Home / Romansa / Anak dari Sang CEO / Bab 21. Fitnah di pagi hari

Share

Bab 21. Fitnah di pagi hari

Author: Lovely Pearly
last update Last Updated: 2025-12-27 09:15:04
Keesokan paginya, langit Jakarta tampak mendung, seolah ikut merasakan perasaan Arra yang sedang gundah. Ia memasuki gedung perusahaan dan, seperti biasa, menyapa Pak Ujang sebelum melangkah lebih jauh. Biasanya, satpam itu selalu menanyakan kabar Rafa. Namun hari ini, setelah Arra menyapanya, Pak Ujang hanya membalas dengan senyum tipis tanpa sepatah kata pun. Ada sesuatu yang terasa janggal.

Arra berusaha berpikir positif. Mungkin saja suasana hati Pak Ujang sedang tidak baik, batinnya. Ia pun memilih tidak memikirkannya lebih jauh dan langsung melangkah menuju lobi perusahaan.

Saat hendak memasuki lift, tiba-tiba terdengar bisikan tepat di sampingnya.

“Jadi ini orangnya?”

“Iya. Katanya disuruh Pak Revan buat gantiin sekretaris yang sakit.”

“Pantesan. Kayaknya mereka punya hubungan, ya? Harusnya Pak Kevin bisa nyuruh asistennya sendiri, tapi kenapa malah melibatkan dia yang kerjanya di bagian keuangan? Nggak nyambung sama job-nya.”

“Aneh, kan? Aku juga ngerasa gitu. Kemar
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Anak dari Sang CEO   Bab 37. Cemburu yang Berkedok Profesional

    Dengan langkah berat dan hati yang dongkol, Arra menaiki lantai atas. Ia yakin semua ini pasti berhubungan dengan sesuatu, meski ia tak tahu kesalahan apa yang telah diperbuatnya kali ini hingga Revan melampiaskan amarah kepadanya.Begitu memasuki ruangan CEO, udara seolah membeku. Bukan karena pendingin ruangan, melainkan karena aura dingin pria yang duduk di balik meja besar itu. Revan sama sekali tidak menatap Arra. Jemarinya sibuk menari di atas keyboard, wajahnya kaku tanpa ekspresi.“Duduk,” perintah Revan dingin.Arra menuruti, duduk di kursi di hadapan Revan.“Pak, maaf… soal tugas audit itu, apa tidak ada kesalahan? Jumlahnya sangat banyak, Pak. Saya rasa tidak mungkin bisa selesai malam ini.”Revan menghentikan ketikannya. Perlahan ia mengangkat wajah, menatap Arra dengan sorot mata tajam yang membuat nyali Arra seketika menciut.“Kamu keberatan?” tanya Revan datar.“Bukan keberatan, Pak. Tapi…” Arra menelan ludah. “Kasihan anak saya. Dia sendirian di rumah dan harus menungg

  • Anak dari Sang CEO   Bab 36. Revan ketika cemburu

    Revan membanting tabletnya ke atas meja dengan keras.Brak!Guncangannya membuat kopi di dalam cangkir bergoyang sebelum akhirnya tumpah sedikit, menodai taplak meja putih bersih. Rahang Revan mengeras, urat-urat di lehernya menonjol. Napasnya memburu, cepat dan berat, dipacu oleh panas yang membakar dadanya.“Sialan,” desisnya.Ia berusaha menetralkan perasaan cemburu yang menyerangnya saat melihat Arra pergi bersama pria lain. Namun, semakin ia mencoba mengabaikannya, pikiran itu justru kian mengusik. Revan benar-benar tidak suka melihat Arra tertawa bersama Niko. Terlebih karena sampai saat ini Arra masih menjaga jarak darinya. Sikap itu menimbulkan rasa iri yang menyengat. Arra bersikap berbeda padanya, meski Revan sudah berusaha mendekat dengan cara yang baik. Namun Arra tetap menghindar.Revan tahu, Niko adalah pria baik. Pria yang telah menjaga Arra selama dua tahun terakhir di perusahaan ini, jauh sebelum Revan menjabat. Apalagi Niko terlihat begitu akrab dengan Rafa. Fakta it

