مشاركة

BAB 5

مؤلف: Viellaris Morgen
last update تاريخ النشر: 2026-08-07 00:08:46

BAB 5

Anchia bertopang di salah satu bangunan di sisi gang setelah meninggalkan kedai. Menutup wajahnya sebentar dan menghela napas. Ternyata berat juga bicara pada Silfah Valank. Meski memang dia terlihat seperti pria mata duitan dan haus gelar, dia ternyata tidak semurah yang Anchia pikirkan.

Apa Anchia terlalu keras mendorong Silfah? Tidak-tidak. Apa pun yang terjadi Anchia tidak mau merasakan perasaan bersalah. Karena perasaan seperti itu sangat mudah menghancurkan.

Orang-orang itu menganggap Anchia adalah iblis, dari itu ia akan membuang semua perasaan manusianya dan benar-benar menjadi iblis seperti yang mereka mau. Demi bisa membuat mereka membayar mahal atas nyawanya, Anchia akan memburu mereka sampai ke neraka.

“Tempat berikutnya,” gumam Anchia. Ia menarik napas panjang dan berdiri tegak, memandang satu-satunya bangunan paling mencolok yang ada di tengah-tengah gang belakang ini.

Memang bukan bangunan mewah yang mencolok. Tetapi bangunan itu didesain dari batu dan memiliki beberapa jendela bagus di bagian lantai atas. Katanya itu adalah kedai untuk orang-orang yang dianggap atas di gang belakang ini.

Yah, Anchia pikir tempat itu tidak akan membuat perasaannya jauh lebih baik dari pada menghadapi Silfah Valank. Tetapi karena Anchia sangat membutuhkan jasa orang yang ada di tempat itu, mau tidak mau ia harus datang ke sana.

Anchia menghampiri bangunan itu dan masuk. Melihat tempat sepi tanpa pengunjung. Bukan tidak ada pengunjung. Ada beberapa orang yang duduk menyebar di beberapa meja di sana. Dibilang kedai, tempat ini lebih mirip seperti tempat minum. Ada bar besar di depan sana yang ditunggui oleh seorang wanita berambut ikal oranye terang. Dandanannya mencolok dengan pewarna bibir merah cerah.

“Permisi,” sapa Anchia dengan suara lembut. Wanita itu tersenyum manis dan menghampirinya. “Aku mau memesan.”

Wanita berambut oranye itu membawa sebuah gelas berkaki tinggi bersamanya, berdiri menghadap Anchia dari balik meja bar. “Aku belum pernah melihatmu.”

“Ya, aku hanya lewat di tempat ini. Karena tertarik, makanya aku mampir.”

“Remaja muda tidak harusnya datang ke gang belakang, Nona. Kau tidak boleh berkeliaran di tempat berbahaya.”

Wanita ini, pikir Anchia. Sudah Anchia duga dia sangat tajam dan matanya bagus dalam penglihatan. Dalam sekali memandang saja dia tahu bahwa Anchia bukan berasal dari gang belakang.

“Sorbet Blackcurrant,” kata Anchia dengan tajam.

Kemudian terdengar suara derit kursi yang didorong paksa dan bahkan ada juga desingan suara pedang yang ditarik. Wanita berambut oranye di depan Anchia itu mengangkat tangan, mungkin isyarat untuk menghentikan orang-orang yang tadi tersebar untuk menyerang. Wanita itu menyeringai pada Anchia.

Sudah ia duga, tempat ini bukanlah bar biasa.

“Aku mau kualitas yang paling bagus dan mahal,” lanjut Anchia. Ia mengeluarkan 2 buah koin emas dan mendorongnya di meja. Itu juga adalah sebuah isyarat.

“Ikut aku,” kata wanita itu setelah mengambil koin emas dari meja. Lalu melemparnya masuk ke sebuah tabung panjang di dekat tong sampah. “Senang bertemu denganmu. Panggil saja aku Eli.”

“Eli?” Anchia menjauh dari meja bar, mengikuti wanita itu yang berjalan ke ujung meja bar di mana tangga menuju lantai atas berada.

“Elijah. Orang-orang di sini memanggilku Eli. Namamu?”

“Apa aku harus memberitahu informasi mengenai diriku?” tanya Anchia.

Elijah berhenti di depan tangga, menghadap pada Anchia. Penampilan wanita ini mencolok. Mungkin untuk mengelabui mata pengunjung yang menganggapnya benar-benar pelayan wanita sebuah bar. Tetapi Elijah bukan wanita bar biasa.

