Home / Romansa / Anak dari Sang CEO / Bab 4. Mencari tau kebenaran

Share

Bab 4. Mencari tau kebenaran

Author: Lovely Pearly
last update Huling Na-update: 2025-11-01 13:33:11

Dengan wajah tegang dan amarah yang nyaris meledak, Revan menjatuhkan diri ke kursinya. Dasi yang melilit lehernya terasa mencekik, membuatnya segera mengendurkan simpul itu agar bisa bernapas lebih lega. Ia masih mencoba menenangkan diri setelah kejadian tadi. Kejadian yang membuatnya benar-benar kehilangan kendali.

Tanpa pikir panjang, Revan meraih telepon di meja kerjanya. “Kevin! Segera ke ruangan saya,” ucapnya datar, dingin, tanpa nada emosi yang tersisa.

Begitu sambungan terputus, Revan menyandarkan tubuhnya di kursi dan memejamkan mata. Ia tidak salah lihat tadi. Foto itu, seorang bocah laki-laki dengan senyum lebar, dan di sampingnya adalah Arra.

Pertanyaan demi pertanyaan berputar liar di kepalanya. Apakah Arra sudah menikah dan memiliki anak? Dan tadi, dia menyebut nama bocah itu Rafa? Apakah itu anaknya?

Jika benar begitu, berarti ucapan ibunya selama ini, bahwa Arra berselingkuh dan meninggalkannya demi pria lain adalah kenyataan?

Tidak. Revan tidak bisa begitu saja menerima semua itu. Ia harus mencari tahu kebenarannya sendiri. Karena jika anak itu benar-benar dari pria lain, mengapa mata dan senyum bocah itu begitu mirip dengan dirinya?

Pintu ruangan terbuka.

“Apa yang bisa saya bantu, Pak Revan?” tanya Kevin, asistennya, dengan nada hati-hati.

“Kamu selidiki tentang Arra. Semua hal yang bisa kamu temukan dalam lima tahun terakhir. Apakah dia sudah menikah, dengan siapa, di mana dia tinggal, semuanya. Secepatnya!” perintah Revan tegas. “Dan satu lagi, ambilkan bingkai foto di meja kerjanya. Saya ingin memastikan sesuatu.”

“Baik, Pak. Ada lagi?” tanya Kevin, memastikan.

Revan menatap kosong sejenak sebelum pandangannya beralih tajam ke arah Kevin. “Kevin, kamu sudah mengikuti saya berapa lama?”

“Lima belas tahun, Pak. Memangnya kenapa?” Kevin mengerutkan dahi, bingung.

“Menurutmu .…” Revan mencondongkan tubuh sedikit, suaranya lebih pelan tapi menusuk, “Apakah Arra tipe perempuan yang bisa berselingkuh di belakang saya? Kamu tahu semua perjalanan hubungan kami. Kamu selalu ada di sana.”

Wajah Kevin menegang. Ia tertawa kecil, canggung, sambil menggaruk kepala yang tak gatal. Ia tahu pertanyaan itu bukan sekadar basa-basi.

“Kalau menurut saya, Bu Arra bukan tipe perempuan seperti itu, Pak,” jawab Kevin hati-hati namun tegas. “Beliau sangat menjunjung kesetiaan. Pernah sekali saya tidak sengaja melihat Bu Arra didekati beberapa laki-laki di kampus, tapi dia tetap menjaga jarak dan berkata kalau dia sudah punya kekasih dan katanya, kekasihnya jauh lebih tampan dari mereka semua.”

Revan tersenyum miring, entah karena bangga atau karena perasaan lain yang sulit dijelaskan. Tatapannya kemudian mengeras saat menatap Kevin.

“Kapan dia bilang begitu?” tanyanya datar, pura-pura tak tahu.

“Itu waktu Bapak menyuruh saya menjemput Bu Arra di kampus,” jawab Kevin cepat. “Saya tidak sengaja mendengar percakapan itu. Bapak lupa? Saya kan pernah cerita ke Bapak.”

Revan menggeleng pelan. “Saya tidak lupa. Hanya mengetes kamu saja.”

Ia berdiri dari kursinya, berjalan ke arah jendela besar yang menampilkan pemandangan ibu kota di bawah sana.

“Jangan lupa, selidiki semuanya,” ujarnya kemudian, suaranya tenang tapi mengandung tekanan. “Termasuk alasan kenapa Arra memilih meninggalkan saya. Padahal dia pernah berjanji tidak akan menyerah pada hubungan kami. Pasti ada seseorang yang membuatnya mengambil keputusan itu.”

Kevin ragu sejenak sebelum memberanikan diri angkat bicara.

“Saya boleh mengatakan sesuatu, Pak?”

“Katakan.”

