LOGINBAB 7
“Luke Kaelon Von Sirius, putra mahkota kekaisaran Sirius. Putra kaisar yang hilang itu kemungkinan masih hidup. Murid didikan Pyrus Venatici masih hidup setelah selamat dari kecelakaan kereta saat dia berusia enam tahun.” Lukas memandang kepergian Anchia dari jendela ruang kerjanya itu. Wanita itu berjalan tanpa menoleh ke belakang sama sekali. Ucapan terakhirnya benar-benar membuat Lukas membeku. Ia hampir secara spontan bergerak untuk mencekik wanita itu sampai mati. “Yang Mulia?” panggil Elijah yang baru saja masuk ke ruangan Lukas. “Sepertinya pembicaraan Anda cukup panjang.” Cahaya sihir meliputi tubuh Lukas. Menghilangkan tampilan Canes Venatici yang berambut biru gelap dan mata hitam. Kembali pada tampilan asli Lukas yang berambut merah gelap dan bermata keemasan. “Elijah.” Lukas menoleh pada wanita yang berlutut di tengah ruangan itu. “Apa namaku masih disebut-sebut oleh orang-orang belakang ini?” Elijah mengangkat kepala. “Sudah tidak ada lagi yang menyebut nama Anda lebih dari belasan tahun, Yang Mulia.” “Wanita itu menyebut namaku,” kata Lukas yang sekali lagi melihat ke luar jendela dan ternyata Anchia sudah menghilang. “Dia tahu kalau Luke Kaelon Von Sirius masih hidup.” “Tidak mungkin!” Elijah berteriak, lalu bangkit berdiri. Raut ketidakpercayaan terpancar dari wajahnya. “Anda sudah melalui kematian setidaknya dua kali. Orang-orang pasti menganggap Anda sudah mati.” Benar. Harusnya begitulah yang dipercayai oleh orang-orang kekaisaran Sirius sampai detik ini. Begitu juga sepupu bajingannya, Orlando Tierry. Dia adalah orang yang paling ingin membunuh Luke Kaelon Von Sirius agar bisa menjadi putra mahkota. Putra mahkota pernah nyaris mati saat berusia 6 tahun dalam perjalanan diplomasi bersama mendiang Marquess Pyrus Venatici ke selatan. Kereta yang mereka naiki terempas dan jatuh ke jurang. Dengan keajaiban putra mahkota itu masih selamat, tetapi Pyrus yang adalah gurunya mati di tempat. Kemudian di usia 13 tahun, putra mahkota juga hampir mati dalam persembunyiannya yang diketahui oleh salah satu orangnya Tierry. Dia ditembak dengan panah beracun dan nyaris mati. Kemudian menghilang sampai sekarang. Tidak benar-benar menghilang. Luke hidup sebagai Lukas di kekaisaran. Menyamar dengan harta kekaisaran, yaitu artefak penyamaran. Dari itulah Lukas mengenal artefak milik Anchia. Benda itu mirip dengan artefaknya yang hilang 7 tahun lalu di daerah selatan saat ia nyaris mati. Selain hidup sebagai Lukas, ia juga menggantikan peran dari sahabat baiknya, Canes Venatici yang lebih memilih menjadi agen guild informasi karena hobinya mengembara. Setelah 7 tahun berlalu dan orang-orang di kekaisaran mengira Luke benar-benar mati, sekarang tiba-tiba muncul wanita yang memintanya untuk mencari putra mahkota yang masih hidup itu. Apa yang harus Lukas cari? Ia tidak bisa mencari dirinya sendiri. Ia mungkin mati bagi orang-orang, tetapi Lukas hanya menunggu waktu untuk kembali ke istana demi menyelamatkan kekaisaran dari Frederika dan Tierry. Makanya Lukas lebih aktif untuk memukul semua organisasi sampah yang ada di Sirius. Karena ketika ia menjadi kaisar nanti, sampah tidak berguna akan segara dihabisi agar tak memperburuk pandangan. “Berapa usia pelanggan baru kita?” tanya Lukas pada Elijah. “Mungkin sekitar tujuh belas tahun, Yang Mulia. Anda mau saya mengawasinya?” “Tidak usah.” Lukas mengangkat tangan. “Jaga saja agar Fagos tidak tahu bahwa ada orang lain yang tahu aku masih hidup.” Karena jika pria itu tahu, mungkin demi kelancaran rencana kembalinya Lukas ke istana, Fagos bisa memburu Anchia yang saat ini keberadaannya sangat jelas. Harus ada orang yang memberitahu wanita itu kalau punya banyak informasi bisa membuatnya dalam bahaya. “Kirim pesan pada Canes. Aku punya misi yang harus