MasukPagi itu, cahaya matahari masuk malu-malu lewat celah gorden kamar Nayla. Sinar keemasan yang biasanya terasa hangat kini justru menyakitkan, seakan mengejek hati yang belum pulih dari luka semalam. Matanya masih sembab, kantuk belum sepenuhnya hilang, tapi pikirannya terus dipenuhi bayangan Elhan—wajahnya yang dingin, tatapannya yang menahan perasaan, dan kata-kata terakhirnya yang membekas seperti sayatan.
Nayla bangun dengan tubuh berat. Kakinya sempat goyah ketika menapak lantai dingin. Ia meraih ponsel di meja kecil di samping ranjang, layar itu kosong, tanpa pesan baru. Tidak ada nama Elhan. Tidak ada sapaan yang biasanya jadi penghibur setiap pagi. “Bahkan ‘selamat pagi’ pun sudah nggak ada,” bisiknya lirih, suara seraknya masih bercampur dengan sisa tangisan. Ia menarik napas panjang, lalu berjalan ke depan cermin. Wajahnya tampak pucat, matanya bengkak. Tangannya refleks meraih bedak tipis dan lip balm yang tersisa di meja rias, mencoba menutupi bekas luka emosional dengan lapisan tipis kosmetik. Namun, sekilas pun ia tahu, itu tidak akan cukup. Ketukan lembut terdengar di pintu kamar. “Nayla, sayang… sudah bangun?” suara ibunya terdengar dari luar, lembut tapi penuh kewaspadaan. “Iya, Bu. Lagi siap-siap,” jawab Nayla singkat. Ia mencoba menguatkan nada suaranya agar terdengar normal, tapi getarannya tetap tak bisa sepenuhnya disembunyikan. Begitu pintu dibuka, ibunya masuk sambil membawa segelas susu hangat. Mata sang ibu langsung menangkap kondisi wajah Nayla. “Kamu habis begadang, ya? Mata kamu bengkak banget, Nak.” Nayla menunduk cepat, menyembunyikan wajahnya. “Nggak, Bu. Cuma… susah tidur aja.” Ibunya menatapnya lekat-lekat, tapi tidak mendesak. Ia hanya meletakkan susu di meja belajar, lalu menepuk bahu putrinya pelan. “Jangan terlalu dipaksakan. Kadang, yang berat di hati butuh waktu sendiri untuk reda. Minum ini dulu, ya.” Nayla mengangguk, meski hatinya semakin terasa sesak. Ia ingin bercerita, ingin menangis di pelukan ibunya, tapi lidahnya kelu. Bagaimana bisa ia mengungkapkan bahwa laki-laki yang begitu ia cintai kini terhalang oleh restu yang tidak pernah datang? Sepulang kuliah, Nayla sengaja memperlambat langkahnya di koridor kampus. Suasana ramai tidak mampu mengusir kekosongan dalam dirinya. Teman-temannya sibuk bercanda, tertawa keras, tapi ia hanya merasakan jarak. Setiap suara tawa terdengar seperti gema yang asing. Tiba-tiba, ia mendengar suara yang terlalu familiar. “Elhan, nanti malam jadi, kan?” suara seorang teman lelaki terdengar tidak jauh. Nayla menoleh refleks. Dan di sana, beberapa meter di depannya, ia melihat sosok yang tak pernah lepas dari pikirannya—Elhan. Ia tampak berdiri dengan postur tegap, mengenakan kemeja sederhana yang membuatnya terlihat dewasa. Namun tatapannya kini asing. Ia berbicara singkat, sekilas menoleh, lalu pandangan mereka bertemu. Sejenak dunia berhenti. Hanya ada dua pasang mata saling menatap, tanpa kata. Nayla merasakan dadanya kembali bergetar. Ada luka yang mendesak keluar, tapi juga kerinduan yang terlalu besar untuk disangkal. Elhan mengalihkan pandangan lebih dulu, berpura-pura sibuk dengan percakapan. Itu lebih menyakitkan daripada jika