ログインKeesokan harinya, kondisi fisik Annora berangsur pulih. Namun, sejak ia siuman, atmosfer di rumah itu terasa mencekik. Ibu Ria terus-menerus melontarkan kata-kata ketus yang menyakitkan hati. Dari dalam kamar tamu, Annora bisa mendengar dengan jelas perdebatan sengit antara Andra dan ibunya.
"Andra, kenapa kamu ngeyel sekali? Apa kamu sudah tidak menghargai Ibu lagi?" suara Ibu Ria meninggi.
"Bukan begitu, Bu. Ibu terlalu berlebihan membenci tanpa sebab. Jangan simpan penyakit hati, Bu, nanti merusak kesehatan Ibu sendiri," balas Andra, mencoba meredam emosi.
"Kamu berani menggurui Ibu hanya demi anak orang gila itu?!"
Andra bergegas membekap mulut ibunya. Suara Ibu Ria sengaja dikeraskan agar terdengar sampai ke telinga Annora. "Jangan berisik, Bu. Malu sama tetangga..."
Di dalam kamar, Annora menarik napas dalam. Dadanya sesak. Ia tidak ingin menjadi duri dalam daging di keluarga ini. Dengan tekad bulat, ia merapikan barang-barangnya yang tersisa dan keluar menemui mereka.
"Maaf, Tante, jika kehadiran saya merepotkan. Saya akan pergi sekarang. Terima kasih banyak sudah menampung saya, Andra," ucap Annora dengan suara bergetar namun tegas.
Andra mengusap wajahnya kasar, tampak frustrasi. "Ra, jangan merasa tidak enak. Kamu diterima dengan baik di sini."
"Aku harus pergi, Ndra. Aku akan ke rumah temanku di kota. Lagipula, aku sudah dua hari membolos kerja. Maaf sudah merepotkanmu," tolak Annora halus.
Annora hendak menyalami tangan Ibu Ria sebagai tanda pamit, namun wanita itu membuang muka, enggan menyentuh tangan Annora sedikit pun. Andra tertunduk malu melihat kelakuan ibunya.
"Aku pamit, Andra."
"Aku antar kamu!" seru Andra.
"Andra! Jika kamu berani melangkah keluar malam ini, Ibu hapus namamu dari daftar keluarga! Ingat, kamu sudah Ibu jodohkan!" ancam Ibu Ria telak.
Annora terhenyak mendengar ancaman itu. Tanpa kata lagi, ia berbalik dan lari keluar rumah. Andra mencoba mengejar, namun Annora bergerak lebih cepat. Ia menghilang di balik bayang-bayang rumah warga yang gelap tanpa penerangan.
"Annora! Kamu di mana?!" teriak Andra frustrasi.
Setelah satu jam mencari tanpa hasil, Andra akhirnya menyerah dan kembali dengan motornya. Dari balik kegelapan, Annora memerhatikan kepergian pria itu dengan mata berkaca-kaca.
"Maaf, Andra. Ini jalan terbaik. Aku harus menjauhimu," bisiknya. Kabar perjodohan itu menjadi tamparan keras yang menyadarkannya bahwa mereka memang tidak mungkin bersama.
Annora menyusuri jalan raya yang sunyi tanpa arah tujuan. Saku celananya kosong; ia tak punya ongkos sepeser pun. Di tengah kelelahan, matanya tertuju pada sebuah rumah mewah yang tampak sepi dan tertutup rapat.
"Rumah yang malang. Kau besar tapi tak berpenghuni, sementara aku kecil tapi tak punya rumah," gumamnya getir.
Ia duduk di bawah pohon besar di depan gerbang rumah itu, berharap rimbun daunnya bisa melindunginya dari rintik hujan yang mulai turun. Tak lama kemudian, dua mobil sedan hitam berhenti tepat di depan gerbang. Beberapa pria berbadan kekar muncul dari kegelapan, menjaga perimeter. Annora baru menyadari bahwa rumah itu tidak terbengkalai; pengamanannya justru sangat ketat.
"Hei, sedang apa kau di sini?!" tanya sebuah suara berat dari belakang.
Annora menoleh dan mendapati seorang pria berkulit hitam mengenakan setelan merah mencolok.