dilakukan,” kata Lukas. “Permintaan dari klien.” Sebenarnya permintaan pertama Anchia juga bagus untuk Lukas. Jika Anchia memang benar bahwa Valecia ada yang asli dan mereka berhasil mendapatkan lokasi keberadaan wanita itu, Lukas bisa langsung memukul Frederika dengan vonis penipuan kekaisaran. Itu cukup bagus juga. Tidak masalah. Mari lakukan misi pertama lebih dulu karena misi kedua dari Anchia, wanita itu tak menuntut untuk dilakukan karena dia sendiri sebenarnya tidak yakin. Siapa sebenarnya Anchia yang berwajah Valecia Frederika itu? *** Anchia baru masuk ke kamarnya setelah melewati malam yang berat dengan menghadapi Silfah Valank dan Canes Venatici sekaligus. Tetapi begitu sampai di rumah ia malah lebih terkejut lagi karena tiba-tiba ada orang yang berdiri di tengah kamarnya yang tanpa penerangan. Semua penerangan sengaja dipadam oleh Iren pertanda bahwa Anchia sudah tidur. Namun, bukan berarti harus ada pembunuh bayaran yang masuk mendekatinya. “Siapa kalian?” tanya Anchia yang belum berubah wujud menjadi Valecia. Bisa gawat jika orang-orang ini melihatnya dalam tampilan Anchia. “Makan.” “Ha?” Anchia ternganga ketika kedua orang itu mendekat dan jatuh di bawah kakinya. Mereka ini kan .... “Mau daging!” Kyahhh! “Apa yang kalian lakukan di sini?” Anchia nyaris ikut berteriak ketika menyadari kedua orang yang berada di kakinya itu. “Aku sudah minta kalian untuk pergi!” Pria kembar Aquilla yang tempo hari Anchia beli dari Rodeo. Kenapa mereka bisa sampai di sini? Padahal Anchia sudah menyuruh mereka untuk kembali ke gurun tempat asal mereka. “Kami tidak bisa pergi, kami butuh makan,” jawab salah satu dari mereka. “Anda harus bertanggung jawab sebagai majikan.” Anchia meraup wajahnya saking lelah. Namun, tidak lama berselang pintu kamarnya terbuka dan membuat kembar Aquilla itu waspada. “Anchia, kau sudah pulang?” Iren masuk ke kamar dan menutup pintu. Berjalan pelan ke arah meja tengah untuk menyalakan pencahayaan. Betapa terkejutnya wanita itu menemukan Anchia yang tidak dalam wujud Valecia bersama dua pria yang memegangi kakinya. “Aku bisa jelaskan, Iren,” Anchia menghela napas. “Pertama-tama. Bisakah kau ambilkan aku beberapa porsi makanan? Anak-anak ini kelaparan.” “Anak-anak?” Iren ternganga melihat pada telunjuk Anchia yang mengarah ke bawah. Dari mana kedua pria itu bisa dilihat sebagai anak-anak? “Anchia, kau harus jelaskan padaku.” Anchia mengangguk. “Cepatlah.” “Ibu tiri,” gumam salah satu Aquilla sambil menatap tajam pada Iren. “Dia galak.” “Apa?” Iren maju dan merasa bisa meledak jika sekali lagi mendengar kalimat ejekan yang sama untuknya itu. “Iren, nanti saja.” Anchia merentangkan tangannya untuk mencegah pertengkaran yang tidak perlu. Ia sudah lelah setengah mati dan ingin tidur agar kepalanya yang panas bisa mendingin lagi. Karena melihat Anchia yang benar-benar lelah, Iren meninggalkan kamar untuk mengambil apa yang Anchia mau. Sepeninggalan wanita itu, Anchia langsung mencari sofa terdekat dan menjatuhkan tubuhnya. “Sekarang kenapa kalian bisa ada di sini? Aku kan minta kalian melepaskan semua tawanan di rumah lelang,” kata Anchia sambil menatap tajam dengan pandangan rendah pada kedua pria yang masih duduk di lantai itu. “Kami melakukannya,” kata kembar Aquilla yang berambut panjang. “Kami pulangkan mereka.” “Lalu kenapa kalian tidak ikut?” “Kami harus melindungi master,” jawab yang satunya dengan tegas. Yang berambut panjang pun mengangguk-angguk beberapa kali. “Anda harus beri makan kami.” Ini merepotkan, pikir Anchia. Ia tidak menyangka bahwa keputusan spontannya itu akan merepotkan begini. “Jadi, setelah kuberi makan, kalian akan pergi?” tanya Anchia lagi. Sekali lagi menghela napas. “Kami akan ....” “... lindungi Master.” Kening Anchia berkerut. Melindunginya? Apa itu berarti