Share

BAB 4

last update publish date: 2026-06-29 23:25:06

BAB 4

 

Putri Duke Frederika.

 

Lukas menatap ke jendela besar yang ada di balik meja kerjanya. Memandang matahari sore yang tak lama lagi akan terbenam. Kejadian kemarin malam masih belum bisa Lukas lupakan.

 

Rambut hitam dan mata biru gelap. Sama persis dengan potret yang diberikan oleh Fagos. Itu memang benar-benar Valecia Frederika, putri tunggal dari Rodigo Frederika. Tetapi kenapa wanita itu muncul di rumah lelang ayahnya dan membebaskan Aquilla yang jelas-jelas akan jadi sumber uang untuk Frederika?

 

Ini cukup mencurigakan. Apalagi ketika Lukas mendekatinya. Wanita itu punya artefak penyamaran yang hanya bisa dimiliki oleh keluarga Sirius.

 

“Valecia,” gumam Lukas.

 

Sikap waspada wanita itu. Wajah datar dan pandangan dingin membuatnya sulit didekati. Apakah memang begitu kepribadiannya?

 

Awalnya Lukas mendatangi wanita itu hanya untuk bertanya tujuan kenapa dia membeli kembar dari ras Aquilla itu dengan mahal dan melepaskannya begitu saja, tetapi ia malah melihat wanita itu sudah akan menggunakan artefak sihir. Parahnya lagi Lukas mengenal artefak itu.

 

Haruskah ia menyelidiki tentang Valecia Frederika juga? Pasukan bayangan Lukas pasti akan mudah melakukannya. Tetapi ada baiknya untuk bisa bertemu wanita itu beberapa kali untuk menyelidikinya secara menyeluruh.

 

“Yang Mulia!” Fagos mendorong pintu dengan keras dan berlari masuk. Membuat Lukas menghela napas karena lelah mengingatkan tentang tata krama mengetuk pintu pada Fagos.

 

“Ada apa, Fagos?” Lukas menghadap pria itu. “Terjadi sesuatu?”

 

“Saya baru dapat kabar kalau Duke Frederika dan Grand Duke Tierry melakukan pertemuan. Mereka mengamuk karena tawanan yang akan dilelang semuanya menghilang.”

 

Lukas mendengkus geli. Ia menutup mulutnya dengan kepalan tangan. Sepertinya itu ulah Lady Frederika sendiri yang membuat penghasilan ayahnya menghilang dalam semalam. Wah, apa sebenarnya ini?

 

“Baguslah. Mungkin dalam waktu dekat mereka akan berburu lagi.” Lukas duduk di kursinya. “Awasi dan langsung kerahkan pasukan untuk memukul mundur mereka jika berulah di negara lain.”

 

“Baik, Yang Mulia.”

 

“Satu lagi, Fagos. Putri Frederika kapan akan melakukan debut?”

 

Fagos adalah bawahan Lukas yang memiliki banyak informasi mengenai para bangsawan kekaisaran saat ini. Itu dikarenakan sang ayah masih aktif melayani kaisar saat ini sebagai ajudan.

 

Kening Fagos berkerut. “Sepertinya Anda tertarik pada wanita itu?”

 

“Tidak juga.” Lukas tersenyum. “Hanya ingin tahu.”

 

“Tidak lama lagi akan diadakan debut untuk Valecia Frederika yang akan berusia tujuh belas tahun. Itu juga sekaligus pertunangan keluarga Frederika dengan Grand Duke Orlando Tierry.”

 

Sudah Lukas duga. Orlando itu sangat serakah. Tak hanya menjalin kerja sama dengan Frederika. Untuk membuat Frederika tidak berulah, dia sampai mau mengikat keluarga itu seutuhnya melalui pernikahan politik.

 

“Usahakan untuk mendapat undangan.”

 

“Ha?” Fagos syok. Orang yang tidak pernah muncul di sosial sama sekali ingin menghadiri debut seorang Lady? “Anda serius?”

 

Lukas mengangguk dengan tegas dan santai. “Ya.”

 

Sambil menghela napas Fagos mengangguk. “Tapi tolong menyamarlah kali ini, Yang Mulia.”

***

 

Anchia tersenyum bahagia dalam diam saat makan malam bersama Rodigo. Terlihat sekali kalau pria itu kesal bukan main. Ia memang belum mendapat apa yang dicari, tetapi di dalam rumah ini, telinga Iren sangat berfungsi.

 

“Terjadi sesuatu, Ayah?” tanya Anchia pada Rodigo sebagai basa-basi saja. “Mungkin saya bisa membantu?”

 

Rodigo menatap Anchia dalam diam. Sama sekali tak mencoba menyembunyikan kekesalannya. Ya, di mata Anchia terlihat sekali kalau pria itu sedang berucap dengan keras dalam kepalanya: “Orang sepertimu takkan mungkin bisa membantu!”