"Sa-saya hanya numpang istirahat, Pak," jawab Annora gemetaran.
Pria itu menatap Annora dari ujung kaki hingga kepala. Meski berpakaian lusuh, kecantikan alami dan kulit putih bersih Annora tetap terpancar.
"Kau sedang ada masalah? Biasanya gadis cantik yang keluyuran malam-malam begini sedang punya masalah keluarga. Kau butuh pekerjaan?" tanya pria itu tanpa basa-basi.
Annora ragu. Pria ini tampak berbahaya, namun tawaran pekerjaan adalah satu-satunya harapan yang ia punya sekarang. "Saya butuh, Pak. Tapi..."
"Ayolah, aku bukan orang jahat. Banyak wanita yang bekerja dengan kami. Come on, girl!"
Annora melirik teman-teman pria itu yang mulai masuk ke dalam rumah. Rasa curiganya memuncak. Saat pria berbaju merah itu lengah, Annora berbalik dan lari sekencang mungkin.
"Hei! Why are you running?!" teriak pria itu.
Annora terus berlari, namun harapannya pupus saat dua pria kekar tiba-tiba muncul dari balik pohon dan menghadang jalannya. Robert, pria berbaju merah tadi, berjalan menghampiri sambil bertepuk tangan, seolah sedang menonton permainan yang seru.
"Minggir kalian!" Annora meronta.
Kedua pria itu hanya tertawa sebelum meringkus Annora. Mereka menggendongnya paksa seperti membawa barang jarahan.
"Lepaskan! Aku akan lapor polisi!" teriaknya histeris.
Sebelum ia sempat berteriak lebih kencang, sebuah sapu tangan beraroma kimia menyengat membekap mulutnya. Pandangan Annora mengabur, dunianya menjadi gelap seketika.
Di dalam rumah mewah, Annora dibaringkan di sebuah kamar khusus yang terkunci rapat.
"Tubuhnya mungil, tapi tenaganya kuat juga. Shit!" gerutu salah satu pengawal.
"Jaga dia baik-baik. Kita tidak perlu susah payah mencari gadis lagi, Bos pasti senang," ujar Robert puas.
Robert kemudian melangkah menuju ruang biliar untuk menemui sang "Bos Besar". Di sana, aroma cerutu dan wine memenuhi ruangan.
"Kau dari mana saja, Robert? Kau membuat kami menunggu, sialan!" protes salah satu temannya sambil tertawa.
"Hahaha, aku terlambat karena urusan penting. Aku sedang menyiapkan hadiah spesial untuk Bos," jawab Robert penuh percaya diri.
Seorang pria yang sedari tadi fokus menyodok bola biliar berhenti sejenak. Ia menoleh dengan seringai yang mengintimidasi.
"Bos, saya punya hadiah menarik untuk Anda," Robert meyakinkan.
Si Bos Besar meneguk wine-nya perlahan. "Aku tunggu besok malam. Sebelum aku berangkat ke Seoul, serahkan hadiah itu."
"Siap, Bos!"
Namun, begitu Bos Besar menghilang di balik pintu, Robert langsung menepuk dahinya sendiri. Wajahnya berubah pucat pasi.
"Kenapa? Kau terlihat depresi, bukankah kau akan dapat bonus?" tanya Alex, rekannya.
"Kau tidak mengerti, Alex! Aku dalam masalah besar," rengek Robert sambil mondar-mandir panik. "Tadi aku hanya asal bicara karena ingin pamer. Bagaimana jika hadiah itu tidak sesuai selera Bos? Aku bisa habis!"
Alex tertawa mengejek, lalu melempar bantal sofa ke arah Robert. "Bodoh! Kau sendiri yang menjerumuskan diri. Sekarang pikirkan cara agar gadis itu bisa menyenangkan Bos besok, atau kepalamu yang akan jadi taruhannya!"
Robert merebahkan diri di sofa dengan lemas, merutuki keteledorannya sendiri. Ia tahu benar, Bos mereka bukan orang yang suka diberi harapan palsu.
