LOGINBAB 5
Anchia bertopang di salah satu bangunan di sisi gang setelah meninggalkan kedai. Menutup wajahnya sebentar dan menghela napas. Ternyata berat juga bicara pada Silfah Valank. Meski memang dia terlihat seperti pria mata duitan dan haus gelar, dia ternyata tidak semurah yang Anchia pikirkan. Apa Anchia terlalu keras mendorong Silfah? Tidak-tidak. Apa pun yang terjadi Anchia tidak mau merasakan perasaan bersalah. Karena perasaan seperti itu sangat mudah menghancurkan. Orang-orang itu menganggap Anchia adalah iblis, dari itu ia akan membuang semua perasaan manusianya dan benar-benar menjadi iblis seperti yang mereka mau. Demi bisa membuat mereka membayar mahal atas nyawanya, Anchia akan memburu mereka sampai ke neraka. “Tempat berikutnya,” gumam Anchia. Ia menarik napas panjang dan berdiri tegak, memandang satu-satunya bangunan paling mencolok yang ada di tengah-tengah gang belakang ini. Memang bukan bangunan mewah yang mencolok. Tetapi bangunan itu didesain dari batu dan memiliki beberapa jendela bagus di bagian lantai atas. Katanya itu adalah kedai untuk orang-orang yang dianggap atas di gang belakang ini. Yah, Anchia pikir tempat itu tidak akan membuat perasaannya jauh lebih baik dari pada menghadapi Silfah Valank. Tetapi karena Anchia sangat membutuhkan jasa orang yang ada di tempat itu, mau tidak mau ia harus datang ke sana. Anchia menghampiri bangunan itu dan masuk. Melihat tempat sepi tanpa pengunjung. Bukan tidak ada pengunjung. Ada beberapa orang yang duduk menyebar di beberapa meja di sana. Dibilang kedai, tempat ini lebih mirip seperti tempat minum. Ada bar besar di depan sana yang ditunggui oleh seorang wanita berambut ikal oranye terang. Dandanannya mencolok dengan pewarna bibir merah cerah. “Permisi,” sapa Anchia dengan suara lembut. Wanita itu tersenyum manis dan menghampirinya. “Aku mau memesan.” Wanita berambut oranye itu membawa sebuah gelas berkaki tinggi bersamanya, berdiri menghadap Anchia dari balik meja bar. “Aku belum pernah melihatmu.” “Ya, aku hanya lewat di tempat ini. Karena tertarik, makanya aku mampir.” “Remaja muda tidak harusnya datang ke gang belakang, Nona. Kau tidak boleh berkeliaran di tempat berbahaya.” Wanita ini, pikir Anchia. Sudah Anchia duga dia sangat tajam dan matanya bagus dalam penglihatan. Dalam sekali memandang saja dia tahu bahwa Anchia bukan berasal dari gang belakang. “Sorbet Blackcurrant,” kata Anchia dengan tajam. Kemudian terdengar suara derit kursi yang didorong paksa dan bahkan ada juga desingan suara pedang yang ditarik. Wanita berambut oranye di depan Anchia itu mengangkat tangan, mungkin isyarat untuk menghentikan orang-orang yang tadi tersebar untuk menyerang. Wanita itu menyeringai pada Anchia. Sudah ia duga, tempat ini bukanlah bar biasa. “Aku mau kualitas yang paling bagus dan mahal,” lanjut Anchia. Ia mengeluarkan 2 buah koin emas dan mendorongnya di meja. Itu juga adalah sebuah isyarat. “Ikut aku,” kata wanita itu setelah mengambil koin emas dari meja. Lalu melemparnya masuk ke sebuah tabung panjang di dekat tong sampah. “Senang bertemu denganmu. Panggil saja aku Eli.” “Eli?” Anchia menjauh dari meja bar, mengikuti wanita itu yang berjalan ke ujung meja bar di mana tangga menuju lantai atas berada. “Elijah. Orang-orang di sini memanggilku Eli. Namamu?” “Apa aku harus memberitahu informasi mengenai diriku?” tanya Anchia. Elijah berhenti di depan tangga, menghadap pada Anchia. Penampilan wanita ini mencolok. Mungkin untuk mengelabui