 

Rodigo kemudian tersenyum. “Tidak apa-apa. Ini hanya tentang pekerjaan yang tidak berjalan lancar belakangan ini.”

 

Benar, teriak Anchia dengan senang di dalam hati. Pekerjaan yang tidak berjalan lancar itu meliputi semua budak-budak ras langkah dari berbagai negara yang Frederika dan Tierry kumpulkan, semuanya menghilang dari penjara pelelangan Rodeo.

 

Padahal baru 2 hari sejak Anchia meninggalkan Rodeo, sudah ada kejadian besar seperti ini. Ah, bodohnya. Terasa agak menyenangkan memukul belakang kepala Rodigo dan Orlando. Kenapa tidak Anchia lakukan sejak dulu?

 

“Katakan saja jika Ayah butuh bantuan,” balas Anchia yang membalas senyum Rodigo tidak kalah manisnya. Di kehidupan kali ini, Anchia akan bersandiwara layaknya pemeran teater terkenal.

 

“Akan kukatakan jika memang membutuhkannya. Sekarang fokus saja pada pembelajaranmu. Debut akan dilakukan sebentar lagi. Kelas etiketmu berjalan lancar?”

 

Debut Valecia Frederika. Itu terjadi di usia saat ini. Pertama kalinya Anchia muncul sebagai Valecia yang dikabarkan sakit keras dan dilarikan ke mansion wilayah Frederika yang jauh di barat. Saking lamanya tidak kembali, orang-orang berpikir kalau Valecia sudah mati.

 

Memang benar bahwa Anchia berpikiran seperti itu di masa lalu. Merasa bangga bisa menggantikan posisi Valecia, setidaknya sampai wanita ular itu muncul di kekaisaran dan mengambil kembali posisinya. Tempat yang sudah Anchia raih dengan usaha mati-matian sepanjang siang dan malam.

 

Sakit pura-pura yang dibuat itu adalah rencana Frederika dan Tierry yang ingin menduduki kekuasaan tertinggi di kekaisaran. Orlando Tierry yang merupakan kerabat keluarga kaisar ingin duduk di posisi terhormat itu.

 

Satu lagi. Debut Anchia sebagai Valecia bukan hanya debut biasa. Itu juga acara yang diadakan untuk pertunangannya dengan Orlando Tierry. Di masa lalu Anchia sangat senang karena pria itu mungkin orang paling tampan yang pernah ia kenal. Selain itu dia juga pintar dan sudah jadi grand duke di usia muda.

 

Kebodohan itu terus berlangsung sampai di detik-detik kematian Anchia mengetahui rahasia Orlando. Menambah alasan untuk para sampah busuk itu menyingkirkan Anchia.

 

“Nyonya Flamel adalah guru yang hebat, Ayah. Setiap pelajaran etiket yang diberikan sangat menyenangkan,” kata Anchia dengan senyum bahagia yang biasa ia berikan dulu ketika dirinya merasa bangga.

 

“Baguslah. Grand Duke akan hadir pada hari debut.”

 

Anchia berpura-pura menahan napas, menjatuhkan alat makannya dan membekap kedua pipi dengan tangan. Tersenyum lebar dan tersipu. Di kehidupan lalu ia selalu membuat ekspresi seperti ini jika berhubungan dengan nama Orlando. Ekspresi yang menjijikkan ini.

 

“Yang Mulia akan datang?” tanya Anchia dengan nada suara tercekik yang harus dilakukan agar sandiwaranya totalitas.

 

Rodigo tersenyum lebar. “Aku belum mengatakannya. Tetapi Yang Mulia melamarmu, Vale.”

 

“Tidak mungkin!” Anchia berteriak girang, berdiri dari kursinya. Hampir melompat. “Yang Mulia dan saya ....”

 

Rodigo tertawa pelan dan berdiri dari kursinya pertanda makan selesai. “Hari debut juga akan menjadi hari pertunanganmu. Berbahagialah.”

 

“Saya sangat bahagia, Ayah!” Anchia menghambur memeluk Rodigo.

 

“Selesaikan makanmu dan kembalilah ke kamar.” Rodigo menyentuh kepala Anchia dan berlalu meninggalkan ruang makan. Membiarkan Anchia yang berteriak kegirangan.

 

Namun, sepeninggalan pria itu ekspresi Anchia yang kegirangan seketika berubah jadi jijik dan pandangannya menajam ke pintu di mana Rodigo keluar.

 

“Aku sangat bahagia, Rodigo. Sangat bahagia sampai terasa mau memuntahi wajahmu,” desis Anchia. Tangannya terkepal dengan erat ketika mengingat bagaimana bahagianya Rodigo saat pisau besar itu dijatuhkan ke leher Anchia.

