LOGINMelihat Ibunya yang berdandan di depan cermin, Lily mengajukan pertanyaan untuk pertama kali hari itu,
“Ibu, dari mana aku berasal?” Amara menghentikan semua gerakannya dan berbalik untuk melihat mata putrinya yang berbinar seperti bintang. Namun mata bulat itu dipenuhi dengan keraguan saat menatapnya. Malam lima tahun yang lalu muncul kembali di benaknya, mengupas luka lama yang belum pernah benar-benar sembuh. Di rumah itu … dia tidak pernah mengkhianati Noah. Tidak sekalipun. Tapi di saat itulah dia baru mengetahui kalau selama ini Noah mandul. Dan pertanyaan yang dulu selalu berputar di kepalanya, tentang bagaimana dia bisa hamil, dan anak siapa yang dia kandung, masih belum memiliki jawaban. Hingga saat ini. Lily melangkah mendekat, menarik rok Ibunya dan bertanya lagi, “Bu, mengapa kamu tidak menjawabku? Dari mana aku berasal?” Amara tersentak. Ingatan itu terputus begitu saja, membuat ekspresinya sesaat kehilangan kewajaran. Dari mana asalnya? Pertanyaan itu menggema—dan ironisnya, Amara sendiri ingin mengetahui jawabannya. Ia menarik napas, lalu berkata ringan, “Aku mencurimu dari alien!” Lily mencibir, “Itu bohong, kan? Kenapa kamu tidak bilang saja kalau aku diambil dari tempat sampah?” “Itu sudah ketinggalan zaman sekarang. Ibu meminta seorang ilmuan untuk mencurimu dari luar angkasa. Itu cukup. Sekarang, cepat berkemas. Kamu akan terlambat ke sekolah. Cepatlah!” Lily mengerutkan bibirnya, jelas tidak puas dengan jawaban itu. Setelah meninggalkan Lily di kelasnya, Amara tiba di kantor dengan napas masih sedikit tersisa dari pagi yang terburu-buru. Gedung itu menjulang tenang di tengah Surabaya, seperti biasa—kaca-kaca bening, lobi yang selalu dingin, dan rutinitas yang selama empat tahun terakhir menjadi jangkar hidupnya. Ia menyapa singkat resepsionis, lalu melangkah menuju ruang kerjanya. Sebagai Senior Project Manager, Amara sudah terbiasa dengan ritme kerja yang tidak pernah benar-benar tenang. Tenggat waktu datang silih berganti, rapat sering muncul tanpa peringatan, dan tidak semua proyek bisa dibicarakan di luar ruangan ini. Ia belum sempat membuka email pertamanya ketika undangan rapat muncul di layar. Prioritas tinggi. Kantor pusat. Amara menarik napas pelan. Panggilan seperti ini jarang datang—dan tak pernah membawa kabar kecil. Sepuluh menit kemudian, wajah-wajah serius memenuhi layar. Tak ada basa-basi. Tak ada senyum ramah. “Amara,” suara Direktur Regional terdengar lebih formal dari biasanya, “kami memanggilmu karena kantor pusat sedang menyiapkan satu proyek strategis besar.” Ia duduk lebih tegak. “Proyek ini langsung berada di bawah perusahaan induk,” lanjutnya. “Nilainya signifikan. Sensitif. Dan melibatkan klien dengan kepentingan jangka panjang.” VP Strategy dari Jakarta mengambil alih, suaranya tenang namun tegas. “Kami membutuhkan seseorang yang tidak hanya kuat secara teknis, tapi juga mampu bekerja dalam tekanan tinggi, menjaga kerahasiaan, dan … fleksibel secara penugasan.” Tatapan mereka seakan tertuju padanya, bahkan sebelum kalimat itu selesai. “Kami menilai kamu memenuhi kriteria itu, Amara.” Jantungnya berdegup lebih cepat. “Karena itu,” sambung VP tersebut, “Kami berencana memindahkanmu sementara ke kantor pusat di Jakarta sebagai penanggung jawab utama proyek ini.” Sementara. Kata itu terdengar ringan, tapi Amara tahu artinya bisa berbulan-bulan—bahkan bertahun-tahun. Ia menarik napas perlahan. Jakarta. Kota yang ia tinggalkan lima tahun lalu. Kota yang menyimpan terlalu banyak