mata pengunjung yang menganggapnya benar-benar pelayan wanita sebuah bar. Tetapi Elijah bukan wanita bar biasa. Elijah mengedikkan bahu. “Kami menjaga dengan baik informasi klien. Tetapi jika Anda tidak mau menyebutkan nama, itu juga bukan masalah.” Setelah tahu bahwa Anchia akan menjadi klien, barulah Elijah bicara dengan sopan. Benar-benar orang yang bisa membuat kesal jika saja kesabaran Anchia hanya berupa selembar kertas yang terbelah dan terbagi-bagi. “Nah, silakan masuk. Saya akan mengantar Anda pada master.” Elijah mendorong sebuah panel yang ternyata pintu di sisi tangga. Anchia pikir ia akan naik ke atas melalui tangga ini. Tetapi malah ada panel rahasia yang tak terlihat di dinding karena menyatu dengan dinding cokelat itu. Tetapi di balik pintu itu juga ada tangga yang menuju ke lantai atas. Dalam diam Anchia mengikuti Elijah yang sudah tidak bersuara, tetapi terlihat sekali wajah wanita itu kegirangan. Di ujung tangga, saat sedikit berbelok mereka menemukan sebuah pintu cokelat dan Elijah berhenti untuk mengetuk pintu itu. “Master, ada yang memesan Sorbet Blackcurrant dengan dua koin emas,” kata Elijah pada pintu cokelat itu. “Suruh dia masuk.” Setelah terdengar sahutan dari dalam, Elijah membuka pintu dan membiarkan Anchia masuk sendiri, kemudian wanita itu menghilang bersama pintu yang tertutup. Membiarkan Anchia berdiri di tengah ruangan. “Senang bisa melayani Anda.” Pria yang berdiri di depan jendela besar itu berbalik pada Anchia. “Saya Canes Venatici.” Itu dia! Canes Venatici adalah pemilik dari tempat ini. Guild informasi kekaisaran, Venatici. Dia adalah seorang Marquess berpangkat tinggi dari keluarga Venatici. Seorang pria berambut biru gelap dan bermata hitam pekat. Orang yang paling banyak memiliki informasi di dunia ini ketimbang orang lain. Meski dia menyebut nama aslinya, tetapi Canes Venatici tidak pernah diketahui memiliki guild informasi. Karena orang-orang yang memakai jasanya akan segera hilang ingatan tentang Venatici setelah kerja sama mereka berakhir. Bisa dikatakan bahwa orang-orang itu akan diubah ingatannya setelah urusan mereka selesai. Anchia tahu tempat ini beberapa minggu sebelum kematiannya di masa lalu. Saat dikejar-kejar oleh Frederika dan Tierry, ia sempat bertemu Elijah dalam keadaan luka parah. Wanita itu menolongnya sebentar. Tidak lama kemudian Anchia tertangkap oleh Rodigo. “Maaf jika kedatangan saya lancang, Marquess. Nama saya Anchia.” Anchia membuka tudung jubahnya. Sangat tidak sopan baginya memperkenalkan diri tanpa menunjukkan wujud asli. *** “Nama saya Anchia.” Lukas nyaris tidak bisa menjaga ekspresinya ketika Anchia membuka tudung kepala. Memperlihatkan rambutnya yang mencolok keperakan dan warna matanya yang secerah air laut di pesisir selatan benua. Wanita ini lagi. Apa yang dilakukannya di gang belakang sendirian? Apa dia selalu berkeliaran setiap malam sendirian? “Anda datang sendirian, Nona Anchia?” tanya Lukas. Ia agak penasaran, kenapa wanita bangsawan tidak punya pengawal dan berkeliaran di wilayah berbahaya begini seorang diri. “Panggil Anchia saja. Saya bukan seorang bangsawan.” Lukas mendengkus geli dan tersenyum kecil. Sungguh wanita menarik yang murah hati dan pemberani. “Saya rasa pembicaraannya akan panjang. Silakan duduk.” Anchia mengangguk dan duduk mengikuti isyarat yang diberikan. “Saya hanya akan mengatakan poin-poin penting permintaan saya dan tidak akan terlalu lama menyita waktu Anda,” kata Anchia. Lukas agak terkejut karena