 

Benar. Sejauh ini masih belum ada variabel yang bisa mengubah hidup Anchia. Tetapi jika sebatas ini alurnya berjalan sama dengan sebelumnya, mudah bagi Anchia untuk menciptakan variabel sendiri. Terbukti dengan kekacauan Rodeo yang tak pernah terjadi di masa lalu.

 

“Berbahagialah sebelum mati, Rodigo.”

 

“Nona Vale?”

 

Achia melihat ke pintu pada Irene yang baru saja masuk. Karena adanya pembicaraan tentang pertunangan ini, Rodigo menyuruh pelayan yang biasa mengawasi makan malam untuk keluar.

 

“Saya akan mengantar Anda untuk kembali ke kamar jika makan malamnya sudah selesai,” kata Iren sambil membuka pintu.

 

“Aku sampai lupa. Ada pekerjaan yang harus kuurus,” kata Anchia pada Iren. “Kau sudah mengurus permintaanku tadi sore ‘kan?”

 

“Sudah, Nona. Tapi haruskah saya pergi dengan Anda?”

 

Anchia berjalan dengan Iren menuju kamar. “Tidak usah. Tetaplah berjaga di rumah. Aku harus ke suatu tempat.”

 

“Baiklah. Hati-hatilah, Nona. Kondisi Anda tidak baik setelah kembali dari luar dua hari yang lalu.”

 

Anchia berhenti sejenak di jendela besar. Melihat pada cahaya bulan. Teringat sosok pria yang mendatanginya dan membantu kembali penyamarannya. Siapa pria berambut merah itu? Di masa lalu Anchia tidak pernah tahu ada orang seperti itu di kekaisaran dan kalangan bangsawan. Terlebih lagi dia tahu tentang artefak penyamaran yang langkah.

 

Apa pria itu adalah variabel yang tercipta tak sengaja karena Anchia menyentuh Rodeo?

 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Anchia (Dendam Yang Belum Usai)   BAB 47

    BAB 47 Mendengar kata 'Panhagant' tersebut, mendadak saja raut wajah Elijah jadi agak suram. Wanita itu keluar dari balik meja bar dan mengisyaratkan pada Lukas bahwa mereka harus naik ke atas untuk membicarakan hal yang dipertanyakan oleh Anchia. Mendapati isyarat tersebut, Anchia berdiri dari duduknya dan melihat Lukas. Mereka bertiga tanpa suara pun naik ke lantai atas melalui panel rahasia di dinding seperti biasa. Dalam diam saling mengekori hingga masuk ke ruang kerja. Rupanya di ruangan itu ada Canes yang sedang berbaring santai di sofa sambil membaca sebuah catatan. Melihat Lukas, Anchia, dan Elijah masuk, pria itu langsung duduk dan mengayunkan kertas. “Ada laporan dari Bris,” kata Canes langsung tembak. “Fiona akan bergerak ke Panhagant.” Elijah melirik Anchia. Rupanya karena hal itu Anchia bertanya mengenai Panhagant? “Wanita itu akan pergi ke Panhagant untuk mencari seseorang. Saya mendengarnya dari Orlando,” kata Anchia kemudian. Lukas sudah menatapnya. “Dari i

  • Anchia (Dendam Yang Belum Usai)   BAB 46

    BAB 46 “Selamat malam, Elijah.” Anchia masuk ke bangunan Venatici dan langsung menghampiri bar. Menyapa wanita yang biasa menyambutnya sambil membuka tudung jubah. Meski begitu Anchia tidak bisa tersenyum dengan gamblang entah kenapa. Ia hanya merasa bahwa dirinya yang sebagai Anchia adalah perwujudan sebuah dendam. Sebelum dendam itu usai, mungkin Anchia tak akan bisa tersenyum atau tertawa dengan bebas tanpa sandiwara. “Anda datang lebih awal. Pasti banyak yang ingin dibicarakan.” Elijah tersenyum manis pada Anchia yang baru saja duduk di salah satu kursi bar. Menyodorkan segelas jus yang baru saja dituangkannya untuk Anchia. “Minumlah dulu atau Anda mau langsung ke atas sekarang?” “Terima kasih. Saya akan ke atas setelah minum.” Anchia mengangguk. “Tapi ada sesuatu yang ingin saya tanyakan dulu pada Elijah.” Sejenak Elijah mengerutkan kening. Tidak pernah sebelumnya Anchia menanyakan pertanyaan pribad

