Compartir

Bab 3

Autor: Cravez
Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, dari gagang telepon hanya terdengar nada sibuk yang dingin.

....

Aku menggenggam ponsel itu dan berdiri terpaku di tempat. Air mataku akhirnya tidak bisa ditahan lagi dan jatuh mengenai layar ponsel yang dingin. Seketika, hatiku terasa makin perih.

Wanita di sampingku melihatku, lalu menepuk bahuku pelan, sambil menghela napas. "Nak, jangan sedih. Gimana kalau kamu ikut dulu ke rumah Tante, lalu telepon orang tuamu supaya mereka jemput kamu di sana?"

"Rumah Tante sebentar lagi keluar tol sudah sampai, nggak searah sama kamu. Kalau nggak, Tante sebenarnya bisa sekalian antarin kamu."

Aku teringat nada tidak sabar dari orang tuaku, jadi aku tetap menolak kebaikan wanita itu. "Tante, nggak usah, terima kasih. Kata orang tuaku, Om sebentar lagi akan datang menjemputku. Aku tunggu saja di sini."

Di hari raya seperti ini, orang tuaku pasti tidak ingin repot-repot kembali lagi untuk menjemputku. Om juga biasanya tidak dekat denganku. Kalau harus memutar jalan hanya untuk menjemputku, dia pasti juga tidak akan senang.

Wanita itu masih ingin mengatakan sesuatu, tapi ponsel di sakunya tiba-tiba berbunyi. Sepertinya orang yang datang bersamanya sedang mendesaknya.

Dia menatapku penuh kekhawatiran, lalu mengeluarkan beberapa cokelat berbungkus cantik dari tasnya dan menyelipkannya ke tanganku. Dia juga melepas selimut kecil berwarna krem dari tubuhnya dan menyampirkannya ke bahuku.

"Selimut ini kamu pakai saja, biar lebih hangat. Cokelatnya dimakan dulu untuk ganjal perut, jangan sampai kelaparan. Kalau nunggu terlalu lama dan belum ada yang datang, pinjam lagi ponsel orang lain untuk telepon orang tuamu. Kamu jangan keliaran ke mana-mana."

Aku mengangguk dengan kuat, sambil tersedak menahan tangis dan berkata, "Terima kasih, Tante."

Sosoknya yang terburu-buru segera menghilang di pintu. Rest area yang kosong kembali hanya menyisakan aku seorang diri. Angin dingin masih terus menyusup dari celah pintu, tapi bahuku yang terbungkus selimut perlahan mulai terasa hangat.

Perutku keroncongan. Aku membuka sebatang cokelat dan menggigitnya sedikit.

Aku tidak tega memakannya dengan banyak sekaligus. Sisa cokelat itu aku lipat rapi dan masukkan ke saku. Aku berpikir, kalau harus menunggu lama, setidaknya aku masih bisa bertahan dengan cokelat itu.

Aku mengeratkan selimut kecil di tubuhku dan tanpa sadar merapatkan pakaian. Yang kupakai di dalam adalah sweter lama bekas kakakku tahun lalu.

Bagian kerahnya sudah melar sampai berubah bentuk karena terlalu sering dicuci, ujung lengan juga ada bekas benang yang terlepas. Itu baju bekas kakakku tahun lalu. Ibu bilang masih bisa dipakai, jadi diberikan padaku.

Sementara kakakku tahun ini memakai jaket musim dingin baru berwarna merah muda, dengan lingkaran bulu halus di topinya. Jaket adikku juga baru, berwarna biru terang. Saat berlari, dia terlihat seperti penguin kecil.

Hanya aku yang memakai baju lama milik kakakku, seperti bayangan kusam yang tak mencolok.

Karena takut Om tidak melihatku saat lewat nanti, aku terpaksa keluar dari toilet dan kembali berdiri di tengah angin dingin. Cahaya lampu jalan semakin redup, langit pun perlahan menggelap.

Langit di kejauhan berubah menjadi abu-abu tua. Serpihan salju mulai turun satu per satu, jatuh di rambut dan bahuku, lalu seketika mencair menjadi air dingin yang meresap.

Aku menatap ke arah datangnya mobil, kakiku yang mati rasa karena dingin terus kuentakkan berulang-ulang. Tanganku yang kaku karena beku, kuselipkan ke dalam selimut untuk digosok-gosok, sambil berkali-kali berdoa dalam hati agar Om segera datang.

Mobil-mobil yang lewat, silih berganti melaju. Cahaya lampunya membuat mataku silau, tapi tidak satu pun berhenti di rest area ini.