Elijah mengedikkan bahu. “Kami menjaga dengan baik informasi klien. Tetapi jika Anda tidak mau menyebutkan nama, itu juga bukan masalah.”

Setelah tahu bahwa Anchia akan menjadi klien, barulah Elijah bicara dengan sopan. Benar-benar orang yang bisa membuat kesal jika saja kesabaran Anchia hanya berupa selembar kertas yang terbelah dan terbagi-bagi.

“Nah, silakan masuk. Saya akan mengantar Anda pada master.” Elijah mendorong sebuah panel yang ternyata pintu di sisi tangga.

Anchia pikir ia akan naik ke atas melalui tangga ini. Tetapi malah ada panel rahasia yang tak terlihat di dinding karena menyatu dengan dinding cokelat itu. Tetapi di balik pintu itu juga ada tangga yang menuju ke lantai atas. Dalam diam Anchia mengikuti Elijah yang sudah tidak bersuara, tetapi terlihat sekali wajah wanita itu kegirangan.

Di ujung tangga, saat sedikit berbelok mereka menemukan sebuah pintu cokelat dan Elijah berhenti untuk mengetuk pintu itu.

“Master, ada yang memesan Sorbet Blackcurrant dengan dua koin emas,” kata Elijah pada pintu cokelat itu.

“Suruh dia masuk.”

Setelah terdengar sahutan dari dalam, Elijah membuka pintu dan membiarkan Anchia masuk sendiri, kemudian wanita itu menghilang bersama pintu yang tertutup. Membiarkan Anchia berdiri di tengah ruangan.

“Senang bisa melayani Anda.” Pria yang berdiri di depan jendela besar itu berbalik pada Anchia. “Saya Canes Venatici.”

Itu dia!

Canes Venatici adalah pemilik dari tempat ini. Guild informasi kekaisaran, Venatici. Dia adalah seorang Marquess berpangkat tinggi dari keluarga Venatici. Seorang pria berambut biru gelap dan bermata hitam pekat. Orang yang paling banyak memiliki informasi di dunia ini ketimbang orang lain.

Meski dia menyebut nama aslinya, tetapi Canes Venatici tidak pernah diketahui memiliki guild informasi. Karena orang-orang yang memakai jasanya akan segera hilang ingatan tentang Venatici setelah kerja sama mereka berakhir. Bisa dikatakan bahwa orang-orang itu akan diubah ingatannya setelah urusan mereka selesai.

Anchia tahu tempat ini beberapa minggu sebelum kematiannya di masa lalu. Saat dikejar-kejar oleh Frederika dan Tierry, ia sempat bertemu Elijah dalam keadaan luka parah. Wanita itu menolongnya sebentar. Tidak lama kemudian Anchia tertangkap oleh Rodigo.

“Maaf jika kedatangan saya lancang, Marquess. Nama saya Anchia.” Anchia membuka tudung jubahnya. Sangat tidak sopan baginya memperkenalkan diri tanpa menunjukkan wujud asli.

***

“Nama saya Anchia.”

Lukas nyaris tidak bisa menjaga ekspresinya ketika Anchia membuka tudung kepala. Memperlihatkan rambutnya yang mencolok keperakan dan warna matanya yang secerah air laut di pesisir selatan benua.

Wanita ini lagi. Apa yang dilakukannya di gang belakang sendirian? Apa dia selalu berkeliaran setiap malam sendirian?

“Anda datang sendirian, Nona Anchia?” tanya Lukas. Ia agak penasaran, kenapa wanita bangsawan tidak punya pengawal dan berkeliaran di wilayah berbahaya begini seorang diri.

“Panggil Anchia saja. Saya bukan seorang bangsawan.”

Lukas mendengkus geli dan tersenyum kecil. Sungguh wanita menarik yang murah hati dan pemberani. “Saya rasa pembicaraannya akan panjang. Silakan duduk.”

Anchia mengangguk dan duduk mengikuti isyarat yang diberikan. “Saya hanya akan mengatakan poin-poin penting permintaan saya dan tidak akan terlalu lama menyita waktu Anda,” kata Anchia.

Lukas agak terkejut karena ketajaman wanita ini. Ekspresinya yang datar dan dingin sama persis seperti malam itu. “Kalau begitu apa yang Anda inginkan dari Venatici, Anchia?”