  • Anchia (Dendam Yang Belum Usai)   BAB 45

    BAB 45“... karena sejak awal juga anak itu adalah pilihan Valecia.”Kalimat itu masih membekas di ingatan Anchia. Bahkan setelah ia berdiri di balkon kamarnya dan melihat kepergian Orlando tanpa pria itu berniat menyapa tunangan palsunya. Tangan Anchia terkepal lagi di atas pembatas balkon yang terbuat dari pualam itu.Di kehidupan sebelumnya bahkan sampai saat ini Anchia selalu bertanya-tanya kenapa dirinya yang dipilih oleh Rodigo untuk menggantikan posisi Valecia. Padahal Anchia hanya anak jalanan yang tidak berpendidikan. Ia bahkan tidak anggun sama sekali. Keahlian Anchia adalah memungut rerumputan dan sesekali mencuri kalau lapar.Ternyata memang sejak awal Vale sudah mengincar Anchia. Tetapi ... kenapa?Di mana Anchia bisa mencari jawaban untuk hal ini selain bertanya langsung pada Valecia. Wanita jahat itu tidak akan tiba-tiba baik hati dan memberitahu Anchia alasan kenapa memilihnya untuk bersandiwara.“Chia?” Iren memanggil dengan lirih sambil menyentuh pundak Anchia.“Aku

  • Anchia (Dendam Yang Belum Usai)   BAB 44

    BAB 44“Sepertinya suasana hati Anda sedang bagus.” Elijah meletakkan minuman di depan Lukas yang baru saja kembali entah dari mana. Yang jelas pasti ada sesuatu yang terjadi. Sebab sudah hampir beberapa tahun terakhir ia tidak pernah melihat tuannya itu berwajah sesenang sekarang.Bukan berarti Lukas selalu terlihat murung. Hanya saja hampir beberapa tahun setelah memutuskan membangun serikat informasi ini, Lukas sudah tidak lagi menunjukkan wajah bahagia. Mungkin lebih tepatnya setelah hampir mati terakhir kali.Elijah turut senang.“Begitulah,” jawab Lukas seadanya.“Anda sudah berbaikan?” Elijah memunggungi Lukas untuk mengelap kembali gelas-gelas minuman yang basah. Untuk sekarang hanya tugas itu yang bisa Elijah kerjakan dari balik meja bar.Senyum di wajah Lukas sedikit surut karena perkataan Elijah. “Yah, kami tidak bertengkar sebenarnya. Hanya sedikit salah paham saja. Tetapi tidak apa-apa.”Elijah tertawa, lalu kembali berbalik pada Lukas. Dengan lekat menatap tuannya itu sa

  • Anchia (Dendam Yang Belum Usai)   BAB 43

    BAB 43 “Nah, Anchia. Bagaimana kau tahu bahwa di balik cangkang Canes itu adalah diriku?” Anchia mendengkus. Ternyata memang Lukas masih penasaran bagaimana caranya Anchia bisa tahu bahwa Lukas dan Canes adalah orang yang berbeda. “Anda dan Marquess punya aura yang berbeda. Mudah saja. Saya lebih sering berbicara pada Anda ketimbang orang lain di sana. Tiba-tiba aura Anda yang dominan dan berat itu berubah. Lalu itu terjadi beberapa kali.” “Tapi bukan berarti kau tahu itu aku,” bantah Lukas. “Benar.” Anchia mengangguk. “Jika saja Anda tidak muncul di tengah kota hari itu, mungkin saya masih bisa mengira bahwa perbedaan aura itu adalah hal yang biasa terjadi. Anda tahu bahwa aura yang Anda miliki tidak dimiliki orang lain bahkan oleh Grand Duke Tierry.” Kening Lukas berkerut. “Tidak semua orang memiliki aura kepemimpinan. Bahkan satu-satunya orang yang setara dengan

  • Anchia (Dendam Yang Belum Usai)   BAB 42

    BAB 42“Anda akan pergi sekarang?” Iren melihat ke arah jendela yang matahari masih terang. Masih paruh sore untuk di bilang malam. Tidak biasanya Anchia akan keluar di jam begini sejak beberapa bulan terakhir. “Duke akan kembali beberapa jam lagi, Nona.”Anchia mengabaikan Iren dan terus mengganti pakaiannya dengan gaun biasa yang sering dipakainya untuk keluar sebagai Anchia. Setelah itu mengenakkan jubah. Sejenak Anchia melirik pada Iren dan berubah wujud menggunakan artefak.“Jika Duke bertanya, bilang saja aku tidak enak badan,” jawab Anchia sambil menutup kepalanya dengan jubah. “Kali ini Jiel yang akan menyamar menjadi aku dan tidur saja di ranjang.”Tepat ketika Anchia menyebut nama Jiel, pria itu masuk melalui pintu penghubung balkon bersama Sion. Karena sedikit kebingungan Jiel menoleh pada Sion, sejenak saling pandang.“Sion akan pergi bersamaku,” kata Anchia sambil tersenyum pada Sion. Ia juga belum bilang kerja bagus atas tugas sebelumnya, mengantarkan pesan untuk Lukas.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status