Salju turun semakin deras dan menumpuk di atas selimutku.

Aku menarik selimut itu lebih rapat lagi. Rasa manis dari cokelat sudah hilang sedari tadi, yang tersisa hanya kecemasan dan kehampaan yang memenuhi hati.

Aku tidak tahu harus menunggu berapa lama lagi, juga tidak tahu apakah Om benar-benar akan ingat untuk menjemputku. Yang kurasakan hanya angin dingin di bawah nol derajat ini, seolah hampir membekukan seluruh tubuhku di rest area yang kosong ini.

....

Waktu terasa begitu panjang di tengah kedinginan dan rasa lapar.

Aku berdiri di bawah lampu jalan, tangan dan kakiku sudah kehilangan rasa. Yang tersisa hanya perasaan mati rasa.

Awalnya aku gemetar karena kedinginan, tapi sekarang bahkan untuk gemetar pun aku hampir tidak punya tenaga. Perasaan tidak nyaman yang aneh mulai menyebar.

Kepalaku terasa seperti diikat kuat oleh sesuatu. Rasanya begitu berat dan sakit, sampai sulit diangkat.

Jantungku berdetak sangat cepat seperti genderang yang menghantam dadaku. Saking cepatnya sampai membuatku sedikit kesulitan bernapas.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Anak Tak Terlihat, Anak Terlupakan   Bab 11

    "Wenny, selamat ulang tahun," kata Ibu sambil menangis."Kali ini Mama ingat ... kamu makan, ya ...."Ayah berjongkok di depan makam sambil berulang kali membersihkan fotoku di batu nisan menggunakan saputangan. Gerakannya begitu lembut seolah takut membangunkanku."Wenny, Papa salah ...," katanya dengan suara tercekat."Papa nggak seharusnya bilang kamu lamban, nggak seharusnya nggak balik untuk menjemputmu .... Kamu maafkan Papa, ya ...."Kakakku meletakkan setangkai bunga putih kecil, adikku meletakkan mobil mainan kesayangannya.Angin berembus melewati pemakaman, pohon pinus dan cemara mengeluarkan suara gemerisik seakan-akan sedang menjawab ... atau seperti menghela napas.Setelah kejadian itu, keluarga Om jarang datang ke rumah kami. Sejak pertengkaran itu, hubungan kedua keluarga menjadi sangat renggang.Meskipun dari luar masih terlihat seperti kerabat, semua orang tahu jelas bahwa retakan itu tidak akan pernah bisa diperbaiki.Nenek sering menghela napas dan berkata, "Keluarga

  • Anak Tak Terlihat, Anak Terlupakan   Bab 10

    Fotoku diletakkan di tengah. Itu foto resmi yang diambil di sekolah tahun lalu. Aku mengenakan seragam sekolah sambil tersenyum tipis ke arah kamera. Mataku tampak berbinar.Orang yang datang melayat tidak banyak, kebanyakan tetangga dan teman lama Nenek.Mereka melihat fotoku, lalu menggeleng sambil menghela napas. "Anak sebaik ini, kenapa bisa pergi begitu saja ....""Dengar-dengar dia meninggal karena kedinginan di rest area? Orang tuanya kok bisa ceroboh begitu ....""Aduh, di saat tahun baru malah terjadi hal begini ...."Ibu berlutut di depan altar sambil menangis sejadi-jadinya dan berulang kali berkata, "Wenny, Mama salah ... Mama minta maaf ... kamu pulang, ya ...."Ayah berdiri di samping. Matanya merah dan bengkak, dirinya seakan-akan menua sepuluh tahun.Kakakku juga menangis dengan sangat sedih. Dia menyentuh fotoku dan berkata pelan, "Wenny, maaf ... hari itu aku tidak nggak seharusnya merebut tempatmu. Maaf ...."Adikku masih belum mengerti arti kematian. Dia menarik uju

  • Anak Tak Terlihat, Anak Terlupakan   Bab 9

    Wajah polisi menunjukkan ekspresi tidak percaya. "Kalian meninggalkan anak di rest area jalan tol, nggak menjemput selama empat jam, dan membiarkannya memakai pakaian setipis itu di suhu di bawah nol derajat?""Kami pikir omnya bakal datang lebih cepat ...."Suara Ayah semakin pelan."Selain itu ...." Polisi membalik catatan dan melanjutkan, "Berdasarkan rekaman CCTV yang kami ambil, mobil omnya ini masuk ke rest area pada pukul 19.52, tapi hanya berhenti kurang dari satu menit, sama sekali nggak turun untuk mencari, lalu langsung pergi."Om buru-buru membela diri, "Aku sudah lihat, nggak ada orang! Aku kira kakakku dan istrinya sudah kembali menjemput!""Nggak lihat orangnya lalu nggak cari lagi? Itu anak delapan tahun! Setidaknya kamu harus turun untuk memastikan, atau menelepon orang tuanya untuk bertanya!"Suara polisi menyiratkan kemarahan yang tertahan."Kalian tahu nggak, menurut perkiraan awal forensik, waktu kematian anak itu antara pukul 19.30 sampai 20.00?""Kalau waktu itu

