin seperti yang lain.” Hati Amara terasa diremas. Ia menarik Lily ke dalam pelukannya. Pelukan itu erat, lama, seolah ingin menutup semua lubang yang tak bisa ia isi. “Ibu minta maaf,” bisiknya di rambut Lily. “Ibu tidak bisa memberikan segalanya.” Lily diam, lalu berkata pelan, “Aku tidak marah, Ibu.” Itulah yang membuatnya semakin sakit. Amara melepaskan pelukan itu perlahan. “Tapi Ibu marah,” katanya jujur. “Karena Ibu sayang kamu. Dan karena mulai hari ini, kamu tidak boleh mengulangi hal seperti ini lagi. Mengerti?” Lily mengangguk kecil. Amara menatap putrinya lama—anak yang ia besarkan sendiri, yang terlalu cepat memahami kekosongan. Di balik kemarahannya, ada satu ketakutan yang tak berani ia ucapkan: bahwa suatu hari nanti, Lily akan mencari jawaban yang bahkan Amara sendiri tidak memilikinya. Malam telah larut ketika Lily akhirnya terlelap. Napas kecil itu teratur, pipinya sedikit bersemu, sementara Amara berbaring di sisinya, memandangi wajah anaknya dalam diam. Ada banyak hal yang berputar di kepalanya, terlalu bising untuk disebutkan satu per satu. Ia tahu, Lily tidak akan berhenti. Cepat atau lambat, anak itu akan terus bertanya—tentang ayah, tentang asal-usulnya. Dan Amara tak ingin suatu hari nanti Lily tumbuh besar dengan pertanyaan yang menggantung, tanpa kepastian. Bagaimana jika mutasinya ke Jakarta adalah waktunya untuk mendapatkan jawaban atas lima tahun yang lalu? Amara menarik napas panjang. Ia tidak mungkin mengandung secara ajaib tanpa seorang lelaki yang tidur dengannya. Namun, sekeras apa pun ia mencoba mengingat, ia tak pernah merasa tidur dengan pria mana pun selain Noah. Ingatan itu terlalu jelas—dan justru karena itulah semuanya terasa ganjil. Ia juga tidak bisa membiarkan Lily tumbuh besar dengan kebingungan tentang siapa ayahnya, dan dari mana ia berasal. Anak itu berhak tahu. Berhak mendapatkan kebenaran, seberapa pun menyakitkannya nanti. Selain itu, mutasi ini penting bagi kariernya. Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali. Jika ia menolak, bisa jadi namanya akan dicoret dari daftar pertimbangan di masa depan. Dan yang lebih nyata—ia membutuhkan uang. Pendidikan Lily, masa depan anaknya, semuanya menuntut kepastian yang tak bisa ditunda. Setelah menimbang semuanya, Amara akhirnya mengambil keputusan. Malam itu juga, dengan langkah pelan agar tak membangunkan Lily, ia mulai berkemas. ***Di dalam mobil, Amara tidak langsung bicara. Tangannya mencengkeram setir lebih erat dari biasanya. Rahangnya mengeras, napasnya dijaga tetap teratur, seolah satu kata saja bisa membuat semuanya tumpah. Lily duduk di kursi belakang, kakinya yang pendek mengayun pelan, celengan ayam masih ia peluk seperti harta karun. Apartemen mereka terasa sunyi saat pintu tertutup. Amara meletakkan tas, lalu berbalik menghadap putrinya. Ia berlutut agar sejajar dengan wajah Lily. Matanya tajam, bukan karena marah semata, tapi karena takut yang belum reda. “Kamu tahu,” katanya pelan namun tegas, “apa yang kamu lakukan hari ini sangat berbahaya.” Lily mengedip. “Aku tidak nakal.” “Kamu kabur dari sekolah,” suara Amara bergetar tipis. “Bagaimana kamu bisa sampai ke kantor Ibu?” “Jalan kaki,” jawab Lily jujur. “Sekolah dan kantor Ibu dekat.” Dada Amara mencelos. “Lily—” “Ibu tidak bisa mendapatkan ayah untuk kita,” lanjut Lily, polos, tanpa ragu. “Jadi aku yang mencarikan.” Kalimat itu menghan
