مشاركة

BAB 7

مؤلف: Viellaris Morgen
last update تاريخ النشر: 2026-08-07 00:29:29

BAB 7

 

“Luke Kaelon Von Sirius, putra mahkota kekaisaran Sirius. Putra kaisar yang hilang itu kemungkinan masih hidup. Murid didikan Pyrus Venatici masih hidup setelah selamat dari kecelakaan kereta saat dia berusia enam tahun.”

 

Lukas memandang kepergian Anchia dari jendela ruang kerjanya itu. Wanita itu berjalan tanpa menoleh ke belakang sama sekali. Ucapan terakhirnya benar-benar membuat Lukas membeku. Ia hampir  secara spontan bergerak untuk mencekik wanita itu sampai mati.

 

“Yang Mulia?” panggil Elijah yang baru saja masuk ke ruangan Lukas. “Sepertinya pembicaraan Anda cukup panjang.”

 

Cahaya sihir meliputi tubuh Lukas. Menghilangkan tampilan Canes Venatici yang berambut biru gelap dan mata hitam. Kembali pada tampilan asli Lukas yang berambut merah gelap dan bermata keemasan.

 

“Elijah.” Lukas menoleh pada wanita yang berlutut di tengah ruangan itu. “Apa namaku masih disebut-sebut oleh orang-orang belakang ini?”

 

Elijah mengangkat kepala. “Sudah tidak ada lagi yang menyebut nama Anda lebih dari belasan tahun, Yang Mulia.”

 

“Wanita itu menyebut namaku,” kata Lukas yang sekali lagi  melihat ke luar jendela dan ternyata Anchia sudah menghilang. “Dia tahu kalau Luke Kaelon Von Sirius masih hidup.”

 

“Tidak mungkin!” Elijah berteriak, lalu bangkit berdiri. Raut ketidakpercayaan terpancar dari wajahnya. “Anda sudah melalui kematian setidaknya dua kali. Orang-orang pasti menganggap Anda sudah mati.”

 

Benar. Harusnya begitulah yang dipercayai oleh orang-orang kekaisaran Sirius sampai detik ini. Begitu juga sepupu bajingannya, Orlando Tierry. Dia adalah orang yang paling ingin membunuh Luke Kaelon Von Sirius agar bisa menjadi putra mahkota.

 

Putra mahkota pernah nyaris mati saat berusia 6 tahun dalam perjalanan diplomasi bersama mendiang Marquess Pyrus Venatici ke selatan. Kereta yang mereka naiki terempas dan jatuh ke jurang. Dengan keajaiban putra mahkota itu masih selamat, tetapi Pyrus yang adalah gurunya mati di tempat.

 

Kemudian di usia 13 tahun, putra mahkota juga hampir mati dalam persembunyiannya yang diketahui oleh salah satu orangnya Tierry. Dia ditembak dengan panah beracun dan nyaris mati. Kemudian menghilang sampai sekarang.

 

Tidak benar-benar menghilang. Luke hidup sebagai Lukas di kekaisaran. Menyamar dengan harta kekaisaran, yaitu artefak penyamaran. Dari itulah Lukas mengenal artefak milik Anchia. Benda itu mirip dengan artefaknya yang hilang 7 tahun lalu di daerah selatan saat ia nyaris mati.

 

Selain hidup sebagai Lukas, ia juga menggantikan peran dari sahabat baiknya, Canes Venatici yang lebih memilih menjadi agen guild informasi karena hobinya mengembara.

 

Setelah 7 tahun berlalu dan orang-orang di kekaisaran mengira Luke benar-benar mati, sekarang tiba-tiba muncul wanita yang memintanya untuk mencari putra mahkota yang masih hidup itu.

 

Apa yang harus Lukas cari? Ia tidak bisa mencari dirinya sendiri. Ia mungkin mati bagi orang-orang, tetapi Lukas hanya menunggu waktu untuk kembali ke istana demi menyelamatkan kekaisaran dari Frederika dan Tierry. Makanya Lukas lebih aktif untuk memukul semua organisasi sampah yang ada di Sirius.