ia benar-benar mengabaikan Nayla sejak awal. Langkah Nayla melemah. Ingin rasanya ia berlari menghampiri, bertanya kenapa mereka harus sejauh ini hanya karena satu kata: restu. Namun, tubuhnya seakan terkunci, dan hatinya dipaksa belajar menahan diri. Di kamar malam itu, Nayla kembali duduk di meja belajarnya, menatap kosong buku catatan terbuka. Pena di tangannya berhenti, hanya mencoret kata-kata tanpa makna. Namun akhirnya, satu kalimat lahir, tertulis di kertas dengan tulisan yang bergetar: “Kenapa cinta harus kalah sebelum sempat berjuang?” Tangannya berhenti. Air mata menetes, membasahi tinta yang belum kering. Ia menutup buku itu cepat-cepat, menyembunyikan kepedihan yang semakin tak tertahankan. Namun jauh di lubuk hatinya, ada bisikan lirih: Cinta ini belum selesai. Tidak akan pernah benar-benar selesai. Hari-hari berikutnya terasa berjalan lambat, seperti waktu sengaja mempermainkan Nayla. Di setiap sudut kampus, seolah ada bayangan Elhan. Di koridor, di kantin, bahkan di perpustakaan yang biasanya jadi tempat tenangnya. Namun kini, tempat itu terasa asing. Sore itu, ia duduk di antara deretan rak buku, mencoba menenangkan hati dengan membaca. Buku di tangannya terbuka, tapi matanya hanya terpaku pada halaman kosong. Kata-kata tak lagi bermakna, karena pikirannya terus kembali pada tatapan Elhan yang dingin tempo hari. Suara langkah mendekat. Nayla terkejut ketika melihat Raka—teman sekelasnya yang cukup dekat—tiba-tiba ikut duduk di hadapannya. “Kamu kenapa, Nay?” Raka bertanya dengan suara tenang, sambil menaruh beberapa buku tebal di meja. “Akhir-akhir ini kamu kayak… hilang. Beda banget.” Nayla buru-buru menggeleng. “Nggak apa-apa. Cuma capek kuliah.” Raka menatapnya tak percaya. “Aku tahu kamu bukan tipe yang gampang down karena tugas. Kamu kelihatan… sedih. Ada masalah, ya?” Nayla terdiam. Ia ingin bercerita, tapi kata-kata seperti terhenti di tenggorokan. Bagaimana bisa ia menjelaskan, ketika luka itu terlalu pribadi, terlalu rumit? “Kalau kamu butuh teman cerita, aku ada,” lanjut Raka dengan tulus. “Nggak usah dipendam sendiri. Kadang, ngomong aja bisa bikin hati lebih ringan.” Ucapan itu membuat dada Nayla sedikit hangat. Namun sebelum ia sempat menjawab, matanya tanpa sengaja menoleh ke arah pintu perpustakaan. Elhan berdiri di sana, seolah mencari sesuatu. Tatapan mereka kembali bertemu. Tapi kali ini berbeda—ada seberkas luka di mata Elhan, walau ia cepat-cepat menunduk. Nayla refleks menarik napas panjang, tangannya bergetar. Raka menyadari perubahan itu. Ia mengikuti arah pandangan Nayla, dan matanya sempat menangkap sosok Elhan yang berjalan pergi dengan cepat. “Oh…” Raka bergumam pelan. Seperti menemukan jawaban dari teka-teki yang sejak tadi ia pertanyakan. Malam harinya, Nayla berbaring di ranjang, lampu kamar sudah dipadamkan. Tapi matanya tak juga terpejam. Bayangan siang tadi masih jelas: Elhan yang hanya berani menatap sekilas, lalu menghilang. Seakan jarak di antara mereka bukan sekadar ruang, tapi tembok yang tak bisa ditembus. Tangannya meraih ponsel, membuka kotak pesan yang kosong. Berulang kali ia mengetik kata “Aku kangen”, lalu menghapusnya. Mengetik lagi, menghapus lagi. Hingga