  • Anak Tak Terlihat, Anak Terlupakan   Bab 8

    Seluruh ruang tamu tiba-tiba hening. Hanya suara pembawa acara di televisi yang masih mengucapkan kata-kata ucapan selamat."Baik ... baik ... kami segera ke sana."Ayah menutup telepon. Sekujur tubuhnya seperti kehilangan tenaga, lalu terjatuh lemas ke kursi."Ada apa? Telepon dari siapa?"Suara Ibu bergetar.Ayah mengangkat kepala, matanya memerah dan bibirnya gemetar. "Polisi bilang ada seorang pengemudi menemukan mayat perempuan yang membeku di rest area. Dugaan sementara ... itu Wenny ....""Nggak mungkin!" teriak Ibu."Nggak mungkin! Wenny-ku mana mungkin ...."Kalimatnya belum selesai, tubuhnya langsung lemas dan terjatuh. Nenek buru-buru menopangnya, ruang tamu langsung kacau.Di perjalanan menuju kantor polisi, Ibu terus menangis tanpa henti. "Wenny-ku ... Wenny-ku nggak mungkin mati ... pasti salah ...."Ayah menggenggam setir dengan erat. Buku jarinya memutih, tidak mengucapkan sepatah kata pun.Kakakku duduk di kursi belakang sambil menangis pelan. Adikku sepertinya belum m

  • Anak Tak Terlihat, Anak Terlupakan   Bab 7

    Om melambaikan tangan dengan santai, "Anak sekecil itu mau ke mana? Mungkin saja ikut pulang dengan orang yang lewat, sengaja nggak kasih tahu kalian supaya kalian panik."'Bukan begitu!' bantahku dengan panik di samping mereka, tapi tidak bisa mengeluarkan suara sedikit pun.Wajah Ayah menggelap. Dia mengeluarkan ponsel dan menelepon kembali dua nomor yang tadi kupakai.Telepon pertama ke wanita yang meminjamkan ponselnya padaku. Ayah menyalakan pengeras suara, kami semua mendengar wanita itu berkata, "Iya, anak itu memang pinjam ponsel saya. Tapi dia bilang omnya bakal jemput, jadi saya pergi. Kenapa? Dia belum naik mobil?"Telepon kedua, ke om yang juga meminjamkan ponselnya padaku tadi. Dia berkata, "Anak itu memang pinjam ponsel saya. Setelah menelepon, dia masih menunggu di rest area. Saya sempat bilang suruh dia masuk mobil saya untuk menghangatkan diri, tapi dia nggak mau. Kenapa? Kalian belum jemput dia?"Setelah telepon ditutup, ruang tamu langsung sunyi senyap.Air mata Ibu

  • Anak Tak Terlihat, Anak Terlupakan   Bab 6

    "Oke, nanti aku lihat masih bisa pesan kamar nggak."Mereka membicarakan rencana tahun baru dengan antusias, menyusun rencana kunjungan dan barang apa saja yang mau dibeli.Aku berkeliling di sekitar mereka dengan senang, ingin mengatakan bahwa aku juga ingin ikut. Namun saat membuka mulut, tidak ada suara yang keluar.Oh ya ... aku sudah meninggal, aku nggak bisa pergi.Kakakku tiba-tiba meletakkan ponselnya, lalu berlari ke arah Ibu. "Mama, ponselku habis baterai, pinjam punyamu sebentar.""Kamu ini ... kerjaannya main ponsel saja."Meski berkata demikian, Ibu tetap menyerahkan ponselnya.Adikku juga berlari mendekat dan menarik celana Ayah. "Papa, kasih aku uang, aku mau beli petasan!""Malam-malam begini beli petasan apa, besok saja."Walaupun berkata begitu, Ayah tetap mengeluarkan beberapa ratus ribu dari dompetnya.Adikku bersorak gembira, lalu berlari pergi sambil membawa uang itu. Dari awal sampai akhir, tidak ada satu pun yang menyebut namaku. Seolah-olah aku tidak pernah ada

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status