 

Karena ketika ia menjadi kaisar nanti, sampah tidak berguna akan segara dihabisi agar tak memperburuk pandangan.

 

“Berapa usia pelanggan baru kita?” tanya Lukas pada Elijah.

 

“Mungkin sekitar tujuh belas tahun, Yang Mulia. Anda mau saya mengawasinya?”

 

“Tidak usah.” Lukas mengangkat tangan. “Jaga saja agar Fagos tidak tahu bahwa ada orang lain yang tahu aku masih hidup.”

 

Karena jika pria itu tahu, mungkin demi kelancaran rencana kembalinya Lukas ke istana, Fagos bisa memburu Anchia yang saat ini keberadaannya sangat jelas. Harus ada orang yang memberitahu wanita itu kalau punya banyak informasi bisa membuatnya dalam bahaya.

 

“Kirim pesan pada Canes. Aku punya misi yang harus dilakukan,” kata Lukas. “Permintaan dari klien.”

 

Sebenarnya permintaan pertama Anchia juga bagus untuk Lukas. Jika Anchia memang benar bahwa Valecia ada yang asli dan mereka berhasil mendapatkan lokasi keberadaan wanita itu, Lukas bisa langsung memukul Frederika dengan vonis penipuan kekaisaran.

 

Itu cukup bagus juga. Tidak masalah. Mari lakukan misi pertama lebih dulu karena misi kedua dari Anchia, wanita itu tak menuntut untuk dilakukan karena dia sendiri sebenarnya tidak yakin.

 

Siapa sebenarnya Anchia yang berwajah Valecia Frederika itu?

***

 

Anchia baru masuk ke kamarnya setelah melewati malam yang berat dengan menghadapi Silfah Valank dan Canes Venatici sekaligus. Tetapi begitu sampai di rumah ia malah lebih terkejut lagi karena tiba-tiba ada orang yang berdiri di tengah kamarnya yang tanpa penerangan.

 

Semua penerangan sengaja dipadam oleh Iren pertanda bahwa Anchia sudah tidur. Namun, bukan berarti harus ada pembunuh bayaran yang masuk mendekatinya.

 

“Siapa kalian?” tanya Anchia yang belum berubah wujud menjadi Valecia. Bisa gawat jika orang-orang ini melihatnya dalam tampilan Anchia.

 

“Makan.”

 

“Ha?” Anchia ternganga ketika kedua orang itu mendekat dan jatuh di bawah kakinya. Mereka ini kan ....

 

“Mau daging!”

 

Kyahhh!

 

“Apa yang kalian lakukan di sini?” Anchia nyaris ikut berteriak ketika menyadari kedua orang yang berada di kakinya itu. “Aku sudah minta kalian untuk pergi!”

 

Pria kembar Aquilla yang tempo hari Anchia beli dari Rodeo. Kenapa mereka bisa sampai di sini? Padahal Anchia sudah menyuruh mereka untuk kembali ke gurun tempat asal mereka.

 

“Kami tidak bisa pergi, kami butuh makan,” jawab salah satu dari mereka. “Anda harus bertanggung jawab sebagai majikan.”

 

Anchia meraup wajahnya saking lelah. Namun, tidak lama berselang pintu kamarnya terbuka dan membuat kembar Aquilla itu waspada.

 

“Anchia, kau sudah pulang?” Iren masuk ke kamar dan menutup pintu. Berjalan pelan ke arah meja tengah untuk menyalakan pencahayaan. Betapa terkejutnya wanita itu menemukan Anchia yang tidak dalam wujud Valecia bersama dua pria yang memegangi kakinya.

 

“Aku bisa jelaskan, Iren,” Anchia menghela napas. “Pertama-tama. Bisakah kau ambilkan aku beberapa porsi makanan? Anak-anak ini kelaparan.”