kedua orang ini bisa jadi pengawal rahasia Anchia? Benar juga. Di gurun, ras Aquilla juga terkenal sebagai ras terkuat yang isinya dipenuhi oleh petarung. Mereka berdua ini bisa jadi pengawal yang bagus jika Anchia keluar rumah. Mereka bisa melindunginya dari jarak aman. Tetapi kalau mereka kuat, kenapa bisa tertangkap oleh Frederika? Anchia benar-benar baru mengingatkan. Aquilla ras kuat tanpa sihir. Mereka kuat pada fisiknya saja, tetapi tidak punya aliran energi yang bisa digunakan sebagai sihir. Sedangkan Frederika dan Tierry selalu menggunakan sihir yang kuat untuk menangkap mangsa. Mereka itu sampah berengsek. “Kedengarannya tidak buruk juga,” gumam Anchia. Ia bisa merasa aman jika keluar sendirian di malam hari untuk melancarkan rencananya yang masih baru berjalan. “Kalau begitu aku kan memberi makan kalian. Sebagai gantinya berikan nyawa kalian untuk melindungiku tetap aman.” Kedua Aquilla itu langsung mengangguk tegas. “Siapa nama kalian?” “Sion,” jawab Aquilla yang berambut panjang. “Jiel,” jawab Aquilla yang berambut pendek. Dengan adanya perbedaan rambut mereka, Anchia jadi lebih mudah mengenalinya. Rambut mereka memiliki warna cokelat pirang, mirip dengan bulu elang muda. Seperti nama ras mereka. Meski mata mereka yang hitam pudar itu mirip orang buta, tetapi tatapan mereka setajam mata elang. Apalagi mungkin mereka ini punya kemampuan untuk melihat masa depan atau menggali masuk ke masa lalu seseorang. Namun, untuk sekarang Anchia lebih butuh mereka sebagai pendeteksi bahaya. “Seharusnya kalian tahu kalau tempat sampah itu milik Duke Rodigo Frederika. Tapi aku akan urus itu nanti untuk kalian.” Anchia tersenyum lebar dan membungkuk sambil mengulurkan kedua tangannya pada pria-pria itu. “Mulai sekarang, mohon bantuannya Sion dan Jiel.”BAB 47 Mendengar kata 'Panhagant' tersebut, mendadak saja raut wajah Elijah jadi agak suram. Wanita itu keluar dari balik meja bar dan mengisyaratkan pada Lukas bahwa mereka harus naik ke atas untuk membicarakan hal yang dipertanyakan oleh Anchia. Mendapati isyarat tersebut, Anchia berdiri dari duduknya dan melihat Lukas. Mereka bertiga tanpa suara pun naik ke lantai atas melalui panel rahasia di dinding seperti biasa. Dalam diam saling mengekori hingga masuk ke ruang kerja. Rupanya di ruangan itu ada Canes yang sedang berbaring santai di sofa sambil membaca sebuah catatan. Melihat Lukas, Anchia, dan Elijah masuk, pria itu langsung duduk dan mengayunkan kertas. “Ada laporan dari Bris,” kata Canes langsung tembak. “Fiona akan bergerak ke Panhagant.” Elijah melirik Anchia. Rupanya karena hal itu Anchia bertanya mengenai Panhagant? “Wanita itu akan pergi ke Panhagant untuk mencari seseorang. Saya mendengarnya dari Orlando,” kata Anchia kemudian. Lukas sudah menatapnya. “Dari i
BAB 46 “Selamat malam, Elijah.” Anchia masuk ke bangunan Venatici dan langsung menghampiri bar. Menyapa wanita yang biasa menyambutnya sambil membuka tudung jubah. Meski begitu Anchia tidak bisa tersenyum dengan gamblang entah kenapa. Ia hanya merasa bahwa dirinya yang sebagai Anchia adalah perwujudan sebuah dendam. Sebelum dendam itu usai, mungkin Anchia tak akan bisa tersenyum atau tertawa dengan bebas tanpa sandiwara. “Anda datang lebih awal. Pasti banyak yang ingin dibicarakan.” Elijah tersenyum manis pada Anchia yang baru saja duduk di salah satu kursi bar. Menyodorkan segelas jus yang baru saja dituangkannya untuk Anchia. “Minumlah dulu atau Anda mau langsung ke atas sekarang?” “Terima kasih. Saya akan ke atas setelah minum.” Anchia mengangguk. “Tapi ada sesuatu yang ingin saya tanyakan dulu pada Elijah.” Sejenak Elijah mengerutkan kening. Tidak pernah sebelumnya Anchia menanyakan pertanyaan pribad
