Share

Bab 2 Gugurkan Bayi Itu!

Penulis: Fachra. L
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-03 06:07:21

Amara mengira kata-katanya akan membuat Noah terdiam.

Tapi yang terjadi justru sebaliknya.

Noah menatapnya dengan sorot yang lebih gelap dari sebelumnya, matanya menyala penuh amarah. Lalu, dia tertawa. Tertawa rendah, penuh ejekan.

“Aku gak pantas jadi ayahnya?” Noah melangkah maju, suara tawanya berubah dingin. “Amara, dengar baik-baik. Aku juga gak mau jadi ayah dari anak haram kamu!”

Amara menegang, tetapi Noah tidak berhenti.

"Siapa?" desaknya, suaranya semakin tajam. "Siapa yang udah tidur sama kamu? Hah?! Mau ngaku sekarang atau aku harus cari tahu sendiri?"

Amara menatapnya dengan ngeri. "Aku nggak pernah—"

"BOHONG!" Noah membentak, wajahnya penuh kebencian. "DASAR PEREMPUAN MUR4HAN!"

Amara tersentak.

“Kamu gila? Aku udah bilang kalau aku nggak pernah tidur dengan pria lain selain kamu, Noah!” suaranya meninggi, dadanya naik turun menahan emosi.

Tapi Noah sama sekali tidak peduli. "Selama ini aku kira kamu istri yang setia, yang bisa aku banggakan! Tapi nyatanya? Kamu jual diri sampai hamil!"

Amara mencengkeram perutnya, seperti berusaha melindungi bayi di dalamnya dari kata-kata keji suaminya sendiri. Air matanya sudah jatuh satu per satu, tetapi dia menegakkan kepala, menatap Noah penuh amarah.

“Aku gak jual diri! Aku gak pernah selingkuh! Anak ini anak kamu, Noah! Kenapa kamu nggak percaya?!”

Noah tertawa sinis. “Karena aku mandul, Amara. Cuma itu alasannya. Enggak ada cara lain buat kamu hamil kecuali dengan ng4ngkang di ranjang laki-laki lain!"

PLAK!

Tangan Amara mendarat di pipi Noah dengan keras.

"Dasar b4jingan!" Air matanya jatuh deras. "Aku bertahun-tahun bertahan di pernikahan ini, menerima hinaan dari semua orang, menyalahkan diriku sendiri karena gak bisa kasih kamu anak! Aku berharap tiap malam supaya kita bisa punya anak! Tapi ternyata, kamu yang selama ini bohong, kamu yang ngebiarin aku menderita!"

Noah menyentuh pipinya yang memerah, tetapi alih-alih marah karena tamparan itu, dia justru menatap Amara dengan lebih dingin.

“Aku gak peduli kamu percaya atau enggak.” Suaranya terdengar datar, tetapi tajam seperti pisau. “Anak itu gak mungkin anak aku. Dan aku gak bakal terima anak itu di keluargaku.”

Amara menahan napas, matanya membesar.

Lalu Noah melempar ultimatum yang membuat dunianya runtuh dalam sekejap.

“Kamu gugurin anak itu … atau kita cerai.”

Ruangan menjadi sunyi.

Amara merasa tubuhnya membeku.

Noah melipat tangan di dadanya, ekspresinya tanpa belas kasihan. “Aku gak akan biarin anak dari laki-laki lain tumbuh di rumahku. Kamu bisa memilih, Amara.”

Air mata menetes di pipi Amara. Dadanya terasa sesak, napasnya pendek-pendek.

Noah yang dulu dikenalnya tidak ada lagi.

Pria yang dulu penuh perhatian, yang dulu selalu menggenggam tangannya saat dia menangis, yang dulu berjanji akan selalu melindunginya ….

Pria itu sudah mati.

Yang berdiri di hadapannya sekarang bukan lagi suaminya. Hanya seorang laki-laki yang lebih percaya kebohongan yang ia ciptakan sendiri, dibandingkan wanita yang sudah bertahun-tahun setia di sisinya.

Gugurkan?

Bayi yang selama ini ia nantikan, yang sudah ia impikan dalam doa-doanya, atau kehilangan pernikahannya?