akhirnya, layar hanya menampilkan cahaya redup, tanpa keberanian untuk benar-benar mengirim. Air mata kembali mengalir, jatuh membasahi bantal. Hatinya terasa terhimpit, tapi ia masih menolak untuk menyerah. Dalam hatinya, Nayla berbisik: “Elhan… meskipun kamu menjauh, aku tetap percaya, cinta ini nggak mungkin benar-benar mati. Suatu hari, entah kapan, entah bagaimana, aku yakin kita bakal menemukan jalan.” Di luar jendela, angin kembali berembus. Lembut, namun membawa dingin. Seakan semesta sengaja memperdengarkan suara yang sama—suara perpisahan yang belum selesai. Keesokan harinya, hujan turun sejak pagi. Butiran air menempel di kaca jendela kelas, membentuk pola tak beraturan. Suara rintiknya seperti musik melankolis yang seolah diciptakan khusus untuk hati Nayla. Ia duduk di bangku belakang, kepalanya bersandar pada telapak tangan. Matanya kosong menatap keluar jendela, mengikuti jejak air yang berlomba jatuh. “Lagi-lagi melamun,” suara Arini, sahabatnya, memecah sepi. Ia duduk di sebelah Nayla, lalu menyikut pelan lengannya. “Sejak kapan kamu suka banget mandangin hujan gini? Biasanya kamu paling semangat ngajakin aku ngobrol pas kelas bosenin begini.” Nayla tersenyum tipis, tapi jelas dipaksakan. “Aku cuma capek.” “Capek?” Arini mengangkat alis. “Atau… patah hati?” Ucapan itu membuat Nayla menoleh cepat. Jantungnya berdegup kencang. Namun Arini hanya menatapnya dengan tatapan penuh rasa ingin tahu, tanpa maksud mengejek. “Aku sahabatmu, Nay. Kamu nggak perlu pura-pura kuat kalau lagi rapuh,” ujar Arini lembut. Nayla membuka mulut, tapi tak ada kata yang keluar. Ia menunduk, menahan gejolak yang tiba-tiba muncul. Rasanya ingin menangis, tapi ia takut runtuh di depan orang banyak. Sementara itu, dari pintu kelas, Elhan masuk dengan langkah tenang. Seragamnya basah di bagian bahu, entah karena lupa bawa payung atau sengaja membiarkan dirinya diguyur hujan. Seisi kelas menoleh. Tapi Nayla menunduk semakin dalam, pura-pura sibuk menulis catatan di buku. Ia bisa merasakan detak jantungnya makin kencang, seolah ingin melompat keluar. Elhan duduk di bangku yang tak jauh dari mereka. Tatapannya sekilas melirik ke arah Nayla—singkat, cepat, tapi cukup untuk membuat Nayla kembali sesak. Arini yang jeli segera menangkap perubahan itu. Matanya bergeser dari Nayla ke Elhan, lalu kembali lagi ke Nayla. Ada pertanyaan yang tak terucap di matanya, tapi Nayla tak sanggup menjawab. Saat bel istirahat berbunyi, kelas riuh dengan suara kursi yang bergeser. Arini beranjak lebih dulu, menawarkan untuk menemani Nayla ke kantin. Namun Nayla menolak dengan alasan ingin tetap di kelas. Begitu kelas sepi, Nayla berdiri, berjalan ke jendela, dan kembali menatap hujan. Ada perasaan aneh—seperti dirinya terjebak di antara dua dunia: satu yang ingin tetap bertahan, dan satu lagi yang dipaksa melepaskan. Suara langkah mendekat. Nayla tersentak ketika menyadari Elhan kini berdiri tak jauh darinya. Udara seketika berubah—hening, tapi penuh ketegangan yang tak terlihat. “Kamu masih suka hujan, ya?” Elhan membuka suara. Suaranya rendah, hampir tertelan oleh gemericik di luar sana. Nayla menggigit bibir, menahan tangis yang hampir pecah. “Kenapa