  • Anak dari Sang CEO   Bab 35. Revan terlambat

    Pagi itu, matahari bersinar cerah di langit Jakarta. Cahayanya jatuh tanpa ampun, seolah mengejek kekalutan hati Arra yang masih diselimuti mendung, sisa tangisan semalam yang belum sepenuhnya mengering.“Mami! Rafa udah siap!” seru Rafa dari arah teras, berlari kecil dengan ransel yang hampir lebih besar dari punggungnya sendiri.Arra menoleh, lalu tersenyum tipis. Ia berjongkok, merapikan rambut putranya yang sedikit berantakan.“Pinter banget anak Mami. Yuk, kita berangkat. Nanti keburu telat.”Mereka melangkah keluar rumah, meninggalkan keheningan pagi yang masih setengah terjaga.Baru saja tiba di pinggir jalan raya untuk menunggu taksi, sebuah mobil SUV berwarna silver menepi perlahan di depan mereka. Suaranya halus, nyaris tak mengganggu hiruk-pikuk pagi yang mulai ramai.Kaca jendela diturunkan. Wajah Niko yang ramah dan menenangkan muncul dari balik kemudi, disertai senyum khas yang selalu terasa hangat.“Pagi, Arra. Pagi juga, Rafa,” sapanya.Arra tertegun sejenak.“Kak Niko

  • Anak dari Sang CEO   Bab 34. Pertanyaan Rafa

    “Papi? Kok bisa nggak suka?” Rafa mengernyit heran. “Padahal enak, tahu. Kalau Om Revan, suka nggak pizza keju mozzarella?”Revan menatap Arra dengan ragu. Seolah tengah menimbang apakah harus mengiyakan atau tidak. Faktanya, ia memang benar-benar tidak menyukai keju mozzarella. Namun, apakah ini saat yang tepat untuk memberitahu Rafa bahwa dirinya adalah ayah kandungnya?Sebelum Revan sempat menjawab dengan jujur, ponselnya berdering. Nama asistennya, Kevin, terpampang di layar. Tanpa ragu, ia langsung mengangkat panggilan itu.Arra mengembuskan napas lega. Hampir saja ia membongkar rahasia terbesar dalam hidupnya. Ia merutuki ucapannya sendiri, terdengar seperti sedang menantang Revan. Ia lupa bahwa pria itu selalu jujur, dan jika Revan menjawab apa adanya, Rafa pasti akan kebingungan. Anak itu bisa saja curiga, menyamakan selera Revan dengan sosok papi yang selama ini ia ceritakan. Padahal papi itu adalah Revan sendiri.“Baik, saya akan ke sana,” ucap Revan datar sebelum mematikan

  • Anak dari Sang CEO   Bab 33. Kebiasaan yang sama

    Revan duduk di samping Rafa yang tengah menyantap makanannya dengan lahap. Sementara itu, Arra mengambilkan piring untuk Revan dan menyerahkannya pada pria tersebut. Dengan wajah antusias, Revan menyendok nasi goreng buatan Arra ke piringnya, lalu menghirup aromanya perlahan. Harumnya masih sama seperti dulu.Pemandangan dua pria di hadapannya menikmati nasi goreng buatannya membuat hati Arra mengembang bahagia. Ia ingin sekali menghentikan waktu, mengabadikan momen sederhana antara ayah dan anak itu. Dari cara mereka makan hingga kebiasaan mengelap sudut bibir saat ada sisa makanan, semuanya terasa begitu mirip. Tanpa perlu tes DNA, Arra tahu, kebiasaan Revan menurun sempurna pada Rafa.Bahkan cara mereka meminum air dari gelas pun sama. Jari kelingking keduanya terangkat tanpa sadar. Arra menghela napas lirih. Ia yang mengandung sembilan bulan dan membesarkan Rafa selama lima tahun, namun hampir semua kemiripan justru berasal dari Revan.Satu-satunya sifat Rafa yang ia rasa menurun

  • Anak dari Sang CEO   Bab 32. Makan siang bertiga

    Revan menatap Arra yang sesekali melirik ke arahnya dan Rafa. Ia sangat yakin. Perlahan, hati Arra mulai melunak. Revan tak akan menyerah untuk mendapatkan Arra kembali. Ia tahu, jauh di lubuk hati wanita itu masih tersimpan rasa cinta padanya. Arra menjauh bukan karena perasaannya hilang, melainkan karena bayang-bayang orang tua Revan. Dan kini, yang perlu ia lakukan hanyalah membuat Arra kembali percaya dan merasa aman bergantung padanya.“Oh iya, tunggu sebentar. Om juga bawa hadiah buat kamu, sama makan siang kita,” ucap Revan sambil mengecup pelipis putranya, lalu tersenyum ke arah Arra.Ia kembali ke mobil dan membuka bagasi belakang. Dari sana, Revan mengeluarkan berbagai mainan dinosaurus yang ia pesan semalam, disusul dua kotak pizza untuk Arra dan Rafa.Melihat Revan membawa banyak barang, Arra merasa tak tega. Ada rasa haru yang menyelinap di dadanya melihat perhatian pria itu pada Rafa. Ia pun membantu membawa sebagian barang. Rafa sendiri terlihat paling bersemangat, meme

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status