“Menurut saya, mungkin semua ini ada kaitannya dengan Nyonya Besar. Beliau kan—”

“Saya memang mencurigainya,” potong Revan pelan namun tajam. “Dari dulu Mommy memang tidak pernah menyukai Arra. Dia selalu berusaha memisahkan kami. Tapi … entah kenapa, saya merasa bukan hanya karena Mommy. Ada alasan lain yang membuat Arra menyerah. Dan tugas kamu, selidiki semuanya sampai tuntas. Paham?”

“Paham, Pak.”

Kevin menunduk hormat, lalu berpamitan keluar dari ruangan.

Begitu pintu tertutup, Revan terdiam lama. Tangannya refleks mengambil sebatang permen dari dalam laci. Permen yang sudah lama tidak disentuhnya. Ia membuka bungkusnya perlahan, lalu meletakkan permen itu di lidah. Seketika rasa manis menyebar, membangkitkan memori lama.

“Nih, permen buat kamu.”

“Saya nggak suka permen.”

“Coba dulu. Manis, bisa ngilangin gelisah. Cocok buat orang yang lagi banyak pikiran kayak kamu. Daripada ngerokok, mending makan permen. Sehat, kan?”

“Makasih. Nama kamu siapa?”

“Arra Prameswari. Jurusan Akuntansi. Kalau kamu?”

“Revan. Manajemen Bisnis.”

Revan memejamkan mata. Tanpa sadar, setetes air mata mengalir di pipinya. Dada terasa sesak, seolah kenangan itu baru saja terjadi. Di dalam hati, ia berjanji. Kali ini, ia akan membawa Arra kembali ke sisinya. Apa pun yang harus ia hadapi, bahkan jika seluruh dunia menentangnya. Ia tidak akan kehilangan Arra untuk kedua kalinya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Anak dari Sang CEO   Bab 50. Tinggal bersama

    Malam semakin larut, namun Revan tak kunjung datang. Arra sudah siap untuk pulang; bahkan Rafa, yang sejak tadi menunggu dengan penuh antusias, kini tertidur lelap. Ada rasa tidak enak yang mengganjal di hati Arra—ia merasa telah merepotkan pria itu.Sebenarnya, Arra sempat berniat pulang berdua dengan Rafa menggunakan taksi online. Namun Revan melarangnya dan meminta Arra menunggu sebentar, dengan alasan ia sedang mengurus urusan pribadi.Arra menghela napas pelan, jemarinya terangkat memijat pelipis yang mulai terasa berdenyut. Dinda dan Niko sudah lebih dulu pulang. Sebelum pergi, Arra sempat menceritakan pada Dinda tentang hubungannya dengan Revan dan meminta sahabatnya itu untuk merahasiakannya. Untung saja, Dinda mengerti.Tiba-tiba, pintu ruang rawat Rafa terbuka. Revan muncul dengan penampilan yang sedikit kusut. Seketika rasa bersalah Arra kian menguat. Siapa tahu Revan sebenarnya sedang sibuk bekerja, dan kehadirannya justru menghambat. Seharusnya tadi ia bersikeras pulang n

  • Anak dari Sang CEO   Bab 49. Arra mengaku ke Dinda

    Setibanya di basement, Revan melihat Kevin berdiri di depan mobil sambil mengamati sekitar. Begitu melihat Revan keluar dari pintu rumah sakit, Kevin segera menghampirinya.“Selanjutnya, Pak?”“Kita belanja kebutuhan Arra dan Rafa. Hari ini hari terakhir Rafa dirawat. Saya akan membawa mereka ke apartemen saya, dan mulai hari ini kami bertiga tinggal bersama,” ujar Revan tegas.Ia sudah mantap mengambil keputusan itu. Arra dan putranya akan tinggal bersamanya. Tapi sebelum itu, ia harus membeli semua kebutuhan mereka terlebih dahulu. Setelahnya, ia akan membujuk Arra secara perlahan.“Baik, Pak. Kita pergi sekarang?”“Iya. Kali ini kita belanja banyak. Baju wanita, mainan anak, dan semua yang dibutuhkan.”“Siap, Pak.”Kevin membuka pintu penumpang dan mempersilakan Revan masuk, lalu segera membawa mobil menuju pusat perbelanjaan.***“Astaga, Rafa! Kamu nggak apa-apa, kan?!” teriak Dinda histeris. Ia baru saja datang untuk menjenguk “keponakan tersayang”-nya. Meski bukan keponakan kan