 

“Anak-anak?” Iren ternganga melihat pada telunjuk Anchia yang mengarah ke bawah. Dari mana kedua pria itu bisa dilihat sebagai anak-anak? “Anchia, kau harus jelaskan padaku.”

 

Anchia mengangguk. “Cepatlah.”

 

“Ibu tiri,” gumam salah satu Aquilla sambil menatap tajam pada Iren. “Dia galak.”

 

“Apa?” Iren maju dan merasa bisa meledak jika sekali lagi mendengar kalimat ejekan yang sama untuknya itu.

 

“Iren, nanti saja.” Anchia merentangkan tangannya untuk mencegah pertengkaran yang tidak perlu. Ia sudah lelah setengah mati dan ingin tidur agar kepalanya yang panas bisa mendingin lagi.

 

Karena melihat Anchia yang benar-benar lelah, Iren meninggalkan kamar untuk mengambil apa yang Anchia mau. Sepeninggalan wanita itu, Anchia langsung mencari sofa terdekat dan menjatuhkan tubuhnya.

 

“Sekarang kenapa kalian bisa ada di sini? Aku kan minta kalian melepaskan semua tawanan di rumah lelang,” kata Anchia sambil menatap tajam dengan pandangan rendah pada kedua pria yang masih duduk di lantai itu.

 

“Kami melakukannya,” kata kembar Aquilla yang berambut panjang. “Kami pulangkan mereka.”

 

“Lalu kenapa kalian tidak ikut?”

 

“Kami harus melindungi master,” jawab yang satunya dengan tegas. Yang berambut panjang pun mengangguk-angguk beberapa kali. “Anda harus beri makan kami.”

 

Ini merepotkan, pikir Anchia. Ia tidak menyangka bahwa keputusan spontannya itu akan merepotkan begini.

 

“Jadi, setelah kuberi makan, kalian akan pergi?” tanya Anchia lagi. Sekali lagi menghela napas.

 

“Kami akan ....”

 

“... lindungi Master.”

 

Kening Anchia berkerut. Melindunginya? Apa itu berarti kedua orang ini bisa jadi pengawal rahasia Anchia? Benar juga. Di gurun, ras Aquilla juga terkenal sebagai ras terkuat yang isinya dipenuhi oleh petarung. Mereka berdua ini bisa jadi pengawal yang bagus jika Anchia keluar rumah. Mereka bisa melindunginya dari jarak aman.

 

Tetapi kalau mereka kuat, kenapa bisa tertangkap oleh Frederika? Anchia benar-benar baru mengingatkan. Aquilla ras kuat tanpa sihir. Mereka kuat pada fisiknya saja, tetapi tidak punya aliran energi yang bisa digunakan sebagai sihir. Sedangkan Frederika dan Tierry selalu menggunakan sihir yang kuat untuk menangkap mangsa.

 

Mereka itu sampah berengsek.

 

“Kedengarannya tidak buruk juga,” gumam Anchia. Ia bisa merasa aman jika keluar sendirian di malam hari untuk melancarkan rencananya yang masih baru berjalan. “Kalau begitu aku kan memberi makan kalian. Sebagai gantinya berikan nyawa kalian untuk melindungiku tetap aman.”

 

Kedua Aquilla itu langsung mengangguk tegas.

 

“Siapa nama kalian?”

 

“Sion,” jawab Aquilla yang berambut panjang.

 

“Jiel,” jawab Aquilla yang berambut pendek.

 

Dengan adanya perbedaan rambut mereka, Anchia jadi lebih mudah mengenalinya. Rambut mereka memiliki warna cokelat pirang, mirip dengan bulu elang muda. Seperti nama ras mereka. Meski mata mereka yang hitam pudar itu mirip orang buta, tetapi tatapan mereka setajam mata elang. Apalagi mungkin mereka ini punya kemampuan untuk melihat masa depan atau menggali masuk ke masa lalu seseorang.

 

Namun, untuk sekarang Anchia lebih butuh mereka sebagai pendeteksi bahaya.

