Share

Bab 5 Sadar

Author: Saggyryes
last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-13 14:48:41

"Sayang.. " panggil Laras saat mata Dina telah terbuka sepenuhnya.

Sayangnya, Dina tidak merespon. Ia hanya terdiam. Pandangannya kosong, seolah sedang memikirkan sesuatu.

"Sayang..." panggil Laras lagi dengan suara lebih lembut sambil terus menggenggam tangan Dina.

Dina menoleh ke arah Laras. "Ibu.. "

Ia langsung bangkit dari tidurnya dan berusaha duduk di atas ranjang.

"Ah!" ucap Dina sambil sedikit meringis.

"Kenapa sayang?"

Dina tersenyum tipis. "Nggak apa-apa kok, Bu. Maafin Dina ya Bu, padahal Ibu baru dateng, malah repot urusin Dina kayak gini."

"Ibu ngga repot kok, sayang. Ibu justru sangat khawatir dengan kondisi kamu sekarang, Nak." ucap Laras.

Ia berusaha agar air mata tidak turun lagi dari pelupuk matanya dan membuat Dina merasa terbebani.

"Iya Bu, maafin Dina ya.."

Belum sempat Dina melanjutkan ucapannya, ia terbatuk-batuk. Dengan cepat Feri mengambil minuman yang baru dibeli di dalam tas plastik berwarna hitam.

"Ini, kamu minum dulu," ucap Feri sambil menyerahkan botol air mineral yang sudah ia buka kemasan plastiknya kepada Dina.

"Makasih," ucap Dina.

"Sama-sama."

Laras membantu Dina duduk untuk minum. Setelah selesai, Laras menaruh botol minum tersebut ke atas nakas.

"Gimana keadaan kamu sekarang, Nak?" tanya Laras. "Apa masih pusing?"

Laras memegang kening Dina. Demamnya sudah sedikit turun. Tapi, tidak terlalu signifikan.

"Masih, sedikit Bu." jawab Dina jujur.

Dengan cepat Feri langsung meminta Dina untuk kembali berbaring dan memeriksanya.

"Kondisi kamu masih belum stabil, Din. Sebaiknya kamu makan dan minum dulu. Setelah itu, kamu minum obat agar pusing dan demamnya berkurang."

"Baik, Dok," ucap Dina.

"Oh ya, tadi Ibu tadi beliin kamu nasi pake tongkol suir balado dan tumis toge. Kamu mau makan sekarang kan?"

Dina menganggukkan kepalanya perlahan. "Mau, Bu."

Laras mengambilkan nasi bungkus dari kantong plastik hitam tadi dan mengeluarkan bungkus nasi coklat berisi makanan yang ia sebutkan dan sendok plastik.

"Ibu suapin ya?" tanya Laras, menawarkan.

"Iya, Bu."

Laras langsung membuka bungkus coklat dan menyuapi Laras.

"Gimana? Enak, sayang?" tanya Laras dengan senyuman yang masih mengembang di wajahnya.

Dina menganggukkan kepalanya dengan cepat. Makannya pun terlihat jauh lebih cepat dari biasanya. Namun Laras tidak berani menanyakan hal tersebut ke Dina karena khawatir ia akan tersinggung dan terluka hatinya.

Saat makanan hampir habis, Dina tersedak dan kembali terbatuk.

"Pelan-pelan aja makannya sayang, Ibu masih ada satu bungkus lagi kalau kamu masih lapar." ucap Laras.

Feri yang memperhatikan Dina sejak tadi menggelengkan kepalanya. "Jangan Ras, udah cukup segitu aja dulu."

Mendengar ucapan Feri membuat Laras mengerutkan keningnya. "Tapi kenapa, Fer? Kasihan Dina, dia sepertinya masih lapar."

"Tadi lambung Dina dalam kondisi kosong, Ras. Jadi, lambungnya hanya bisa diisi secara bertahap. Tidak bisa langsung banyak seperti itu," ucap Feri, mencoba menjelaskan.

"Karena jika dituruti, lambungnya akan kaget. Dan kemungkinan besar Dina akan mengeluarkan kembali makanan yang sudah masuk sebelumnya."