kenangan yang tidak pernah benar-benar ia sentuh lagi. “Aku ingin jujur,” katanya akhirnya, suaranya tetap profesional. “Aku punya anak kecil. Setiap keputusan besar—” “Kami sudah mempertimbangkannya,” potong HR Corporate dengan nada diplomatis. “Dan justru karena itu kami ingin mendengar keputusanmu langsung.” Ada jeda singkat. “Ini bukan perintah,” lanjutnya. “Tapi ini kesempatan besar untuk kariermu, Amara. Proyek ini bisa menjadi loncatan permanen.” Layar kembali sunyi. Di balik ketenangan wajahnya, pikiran Amara berkelindan. Surabaya memberinya rasa aman. Rutinitas. Jarak dari masa lalu. Tapi kariernya—dan masa depan Lily—tidak bisa selamanya bersembunyi di kota ini. “Aku … butuh waktu untuk mempertimbangkannya,” ucapnya jujur. VP Strategy mengangguk. “Tentu. Kami tunggu keputusanmu dalam dua hari.” Layar mati satu per satu. Amara bersandar di kursinya, menatap kosong ke arah jendela. Di luar sana, langit Surabaya cerah seperti biasa—seolah tidak tahu bahwa sebuah pintu lama, yang selama ini ia tutup rapat, mulai terbuka kembali. Jakarta. Ia menunduk, jemarinya tanpa sadar menyentuh cincin tipis di jarinya—bukan cincin pernikahan. Hanya cincin sederhana yang selalu ia pakai sejak Lily lahir. Masa lalu tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya menunggu saat yang tepat untuk menyapa kembali. Getaran ponsel di atas meja memutus lamunannya. Amara mengerjap, lalu meraih ponsel itu. Nomor yang muncul sangat dikenalnya. Wali kelas Lily. Jantungnya langsung berdegup lebih cepat. “Halo?” suaranya refleks merendah. “Selamat siang, Bu Amara?” Suara di seberang terdengar ragu. “Kami dari pihak sekolah. Kami ingin memastikan … Lily hari ini dijemput oleh siapa?” Darah Amara seakan berhenti mengalir. “Dijemput?” ulangnya pelan. “Tidak ada. Saya baru mengantarnya pagi tadi.” Ada jeda singkat di sana. Terlalu lama. “Bu,” suara itu kembali terdengar, kali ini lebih tegang, “Lily tidak ada di kelas sejak istirahat pertama. Kami sudah mencari di seluruh area sekolah.” Tangan Amara gemetar. “Apa maksud Anda, tidak ada?” “Kami pikir mungkin Ibu atau keluarga yang menjemput lebih awal, tapi … tidak ada konfirmasi.” Amara berdiri begitu cepat hingga kursinya terdorong ke belakang dengan suara keras. “Saya ke sana sekarang,” katanya singkat, napasnya sudah tak beraturan. “Tolong cari lagi. Tolong.” Ponsel itu ia masukkan ke dalam tas tanpa benar-benar memastikan panggilan sudah terputus. Kepalanya terasa kosong. Dunia di sekitarnya seperti menjauh. ….. Di tempat parkir gedung perusahaan Amara. Lily melangkah dengan kaki kecilnya, mendekap celengan ayam erat di depan dada. Kepalanya celingukan, mencari mobil ibunya di antara deretan kendaraan yang menjulang baginya seperti dinding besi. Ketika sebuah mobil mewah berhenti tak jauh darinya dan seorang pria turun dari dalamnya, Lily mendekat tanpa ragu. Matanya yang bulat mengamati postur tubuh pria itu. Dia … tidak buruk. Lumayan. Bulu mata Lily yang panjang berkedip pelan. “Anak kecil,” panggil pria itu, nadanya waspada. “Kenapa kamu sendirian di tempat seperti ini? Ini berbahaya.” “Hai, Paman,” sapa Lily ceria. “Namaku Liliana Anthony. Umurku empat tahun. Aku tidak bermain. Aku sedang mencari ayah.” Alis pria itu berkerut. “Mencari ayah?” Lily mengangguk mantap. “Aku ingin membelimu untuk menjadi ayahku.” “Apa?” Pria itu terdiam sejenak, lalu menunduk agar sejajar dengannya. “Apa ibumu bekerja di sini? Aku bisa mengantarmu.” “Tapi aku benar-benar ingin membelimu,” kata Lily bersungguh-sungguh. Ia