 

“Seharusnya kalian tahu kalau tempat sampah itu milik Duke Rodigo Frederika. Tapi aku akan urus itu nanti untuk kalian.” Anchia tersenyum lebar dan membungkuk sambil mengulurkan kedua tangannya pada pria-pria itu. “Mulai sekarang, mohon bantuannya Sion dan Jiel.”

 

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Anchia (Dendam Yang Belum Usai)   BAB 14

    BAB 14Anchia sudah menyadarinya sejak kembali dari istana. Perasaannya bahagia dan berbunga-bunga. Padahal ia tidak melakukan apa pun. Tidak secara teknis, tetapi ada orang yang bisa bergerak untuknya.2 hari berturut-turut Rodigo kelabakan karena transaksi dengan jumlah besarnya digagalkan oleh Marquess Venatici. Rombongan pasukan marquess yang kembali dari Pelabuhan Selatan baru saja tiba pagi ini. Canes Venatici membawa banyak penjahat dan seorang Baron dari pelabuhan menuju istana kekaisaran.Wah, itu jadi pukulan telak untuk Rodigo dan Orlando. Haruskah Anchia tertawa sekarang? Oh, bukan. Harusnya ia prihatin karena ayah dan calon tunangannya kehilangan banyak uang untuk transaksi itu. Dengan kerugian dan kekesalan besar, apa pesta debut yang akan Anchia gelar sebagai Valecia bisa berjalan normal? “Ayah, ini Vale. Boleh saya masuk?” Anchia mengetuk pintu ruang kerja Rodigo. Ia sengaja datang untuk memastikan sendiri wajah kesal pria bajingan itu. Pintu dibuka oleh kepala pelay

  • Anchia (Dendam Yang Belum Usai)   BAB 13

    BAB 13 Tok! Tok! “Yang Mulia, ini saya Fagos.” “Masuklah.” Lukas berbalik ke arah pintu setelah mempersilakan Fagos untuk masuk. “Bagaimana?” Fagos mengangguk. “Seperti yang Anda katakan. Ada transaksi mencurigakan di pelabuhan pada kapal yang berlayar dari Osirus.” Lagi-lagi benar. Lukas tidak meragukan apa yang dikatakan oleh Anchia, tetapi ia langsung berangkat ke Pelabuhan Utara demi membuktikan bahwa informasi yang dikatakan oleh Anchia itu benar. Dengan begitu Lukas bisa percaya tentang Valecia Frederika. Informasi yang dikatakan oleh Anchia itu akurat. Beruntungnya Lukas, tempat ini tak sampai memakan perjalanan berhari-hari dari ibukota. 2 hari perjalanan dari ibukota, mereka sudah sampai ke pelabuhan. Setelah memastikan kebenarannya, Lukas harus membereskan orang-orang ini dan segera kembali ke ibukota. Lukas melirik undangan yang ada di nakas tempat tidur. Ia harus menghadiri debut Valecia Frederika di kediaman Frederika. Atau bisakah disebut sebagai debut Anchia?

  • Anchia (Dendam Yang Belum Usai)   BAB 12

    BAB 12 Oh, sungguh pertanyaan yang berbahaya, pikir Anchia. Tetapi justru pertanyaan itulah yang membuat Anchia ingin berteriak dan menari dengan girang karena berhasil memancing sisi bejat dari Orlando. Terlihat sekali mata pria itu dipenuhi kobaran ambisi. “Ha~” Anchia menghela napas dengan sengaja, memberikan wajah sedih pada Orlando. “Kekaisaran ini bisa punah jika Baginda tidak kunjung menunjuk putra mahkota.” Orlando menatap Anchia dengan tajam. Mungkin ada perasaan tidak suka dari pria itu karena berpikir kalau rakyat jelata tidak pantas mengatakan kalimat tersebut. “Saya harap Anda bisa menjadi kaisar di masa depan, Yang Mulia,” kata Anchia kemudian. Sepulang dari sini ia akan memuntahkan isi perutnya karena kalimat menjijikkan ini. “Orang baik seperti Anda harus memimpin kekaisaran.” Tiba-tiba saja tawa bahagia kelua