Laras menganggukkan kepalanya. "Oh gitu, Fer."

"Kalau gitu, makannya udah dulu ya sayang. Nanti kita makan lagi."

Dina menganggukkan kepalanya. "Iya, Bu."

"Oh ya, saya izin kembali ke ruangan dulu ya Ras. Nanti saat Dina sudah berada di kamar rawat inap, saya akan mengunjunginya lagi."

"Aduh jangan Fer, aku nggak mau ngerepotin kamu," jawab Laras, sedangkan Dina hanya diam memperhatikan.

"Terlebih, aku nggak mau ada kecurigaan lain yang nantinya mungkin akan membuat kita kesulitan," lanjutnya.

"Nggak akan ada hal seperti itu, Ras. Kamu tenang aja. Lagian, saya cuma mau melihat dan memastikan kondisi Dina," ucap Feri, sambil mengalihkan pandangannya dari Laras ke Dina.

"Baiklah kalo begitu," jawab Laras, pasrah.

Feri berbalik dan berjalan meninggalkan Dina dan Laras.

"Bu, apa Ibu kenal dengan Dokter Feri?" tanya Dina, karena sejak tadi ia perhatikan ada kedekatan khusus antara Laras dan Feri.

"Ah, ya. Dokter Feri dulu pernah satu kampus sama Ibu. Tadi, kami sempat ketemu lagi di kantin saat Ibu sedang makan."

"Oh, gitu. Pantes keliatan deket banget. Udah gitu, Dokter Feri kayaknya baik ya, Bu."

"Iya, Ibu juga berfikir seperti itu, dulu. Tapi terkadang semua nggak bisa dilihat dari penampilan sayang, semua ada sisi baik dan buruknya."

"Maksud Ibu?" tanya Dina penasaran.

Belum sempat Laras menjawab pertanyaan Dina, seorang perawat datang menghampiri.

"Syukurlah Bu Dina sudah sadar dan membaik. Saya akan bawa Ibu ke ruang rawat inap ya, Bu." ucap perawat tersebut.

"Dan ini hasil visum yang tadi Ibu minta ke Dokter Raya dan perawat sebelumnya." lanjutnya sambil menyerahkan kertas yang berada di dalam amplop.

Laras membuka isi amplop tersebut. Benar dugaannya, Dina sudah mengalami KDRT. Ia pun melihat ke arah Dina.

Dina menunduk. Wajahnya terlihat pucat. Seolah ada hal yang ia tutupi dan takut Laras mengetahuinya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Anakku Teraniaya di Rumah Besar Suaminya yang Kejam   Bab 139 Lamaran dan Pernikahan Dina

    "Akhirnya, kita harus pulang sekarang, ya?" tanya Laras, yang merasa tidak rela harus meninggalkan desa sekarang. "Iya, mau gimana lagi. Kerjaan di kantor pasti udah padet banget sekarang."Satu minggu pertama setelah pernikahan Laras dan Arya berlalu jauh lebih tenang dibanding beberapa bulan sebelumnya.Bulan madu mereka di desa kecil itu ternyata menjadi pengalaman yang jauh lebih menyenangkan dari yang dibayangkan Arya. Tidak ada jadwal rapat, telpon pekerjaan yang datang setiap satu jam sekali, dan agenda yang datang mendadak.Hanya pagi yang tenang, udara segar, dan warga desa yang sesekali datang berkunjung untuk mengobrol.***Sementara itu, di kota, kehidupan Dina juga berjalan dengan ritme yang berbeda. Awalnya ia mengira setelah pernikahan Laras selesai, semuanya akan kembali normal. Namun ternyata tidak.Karena tanpa ia sadari, hubungannya dengan Fadlan semakin dekat dari hari ke hari. Bukan sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba. Tidak ada momen dramatis. Hanya percakapan