menyodorkan celengan ayam yang sejak tadi ia peluk. “Ini semua uangku.” Lily berkata dengan bangga, “Menjadi ayahku adalah bisnis yang menguntungkan! Aku anak yang baik. Aku hanya makan sedikit setiap hari. Aku bisa memijat punggungmu, memotong kuku, dan menggaruk. Aku juga bisa menyanyikan Twinkle, Twinkle Little Star!" Pria itu menatap tanpa kata. Ibuku cerdas, lembut, baik hati, dan cantik," lanjut Lily cepat, takut tawarannya kurang menarik. "Jika kamu menjadi Ayahku, aku akan memberikan Ibuku gratis. Sangat murah untuk membeli satu, dapatkan satu gratis.” “Mendapatkan ibumu gratis?” Pria itu menatapnya, semakin heran lagi. “Ya, kamu akan mendapatkan seorang putri yang cantik dan istri sekaligus. Sangat hebat, kan?” Dia menyodorkan celengannya lebih dekat lagi ke perut pria itu. Saat itulah Amara muncul di ujung parkiran. Langkahnya terhenti sepersekian detik ketika melihat Lily berdiri di hadapan seorang pria asing. Darahnya langsung berdesir. Tanpa berpikir, ia berlari. Tinju Amara mendarat keras di pipi pria itu. Pria tersebut terjengkang, jatuh ke aspal dengan napas terputus. “Penjual manusia si4lan!” teriak Amara, berdiri di depan Lily dengan tubuh gemetar dan tangan siap menyerang lagi. “Berani-beraninya kau menculik anakku?!” “Ibu!” Lily berseru panik. “Dia bukan penjual manusia. Dia ayah!” “Apa?” Mata Amara membelalak. Pria itu bangkit perlahan, satu tangannya memegang pipi yang berdenyut. Tatapannya gelap, tajam, dan dingin ketika mengarah ke Amara. “Jadi dia anakmu,” katanya datar, lalu melirik Lily sekilas. “Lain kali ajari anakmu untuk tidak menawarkan diri—atau ibunya—ke pria sembarangan.” Amara terdiam. “Dan kalau kau lengah seperti ini,” lanjut pria itu dingin, “akan datang hari ketika kau benar-benar kehilangannya.” Ia mengibaskan jasnya yang berdebu, lalu menatap Lily sekali lagi. “Anak kecil,” katanya lebih pelan, “Aku tidak mau menjadi ayahmu.” Ia berbalik dan pergi, meninggalkan rasa panas di pipinya—dan keguncangan yang jauh lebih besar di dada Amara. ***Di dalam mobil, Amara tidak langsung bicara. Tangannya mencengkeram setir lebih erat dari biasanya. Rahangnya mengeras, napasnya dijaga tetap teratur, seolah satu kata saja bisa membuat semuanya tumpah. Lily duduk di kursi belakang, kakinya yang pendek mengayun pelan, celengan ayam masih ia peluk seperti harta karun. Apartemen mereka terasa sunyi saat pintu tertutup. Amara meletakkan tas, lalu berbalik menghadap putrinya. Ia berlutut agar sejajar dengan wajah Lily. Matanya tajam, bukan karena marah semata, tapi karena takut yang belum reda. “Kamu tahu,” katanya pelan namun tegas, “apa yang kamu lakukan hari ini sangat berbahaya.” Lily mengedip. “Aku tidak nakal.” “Kamu kabur dari sekolah,” suara Amara bergetar tipis. “Bagaimana kamu bisa sampai ke kantor Ibu?” “Jalan kaki,” jawab Lily jujur. “Sekolah dan kantor Ibu dekat.” Dada Amara mencelos. “Lily—” “Ibu tidak bisa mendapatkan ayah untuk kita,” lanjut Lily, polos, tanpa ragu. “Jadi aku yang mencarikan.” Kalimat itu menghan