kamu harus ngomong ke aku seolah nggak ada yang berubah?” Elhan terdiam. Sorot matanya bergetar, seakan ada banyak kata yang ingin ia ucapkan tapi tertahan. “Karena sebenarnya… buat aku, nggak ada yang berubah.” Nayla menoleh, matanya berkaca-kaca. “Tapi kamu ninggalin aku.” Elhan menarik napas panjang, tangannya mengepal. “Kadang, mencintai berarti harus pergi… demi orang yang kita cintai.” Kata-kata itu membuat Nayla hampir runtuh. Ia ingin marah, ingin berteriak, ingin memaksa Elhan untuk tetap tinggal. Tapi lidahnya kelu, kakinya gemetar. Hening itu hanya bertahan sebentar sebelum Elhan melangkah pergi lagi. Menyisakan Nayla sendirian, dengan hati yang kembali digerus angin. Dan di luar sana, hujan turun lebih deras—seperti ikut menangis bersama mereka.Sam tidak pernah menyangka bahwa keputusannya menerima tawaran kerja sama jangka panjang dari Elhan semalam akan membuat kepalanya penuh semalaman. Bukannya gelisah… tapi terlalu banyak hal yang ikut berputar bersamaan. Antara profesional dan personal, antara kepercayaan dan keberanian, antara dirinya yang dulu dan dirinya yang mulai berubah sekarang. Pagi ini, Sam masuk kantor dengan napas yang terasa lebih mantap dari biasanya. Banyak beban yang secara perlahan terangkat. Mungkin karena untuk pertama kalinya dalam hubungan mereka—apa pun ini nanti disebut—Elhan memberi kepastian yang konkret. Bukan hanya kata-kata, tapi tindakan yang nyata. Saat Sam melewati koridor lantai tujuh, ia melihat—seperti sudah menjadi kebiasaan baru—ruang kerja Elhan pintunya sedikit terbuka. Lampu di dalam sudah menyala. Elhan sudah datang. Sam berniat langsung ke mejanya… tapi Elhan memanggil dari
Sam rasa hidupnya berubah terlalu cepat dalam beberapa minggu terakhir. Bukan perubahan yang membuatnya terengah–engah, tapi perubahan yang justru membuatnya… bernapas lebih nyata. Tidak sesak. Tidak menunggu badai datang.Perubahan yang sebagian besar—disengaja atau tidak—gara-gara Elhan.Pagi itu, Sam sudah di kantor lebih awal. Biasanya dia datang mepet jam, tapi sejak bekerja dekat dengan Elhan akhir–akhir ini, ia mulai menata ulang ritme hidupnya. Tidak dipaksa, tapi seperti tubuhnya sendiri yang mendorongnya bergerak lebih rapi.Ia sedang membuka laptop ketika seseorang mengetuk pintu.“Masuk.”Pintu terbuka, dan Elhan muncul. Dengan kemeja abu gelap, lengan tergulung, rambut sedikit acak tapi entah kenapa tetap enak dipandang.Sam mengerutkan dahi. “Kamu biasanya nggak datang sepagi ini.”“Ada rapat jam sembilan.” Elhan menutup pintu. “Dan aku mau bicara dulu sama kamu.”Sam langsung waspada. “Tentang apa
Ada hal-hal yang tidak pernah Sam kira akan ia alami seperti duduk bersebelahan dengan Elhan di ruang kerja kecilnya sambil sama-sama membaca laporan, tetapi tanpa ada jeda canggung di antara mereka. Padahal dulu, kedekatan lima menit saja bisa membuat seluruh tubuh Sam tegang. Sekarang? Tenang. Tidak sepenuhnya santai—Elhan terlalu… intens untuk membuat seseorang santai sepenuhnya—tapi nyaman dengan cara yang membuat Sam heran pada dirinya sendiri.Elhan membaca cepat, menandai beberapa catatan di tablet, lalu mencondongkan tubuh sedikit. “Yang ini perlu direvisi. Formatting-nya kacau.”Sam mengangguk. “Kau sudah periksa bagian belakang?”“Sudah,” jawab Elhan tanpa melihat. “Tinggal ini.”Mereka bekerja beberapa menit dalam hening. Hening itu bukan kosong—lebih seperti ritme baru yang sedang mereka temukan bersama. Sampai akhirnya Sam sadar sesuatu: ia tidak lagi menunggu Elhan tiba-tiba berubah, pergi, atau menjauh. Tidak ada ketakutan yang meng