  • Anchia (Dendam Yang Belum Usai)   BAB 11

    BAB 11 Anchia duduk berhadapan dengan Canes Venatici. Ia masih belum membuka percakapan. Entah kenapa rasanya pria itu sekarang punya aura yang berbeda dengan Canes tempo hari. Bukan karena penampilannya yang lebih santai, tetapi pria ini tak setajam sebelumnya. Apa karena dia merasa sudah bertemu dengan Anchia sebanyak 2 kali makanya lebih memilih untuk melonggarkan diri? “Saya tidak menyangka Anda akan datang lagi dalam waktu singkat,” kata Canes. “Elijah bilang Anda butuh bantuan mendesak.” Anchia menatap Canes sebentar dan membuka tudung jubahnya. Pria itu agak terkejut yang justru membuat Anchia heran. Tidak hanya nada bicaranya yang sedikit melembut, tetapi dia juga heran pada penampilan Anchia? Padahal mereka sudah bertemu dua kali. “Saya butuh sedikit bantuan.” Anchia mengulurkan kontrak kepemilikannya atas Valank pad

  • Anchia (Dendam Yang Belum Usai)   BAB 10

    BAB 10Anchia tersenyum saat mendorong pintu kedai untuk masuk. Ia sengaja datang terlambat agar Silfah gelisah menunggu dalam pemikiran apa ia akan datang atau tidak. Benar saja. Pria itu sudah duduk menunggu di meja pertemuan pertama mereka.“Selamat malam, Silfah,” sapa Anchia dari balik jubahnya yang menutupi wajah. “Apa aku terlambat?”Mata Anchia dengan tajam melihat ke meja. Ada 2 gelas minuman. Yang satu kosong dan satunya lagi sisa setengah. Silfah sudah menunggu dalam gelisah sampai harus meredakan perasaannya dengan minum bir.“Ah, apa kau mabuk? Kalau begitu kita tidak akan bisa bicara. Kita jadwalkan lain kali saja.” Anchia bersiap untuk berbalik dan hendak pergi untuk mengetes kesadaran Silfah, tetapi ia tahu kalau pria itu tidak bisa melewatkan kesempatan ini.“Saya menerima tawaran Anda, Nona!” Silfah mencekal tangan Anchia.Anchia melihat ke arah pergelangan tangan dengan pandangan tajam. Ia tahu kalau Silfah tidak mabuk. Ia bahkan tahu kalau pria itu tak akan melewat

  • Anchia (Dendam Yang Belum Usai)   BAB 9

    BAB 9Iren menghela napas, menutup pintu kamar Anchia. Sudah 2 minggu sejak Anchia tiba-tiba bangun dan menangis kencang memeluknya. Setelah itu Anchia berubah drastis. Saat ditanya, wanita itu hanya bilang kalau pernah mimpi buruk tentang kematiannya dan Iren. Dari itu tiba-tiba saja Anchia memutuskan untuk berubah.Dia selalu keluar larut malam yang Iren sendiri tidak tahu Anchia pergi ke mana. Ditambah lagi beberapa kali Anchia memintanya melakukan sesuatu yang aneh. Iren tidak curiga. Bagaimanapun ia ada di sini untuk mendukung Anchia apa pun yang ingin dilakukan wanita itu. Karena mereka hanya memiliki satu sama lain di kediaman Frederika yang asing ini. Anchia pun dengan jelas meminta Iren menjadi orangnya.Apa pun yang dilakukan Anchia nanti, Iren ingin jadi orang pertama yang mendukung dan membelanya. Meski ia terkejut setengah mati melihat ada 2 pria asing yang masuk ke kamar Anchia. Lalu wanita itu hanya memberikan penjelasan singkat bahwa kedua orang itu juga akan jadi ora

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status