Dadanya terasa semakin sakit, tetapi perlahan, genggamannya mengendur. Napasnya mulai stabil, meskipun hatinya hancur berkeping-keping.

Amara mengangkat wajahnya, menatap Noah dengan mata yang masih basah—tetapi penuh ketegasan.

Lalu, dengan suara lirih, ia berkata,

“Aku memilih anakku.”

Noah menatap Amara dengan mata penuh kemarahan. Rahangnya mengatup, napasnya memburu, seakan berusaha menahan sesuatu yang bisa meledak kapan saja.

Tapi kemudian, dia tertawa lagi. Rendah. Dingin.

"Bagus," katanya sinis. "Kamu milih anak haram itu? Ya sudah, pergi saja."

Amara mengerjap, hatinya mencelos. "Apa?"

Noah melangkah mendekat, suaranya tajam seperti belati. "Aku enggak mau lihat muka kamu lagi, Amara. Kamu bukan istriku. Kamu cuma perempuan j4lang yang udah ngotorin rumah ini dengan anak haram yang kamu kandung."

Amara membeku.

Dadanya naik turun dengan napas tertahan.

"Kamu serius ...?" suaranya gemetar.

Noah mencibir. "Apa aku kelihatan bercanda?"

Dia berjalan menuju lemari, menarik laci dengan kasar, lalu melemparkan sebuah amplop ke meja di depan Amara.

"Ambil itu. Uang buat kamu pergi dari sini. Aku gak mau liat kamu lagi, sekarang juga."

Amara memandangi amplop itu dengan mata kosong.

Dari semua skenario terburuk yang bisa ia bayangkan, ia tidak pernah berpikir bahwa Noah akan mengusirnya malam ini. Setelah tiga tahun pernikahan mereka, setelah semua yang ia lalui untuk tetap bertahan di sisi pria ini ….

Malam ini, semuanya benar-benar berakhir.

Dia menatap Noah dengan pandangan penuh luka. "Kamu beneran tega sama aku?"

Noah mendengus. "Kamu sendiri yang ngancurin semuanya, Amara. Aku jijik melihatmu. Dan kalau kamu pikir aku bakal ngerayu kamu supaya tetap di sini, kamu salah besar."

Amara terdiam.

Air mata menggenang di matanya, tapi kali ini, bukan hanya karena sakit—melainkan karena kesadaran bahwa pria di hadapannya ini sudah bukan suami yang ia kenal lagi.

Tanpa kata, Amara berbalik, berjalan menuju kamar mereka. Dia mengambil tasnya dengan tangan gemetar, memasukkan beberapa pakaian seadanya, lalu melangkah kembali ke ruang tengah.

Noah berdiri di depan pintu, menyandarkan tubuhnya di sana dengan ekspresi penuh penghinaan. "Aku bakal urus perceraian secepatnya.”

Amara menggigit bibirnya, berusaha menahan tangis yang ingin pecah.

Lalu, dengan suara pelan tetapi penuh keteguhan, ia berkata, "Aku juga gak akan pernah menyesali keputusan aku malam ini, Noah."

Noah mendengus meremehkan. "Bagus."

Tanpa menunggu lebih lama, Amara melangkah keluar dari rumah yang dulu ia sebut rumah.

Malam terasa lebih dingin dari biasanya.

Tidak ada tempat yang bisa ia tuju. Tidak ada yang menunggunya di luar sana.

Tapi untuk pertama kalinya, meskipun hatinya hancur berkeping-keping ….

Dia tahu, dia sudah membuat pilihan yang benar.

Amara melangkah keluar dari rumah, tubuhnya seperti berjalan tanpa arah. Kakinya terasa berat, tetapi entah kenapa juga tak bisa berhenti melangkah.

Udara malam terasa lebih dingin dari biasanya, menusuk hingga ke tulang. Langit hitam pekat, seolah ikut mengerti betapa hancur hatinya saat ini.

Suara pintu dibanting keras di belakang masih terngiang di telinganya, diikuti dengan suara Noah yang penuh kebencian.

‘Kamu bukan istriku. Kamu cuma perempuan j4lang yang udah ngotorin rumah ini dengan anak haram yang kamu kandung.’