ketajaman wanita ini. Ekspresinya yang datar dan dingin sama persis seperti malam itu. “Kalau begitu apa yang Anda inginkan dari Venatici, Anchia?” Anchia mengangkat dua jarinya pada Lukas. “Saya butuh dua informasi.” Lukas mengitari meja ke bagian depan agar bisa lebih jelas melihat wajah Anchia melalui sinar bulan. Bertopang di meja. “Itu artinya ada dua pekerjaan untuk Venatici.” “Saya akan membayar berapa pun yang Anda minta. Karena kedua hal ini menyangkut hidup dan mati saya.” Lukas mengerutkan kening. Ia sudah hidup menyamar dengan banyak identitas beberapa tahun terakhir dalam hidupnya. Tetapi baru kali ini ada yang datang sebagai klien Canes Venatici dan bilang pekerjaan yang harus ia lakukan menyangkut nyawa klien itu. “Itu artinya jika saya gagal Anda bisa mati?” Anchia mengangguk tegas. “Benar.” “Kalau begitu mari kita dengarkan tugas pertamanya, Anchia.” Lukas tersenyum. Selama menjalankan Venatici, ia tidak pernah sesemangat ini dalam menyambut tugas dari klien. Tetapi pertemuan keduanya dengan wanita ini sangat menggelitik Lukas. “Valecia Frederika,” kata Anchia. “Bisakah Anda mencari tahu di mana wanita itu sekarang berada?”BAB 47 Mendengar kata 'Panhagant' tersebut, mendadak saja raut wajah Elijah jadi agak suram. Wanita itu keluar dari balik meja bar dan mengisyaratkan pada Lukas bahwa mereka harus naik ke atas untuk membicarakan hal yang dipertanyakan oleh Anchia. Mendapati isyarat tersebut, Anchia berdiri dari duduknya dan melihat Lukas. Mereka bertiga tanpa suara pun naik ke lantai atas melalui panel rahasia di dinding seperti biasa. Dalam diam saling mengekori hingga masuk ke ruang kerja. Rupanya di ruangan itu ada Canes yang sedang berbaring santai di sofa sambil membaca sebuah catatan. Melihat Lukas, Anchia, dan Elijah masuk, pria itu langsung duduk dan mengayunkan kertas. “Ada laporan dari Bris,” kata Canes langsung tembak. “Fiona akan bergerak ke Panhagant.” Elijah melirik Anchia. Rupanya karena hal itu Anchia bertanya mengenai Panhagant? “Wanita itu akan pergi ke Panhagant untuk mencari seseorang. Saya mendengarnya dari Orlando,” kata Anchia kemudian. Lukas sudah menatapnya. “Dari i
BAB 46 “Selamat malam, Elijah.” Anchia masuk ke bangunan Venatici dan langsung menghampiri bar. Menyapa wanita yang biasa menyambutnya sambil membuka tudung jubah. Meski begitu Anchia tidak bisa tersenyum dengan gamblang entah kenapa. Ia hanya merasa bahwa dirinya yang sebagai Anchia adalah perwujudan sebuah dendam. Sebelum dendam itu usai, mungkin Anchia tak akan bisa tersenyum atau tertawa dengan bebas tanpa sandiwara. “Anda datang lebih awal. Pasti banyak yang ingin dibicarakan.” Elijah tersenyum manis pada Anchia yang baru saja duduk di salah satu kursi bar. Menyodorkan segelas jus yang baru saja dituangkannya untuk Anchia. “Minumlah dulu atau Anda mau langsung ke atas sekarang?” “Terima kasih. Saya akan ke atas setelah minum.” Anchia mengangguk. “Tapi ada sesuatu yang ingin saya tanyakan dulu pada Elijah.” Sejenak Elijah mengerutkan kening. Tidak pernah sebelumnya Anchia menanyakan pertanyaan pribad