Pelarian Menembus Batas dan Tempat Persembunyian BaruUdara dingin malam di Swiss menusuk hingga ke tulang, namun angin malam yang membekukan itu tidak sedikit pun menyurutkan langkah Mateo dan Annora. Setelah menyelesaikan seluruh persiapan kepindahan dalam waktu yang sangat singkat, keduanya keluar dari rumah sewaan yang selama ini menjadi saksi bisu kebahagiaan singkat Annora bersama Jae Won.Di halaman depan, sebuah mobil hitam berbadan besar dengan pelat nomor diplomatik sudah menunggu dengan mesin yang menyala pelan. Mateo membuka pintu belakang dengan hati-hati, mempersilakan Annora masuk terlebih dahulu. Wanita itu melangkah gontai, mengenakan mantel wol tebal yang menutup tubuhnya yang kini tengah berbadan dua. Sebelum masuk, Annora sempat menoleh sekilas ke arah jendela kamar di lantai dua—tempat di mana ia dan Jae Won sering menghabiskan waktu bersama di depan perapian. Tenggorokannya kembali tercekat, dan air matanya hampir menetes, namun ia segera menepisnya, sadar bahw
Bayangan Singa Tua dan Pelarian BaruRoda-roda jet pribadi berdecit keras saat menyentuh landasan pacu Bandara Internasional Incheon. Udara malam Seoul menyambut kedatangan Jae Won dengan embusan angin dingin yang menusuk tulang. Namun, dinginnya cuaca malam itu sama sekali tidak sebanding dengan bara api yang bergolak di dalam dada pria tersebut.Begitu mobil jemputan resmi keluarga Young memasuki pekarangan rumah utama—sebuah mansion megah berarsitektur klasik Eropa yang berdiri di atas tanah seluas hektare—Jae Won langsung melangkah turun. Langkah kakinya lebar, tegas, dan menyiratkan aura kemarahan yang tertahan rapat di balik rahangnya yang mengeras.Di ruang depan utama, ibu tirinya berdiri menyambut dengan gestur tenang namun waspada. Wanita paruh baya itu sangat paham betul tabiat Jae Won. Ia tahu anak tiri kesayangan suaminya itu bisa meledak kapan saja jika ada yang mencoba memancing emosinya atau memberondongnya dengan pertanyaan basa-basi."Selamat datang kembali, Jae
Annora menarik napas panjang, meredam debar jantungnya yang sejak tadi berlalu-lalang tidak keruan. Meski kehadiran Mateo di ambang pintu sempat mendatangkan teror masa lalu, sorot mata pria itu kali ini sama sekali tidak menyiratkan ancaman. Tidak ada seringai dingin atau paksaan kasar. Yang ada hanyalah sebuah kelelahan batin yang terpancar jelas dari raut wajah Mateo.Dengan dada yang masih bergemuruh, Annora memilih membuka jalan. Ia mengangguk pelan, menampilkan kelapangan dada yang luar biasa untuk ukuran seorang wanita yang sedang hamil muda dan diliputi kecemasan."Silakan masuk, Mateo," ucap Annora dengan suara parau namun tegas.Mateo tertegun sejenak, menatap wanita di depannya dengan rasa kagum yang bercampur penyesalan. Ia mengangguk hormat, lalu melangkah masuk ke dalam rumah minimalis yang hangat itu, menutup pintu perlahan di belakangnya.Begitu mereka duduk di sofa ruang tamu yang berhadapan langsung dengan perapian, Annora tidak langsung mencecarnya dengan perta
Perpisahan Paling SunyiKeesokan sorenya, cahaya matahari musim gugur memancarkan rona kemerahan yang redup di atas hamparan salju abadi Pegunungan Alpen. Udara terasa dingin, namun kehangatan palsu yang coba diciptakan di dalam rumah itu jauh lebih menyesakkan dada. Di ruang depan, Jae Won berdiri di samping kopernya dengan mantel tebal yang membalut tubuh tegapnya. Wajahnya pucat, menyisakan jejak kelam dari malam panjang yang dilewatinya tanpa tidur.Annora berdiri di hadapannya, mengenakan cardigan wol rajut berwarna krem. Ia berusaha keras menampilkan senyuman paling manis di bibirnya, menahan gelombang sesak dan air mata yang mendesak hendak tumpah. Annora tahu, jika ia menangis, Jae Won akan semakin berat melangkah."Kau benar-benar harus pergi sekarang, Jae Won?" tanya Annora pelan, suaranya bergetar halus meskipun ia mencoba membuatnya terdengar tegar.Jae Won mengangguk kaku. Ia melangkah mendekat, lalu merengkuh tubuh Annora ke dalam pelukannya. Hangat, erat, dan begit