Sam selalu mengira setelah Elhan akhirnya jujur, segalanya akan langsung terasa ringan. Nyatanya tidak. Bukan dalam arti berat—lebih seperti… kerasanya denyut baru dalam hidupnya, sesuatu yang sudah lama ia tunggu tapi begitu datang malah membuat dadanya penuh cara yang tidak ia mengerti.Elhan berubah. Bukan drastis, tapi nyata.Ia lebih hadir. Lebih memperhatikan. Lebih sering memastikan Sam benar-benar baik, bukan sekadar menjawab “baik” untuk mengakhiri pembicaraan. Tapi belum sempat Sam benar-benar menyesuaikan diri dengan versi baru Elhan itu, semesta seperti memutuskan untuk mengetes mereka lebih cepat dari yang diperkirakan.⸻Hari itu Sam sedang sibuk dengan laptopnya ketika pintu ruang kerjanya diketuk. Ia tidak menoleh, hanya menjawab, “Masuk aja.”Pintu terbuka—dan seseorang berdiri di sana. Seseorang yang membuat Sam otomatis menegang.Damar.“Kamu sibuk?” tanyanya, suaranya seperti biasa—tenang, rapi, dan t
Elhan tidak pernah membayangkan hari itu akan datang hari ketika semua kebisuannya akhirnya menuntut jawaban. Hari ketika ia tidak bisa lagi pura-pura tidak tahu apa yang terjadi pada Sam, dan tidak bisa lagi bersembunyi di balik ketakutannya sendiri.Sejak kejadian malam itu—ketika Sam menangis tanpa suara di depan pintu rumah sakit, sementara Elhan hanya bisa mengusap punggungnya seperti orang pengecut yang tidak tahu harus berkata apa—pikiran Elhan terus berputar liar. Tidak pernah ada satu malam pun yang benar-benar ia lalui tanpa memikirkan Sam.Dan pagi itu, untuk pertama kalinya, ia berhenti melarikan diri.⸻Sam baru saja keluar dari ruangannya ketika Elhan sudah berdiri di depan pintu, bersandar dengan tangan menyilang. Bukan dingin. Bukan acuh. Tapi seperti seseorang yang sudah siap membongkar semua yang ia simpan selama ini.“Sam,” panggilnya pelan.Sam berhenti. Jantungnya menegang, seolah tubuhnya tahu lebih dulu bah
Sulit untuk benar-benar memahami bagaimana seseorang bisa menghilang, tapi tetap hadir di setiap ruang yang kita lewati. Elhan mungkin tak lagi menyapa, tak lagi muncul dalam keseharian Nayla, namun jejaknya… entah kenapa justru terasa semakin nyata belakangan ini.Tidak ada awan, tidak ada hujan, tidak ada langit senja—hari itu berjalan biasa saja. Tapi justru karena “biasa”, semuanya terasa makin kosong.Nayla baru keluar dari kelas ketika pundaknya hampir bersenggolan dengan seseorang. Ia menoleh—dan jantungnya berdegup lebih keras dari seharusnya.Bukan Elhan.Tapi tubuh tinggi itu, cara dia berdiri, cara ia memegang tas di satu sisi bahu… semuanya mengingatkan pada orang yang sudah berminggu-minggu menghilang. Sekilas saja cukup untuk membuat seluruh pertahanan yang ia bangun rapuh lagi.“Sering banget ya, kamu ngeliatin orang tapi kayak kecewa sendiri,” suara Rara muncul dari belakang, membuat Nayla tersentak.“Aku nggak ke