BAB 45“... karena sejak awal juga anak itu adalah pilihan Valecia.”Kalimat itu masih membekas di ingatan Anchia. Bahkan setelah ia berdiri di balkon kamarnya dan melihat kepergian Orlando tanpa pria itu berniat menyapa tunangan palsunya. Tangan Anchia terkepal lagi di atas pembatas balkon yang terbuat dari pualam itu.Di kehidupan sebelumnya bahkan sampai saat ini Anchia selalu bertanya-tanya kenapa dirinya yang dipilih oleh Rodigo untuk menggantikan posisi Valecia. Padahal Anchia hanya anak jalanan yang tidak berpendidikan. Ia bahkan tidak anggun sama sekali. Keahlian Anchia adalah memungut rerumputan dan sesekali mencuri kalau lapar.Ternyata memang sejak awal Vale sudah mengincar Anchia. Tetapi ... kenapa?Di mana Anchia bisa mencari jawaban untuk hal ini selain bertanya langsung pada Valecia. Wanita jahat itu tidak akan tiba-tiba baik hati dan memberitahu Anchia alasan kenapa memilihnya untuk bersandiwara.“Chia?” Iren memanggil dengan lirih sambil menyentuh pundak Anchia.“Aku
BAB 44“Sepertinya suasana hati Anda sedang bagus.” Elijah meletakkan minuman di depan Lukas yang baru saja kembali entah dari mana. Yang jelas pasti ada sesuatu yang terjadi. Sebab sudah hampir beberapa tahun terakhir ia tidak pernah melihat tuannya itu berwajah sesenang sekarang.Bukan berarti Lukas selalu terlihat murung. Hanya saja hampir beberapa tahun setelah memutuskan membangun serikat informasi ini, Lukas sudah tidak lagi menunjukkan wajah bahagia. Mungkin lebih tepatnya setelah hampir mati terakhir kali.Elijah turut senang.“Begitulah,” jawab Lukas seadanya.“Anda sudah berbaikan?” Elijah memunggungi Lukas untuk mengelap kembali gelas-gelas minuman yang basah. Untuk sekarang hanya tugas itu yang bisa Elijah kerjakan dari balik meja bar.Senyum di wajah Lukas sedikit surut karena perkataan Elijah. “Yah, kami tidak bertengkar sebenarnya. Hanya sedikit salah paham saja. Tetapi tidak apa-apa.”Elijah tertawa, lalu kembali berbalik pada Lukas. Dengan lekat menatap tuannya itu sa
BAB 43 “Nah, Anchia. Bagaimana kau tahu bahwa di balik cangkang Canes itu adalah diriku?” Anchia mendengkus. Ternyata memang Lukas masih penasaran bagaimana caranya Anchia bisa tahu bahwa Lukas dan Canes adalah orang yang berbeda. “Anda dan Marquess punya aura yang berbeda. Mudah saja. Saya lebih sering berbicara pada Anda ketimbang orang lain di sana. Tiba-tiba aura Anda yang dominan dan berat itu berubah. Lalu itu terjadi beberapa kali.” “Tapi bukan berarti kau tahu itu aku,” bantah Lukas. “Benar.” Anchia mengangguk. “Jika saja Anda tidak muncul di tengah kota hari itu, mungkin saya masih bisa mengira bahwa perbedaan aura itu adalah hal yang biasa terjadi. Anda tahu bahwa aura yang Anda miliki tidak dimiliki orang lain bahkan oleh Grand Duke Tierry.” Kening Lukas berkerut. “Tidak semua orang memiliki aura kepemimpinan. Bahkan satu-satunya orang yang setara dengan
BAB 42“Anda akan pergi sekarang?” Iren melihat ke arah jendela yang matahari masih terang. Masih paruh sore untuk di bilang malam. Tidak biasanya Anchia akan keluar di jam begini sejak beberapa bulan terakhir. “Duke akan kembali beberapa jam lagi, Nona.”Anchia mengabaikan Iren dan terus mengganti pakaiannya dengan gaun biasa yang sering dipakainya untuk keluar sebagai Anchia. Setelah itu mengenakkan jubah. Sejenak Anchia melirik pada Iren dan berubah wujud menggunakan artefak.“Jika Duke bertanya, bilang saja aku tidak enak badan,” jawab Anchia sambil menutup kepalanya dengan jubah. “Kali ini Jiel yang akan menyamar menjadi aku dan tidur saja di ranjang.”Tepat ketika Anchia menyebut nama Jiel, pria itu masuk melalui pintu penghubung balkon bersama Sion. Karena sedikit kebingungan Jiel menoleh pada Sion, sejenak saling pandang.“Sion akan pergi bersamaku,” kata Anchia sambil tersenyum pada Sion. Ia juga belum bilang kerja bagus atas tugas sebelumnya, mengantarkan pesan untuk Lukas.