  • Anakku Teraniaya di Rumah Besar Suaminya yang Kejam   Bab 138 Hari Pernikahan

    "Semoga hari ini, berjalan lancar," gumam Dina pelan, penuh harap. Sore itu, hotel tempat pernikahan Laras dan Arya dilaksanakan sudah ramai sejak sebelum matahari turun sepenuhnya.Para staf hotel berjalan cepat dari satu ruangan ke ruangan lain. Tim dokumentasi mulai mempersiapkan peralatan mereka. Beberapa keluarga yang datang dari luar kota juga sudah terlihat berada di area lobi sejak pagi.Hari yang selama ini hanya ada di dalam rencana akhirnya benar-benar tiba. Di salah satu ruang persiapan, Laras duduk di depan cermin. Untuk beberapa saat, ia hanya memandangi pantulan dirinya sendiri. Gaun yang dikenakannya sudah hampir sempurna. Riasan wajahnya terlihat lembut dan elegan. Rambutnya ditata sederhana namun anggun.Anehnya, ia tidak merasa terlalu gugup. Mungkin karena semua proses panjang itu sudah mereka lalui sedikit demi sedikit. Atau mungkin juga karena ia sudah sangat yakin dengan keputusan yang diambilnya.Pintu ruangan terbuka perlahan. Dina masuk sambil membawa secang

  • Anakku Teraniaya di Rumah Besar Suaminya yang Kejam   Bab 137 Pernikahan Doni

    "Baiklah, Ibu nggak akan goda kamu lagi..," ucap Laras, dengan suara yang masih ada tawa tersisa Dina hanya menggeleng pelan sambil kembali melanjutkan sarapannya. Laras pun tidak lagi melanjutkan godaannya sesuai dengan janjinya tadi.Meski begitu, sesekali senyum tipis masih terlihat di wajah wanita itu setiap kali matanya bertemu dengan Dina. Dan hal tersebut membuat Dina memilih untuk fokus pada makanannya daripada memberi kesempatan Ibunya untuk bisa menggoda lebih jauh.***Hari pernikahan Doni dan Lila akhirnya tiba beberapa minggu kemudian. Sejak pagi, Dina sudah bersiap di kamarnya.Gaun yang dikenakannya sederhana namun tetap elegan. Tidak terlalu mencolok untuk sebuah acara pernikahan, tetapi cukup membuat penampilannya terlihat rapi dan anggun.Ia sedang memeriksa tas kecil yang akan dibawanya ketika ponselnya bergetar. Fadlan. Dina langsung tersenyum kecil dan mengangkat."Udah berangkat?" tanyanya setelah panggilan telpon tersambung."Udah. Ini, aku lagi di depan rumah

  • Anakku Teraniaya di Rumah Besar Suaminya yang Kejam   Bab 136 Telpon Fadlan

    "Hah..," ucap Dina, pelan. Ia menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum akhirnya menggeser tombol hijau dan mengangkat panggilan tersebut."Halo.""Halo."Suara Fadlan terdengar santai dari seberang sana."Gimana? Akhirnya selesai juga acaranya?"Dina tersenyum kecil sambil menyandarkan punggungnya ke kepala tempat tidur."Iya. Udah selesai kok," jawab Dina. "Gimana, lancar 'kan?" tanya Fadlan. "Lancar, kok.""Baguslah, kalo begitu."Ada jeda singkat. Setelah itu, Dina bisa mendengar suara pintu mobil ditutup dari seberang sambungan telpon. "Kamu baru pulang?" tanyanya."Iya.""Sekarang masih di luar?" tanya Dina lagi. "Ini baru masuk rumah."Dina mengangguk pelan meski Fadlan tidak bisa melihatnya. "Kerjaan kamu padet banget ya hari ini?""Lumayan. Dari pagi sampe sore banyak rapat di luar.""Oh, gitu.""Makanya aku baru bisa telpon kamu malam."Kalimat itu membuat Dina tersenyum tipis. "Perhatian banget, sih.""Iya 'kan aku harus menunjukkan sikap baik aku ke orang yang sp