Anchia mengangkat dua jarinya pada Lukas. “Saya butuh dua informasi.”

Lukas mengitari meja ke bagian depan agar bisa lebih jelas melihat wajah Anchia melalui sinar bulan. Bertopang di meja. “Itu artinya ada dua pekerjaan untuk Venatici.”

“Saya akan membayar berapa pun yang Anda minta. Karena kedua hal ini menyangkut hidup dan mati saya.”

Lukas mengerutkan kening. Ia sudah hidup menyamar dengan banyak identitas beberapa tahun terakhir dalam hidupnya. Tetapi baru kali ini ada yang datang sebagai klien Canes Venatici dan bilang pekerjaan yang harus ia lakukan menyangkut nyawa klien itu.

“Itu artinya jika saya gagal Anda bisa mati?”

Anchia mengangguk tegas. “Benar.”

“Kalau begitu mari kita dengarkan tugas pertamanya, Anchia.” Lukas tersenyum. Selama menjalankan Venatici, ia tidak pernah sesemangat ini dalam menyambut tugas dari klien. Tetapi pertemuan keduanya dengan wanita ini sangat menggelitik Lukas.

“Valecia Frederika,” kata Anchia. “Bisakah Anda mencari tahu di mana wanita itu sekarang berada?”

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Anchia (Dendam Yang Belum Usai)   BAB 14

    BAB 14Anchia sudah menyadarinya sejak kembali dari istana. Perasaannya bahagia dan berbunga-bunga. Padahal ia tidak melakukan apa pun. Tidak secara teknis, tetapi ada orang yang bisa bergerak untuknya.2 hari berturut-turut Rodigo kelabakan karena transaksi dengan jumlah besarnya digagalkan oleh Marquess Venatici. Rombongan pasukan marquess yang kembali dari Pelabuhan Selatan baru saja tiba pagi ini. Canes Venatici membawa banyak penjahat dan seorang Baron dari pelabuhan menuju istana kekaisaran.Wah, itu jadi pukulan telak untuk Rodigo dan Orlando. Haruskah Anchia tertawa sekarang? Oh, bukan. Harusnya ia prihatin karena ayah dan calon tunangannya kehilangan banyak uang untuk transaksi itu. Dengan kerugian dan kekesalan besar, apa pesta debut yang akan Anchia gelar sebagai Valecia bisa berjalan normal? “Ayah, ini Vale. Boleh saya masuk?” Anchia mengetuk pintu ruang kerja Rodigo. Ia sengaja datang untuk memastikan sendiri wajah kesal pria bajingan itu. Pintu dibuka oleh kepala pelay

  • Anchia (Dendam Yang Belum Usai)   BAB 13

    BAB 13 Tok! Tok! “Yang Mulia, ini saya Fagos.” “Masuklah.” Lukas berbalik ke arah pintu setelah mempersilakan Fagos untuk masuk. “Bagaimana?” Fagos mengangguk. “Seperti yang Anda katakan. Ada transaksi mencurigakan di pelabuhan pada kapal yang berlayar dari Osirus.” Lagi-lagi benar. Lukas tidak meragukan apa yang dikatakan oleh Anchia, tetapi ia langsung berangkat ke Pelabuhan Utara demi membuktikan bahwa informasi yang dikatakan oleh Anchia itu benar. Dengan begitu Lukas bisa percaya tentang Valecia Frederika. Informasi yang dikatakan oleh Anchia itu akurat. Beruntungnya Lukas, tempat ini tak sampai memakan perjalanan berhari-hari dari ibukota. 2 hari perjalanan dari ibukota, mereka sudah sampai ke pelabuhan. Setelah memastikan kebenarannya, Lukas harus membereskan orang-orang ini dan segera kembali ke ibukota. Lukas melirik undangan yang ada di nakas tempat tidur. Ia harus menghadiri debut Valecia Frederika di kediaman Frederika. Atau bisakah disebut sebagai debut Anchia?