  • Anak dari Sang CEO   Bab 48. Kebenaran di atas kertas

    Kertas di tangan Revan bergetar. Lututnya lemas, memaksanya jatuh terduduk di kursi yang tadi diduduki Gunawan. Napasnya tercekat di tenggorokan.Benar. Selama ini instingnya tidak keliru.Rafa adalah anaknya—darah dagingnya sendiri.Dalam dua detik pertama, Revan merasakan kelegaan yang luar biasa, seolah beban ribuan ton terangkat dari pundaknya. Ia tidak gila. Ia tidak halu. Rafa benar-benar putranya.Namun detik berikutnya, gelombang emosi lain menghantam jauh lebih keras: rasa bersalah, penyesalan, dan kesedihan yang dalam.Revan menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Di dalam kesunyian ruang pribadi Gunawan itu, pertahanan seorang Revan Alendra runtuh total.Bahu tegapnya berguncang hebat. Isak yang selama ini tertahan pecah dari bibirnya, berubah menjadi raungan pilu yang menyayat hati.“Ya Tuhan…” rintihnya di sela tangis.Bayangan lima tahun terakhir berputar di kepalanya seperti sebuah film dokumenter yang kejam.Ia membayangkan Arra hamil sendirian—mungkin muntah-muntah

  • Anak dari Sang CEO   Bab 47. Hasil

    Kevin: “Hasilnya sudah keluar, Pak. Saya masih di Rumah Sakit Cipto. Saya tunggu di sini. Kata Dokter Gunawan, beliau ingin bertemu Bapak secara langsung.”Revan menghembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan. Saatnya telah tiba. Ia tahu persis alasan Gunawan ingin menemuinya. Pria itu pasti bertanya-tanya—bagaimana mungkin Revan memiliki seorang anak, sementara ia belum menikah dan bahkan belum pernah menyebarkan undangan pernikahan.Revan berdiri, lalu memasukkan ponselnya ke saku celana. Ia berusaha memasang wajah setenang mungkin, topeng seorang CEO yang selalu ia kenakan saat menghadapi krisis perusahaan.“Arra,” panggil Revan.Arra menoleh sambil meletakkan piring buahnya. “Ya, Van? Kenapa?”“Aku harus ke perusahaan sebentar. Kevin bilang ada berkas kontrak yang harus aku tanda tangani sekarang juga. Urgent,” kata Revan lancar, berbohong tanpa ragu.“Oh, iya, Van. Silakan. Kamu pasti sibuk sekali,” ucap Arra dengan nada bersalah. “Maaf ya, gara-gara nemenin kita di sini ka

  • Anak dari Sang CEO   Bab 46. Menunggu hasil

    Revan kembali duduk di kursi di samping ranjang Rafa. Jantungnya masih berdegup kencang, sisa adrenalin dari kejadian tadi. Ia menatap Rafa yang kini tampak tenang, asyik menonton kartun di televisi dinding.“Om, tadi temennya Om bawa makanan apa?” tanya Rafa tanpa mengalihkan pandangan dari layar.“Bubur ayam spesial buat kita bertiga, sama kopi buat Om,” jawab Revan. Suaranya sudah kembali normal.Revan menyandarkan punggungnya ke kursi. Rasa bersalah perlahan merayap di dadanya karena melakukan semua ini tanpa sepengetahuan Arra. Jika Arra tahu ia mengambil sampel Rafa diam-diam, perempuan itu pasti marah besar. Seolah-olah Revan sedang berusaha merebut anaknya.Namun Revan tak punya pilihan.Bayangan wajah mommy-nya kemarin kembali terlintas. Tamparan itu. Tatapan penuh kebencian saat Mirna menyerang Arra tanpa ampun. Ia tahu, mommy-nya tidak akan berhenti. Jika suatu hari Revan mengakui Rafa sebagai anaknya di hadapan keluarga besar Alendra, Mirna pasti akan menyangkal habis-habi

  • Anak dari Sang CEO   Bab 45. Tes DNA

    “Om Revan tahu nggak? Mainan yang Om kasih itu, Rafa suka banget. Rexi jadi punya teman,” kata Rafa antusias sambil terkekeh. “Sekarang Rexi kayak pemimpin perang di kerajaan.”“Bagus kalau Rafa suka. Nanti Om belikan yang lain. Kamu mau apa?” tanya Revan.Rafa tampak berpikir sejenak. Namun, ia teringat pesan maminya—ia tidak boleh meminta apa pun kepada orang lain selain maminya. Katanya, itu tidak sopan.“Enggak usah, Om. Temannya Rexi yang kemarin aja sudah cukup. Rafa sudah senang kok. Kata Mami, nggak boleh minta mainan ke orang lain,” ujarnya polos.“Om ini bukan orang lain,” sahut Revan lembut. “Jadi bilang saja, kamu mau apa?”Melihat wajah Revan yang tampak sungguh-sungguh dan tidak bercanda, Rafa akhirnya mengungkapkan keinginannya.“Rafa mau mainan robot, Om. Namanya apa ya… Former? Pokoknya mirip itu.”“Transformers?” tebak Revan.“Iya, itu!” Rafa mengangguk semangat. “Mainan kayak punya teman Rafa yang selalu dibawa ke sekolah.”Revan tersenyum, lalu mengelus rambut Rafa

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status