  • Anakku Teraniaya di Rumah Besar Suaminya yang Kejam   Bab 135 Acara Selesai

    "Siap?" tanya sang fotografer. "Sebentar, satu orang lagi ketinggalan!" seru seseorang dari belakang kamera."Masih ada lagi?" tanya Arya sambil tertawa."Masih. Ini keluarga besar belum lengkap kayaknya," ucap Laras. "Astaga.""Jangan protes! Kita harus tahan berdiri hari ini."Gelak tawa langsung terdengar di berbagai sudut ruangan.Dina yang tadi sudah berniat turun dari posisi berdirinya langsung menghela nafas panjang."Aku mulai ngerti kenapa fotografer dibayar mahal.""Kenapa?" tanya salah satu sepupunya. "Karena harus sabar menghadapi keluarga besar."Beberapa orang kembali tertawa.Laras yang berdiri di samping Arya hanya menggeleng pelan. "Kamu dari tadi ada aja komentarnya.""Kan biar nggak tegang, Bu," cetus Dina. "Memangnya ada yang tegang?" tanya Laras. Dina melirik ke calon Ayah barunya, Arya. "Ada kayaknya."Arya langsung mengangkat sebelah alis sambil menunjuk dirinya sendiri."Saya?""Iya.""Kayaknya salah orang," ucap Arya. "Hmm..," gumam Laras. Sebelum Arya

  • Anakku Teraniaya di Rumah Besar Suaminya yang Kejam   Bab 134 Lamaran

    "Hati-hati, Bu," ucap Dina, pelan. Laras dan Dina menuruni tangga secara berdampingan. Percakapan yang sejak tadi memenuhi ruang tamu perlahan mereda. Beberapa pasang mata langsung beralih ke arah mereka. Keluarga yang duduk di sisi kanan dan kiri ruangan tersenyum hangat melihat keduanya.Namun di antara semua orang yang hadir, ada satu tatapan yang paling sulit disembunyikan. Arya. Pria itu berdiri di antara keluarganya dengan setelan jas berwarna gelap yang rapi. Sebelumnya ia sedang berbicara dengan salah satu pamannya. Namun begitu melihat Laras muncul di ujung tangga, kalimat yang hendak ia ucapkan seolah menghilang begitu saja."Sempurna," gumamnya, pelan. Tatapannya berhenti pada wanita itu.Laras memang selalu terlihat menarik di matanya. Arya sudah mengetahuinya sejak lama. Tetapi hari ini berbeda. Mungkin karena suasana dan pakaian yang dikenakan Laras saat ini. Atau mungkin karena kesadaran bahwa hari ini mereka benar-benar sedang melangkah menuju kehidupan baru bersam

  • Anakku Teraniaya di Rumah Besar Suaminya yang Kejam   Bab 35 Kembali ke Rumah

    "Iya, aku paham," jawab Laras. "Oh ya, terima kasih atas bantuan kamu beberapa waktu lalu karena udah bersedia datang ke kantor polisi untuk menjadi saksi," lanjutnya. "Sama-sama, Ras. Terus sekarang, kamu mau ke mana?" tanya Ferdi. "Ke kantin. Aku mau beli bubur untuk Dina." "Mau aku ban

  • Anakku Teraniaya di Rumah Besar Suaminya yang Kejam   Bab 34 Perhatian

    "Sekarang?" tanyanya."Nggak harus hari ini, tapi secepatnya," jawab LarasDina menggelengkan kepalanya perlahan. "Aku belum yakin, Bu. Aku memang sudah ikut bekerja sama Ibu dari masih sekolah. Tapi, untuk menjadi seorang pemimpin kayaknya agak..,""Kamu pemegang saham mayoritas, Din. Dan posisi k

  • Anakku Teraniaya di Rumah Besar Suaminya yang Kejam   Bab 8 Pura-pura

    Dina menghela nafas pelan. "Iya, aku paham." Ia mengakhiri panggilan dengan menekan tombol merah. Entah kenapa ia merasa harus selalu menuruti permintaan Leo. Laras yang melihat perubahan sikap dan wajah Dina secara tiba-tiba membuat Laras kembali membuka mulut. "Kenapa, sayang? Leo bilang apa?"

  • Anakku Teraniaya di Rumah Besar Suaminya yang Kejam   Bab 7 Bohong

    "Apa?" tanya Feri, sambil mengerutkan kening. Ia melihat ke arah Dina dan Laras secara bergantian, lalu kembali ke Laras. Ia tidak tau sebenarnya hubungan kedua Ibu dan anak itu sedekat apa. Setelah mendengar pernyataan Laras, Dina yang sedang makan roti coklat keju, tersedak. Dengan cepat, Feri

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status