Melihat Ibunya yang berdandan di depan cermin, Lily mengajukan pertanyaan untuk pertama kali hari itu,“Ibu, dari mana aku berasal?”Amara menghentikan semua gerakannya dan berbalik untuk melihat mata putrinya yang berbinar seperti bintang. Namun mata bulat itu dipenuhi dengan keraguan saat menatapnya.Malam lima tahun yang lalu muncul kembali di benaknya, mengupas luka lama yang belum pernah benar-benar sembuh.Di rumah itu … dia tidak pernah mengkhianati Noah. Tidak sekalipun. Tapi di saat itulah dia baru mengetahui kalau selama ini Noah mandul.Dan pertanyaan yang dulu selalu berputar di kepalanya, tentang bagaimana dia bisa hamil, dan anak siapa yang dia kandung, masih belum memiliki jawaban. Hingga saat ini.Lily melangkah mendekat, menarik rok Ibunya dan bertanya lagi, “Bu, mengapa kamu tidak menjawabku? Dari mana aku berasal?”Amara tersentak. Ingatan itu terputus begitu saja, membuat ekspresinya sesaat kehilangan kewajaran.Dari mana asalnya?Pertanyaan itu menggema—dan ironis
Rumahnya kini terasa terlalu sunyi.Noah baru menyadarinya setelah tiga bulan berlalu. Bukan sunyi yang menenangkan, tapi sunyi yang menekan dada, membuat napas terasa berat setiap kali ia melangkah melewati ruangan-ruangan yang dulu selalu diisi suara Amara.Tidak ada lagi langkah kaki pelan di pagi hari.Tidak ada lagi suara piring saling beradu di dapur.Tidak ada lagi aroma teh hangat yang selalu muncul entah dari mana.Yang tersisa hanya ruang-ruang kosong—dan gema dari apa yang pernah ia katakan malam itu.Noah berdiri di depan meja makan, tempat lilin-lilin pernah menyala. Meja itu sudah bersih sekarang. Terlalu bersih. Seolah-olah tak pernah ada makan malam romantis yang berakhir dengan kehancuran.Tangannya mengepal.Amara tidak pernah kembali.Pada minggu pertama, Noah yakin itu hanya sementara. Amara hanya butuh waktu. Seperti biasanya. Dia akan kembali setelah emosinya mereda, setelah rasa sakitnya berkurang. Dia selalu kembali.Tapi minggu kedua datang.Lalu minggu ketiga
Amara mengira kata-katanya akan membuat Noah terdiam.Tapi yang terjadi justru sebaliknya.Noah menatapnya dengan sorot yang lebih gelap dari sebelumnya, matanya menyala penuh amarah. Lalu, dia tertawa. Tertawa rendah, penuh ejekan.“Aku gak pantas jadi ayahnya?” Noah melangkah maju, suara tawanya berubah dingin. “Amara, dengar baik-baik. Aku juga gak mau jadi ayah dari anak haram kamu!”Amara menegang, tetapi Noah tidak berhenti."Siapa?" desaknya, suaranya semakin tajam. "Siapa yang udah tidur sama kamu? Hah?! Mau ngaku sekarang atau aku harus cari tahu sendiri?"Amara menatapnya dengan ngeri. "Aku nggak pernah—""BOHONG!" Noah membentak, wajahnya penuh kebencian. "DASAR PEREMPUAN MUR4HAN!"Amara tersentak.“Kamu gila? Aku udah bilang kalau aku nggak pernah tidur dengan pria lain selain kamu, Noah!” suaranya meninggi, dadanya naik turun menahan emosi.Tapi Noah sama sekali tidak peduli. "Selama ini aku kira kamu istri yang setia, yang bisa aku banggakan! Tapi nyatanya? Kamu jual dir
Amara duduk di bangku rumah sakit, jemarinya saling bertaut di pangkuannya. Udara siang ini panas, tapi telapak tangannya justru dingin. Sudah sepuluh menit sejak suster mengatakan bahwa hasilnya akan segera keluar. Sepuluh menit yang terasa seperti seumur hidup.Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya. Tapi tetap saja, ada ketakutan yang menggerogoti pikirannya. Jika hasilnya negative … jika semua ini hanya harapan kosong lagi … maka dia harus pulang dan kembali menghadapi tatapan Rosaline yang selalu sarat dengan makna."Kamu harus lebih sering periksa ke dokter, jangan sampai ada masalah sama rahimmu," kata ibu mertuanya beberapa bulan lalu, sambil tersenyum tipis yang tak sampai ke mata. Itu bukan saran. Itu penghakiman.“Sudah tiga tahun menikah dengan Noah dan belum punya anak? Kau yakin kau tidak bermasalah?” Iparnya—Selvi juga mengatakan demikian.Amara menutup matanya, meredam suara-suara itu. Hari ini dia berharap tidak ada lagi kecewa seperti yang selalu