  • Anchia (Dendam Yang Belum Usai)   BAB 12

    BAB 12 Oh, sungguh pertanyaan yang berbahaya, pikir Anchia. Tetapi justru pertanyaan itulah yang membuat Anchia ingin berteriak dan menari dengan girang karena berhasil memancing sisi bejat dari Orlando. Terlihat sekali mata pria itu dipenuhi kobaran ambisi. “Ha~” Anchia menghela napas dengan sengaja, memberikan wajah sedih pada Orlando. “Kekaisaran ini bisa punah jika Baginda tidak kunjung menunjuk putra mahkota.” Orlando menatap Anchia dengan tajam. Mungkin ada perasaan tidak suka dari pria itu karena berpikir kalau rakyat jelata tidak pantas mengatakan kalimat tersebut. “Saya harap Anda bisa menjadi kaisar di masa depan, Yang Mulia,” kata Anchia kemudian. Sepulang dari sini ia akan memuntahkan isi perutnya karena kalimat menjijikkan ini. “Orang baik seperti Anda harus memimpin kekaisaran.” Tiba-tiba saja tawa bahagia kelua

  • Anchia (Dendam Yang Belum Usai)   BAB 11

    BAB 11 Anchia duduk berhadapan dengan Canes Venatici. Ia masih belum membuka percakapan. Entah kenapa rasanya pria itu sekarang punya aura yang berbeda dengan Canes tempo hari. Bukan karena penampilannya yang lebih santai, tetapi pria ini tak setajam sebelumnya. Apa karena dia merasa sudah bertemu dengan Anchia sebanyak 2 kali makanya lebih memilih untuk melonggarkan diri? “Saya tidak menyangka Anda akan datang lagi dalam waktu singkat,” kata Canes. “Elijah bilang Anda butuh bantuan mendesak.” Anchia menatap Canes sebentar dan membuka tudung jubahnya. Pria itu agak terkejut yang justru membuat Anchia heran. Tidak hanya nada bicaranya yang sedikit melembut, tetapi dia juga heran pada penampilan Anchia? Padahal mereka sudah bertemu dua kali. “Saya butuh sedikit bantuan.” Anchia mengulurkan kontrak kepemilikannya atas Valank pad

  • Anchia (Dendam Yang Belum Usai)   BAB 10

    BAB 10Anchia tersenyum saat mendorong pintu kedai untuk masuk. Ia sengaja datang terlambat agar Silfah gelisah menunggu dalam pemikiran apa ia akan datang atau tidak. Benar saja. Pria itu sudah duduk menunggu di meja pertemuan pertama mereka.“Selamat malam, Silfah,” sapa Anchia dari balik jubahnya yang menutupi wajah. “Apa aku terlambat?”Mata Anchia dengan tajam melihat ke meja. Ada 2 gelas minuman. Yang satu kosong dan satunya lagi sisa setengah. Silfah sudah menunggu dalam gelisah sampai harus meredakan perasaannya dengan minum bir.“Ah, apa kau mabuk? Kalau begitu kita tidak akan bisa bicara. Kita jadwalkan lain kali saja.” Anchia bersiap untuk berbalik dan hendak pergi untuk mengetes kesadaran Silfah, tetapi ia tahu kalau pria itu tidak bisa melewatkan kesempatan ini.“Saya menerima tawaran Anda, Nona!” Silfah mencekal tangan Anchia.Anchia melihat ke arah pergelangan tangan dengan pandangan tajam. Ia tahu kalau Silfah tidak mabuk. Ia bahkan tahu kalau pria itu tak akan melewat

  • Anchia (Dendam Yang Belum Usai)   BAB 9

    BAB 9Iren menghela napas, menutup pintu kamar Anchia. Sudah 2 minggu sejak Anchia tiba-tiba bangun dan menangis kencang memeluknya. Setelah itu Anchia berubah drastis. Saat ditanya, wanita itu hanya bilang kalau pernah mimpi buruk tentang kematiannya dan Iren. Dari itu tiba-tiba saja Anchia memutuskan untuk berubah.Dia selalu keluar larut malam yang Iren sendiri tidak tahu Anchia pergi ke mana. Ditambah lagi beberapa kali Anchia memintanya melakukan sesuatu yang aneh. Iren tidak curiga. Bagaimanapun ia ada di sini untuk mendukung Anchia apa pun yang ingin dilakukan wanita itu. Karena mereka hanya memiliki satu sama lain di kediaman Frederika yang asing ini. Anchia pun dengan jelas meminta Iren menjadi orangnya.Apa pun yang dilakukan Anchia nanti, Iren ingin jadi orang pertama yang mendukung dan membelanya. Meski ia terkejut setengah mati melihat ada 2 pria asing yang masuk ke kamar Anchia. Lalu wanita itu hanya memberikan penjelasan singkat bahwa kedua orang itu juga akan jadi ora

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status