Melihat Ibunya yang berdandan di depan cermin, Lily mengajukan pertanyaan untuk pertama kali hari itu,“Ibu, dari mana aku berasal?”Amara menghentikan semua gerakannya dan berbalik untuk melihat mata putrinya yang berbinar seperti bintang. Namun mata bulat itu dipenuhi dengan keraguan saat menatapnya.Malam lima tahun yang lalu muncul kembali di benaknya, mengupas luka lama yang belum pernah benar-benar sembuh.Di rumah itu … dia tidak pernah mengkhianati Noah. Tidak sekalipun. Tapi di saat itulah dia baru mengetahui kalau selama ini Noah mandul.Dan pertanyaan yang dulu selalu berputar di kepalanya, tentang bagaimana dia bisa hamil, dan anak siapa yang dia kandung, masih belum memiliki jawaban. Hingga saat ini.Lily melangkah mendekat, menarik rok Ibunya dan bertanya lagi, “Bu, mengapa kamu tidak menjawabku? Dari mana aku berasal?”Amara tersentak. Ingatan itu terputus begitu saja, membuat ekspresinya sesaat kehilangan kewajaran.Dari mana asalnya?Pertanyaan itu menggema—dan ironis
Rumahnya kini terasa terlalu sunyi.Noah baru menyadarinya setelah tiga bulan berlalu. Bukan sunyi yang menenangkan, tapi sunyi yang menekan dada, membuat napas terasa berat setiap kali ia melangkah melewati ruangan-ruangan yang dulu selalu diisi suara Amara.Tidak ada lagi langkah kaki pelan di pagi hari.Tidak ada lagi suara piring saling beradu di dapur.Tidak ada lagi aroma teh hangat yang selalu muncul entah dari mana.Yang tersisa hanya ruang-ruang kosong—dan gema dari apa yang pernah ia katakan malam itu.Noah berdiri di depan meja makan, tempat lilin-lilin pernah menyala. Meja itu sudah bersih sekarang. Terlalu bersih. Seolah-olah tak pernah ada makan malam romantis yang berakhir dengan kehancuran.Tangannya mengepal.Amara tidak pernah kembali.Pada minggu pertama, Noah yakin itu hanya sementara. Amara hanya butuh waktu. Seperti biasanya. Dia akan kembali setelah emosinya mereda, setelah rasa sakitnya berkurang. Dia selalu kembali.Tapi minggu kedua datang.Lalu minggu ketiga
Amara mengira kata-katanya akan membuat Noah terdiam.Tapi yang terjadi justru sebaliknya.Noah menatapnya dengan sorot yang lebih gelap dari sebelumnya, matanya menyala penuh amarah. Lalu, dia tertawa. Tertawa rendah, penuh ejekan.“Aku gak pantas jadi ayahnya?” Noah melangkah maju, suara tawanya berubah dingin. “Amara, dengar baik-baik. Aku juga gak mau jadi ayah dari anak haram kamu!”Amara menegang, tetapi Noah tidak berhenti."Siapa?" desaknya, suaranya semakin tajam. "Siapa yang udah tidur sama kamu? Hah?! Mau ngaku sekarang atau aku harus cari tahu sendiri?"Amara menatapnya dengan ngeri. "Aku nggak pernah—""BOHONG!" Noah membentak, wajahnya penuh kebencian. "DASAR PEREMPUAN MUR4HAN!"Amara tersentak.“Kamu gila? Aku udah bilang kalau aku nggak pernah tidur dengan pria lain selain kamu, Noah!” suaranya meninggi, dadanya naik turun menahan emosi.Tapi Noah sama sekali tidak peduli. "Selama ini aku kira kamu istri yang setia, yang bisa aku banggakan! Tapi nyatanya? Kamu jual dir
Amara duduk di bangku rumah sakit, jemarinya saling bertaut di pangkuannya. Udara siang ini panas, tapi telapak tangannya justru dingin. Sudah sepuluh menit sejak suster mengatakan bahwa hasilnya akan segera keluar. Sepuluh menit yang terasa seperti seumur hidup.Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya. Tapi tetap saja, ada ketakutan yang menggerogoti pikirannya. Jika hasilnya negative … jika semua ini hanya harapan kosong lagi … maka dia harus pulang dan kembali menghadapi tatapan Rosaline yang selalu sarat dengan makna."Kamu harus lebih sering periksa ke dokter, jangan sampai ada masalah sama rahimmu," kata ibu mertuanya beberapa bulan lalu, sambil tersenyum tipis yang tak sampai ke mata. Itu bukan saran. Itu penghakiman.“Sudah tiga tahun menikah dengan Noah dan belum punya anak? Kau yakin kau tidak bermasalah?” Iparnya—Selvi juga mengatakan demikian.Amara menutup matanya, meredam suara-suara itu. Hari ini dia berharap tidak ada lagi kecewa seperti yang selalu







