登入"Wenny, selamat ulang tahun," kata Ibu sambil menangis."Kali ini Mama ingat ... kamu makan, ya ...."Ayah berjongkok di depan makam sambil berulang kali membersihkan fotoku di batu nisan menggunakan saputangan. Gerakannya begitu lembut seolah takut membangunkanku."Wenny, Papa salah ...," katanya dengan suara tercekat."Papa nggak seharusnya bilang kamu lamban, nggak seharusnya nggak balik untuk menjemputmu .... Kamu maafkan Papa, ya ...."Kakakku meletakkan setangkai bunga putih kecil, adikku meletakkan mobil mainan kesayangannya.Angin berembus melewati pemakaman, pohon pinus dan cemara mengeluarkan suara gemerisik seakan-akan sedang menjawab ... atau seperti menghela napas.Setelah kejadian itu, keluarga Om jarang datang ke rumah kami. Sejak pertengkaran itu, hubungan kedua keluarga menjadi sangat renggang.Meskipun dari luar masih terlihat seperti kerabat, semua orang tahu jelas bahwa retakan itu tidak akan pernah bisa diperbaiki.Nenek sering menghela napas dan berkata, "Keluarga
Fotoku diletakkan di tengah. Itu foto resmi yang diambil di sekolah tahun lalu. Aku mengenakan seragam sekolah sambil tersenyum tipis ke arah kamera. Mataku tampak berbinar.Orang yang datang melayat tidak banyak, kebanyakan tetangga dan teman lama Nenek.Mereka melihat fotoku, lalu menggeleng sambil menghela napas. "Anak sebaik ini, kenapa bisa pergi begitu saja ....""Dengar-dengar dia meninggal karena kedinginan di rest area? Orang tuanya kok bisa ceroboh begitu ....""Aduh, di saat tahun baru malah terjadi hal begini ...."Ibu berlutut di depan altar sambil menangis sejadi-jadinya dan berulang kali berkata, "Wenny, Mama salah ... Mama minta maaf ... kamu pulang, ya ...."Ayah berdiri di samping. Matanya merah dan bengkak, dirinya seakan-akan menua sepuluh tahun.Kakakku juga menangis dengan sangat sedih. Dia menyentuh fotoku dan berkata pelan, "Wenny, maaf ... hari itu aku tidak nggak seharusnya merebut tempatmu. Maaf ...."Adikku masih belum mengerti arti kematian. Dia menarik uju
Wajah polisi menunjukkan ekspresi tidak percaya. "Kalian meninggalkan anak di rest area jalan tol, nggak menjemput selama empat jam, dan membiarkannya memakai pakaian setipis itu di suhu di bawah nol derajat?""Kami pikir omnya bakal datang lebih cepat ...."Suara Ayah semakin pelan."Selain itu ...." Polisi membalik catatan dan melanjutkan, "Berdasarkan rekaman CCTV yang kami ambil, mobil omnya ini masuk ke rest area pada pukul 19.52, tapi hanya berhenti kurang dari satu menit, sama sekali nggak turun untuk mencari, lalu langsung pergi."Om buru-buru membela diri, "Aku sudah lihat, nggak ada orang! Aku kira kakakku dan istrinya sudah kembali menjemput!""Nggak lihat orangnya lalu nggak cari lagi? Itu anak delapan tahun! Setidaknya kamu harus turun untuk memastikan, atau menelepon orang tuanya untuk bertanya!"Suara polisi menyiratkan kemarahan yang tertahan."Kalian tahu nggak, menurut perkiraan awal forensik, waktu kematian anak itu antara pukul 19.30 sampai 20.00?""Kalau waktu itu
Seluruh ruang tamu tiba-tiba hening. Hanya suara pembawa acara di televisi yang masih mengucapkan kata-kata ucapan selamat."Baik ... baik ... kami segera ke sana."Ayah menutup telepon. Sekujur tubuhnya seperti kehilangan tenaga, lalu terjatuh lemas ke kursi."Ada apa? Telepon dari siapa?"Suara Ibu bergetar.Ayah mengangkat kepala, matanya memerah dan bibirnya gemetar. "Polisi bilang ada seorang pengemudi menemukan mayat perempuan yang membeku di rest area. Dugaan sementara ... itu Wenny ....""Nggak mungkin!" teriak Ibu."Nggak mungkin! Wenny-ku mana mungkin ...."Kalimatnya belum selesai, tubuhnya langsung lemas dan terjatuh. Nenek buru-buru menopangnya, ruang tamu langsung kacau.Di perjalanan menuju kantor polisi, Ibu terus menangis tanpa henti. "Wenny-ku ... Wenny-ku nggak mungkin mati ... pasti salah ...."Ayah menggenggam setir dengan erat. Buku jarinya memutih, tidak mengucapkan sepatah kata pun.Kakakku duduk di kursi belakang sambil menangis pelan. Adikku sepertinya belum m
Om melambaikan tangan dengan santai, "Anak sekecil itu mau ke mana? Mungkin saja ikut pulang dengan orang yang lewat, sengaja nggak kasih tahu kalian supaya kalian panik."'Bukan begitu!' bantahku dengan panik di samping mereka, tapi tidak bisa mengeluarkan suara sedikit pun.Wajah Ayah menggelap. Dia mengeluarkan ponsel dan menelepon kembali dua nomor yang tadi kupakai.Telepon pertama ke wanita yang meminjamkan ponselnya padaku. Ayah menyalakan pengeras suara, kami semua mendengar wanita itu berkata, "Iya, anak itu memang pinjam ponsel saya. Tapi dia bilang omnya bakal jemput, jadi saya pergi. Kenapa? Dia belum naik mobil?"Telepon kedua, ke om yang juga meminjamkan ponselnya padaku tadi. Dia berkata, "Anak itu memang pinjam ponsel saya. Setelah menelepon, dia masih menunggu di rest area. Saya sempat bilang suruh dia masuk mobil saya untuk menghangatkan diri, tapi dia nggak mau. Kenapa? Kalian belum jemput dia?"Setelah telepon ditutup, ruang tamu langsung sunyi senyap.Air mata Ibu
"Oke, nanti aku lihat masih bisa pesan kamar nggak."Mereka membicarakan rencana tahun baru dengan antusias, menyusun rencana kunjungan dan barang apa saja yang mau dibeli.Aku berkeliling di sekitar mereka dengan senang, ingin mengatakan bahwa aku juga ingin ikut. Namun saat membuka mulut, tidak ada suara yang keluar.Oh ya ... aku sudah meninggal, aku nggak bisa pergi.Kakakku tiba-tiba meletakkan ponselnya, lalu berlari ke arah Ibu. "Mama, ponselku habis baterai, pinjam punyamu sebentar.""Kamu ini ... kerjaannya main ponsel saja."Meski berkata demikian, Ibu tetap menyerahkan ponselnya.Adikku juga berlari mendekat dan menarik celana Ayah. "Papa, kasih aku uang, aku mau beli petasan!""Malam-malam begini beli petasan apa, besok saja."Walaupun berkata begitu, Ayah tetap mengeluarkan beberapa ratus ribu dari dompetnya.Adikku bersorak gembira, lalu berlari pergi sambil membawa uang itu. Dari awal sampai akhir, tidak ada satu pun yang menyebut namaku. Seolah-olah aku tidak pernah ada