Dada Amara mencengkeram sakit yang luar biasa. Air mata yang sejak tadi tertahan akhirnya jatuh, mengalir begitu saja di pipinya.

Dia tidak bisa bernapas dengan baik. Segala sesuatu yang baru saja terjadi terasa seperti mimpi buruk yang tidak ada akhirnya.

Noah ….

Pria yang selama ini ia cintai, pria yang ia pikir akan selalu menjadi rumahnya, malam ini mengusirnya seperti sampah. Menuduhnya dengan sesuatu yang bahkan tak pernah terlintas di pikirannya.

Dia menatap perutnya, masih rata, masih belum tampak apa pun. Tapi ada kehidupan di sana. Ada harapan di sana.

Namun, hanya dalam sekejap, harapan itu dirampas darinya. Tangan Amara mencengkeram perutnya sendiri, gemetar.

Tidak, dia tidak melakukan apa yang Noah tuduhkan.

Dia tidak pernah menyentuh pria lain.

Dia tidak pernah mengkhianati pernikahannya.

Lalu … kenapa dia hamil?

Amara menggigit bibirnya, menahan isakan yang hampir pecah lagi. Pikiran itu memenuhi kepalanya dengan cara yang mengerikan.

Mungkinkah … ada sesuatu yang terjadi padanya tanpa ia sadari?

Kakinya terus melangkah tanpa tujuan, tanpa tahu harus ke mana. Tidak ada tempat yang bisa ia datangi.

Dan lebih dari semuanya ….

Ada sesuatu yang lebih menakutkan daripada dirinya yang kini sebatang kara.

Jika benar dia tidak pernah mengkhianati Noah ….

Bagaimana dia bisa hamil?

Anak siapa yang ada dalam perutnya?

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Anak Siapa di Rahim Istriku?   Bab 5 Aku Ingin Ayah

    Di dalam mobil, Amara tidak langsung bicara. Tangannya mencengkeram setir lebih erat dari biasanya. Rahangnya mengeras, napasnya dijaga tetap teratur, seolah satu kata saja bisa membuat semuanya tumpah. Lily duduk di kursi belakang, kakinya yang pendek mengayun pelan, celengan ayam masih ia peluk seperti harta karun. Apartemen mereka terasa sunyi saat pintu tertutup. Amara meletakkan tas, lalu berbalik menghadap putrinya. Ia berlutut agar sejajar dengan wajah Lily. Matanya tajam, bukan karena marah semata, tapi karena takut yang belum reda. “Kamu tahu,” katanya pelan namun tegas, “apa yang kamu lakukan hari ini sangat berbahaya.” Lily mengedip. “Aku tidak nakal.” “Kamu kabur dari sekolah,” suara Amara bergetar tipis. “Bagaimana kamu bisa sampai ke kantor Ibu?” “Jalan kaki,” jawab Lily jujur. “Sekolah dan kantor Ibu dekat.” Dada Amara mencelos. “Lily—” “Ibu tidak bisa mendapatkan ayah untuk kita,” lanjut Lily, polos, tanpa ragu. “Jadi aku yang mencarikan.” Kalimat itu menghan

  • Anak Siapa di Rahim Istriku?   Bab 4 Aku Tidak Mau Menjadi Ayahmu!

    Melihat Ibunya yang berdandan di depan cermin, Lily mengajukan pertanyaan untuk pertama kali hari itu,“Ibu, dari mana aku berasal?”Amara menghentikan semua gerakannya dan berbalik untuk melihat mata putrinya yang berbinar seperti bintang. Namun mata bulat itu dipenuhi dengan keraguan saat menatapnya.Malam lima tahun yang lalu muncul kembali di benaknya, mengupas luka lama yang belum pernah benar-benar sembuh.Di rumah itu … dia tidak pernah mengkhianati Noah. Tidak sekalipun. Tapi di saat itulah dia baru mengetahui kalau selama ini Noah mandul.Dan pertanyaan yang dulu selalu berputar di kepalanya, tentang bagaimana dia bisa hamil, dan anak siapa yang dia kandung, masih belum memiliki jawaban. Hingga saat ini.Lily melangkah mendekat, menarik rok Ibunya dan bertanya lagi, “Bu, mengapa kamu tidak menjawabku? Dari mana aku berasal?”Amara tersentak. Ingatan itu terputus begitu saja, membuat ekspresinya sesaat kehilangan kewajaran.Dari mana asalnya?Pertanyaan itu menggema—dan ironis