Foto Usang dan Telepon MisteriusMateo masih ingin mencecarnya dengan rentetan pertanyaan lain. Ada begitu banyak celah kosong dalam teka-teki pembunuhan berantai lima belas tahun lalu yang belum terisi. Namun, sebelum ia sempat membuka mulut untuk melontarkan pertanyaan berikutnya, Hyori mengangkat tangannya, memberi gestur menyuruh pemuda itu berhenti.Bukan karena wanita itu berniat menyembunyikan kebenaran demi melindungi para pelaku, melainkan gelombang ketakutan dan trauma masa lalu yang luar biasa besar telah melumpuhkannya. Hyori terdiam rapat, bibirnya terkatup kaku. Ada nyawa seseorang yang sangat ia kasihi—putri kandungnya sendiri—yang harus ia lindungi dari cengkeraman monster-monster berdasi jika rahasia ini bocor terlalu jauh kepada orang asing seperti Mateo.Melihat keputusasaan dan teror nyata yang tergambar jelas di mata wanita paruh baya itu, Mateo akhirnya mengurungkan niatnya. Ia tahu, memaksa Hyori lebih jauh tidak akan menghasilkan apa-apa selain menghancurkan
Bayangan Masa Lalu dan Rahasia Putra Lee SomanNapas Hyori masih tersengal-sengal di atas lantai semen beton yang dingin. Air matanya terus meleleh, membasahi pipinya yang keriput. Mateo berdiri kaku di sampingnya, kepalanya berputar cepat mencerna setiap potongan informasi yang baru saja dilontarkan. Rasa penasaran yang membara mendesaknya untuk tidak membiarkan wanita itu terdiam terlalu lama."Tunggu dulu," potong Mateo dengan suara tegas namun tetap berhati-hati. "Jika keluarga Arif berada di Seoul saat itu, bagaimana bisa mereka tidak melakukan tindakan apa pun untuk menuntut keadilan? Kenapa keluarga mendiang suamimu seolah menerima takdir itu begitu saja?"Hyori perlahan mendongakkan kepalanya. Ia menyeka sisa air mata di wajahnya dengan punggung tangan yang bergetar hebat. Senyum getir terukir di bibirnya yang pucat, menampakkan kepedihan yang teramat dalam akibat masa lalu yang kelam."Kau pikir mereka tinggal diam, Nak?" suara Hyori terdengar parau. "Istri pertama Arif—R
Jae Won menoleh sesaat, namun pandangannya sengaja dialihkan dari Annora. Ia hanya mengangkat alisnya ke arah Mateo, memberi kode bahwa subjek di depan mereka adalah barang yang dijanjikannya.Mateo seketika bersiul nyaring, matanya berbinar lapar saat menatap siluet tubuh Annora yang dibalut gaun
Langkah-langkah berat bersenjata yang semula dikira sebagai ancaman kudeta atau serangan mendadak, rupanya hanyalah bagian dari protokoler berlebihan yang melekat pada sosok Mateo. Pria itu melangkah masuk ke dalam kediaman megah Lee Jae Won dengan tawa renyah yang menggema di langit-langit koridor
Pagi itu, Lee Jae Won telah rapi dengan kemeja biru muda yang melekat sempurna di tubuh kekarnya. Aroma parfum kayu cendana yang elegan menguar, memenuhi setiap sudut kamar yang luas dan minimalis. Alunan musik beat bertempo sedang mengiringi aktivitasnya, menandakan suasana hati pria itu sedang
Pagi masih buta ketika Robert melangkah masuk ke dalam kamar pengap tempat Annora disekap. Suasana di dalam ruangan itu kacau. Annora, dengan sisa tenaga yang ia miliki, terus memberontak. Teriakan minta tolongnya menggema, memantul di dinding-dinding marmer rumah mewah itu. Robert mendecit panik;