BAB 45“... karena sejak awal juga anak itu adalah pilihan Valecia.”Kalimat itu masih membekas di ingatan Anchia. Bahkan setelah ia berdiri di balkon kamarnya dan melihat kepergian Orlando tanpa pria itu berniat menyapa tunangan palsunya. Tangan Anchia terkepal lagi di atas pembatas balkon yang terbuat dari pualam itu.Di kehidupan sebelumnya bahkan sampai saat ini Anchia selalu bertanya-tanya kenapa dirinya yang dipilih oleh Rodigo untuk menggantikan posisi Valecia. Padahal Anchia hanya anak jalanan yang tidak berpendidikan. Ia bahkan tidak anggun sama sekali. Keahlian Anchia adalah memungut rerumputan dan sesekali mencuri kalau lapar.Ternyata memang sejak awal Vale sudah mengincar Anchia. Tetapi ... kenapa?Di mana Anchia bisa mencari jawaban untuk hal ini selain bertanya langsung pada Valecia. Wanita jahat itu tidak akan tiba-tiba baik hati dan memberitahu Anchia alasan kenapa memilihnya untuk bersandiwara.“Chia?” Iren memanggil dengan lirih sambil menyentuh pundak Anchia.“Aku
BAB 44“Sepertinya suasana hati Anda sedang bagus.” Elijah meletakkan minuman di depan Lukas yang baru saja kembali entah dari mana. Yang jelas pasti ada sesuatu yang terjadi. Sebab sudah hampir beberapa tahun terakhir ia tidak pernah melihat tuannya itu berwajah sesenang sekarang.Bukan berarti Lukas selalu terlihat murung. Hanya saja hampir beberapa tahun setelah memutuskan membangun serikat informasi ini, Lukas sudah tidak lagi menunjukkan wajah bahagia. Mungkin lebih tepatnya setelah hampir mati terakhir kali.Elijah turut senang.“Begitulah,” jawab Lukas seadanya.“Anda sudah berbaikan?” Elijah memunggungi Lukas untuk mengelap kembali gelas-gelas minuman yang basah. Untuk sekarang hanya tugas itu yang bisa Elijah kerjakan dari balik meja bar.Senyum di wajah Lukas sedikit surut karena perkataan Elijah. “Yah, kami tidak bertengkar sebenarnya. Hanya sedikit salah paham saja. Tetapi tidak apa-apa.”Elijah tertawa, lalu kembali berbalik pada Lukas. Dengan lekat menatap tuannya itu sa
BAB 43 “Nah, Anchia. Bagaimana kau tahu bahwa di balik cangkang Canes itu adalah diriku?” Anchia mendengkus. Ternyata memang Lukas masih penasaran bagaimana caranya Anchia bisa tahu bahwa Lukas dan Canes adalah orang yang berbeda. “Anda dan Marquess punya aura yang berbeda. Mudah saja. Saya lebih sering berbicara pada Anda ketimbang orang lain di sana. Tiba-tiba aura Anda yang dominan dan berat itu berubah. Lalu itu terjadi beberapa kali.” “Tapi bukan berarti kau tahu itu aku,” bantah Lukas. “Benar.” Anchia mengangguk. “Jika saja Anda tidak muncul di tengah kota hari itu, mungkin saya masih bisa mengira bahwa perbedaan aura itu adalah hal yang biasa terjadi. Anda tahu bahwa aura yang Anda miliki tidak dimiliki orang lain bahkan oleh Grand Duke Tierry.” Kening Lukas berkerut. “Tidak semua orang memiliki aura kepemimpinan. Bahkan satu-satunya orang yang setara dengan
BAB 42“Anda akan pergi sekarang?” Iren melihat ke arah jendela yang matahari masih terang. Masih paruh sore untuk di bilang malam. Tidak biasanya Anchia akan keluar di jam begini sejak beberapa bulan terakhir. “Duke akan kembali beberapa jam lagi, Nona.”Anchia mengabaikan Iren dan terus mengganti pakaiannya dengan gaun biasa yang sering dipakainya untuk keluar sebagai Anchia. Setelah itu mengenakkan jubah. Sejenak Anchia melirik pada Iren dan berubah wujud menggunakan artefak.“Jika Duke bertanya, bilang saja aku tidak enak badan,” jawab Anchia sambil menutup kepalanya dengan jubah. “Kali ini Jiel yang akan menyamar menjadi aku dan tidur saja di ranjang.”Tepat ketika Anchia menyebut nama Jiel, pria itu masuk melalui pintu penghubung balkon bersama Sion. Karena sedikit kebingungan Jiel menoleh pada Sion, sejenak saling pandang.“Sion akan pergi bersamaku,” kata Anchia sambil tersenyum pada Sion. Ia juga belum bilang kerja bagus atas tugas sebelumnya, mengantarkan pesan untuk Lukas.