  • Anak Siapa di Rahim Istriku?   Bab 3 Bukan Amara

    Rumahnya kini terasa terlalu sunyi.Noah baru menyadarinya setelah tiga bulan berlalu. Bukan sunyi yang menenangkan, tapi sunyi yang menekan dada, membuat napas terasa berat setiap kali ia melangkah melewati ruangan-ruangan yang dulu selalu diisi suara Amara.Tidak ada lagi langkah kaki pelan di pagi hari.Tidak ada lagi suara piring saling beradu di dapur.Tidak ada lagi aroma teh hangat yang selalu muncul entah dari mana.Yang tersisa hanya ruang-ruang kosong—dan gema dari apa yang pernah ia katakan malam itu.Noah berdiri di depan meja makan, tempat lilin-lilin pernah menyala. Meja itu sudah bersih sekarang. Terlalu bersih. Seolah-olah tak pernah ada makan malam romantis yang berakhir dengan kehancuran.Tangannya mengepal.Amara tidak pernah kembali.Pada minggu pertama, Noah yakin itu hanya sementara. Amara hanya butuh waktu. Seperti biasanya. Dia akan kembali setelah emosinya mereda, setelah rasa sakitnya berkurang. Dia selalu kembali.Tapi minggu kedua datang.Lalu minggu ketiga

  • Anak Siapa di Rahim Istriku?   Bab 2 Gugurkan Bayi Itu!

    Amara mengira kata-katanya akan membuat Noah terdiam.Tapi yang terjadi justru sebaliknya.Noah menatapnya dengan sorot yang lebih gelap dari sebelumnya, matanya menyala penuh amarah. Lalu, dia tertawa. Tertawa rendah, penuh ejekan.“Aku gak pantas jadi ayahnya?” Noah melangkah maju, suara tawanya berubah dingin. “Amara, dengar baik-baik. Aku juga gak mau jadi ayah dari anak haram kamu!”Amara menegang, tetapi Noah tidak berhenti."Siapa?" desaknya, suaranya semakin tajam. "Siapa yang udah tidur sama kamu? Hah?! Mau ngaku sekarang atau aku harus cari tahu sendiri?"Amara menatapnya dengan ngeri. "Aku nggak pernah—""BOHONG!" Noah membentak, wajahnya penuh kebencian. "DASAR PEREMPUAN MUR4HAN!"Amara tersentak.“Kamu gila? Aku udah bilang kalau aku nggak pernah tidur dengan pria lain selain kamu, Noah!” suaranya meninggi, dadanya naik turun menahan emosi.Tapi Noah sama sekali tidak peduli. "Selama ini aku kira kamu istri yang setia, yang bisa aku banggakan! Tapi nyatanya? Kamu jual dir

  • Anak Siapa di Rahim Istriku?   Bab 1 Kau Mengkhianatiku, Amara?

    Amara duduk di bangku rumah sakit, jemarinya saling bertaut di pangkuannya. Udara siang ini panas, tapi telapak tangannya justru dingin. Sudah sepuluh menit sejak suster mengatakan bahwa hasilnya akan segera keluar. Sepuluh menit yang terasa seperti seumur hidup.Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya. Tapi tetap saja, ada ketakutan yang menggerogoti pikirannya. Jika hasilnya negative … jika semua ini hanya harapan kosong lagi … maka dia harus pulang dan kembali menghadapi tatapan Rosaline yang selalu sarat dengan makna."Kamu harus lebih sering periksa ke dokter, jangan sampai ada masalah sama rahimmu," kata ibu mertuanya beberapa bulan lalu, sambil tersenyum tipis yang tak sampai ke mata. Itu bukan saran. Itu penghakiman.“Sudah tiga tahun menikah dengan Noah dan belum punya anak? Kau yakin kau tidak bermasalah?” Iparnya—Selvi juga mengatakan demikian.Amara menutup matanya, meredam suara-suara itu. Hari ini dia berharap tidak ada lagi kecewa seperti yang selalu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status